Minggu, 26 Februari 2017

AYAM KEKOK, SI MERDU PENDATANG BARU DARI PULAU MADURA



AYAM KEKOK,
SI MERDU PENDATANG BARU DARI PULAU MADURA

Oleh Abdurrahman Arraushany*

“Kekok...kekok...kekok.......” Begitulah pikiran saya membayangkan ketika mendengar kali pertama tentang “Ayam Kekok”. Padahal faktanya, suara ayam penyanyi pendatang baru yang berasal dari Pulau Madura ini tidak persis berbunyi begitu. Pak Akhmad, seorang inseminator yang bertugas di Kecamatan Gayam Pulau Sapudi Kab.Sumenep pernah menyampaikan kepada saya bahwa selain Ayam Bekisar “Biring Kumbang” yang ada di rumahnya, ada lagi Ayam Kekok, ayam penyanyi baru dari Pulau Madura. “Bapak bisa menjumpai Ayam Kekok ini di rumah Pak Klebun Desa Jambuir Kecamatan Gayam Pulau Sapudi. Kapan-kapan saya antar kalau bapak tertarik.”

Ya jelas saya tertarik. Saya penasaran dengan bunyi suara Ayam Kekok ini. Coba bayangkan, Pengawas Bibit Ternak (wasbitnak) mana yang tidak tertarik dengan keberadaan Sumber Daya Genetik Hewan (SDGH) di daerahnya? “Publish or perish,” adalah istilah yang biasanya dikenal di kalangan penulis dan jurnalis untuk menyemangati mereka agar tetap berkarya dan mempublikasi karya mereka dalam bentuk tulisan. Kiranya semangat itu perlu juga diadopsi Wasbitnak di manapun mereka berada. Publikasikan atau SDGH ternak asli/lokal Indonesia kita akan punah. Dengan punahnya SDGH, bisa jadi kelak kita ‘dipisuhi’ oleh generasi setelah kita karena tidak ‘becus’ dalam menjaga, mengembangkan dan meningkatkan populasi, produksi dan produktivitasnya serta menyebarkan kekayaan hayati yang menjadi aset bangsa Indonesia ini ke daerah lainnya. Tidak mau hal tersebut terjadi, kan?

DARI MANA AYAM KEKOK MADURA BERASAL?

Tidak seperti Ayam Gaok (ayam penyanyi yang berasal dari Pulau Poteran Sumenep) dan Ayam Hutan Hijau serta Ayam Bekisar (ayam penyanyi yang berasal dari Pulau Kangean Sumenep), daerah asal dari Ayam Kekok hingga hari ini belum bisa dipastikan kebenarannya.

Diduga Ayam Kekok ini pertama kali ‘dicetak’ oleh seorang peternak yang tinggal di Kecamatan Tanjungbumi Kabupaten Bangkalan sekitar Tahun 1970-an. Ayam Kekok ini kemudian dikenal masyarakat secara luas di wilayah Bangkalan setelah para penggemar Ayam Bekisar dan Ayam Gaok menggelar beberapa kontes Ayam Bekisar dan Ayam Gaok. Dalam kontes tersebut seorang peternak Ayam Bekisar dan Ayam Gaok yang juga memiliki Ayam Kekok mencoba membawa serta Ayam Kekok miliknya untuk disandingkan dengan Ayam Bekisar dan Ayam Gaok. Keunikan Ayam Kekok dari segi ‘bulu, suara dan kecilnya postur tubuh’ yang berbeda dengan Ayam Bekisar dan Ayam Gaok ternyata menarik perhatian masyarakat.

Kabar keberadaan Ayam Kekok Bangkalan ini kemudian menyebar ke Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan dan juga Kabupaten Sumenep. Sehingga dalam pelaksanaan kontes-kontes ayam penyanyi asli Madura (Bekisar dan Gaok) selanjutnya Ayam Kekok ini dibeli dan dibawa ke daerah masing-masing (yakni Sampang, Pamekasan dan Sumenep). Juga ada warga Bangkalan yang merantau ke Surabaya dan Sidoarjo membawa Ayam Kekok ini untuk dijadikan hewan klangenan, penghias dan penyemarak taman dan halaman rumah-rumah mewah Juragan Besi dari Pulau Madura yang sukses menjalankan usaha dan bisnisnya. 

Saat ini sudah ada komunitas penggemar Ayam Kekok di 4 Kabupaten di Pulau Madura. Komunitas Ayam Kekok di Kabupaten Bangkalan ada di Kecamatan Tanjungbumi dan Kecamatan Tanah Merah.  Sedangkan di Kabupaten Sampang ada di Desa Banyusokah Kecamatan Ketapang. Komunitas Ayam Kekok di Kabupaten Pamekasan ada di Desa Blumbungan Kecamatan Larangan dan di Kecamatan Galis. Sedangkan untuk Kabupaten Sumenep komunitas ini bisa ditemui di Kecamatan Pragaan. 

Ayam kekok bertubuh kecil dan berkaki pendek. Bobot badan dewasanya biasanya tak lebih dari 1 kg. Pakan hariannya biasanya berupa butiran jagung, kacang dan bahan pakan butiran lainnya dalam jumlah ‘terbatas’."Kami sengaja membatasi asupan pakan pada Ayam Kekok supaya badannya tetap langsing dan tidak melar. Kami juga tidak pernah memberi pakan dedak dan sisa nasi sebagaimana ayam Kampung biasa. Sebab pakan akan berpengaruh terhadap kualitas suara si ayam," Ujar Mad Sholeh, seorang penggemar Ayam Kekok dari Desa Blumbungan Kecamatan Larangan saat berjumpa dengan saya di rumah Pak Hadiri, seorang petugas peternakan di Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan pada akhir 2015 silam.

"Untuk ukuran tubuh Ayam Kekok memang belum ada standardisasi. Namun umumnya, Ayam Kekok ini bertubuh kecil. Warnanya bulu pun masih beraneka ragam dan terlihat lebih 'kasar' dibandingkan dengan bulu Ayam Bekisar dan Ayam Gaok. Yang terpenting suara yang dihasilkan khas Ayam Kekok, " tambah Pak Hadiri. 

Masyarakat Madura dari dulu memang dikenal super kreatif. Berbagai kebiasaan yang ada di masyarakat kemudian dimunculkan sebagai suatu budaya unik yang memiliki daya jual jika dikelola dengan baik. Di Kepulauan Kangean kita bisa menyaksikan budaya mamaji yakni lomba pacuan kerbau. Pulau Kangean juga sejak dulu dikenal sebagai gudang Ayam Hutan dan Ayam Bekisar berkualitas karena budaya penangkaran ayam hutan dan bekisarnya unik dan menjadi tradisi turun temurun. Di Pulau Sapudi bisa dijumpai budaya Karapan Sapi. Di Pamekasan wilayah Utara muncul budaya Sapi Sonok. Bagaimana di Bangkalan? Rasa suka dan kecintaan mereka terhadap ternak ayam asli/lokal diwujudkan dengan bentuk 'karya seni'. Di antaranya dengan terciptanya Ayam Kekok Bangkalan.

Dibandingkan dengan ayam Bekisar, Ayam Gaok dan Ayam Kampung lainnya, Ayam Kekok ini bisa dikatakan lebih rajin dalam bersuara. 

Kontes Ayam Kekok ini sering diadakan di Bangkalan terutama di Kecamatan Tanjungbumi.  Penilaiannya biasanya didasarkan pada dua hal yakni keindahan warna bulu ayam dan irama suara yang dikeluarkan. Kedua, jenis suara ayam. Apakah termasuk tebal dan tipis suaranya dan atau panjang dan pendeknya suara ayam. Selain kedua hal tersebut, penentuan pemenang kontes Ayam Kekok juga ditentukan penampilan fisik ayam. "Ayam Kekok yang suaranya oke namun tubuh dan bulunya tidak bersih dan kurang sehat bisa jadi dikalahkan oleh Ayam Kekok yang kualitas suaranya lebih 'rendah' namun penampilannya bersih, sehat dan gagah," Kata seorang penggemar Ayam Kekok dari Kecamatan Tangjungbumi Bangkalan

Kontes Ayam Kekok yang diadakan di Bangkalan ini biasanya tidak hanya diikuti oleh penggemar Ayam Kekok dari Bangkalan saja.   Namun juga seringkali dihadiri penggemar Ayam Kekok dari Sampang, Pamekasan dan juga Sumenep. Mereka rela mengikuti kontes Ayam Kekok dengan harapan bisa menang. Jika harga Ayam Kekok 'biasa' dipatok 300 ribu sampai 1,5 juta, maka Ayam Kekok yang menang kontes bisa dibandrol dengan harga 5-10 jutaan. Siapa yang tidak tertarik?

Ayam Kekok dicetak dengan jalan kesabaran. Ayam hasil seleksi sedari kecil dilatih bersuara sesering mungkin dengan meningkatkan intensitas hubungan antara ayam dan peternak yang memeliharanya. Untuk menjaga kesehatan tubuh dan suara tetap nyaring dan bersih maka selain pemberian pakan khusus racikan sendiri non pabrikan, pemberian jamu dan juga minuman ramuan Madura menjadi kunci agar Ayam Kekok berkualitas bisa dihasilkan.

MARI KELOLA AYAM KEKOK AGAR BISA BERKEMBANG LEBIH BAIK LAGI

Jika Ayam Hutan dan Ayam Bekisar lokasi penangkaran dan pengembangannya bisa dijumpai di Pulau Kangean Kab.Sumenep dan Ayam Gaok di Desa Talango di Pulau Poteran Kab.Sumenep, maka Pusat Pengembangan Ayam Kekok di Madura hingga hari ini belum bisa ditentukan dengan pasti. Kita bisa melangkah dengan memulainya di komunitas pecinta Ayam Kekok di masing-masing daerah di empat kabupaten di Madura.

Secara umum pemeliharaan Ayam Kekok ini sama dengan pemeliharaan Ayam Kampung pada umumnya. Namun berkaitan dengan pemberian pakan, jamu dan perlakukan ‘latihan+pengulangan’ agar bisa sering bersuara, memang berbeda. Oleh karena itu, pengetahuan dasar berkaitan dengan tatacara beternak ayam kampung perlu dimiliki oleh para Penggemar dan Pecinta Ayam Kekok. Mulai dari pembibitannya, pakannya, tatalaksana pemeliharaannya dan juga kebiasaan-kebiasaan unik Ayam Kekok juga harus dipahami. Tentu saja pengetahuan ini berkaitan dengan kecerdasan skolastik sang peternak.

Selain kecerdasan skolastik, peternak dan penggemar Ayam Kekok juga perlu meningkatkan kualitas dirinya dengan memiliki kecerdasan komunikasi dan kecerdasan finansial. Kecerdasan komunikasi diperlukan peternak saat hendak melakukan pengelolaan Ayam Kekok agar lebih baik daripada yang selama ini dilakukan. Di antaranya dengan menginformasikan kepada petugas Dinas Peternakan setempat terkait keberadaan Ayam Kekok ini di daerah mereka. Jika kemudian peternak beserta komunitas pecinta Ayam Kekok ini melakukan identifikasi Ayam Kekok sebagai dasar standardisasi Ayam Kekok dan membuat database peternak dan pecinta Ayam Kekok di daerah mereka tentu akan lebih baik lagi.

Sedangkan kecerdasan finansial diperlukan oleh penggemar dan pecinta Ayam Kekok agar mereka lebih ‘cerdas’ dalam penggunaan dan pengelolaan uang mereka.  Setiap pemasukan dan pengeluaran ditulis dalam buku kas keuangan pribadi. Jika secara finansial pelihara Ayam Kekok ini menguntungkan secara ekonomi, maka perlu dipertahankan. Namun jika tidak, maka pecinta dan penggemar Ayam Kekok perlu berpikir ulang. Jangan sampai gara-gara jatuh cinta pada Ayam Kekok menyebabkan hubungan suami dan istri menjadi kurang harmonis.

Komunitas Pecinta dan Penggemar Ayam Gaok di Pulau Madura bisa membentuk komunitas atau organisasi yang lebih solid dengan menyatukan banyak sumberdaya yang dimiliki dalam suatu organisasi formal. Kalau saya mengusulkan organisasi tersebut dinamai saja dengan OPAKMADU alias Organisasi Penggemar Ayam Kekok Madura.

OPAKMADU sebagai organisasi yang dibentuk karena adanya kesamaan visi, misi, strategi dan frekuensi yang bergerak bersama untuk mengenalkan, menjaga, melestarikan dan mempromosikan Ayam Kekok Madura di berbagai kesempatan dan forum, baik di tingkat Madura, Jawa Timur, Nasional bahkan Internasional.

OPAKMADU juga diharapkan secara rutin melaksanakan kontes Ayam Kekok di daerah masing-masing. Dengan Jadwal sebagai berikut: sepanjang tribulan 1, kontes Ayam Kekok dilaksanakan di masing-masing desa. Pada tribulan 2, pelaksanaan kontes Ayam Kekok dilaksanakan di kecamatan.  Pesertanya adalah pemenang kontes Ayam Kekok di masing-masing desa. Pada tribulan 3, dilaksanakan kontes Ayam Kekok di level kabupaten untuk memperebutkan Piala Bupati. Pesertanya terdiri dari Ayam Kekok yang menang pada kontes Ayam Kekok tingkat kecamatan. Dan pada tribulan 4, dilaksanakan kontes Ayam Kekok di level Madura atau Jawa Timur. Kontes ini mempertandingankan pemenang Ayam Kekok di masing-masing kabupaten di Madura – dan juga Surabaya dan Sidoarjo - untuk memperebutkan Piala Gubernur atau Piala Presiden.

Untuk pelaksanaan kontes Ayam Kekok level desa dan kecamatan bisa dilakukan secara mandiri oleh OPAKMADU. Sedangkan untuk kontes level kabupaten dan atau Se-Madura bisa difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten atau Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Petermakan dan atau Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Dengan inisiasi pelaksanaan kontes Ayam Kekok ini, maka insyaallah akan banyak bermunculan sentra-sentra Ayam Kekok di Pulau Madura. Seiring dengan permintaan Ayam Kekok yang semakin meningkat, maka insyaallah ‘libido’ masyarakat untuk beternak Ayam Kekok ini pun akan semakin meninggi.  Saat pelaksanaan kontes Ayam Kekok OPAKMADU dan atau Pemerintah bisa melakukan edukasi berkaitan pola pembibitan ternak Ayam Kekok yang baik yang diadopsi dari pedoman pembibitan ayam kampung yang baik (good native chicken breeding practices/GNCBP) sesuai Permentan No.49/Permentan/OT.140/10/2006 dan juga diedukasi berkaitan dengan pola pemeliharaan Ayam Kekok yang baik (good farming practices/GFP).

Seiring semakin berkembangnya sentra-sentra Ayam Kekok di Madura, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur cq Bidang Budidaya Pengembangan Ternak dan Hewan Lainnya atau cq UPT Pembibitan Ternak dan Kesehatan Hewan Madura bisa mengusulkan penetapan rumpun/galur Ayam Kekok ke Pemerintah Pusat cq Kemenyerian Pertanian. Hal ini bertujuan untuk melindungi SDGH ayam asli/lokal Jawa Timur sekaligus merangsang munculnya ekonomi kreatif berbasis perunggasan. Dengan ini semoga jumlah pengangguran dan angka kemiskinan di Pulau Madura yang menjadi PR besar Pemprov Jatim dan Pemkab bisa menemukan solusinya. 




======
*Abdurrahman Arraushany adalah nama pena dari Abdul Rohman, SPt (Pengawas Bibit Ternak Ahli Pertama di UPT Pembibitan Ternak dan Kesehatan Hewan Madura Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur).

(Ditulis Tanggal 25/2/2017 dan dipublikasi Tanggal 27/2/2017)

Kamis, 23 Februari 2017

KARAPAN SAPI, ANTARA BUDAYA, HIBURAN DAN TUNTUNAN SESEPUH DI PULAU MADURA



KARAPAN SAPI,
ANTARA BUDAYA, HIBURAN DAN TUNTUNAN SESEPUH
DI PULAU MADURA

Oleh Abdurrahman Arraushany*

Anda pernah nonton film India? Dalam film India ceritanya hampir selalu melibatkan peran polisi dan kepolisian. Apa yang Anda tangkap dari plot cerita berkaitan dengan para polisi ini? Jika Anda mendapatkan kesan bahwa polisi selalu “bangun kesiangan” - mereka baru hadir setelah aksi kejahatan ditumpas oleh pahlawan yang diperankan aktor utama - maka Anda benar. Memang hampir selalu begitu jalan ceritanya. Bagaimana dengan saya? Kesan apa yang saya tangkap? Kesan saya adalah bahwa polisi yang bertugas di lapangan cenderung berbadan ceking dan kurus. Sedangkan inspektur polisi dan pucuk pimpinan di instansi mereka cenderung gemuk dan dewasa (gede wadah sanguna, besar tempat nasinya alias perutnya).

Pemeran polisi ‘kelas bawah’ yang biasanya bertugas mengejar orang-orang jahat sepertinya memang sengaja dipilih yang berbadan ceking dan kurus. Apakah ini menggambarkan bahwa  ‘langsingnya’ tubuh polisi berbanding lurus dengan kecepatan mereka dalam berlari mengejar penjahat? Entahlah. Adakah hal yang sama juga terjadi pada sapi kerap yang digunakan dalam pacuan sapi (Sapi Karapan) yang merupakan budaya masyarakat di Pulau Sapudi dan Pulau Madura?

Pulau sapudi kiblat bagi budaya karapan sapi

Sudah sering saya mendengar bahwa Pulau Sapudi merupakan gudang sapi. Bagaimana tidak, pulau yang berlokasi di sebelah Tenggara dari Pulau Madura ini yang luasnya ‘hanya’ 128,48 km2 ternyata mampu menampung lebih dari 49 ribu ekor sapi. Padahal penduduknya cuma sekitar 45 ribu jiwa saja. Oleh karena itu, tak heran jika kemudian pulau ini dikatakan sebagai “PULAU SAPI” dan menempatkan Sapudi sebagai wilayah dengan kepadatan sapi tertinggi kedua di dunia.  Namun baru di akhir 2012 saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di pulau ‘tertua’ di wilayah Madura ini.  Saat itu saya melakukan monitoring dan evaluasi (monev) Kegiatan Penguatan Pembibitan Sapi di Pulau Sapudi yang dananya bersumber dari APBN Satker Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur.

Pulau yang terdiri dari 2 kecamatan (Gayam dan Nonggunong) dan 18 desa ini ternyata juga kaya dengan SDGH lainnya. Selain Sapi Madura tipe kerap, ada juga Domba Ekor Gemuk (DEG) Sapudi, Kambing Kacang, Kambing Costa, Ayam Bekisar, Ayam Kekok dan beberapa jenis burung langka.


Pulau Sapudi merupakan daerah asal dan menjadi kiblat dari budaya karapan sapi di Madura. Adalah masyarakat Pulau Sapudi yang pertama kalinya memiliki kebiasaan untuk mengadakan lomba pacuan sapi di lahan-lahan pertanian mereka. Bagaimana mereka bisa terinspirasi mencipta lomba pacuan sapi? Tak lain adalah kebiasaan masyarakat Sapudi yang mengolah lahan pertanian mereka dengan menggunakan alat bajak dari kayu dan atau bambu yang disebut ‘kaleles’ dan menggunakan sapi sebagai tenaga penariknya. Kemudian mereka mengadakan ‘tasyakuran’ sebagai wujud syukur dengan menggelar ‘lomba pacuan sapi’ setelah panen raya.

Kerapan atau karapan sapi adalah satu istilah dalam bahasa Madura yang digunakan untuk menamakan suatu perlombaan pacuan sapi. Ada dua versi mengenai asal usul nama kerapan. Versi pertama mengatakan bahwa istilah “kerapan” berasal dari kata “kerap” atau “kirap” yang artinya “berangkat dan dilepas secara bersama-sama atau berbondong-bondong”. Sedangkan, versi yang lain menyebutkan bahwa kata “kerapan” berasal dari bahasa Arab “kirabah” yang berarti “persahabatan”. Namun lepas dari kedua versi itu, dalam pengertiannya yang umum saat ini, kerapan adalah suatu atraksi lomba pacuan bagi ternak sapi. 


Ada beberapa cerita yang berkembang di masyarakat Pulau Sapudi berkaitan dengan penggagas karapan sapi. Pertama, yang mengajarkan adalah ahli pertanian di masa Raja Aria Wiraraja pada abad 12-13 M. Kedua, yang mengajarkan adalah Pangeran Adipoday (disebut juga Ario Baribin alias Adi Sepuh Dewe) yang memerintah Tahun 1399-1415 M (abad 14-15 M). Ketiga, yang mengajarkan adalah Kyai Ahmad Baidawi (atau Pangeran Katandur) Tahun 1561 M (abad 16 M). Keempat, budaya karapan sapi ini muncul di Tahun 1750-1762 (abad 18) saat masa pemerintahan R.Ayu Tirtonegoro dan Bindata Saod. Dari empat cerita tersebut mana yang benar? Allahu ‘alam.

Akhmad Rofii Damyati, MA dalam artikel berjudul “Melacak Sejarah Awal Islam Di Madura” menyebutkan bahwa, “Proses Islamisasi Madura boleh dibilang suatu proyek dakwah yang menuai hasil yang luar biasa. Proyek dakwah ini sebenarnya adalah kelanjutan dari mega proyek Islamisasi Nusantara yang sangat massif di antara abad ke-7 hingga abad ke-15 melalui tangan-tangan ikhlas para juru dakwah yang di Jawa dikenal dengan Wali Songo. Madura juga menjadi bagian agenda mega proyek ini.”

Dalam artikel tersebut, Damyati menyebutkan ada 2 jalur penyebaran Islam di Madura, yaitu jalur kerajaan dan jalur para da’i atau jalur para Sunan. Pada penyebaran Islam jalur da’i disebutkan bahwa penyebaran Islam di Pulau Madura versi “Timur” bermula dari Pulau Sapudi Kab.Sumenep. Sedangkan penyebaran Islam di Pulau Madura versi “Barat” bermula di Kecamatan Arosbaya Kab.Bangkalan.

Artikel yang ditulis Damyati tersebut menjadi suatu bukti tambahan bahwa apa yang pernah diulas dalam Buku “Aceh, Nusantara dan Khilafah Islamiyah,” Adalah sebuah kebenaran sejarah, bukan dongeng.

Di ujung Barat dunia, sejak abad 7 hingga 18 M, di bawah Naungan Khilafah, Islam dan Umat Islam sedang menikmati kejayaan dan ketinggian peradaban dan kebudayaan. sedangkan Eropa kala itu masih tenggelam dalam lumpur kebodohan dan keterbelakangan. Dan di ujung Timur dunia yakni Nusantara sedang dikirim dai-dai untuk mengislamkan Nusantara. Maka ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian (dan peternakan) di Negara Khilafah jelas dibawa ikut serta dalam pelaksanaan misi agung ini. Adalah Sunan Giri Gresik, salah satu WALISONGO yang seorang ahli pertanian menjadi dai yang menyebarkan Islam di Jawa Timur. Lewat murid-muridnya, maka Islam juga dibawa sampai ke Madura sehingga bisa sukses mengislamkan penduduk Madura hampir 100%.  Para da’i ini selain mengajarkan tauhid dan syariah Islam totalitas, mereka juga mengajarkan tentang pangan yang dihasilkan dari budidaya pertanian dan peternakan. Hal ini wajar karena di dalam Al-Quran dan hadits persoalan pangan halal dan thayyib ini juga sangat banyak dibahas. Seperti, QS.Al-Baqarah [2]: 168. Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Allah swt juga berfirman, QS.Al-Maidah [5]: 088. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

Rasulullah saw bersabda, “Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya.” (HR. Ath-Thabrani)

Islam mengajarkan bahwa alam semesta, manusia dan kehidupan adalah makhluk. Sedangkan Allah azza wa jalla adalah sang Pencipta dan Pengatur makhluk. Pemahaman ini merubah total masyarakat Sapudi yang sebelumnya menyembah makhluk menjadi penyembah Allah swt, Pencipta dan Pengatur makhluk.

Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian dan peternakan yang diajarkan oleh Sang Da’i, hasil panen berlipat ganda. Maka petani dan peternak diperintahkan untuk membayar zakat pertanian dan peternakan. Dan mereka juga mengadakan tasyakuran dengan atraksi balapan sapi alias pacuan sapi.

Budaya bertani dan beternak terutama memelihara sapi ini diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi di masyarakat Sapudi. Hampir semua rumah di Pulau Sapudi memelihara sapi, kecuali di rumah-rumah gedongan di pusat kota Gayam dan Nonggunong. Yang tinggal di rumah gedongan di pusat kota memang tidak memelihara sapi di rumah tempat tinggal mereka. Tapi mereka tetap memiliki sapi bahkan sampai berjumlah 80 ekor seperti yang dilakukan Haji Dede, seorang China Keturunan yang nenek moyangnya sudah mendiami Pulau Sapudi sebelum Belanda menginjakkan kaki di pulau tersebut.  

Hingga saat ini Pulau Sapudi masih disebut sebagai Pulau Sapi dan satu-satunya daerah yang menyediakan bakalan sapi kerap.

BAGAIMANA MENCETAK SAPI KARAPAN YANG CEPAT, KUAT DAN SEHAT?

Ternak sapi adalah hewan yang lamban. Ia dicipta bukan seperti kuda atau unta yang mampu berlari kencang dan tahan terhadap cekaman panas berjam-jam dalam suatu perjalanan. Namun, lewat latihan dan pengulangan, hewan yang lamban ini bisa berubah jadi hewan yang cepat dalam berlari.

Latihan dan pengulangan adalah ibu dan bapak dari keahlian. Sapi karapan ‘ahli’ dalam lari dengan kecepatan tinggi karena terlahir dari proses panjang latihan dan pengulangan. Hal ini persis yang dikatakan Ustadz Felix Siauw dalam buku “How To Master Your Habits.”


Patung Karapan Sapi Di Jalan Basuki Rahmat Surabaya

Budaya Karapan Sapi di Pulau Sapudi telah menyatu dengan kehidupan masyarakat di sana, sejak ratusan tahun lalu hingga sekarang. Setiap minggu pacuan sapi diadakan secara bergiliran dari desa ke desa. Pelaksanaannya dilakukan di lapangan khusus yang tersedia untuk pacuan. Umumnya 1 lapangan tersedia untuk tiap 3 desa. Lapangan ini digunakan untuk uji coba atau latihan (tren) calon-calon sapi kerap. Di lokasi ini pula biasanya terjadi transaksi jual beli.

Tren menjadi ajang untuk menyambung tali persaudaraan, mendapatkan kesenangan dan meluaskan perkenalan dengan para penggemar sapi karapan. Dan kita tahu bahwa silaturahmi dapat melancarkan rejeki, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw, Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim[Shahiih Al-Bukhari No.2067].

Harga Sapi Kerap emang aduhai jika dibanding dengan Sapi Madura ‘biasa’. Sebagai gambaran saja pada Tahun 2011 silam harga pedet Sapi Kerap berkisar antara 5-15 juta per ekor. Sementera pedet Sapi Madura ‘biasa’ non Kerap hanya dihargai 500 ribu-2 juta rupiah. Pada 2014 saat kami melakukan pengukuran Sapi Madura di Pulau sapudi dalam rangka Penerbitan Surat keternagan Layak Bibit (SKLB) di mana kami melakukan pengukuran di 18 desa di sana dan berhasil mengukur 2211 ekor sapi, kami juga melewati peternak yang memiliki sepasang sapi kerap. Masih pedet, umur sekitar 6 atau 7 bulanan. Saat kami tanya, “Seekornya dihargai berapa, Pak?”, maka peternak tersebut menjawab, “Ini sudah laku pak. Sebulan lalu ditawar 60 juta.” Wuih,..mantab...

Apa yang menyebabkan Sapi Karapan harganya mahal? Tingginya nilai jual Sapi Kerap disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya:
1.      Mereka tidak sembarangan dalam mengawinkan ternaknya. Perlu menunda perkawinan jika estrus sapi terjadi pada tanggal genap. Mereka meyakini bahwa sapi jantan ‘hanya’ akan dihasilkan jika sapi dikawinkan pas tanggal ganjil. Yang kedua, mereka juga meyakini bahwa estrus pertama pada ternak akan berpeluang menghasilkan anak betina. Oleh karenanya mereka kemudian menunda mengawinkan sapinya hingga estrus kedua.
2.      Perlakukan terhadap sapi kerap sangat istimewa. Jamu diberikan rutin setiap hari agar badannya menjadi singset. Juga dilakukan pemijatan 30 menit setiap hari. Mandipun 2 kali sehari
3.      Sapi kerap tidak dijadikan pejantan. Kenapa? Dipercaya sapi kerap itu infertil. Yang mungkin disebabkan terlalu banyak mengkonsumsi jamu.
4.      Sapi kerap Sapudi memiliki nilai magis dan keramat
5.      Perlu membayar ‘dukun’ atau “orang pinter” agar dapat mantra-mantra khusus supaya sapi kerapnya menang dalam suatu pertandingan

Hampir semua orang di Pulau Sapudi bermimpi memiliki Sapi Karapan. Terlebih para peternak. Sapi yang digunakan dalam Karapan Sapi pasti berkelamin jantan.  Oleh karena itu, mereka akan sangat senang jika mendengar kabar bahwa ternaknya melahirkan pedet jantan. Karena mereka berharap pedet jantan tersebut bisa dicetak menjadi Sapi Karapan. Jika kemudian ternyata yang lahir adalah pedet betina, mereka agak kurang suka. Sikap ini mirip dengan sikap orang-orang kafir jahiliyah saat mendengar kabar kelahiran anak perempuan mereka dari istri-istri mereka. Allah berfirman, QS.An-Nahl [16]: 058. Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.

Pedet jantan akan dilatih menjadi sapi kerap. Jika tidak lolos seleksi, maka ia akan segera dikeluarkan (dijual). Itu sebabnya di Pulau Sapudi hampir 96% sapi dewasa adalah sapi betina.

TUNTUNAN SESEPUH DI PULAU MADURA

“Coooollllllll...klontang...klontang....klontang.....klontang. Sapi melesat berlari dengan kecepatan tinggi. Jarak 100 meter hanya ditempuh dalam waktu 8 detik. Jarak 200 meter hanya ditempuh dalam waktu 18 detik. Sebuah tontonan yang menarik dan menegangkan.” Inilah  gambaran dari pelaksanaan karapan sapi. Setiap minggu sepanjang bulan Agustus hingga Oktober setiap tahunnya diadakan perhelatan karapan sapi. Atraksi ini dilakukan mulai dari tingkat kawedanan, lanjut ke level kabupaten dan akhirnya se-Madura. Di luar jadwal ini bisa dipastikan karapan sapi yang diselenggarakan berupa karapan undangan dan karapan khusus wisatawan.

Menurut jenisnya karapan sapi dibagi menjadi 2, yakni Karapan Sapi Wisata (KSS) dan Karapan Sapi Tradisional (KST). Karapan sapi wisata diadakan secara insidental sesuai dengan permintaan wisatawan. Sedangkan KST dibagi menjadi empat yaitu: (1).Karapan Kecil yang diadakan dengan peserta se-kecamatan. Jarak lintasan 110 meter. (2).Karapan Besar diadakan di ibukota kabupaten. Jarak lintasan 120 meter. Pesertanya berasal dari pemenang Karapan Kecil. (3). Karapan Undangan (Onjhengan). Biasanya diadakan untuk memperingati hari-hari besar keagamaan atau yang lainnya. Misalnya 17 agustusan. Peserta karapan ini hanya yang menerima undangan saja dari panitia penyelenggara. (4).Karapan Sapi Piala Presiden atau Karapan Sapi Gubeng. Peserta terbuka untuk semua pemilik sapi kerapan yang telah lolos seleksi di tingkat kawedanan dan tingkat kabupaten. Sifatnya formal dan diselenggarakan oleh Pemerintah (diwakili oleh Bakorwil IV Pamekasan – Jatim).

Di dalam pelaksanaan karapan sapi, ada beberapa peralatan yang digunakan. Peralatan tersebut terdiri dari: kaleles, pangonong, pangangguy dan rarengghan (pakaian dan perhiasan), rekeng/rokong dan pakopak. Rekeng adalah alat pemukul sepanjang 15 cm yang dipenuhi paku. Alat tersebut dipakai sebagai cambuk untuk memaksa sapi supaya berlari lebih cepat. Sedangkan pakopak adalah alat yang memiliki fungsi sama dengan rekeng, yakni memberi kejutan, namun terbuat dari karet dan bambu.

Rekeng, alat yang dipenuhi paku

Penggunaan rekeng dan atau pakopak pada atraksi Karapan Sapi jelas merupakan penyiksaan dan kedzaliman terhadap sapi. Bagaimana pandangan Islam yang menjadi agama lebih dari 98% penduduk Madura? Islam jelas memerintahkan untuk berbuat baik kepada makhluk Allah. Manusia dianugerahi hewan ternak untuk memenuhi kebutuhan mereka sehingga bisa menjalankan misi manusia di bumi dengan sukses. Allah berfirman,

QS.Al-Mukminuun [23]: 021. Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian darinya kamu makan.

QS.Al-Mukmin [40]: 080. Dan (ada lagi) manfaat-manfaat yang lain pada binatang ternak itu untuk kamu dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati dengan mengendarainya. Dan kamu dapat diangkut dengan mengendarai binatang-binatang itu dan dengan mengendarai bahtera.

Oleh karena itu, sudah semestinya manusia memiliki ‘akhlaq’ terhadap hewan ternak ini.

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang tidak belas kasih niscaya tidak dibelaskasihi” [HR Al-Bukhari ; 5997, Muslim : 2318]. Beliau juga bersabda, Kasihanilah siapa yang ada di bumi ini, niscaya kalian dikasihani oleh yang ada di langit” [HR At-Tirmdzi : 1924]

Di kesempatan lain beliau juga bersabda, “Allah mengutuk orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran” [HR Al-Bukhari : 5515, Muslim : 1958] [Redaksi ini riwayat Ahmad: 6223]. Juga ada hadits yang melarang penyiksaan terhadap hewan/ternak, “Seorang perempuan masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati, maka dari itu ia masuk neraka karena kucing tersebut, disebabkan ia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat ia mengurungnya, dan tidak pula ia membiarkannya memakan serangga di bumi” [HR Al-Bukhari : 3482].

Kita bisa mendapatkan pahala dan dosa dari sikap kita terhadap makhluk lain ciptaan Allah. Sebagaimana disabdakan Nabi, “Pada setiap yang mempunyai hati yang basah (hewan) itu terdapat pahala (dalam berbuat baik kepadaNya)” [HR Al-Bukhari : 2363]

Ulama dan tokoh yang mengajarkan dan membudayakan karapan sapi di Pulau Sapudi di masa lalu adalah seorang yang paham betul bagaimana berakhlaq kepada hewan ternak. Jadi awalnya karapan sapi ini dilakukan sebagai hiburan dalam perayaan panen. Lalu seiring dengan masuknya penjajah Belanda ke Pulau Sapudi sekitar akhir abad 18 dan awal abad 19 maka hiburan tersebut menjadi ajang penyiksaan sapi. Mereka tertawa dan merasa terhibur dengan ‘pacuan sapi’ ini meskipun si joki yang Muslim melakukan tindakan penyiksaan terhadap sapi yang dikerap dengan menggunakan rekeng. Dan penggunaan rekeng tersebut terus bertahan hingga Tahun 2014. Sejak 2014 hingga sekarang penggunaan rekeng telah dilarang. Sebagai gantinya dalam pelaksanaan Karapan Sapi digunakanlah pakopak. Pemberian kejutan dengan menggunakan pakopak berarti masih ada pemukulan pada sapi. Artinya penyiksaan terhadap sapi ini masih berlangsung dalam atraksi karapan sapi.

Pertanyaannya adalah, apakah dengan alasan mempertahankan dan mengembangkan seni dan budaya kita dibolehkan untuk menyiksa sapi? Inilah yang banyak ditentang oleh kyai dan ulama di Madura terhadap atraksi pacuan sapi ini. Salah satu kyai yang sangat keberatan dengan penyiksaan hewan ini adalah KH.Abdul Aziz Syahid, Pengasuh PP Sumber Batu Desa Pegantenan Kec.Pegantenan Kab.Pamekasan. “Hiburan silahkan saja diadakan. Namun jangan sampai ada unsur kedzaliman dan penyiksaan terhadap makhluk Allah. Saya sangat tidak setuju dengan budaya karapan sapi yang disertai penyiksaan terhadap sapi yang dikerap. Itu sangat dilarang dalam Islam!!! Apalagi atraksi tersebut diadakan tidak jauh dari pondok pesantren saya ini. Siapa pejabat pemerintahan yang harus saya temui?” kata beliau saat saya berkunjung ke Ponpes pada medio 2013 silam.    

Karapan sapi juga sangat kental dengan unsur perjudian. Padahal Islam mengharamkan perjudian. Allah berfirman, QS.Al-Maidah [5]: 090. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Selain ada unsur penyiksaan terhadap sapi dan perjudian, budaya karapan sapi ternyata juga berpotensi untuk melalaikan masyarakat dari tujuan utama mereka dikirim ke planet bumi. Allah berfirman, QS.Al-Munaafiquun [63]: 009. Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

Oleh karena itu, permainan ini harus dikembalikan lagi kepada ruh awalnya sebagaimana yang dikehendaki para sesepuh Karapan Sapi di Madura. Jika tidak, maka lebih baik budaya ini tidak usah lagi diadakan di masyarakat. Kenapa? Dalam kaidah syara disebutkan, “Segala sesuatu yang menghantarkan kepada keharaman, maka sesuatu itu hukumnya menjadi haram.” Semoga kita semua terhindar dari amaliyah yang sia-sia dan tidak bernilai ibadah sedikitpun. Karena itu akan menjadi penyesalan dan menjelma menjadi kerugian bagi kita di akhirat sana.   

===========
*Abdurrahman Arraushany adalah nama pena dari Abdul Rohman, SPt (Pengawas Bibit Ternak Ahli Pertama di UPT Pembibitan Ternak dan Kesehatan Hewan Madura Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur).

Minggu, 01 November 2015

TINGGALKAN JEJAK DI KEHIDUPAN INI

MEMBUAT JEJAK DI KEHIDUPAN INI 

Kawan, jika hidupmu divonis dokter tinggal 1 bulan lagi, kira-kira apa yang akau kau lakukan? Hal apa yang akan kau lakukan agar namamu tetap harum selagi jasadmu sudah di liang lahat?

Kalau pertanyaan itu disampaikan ke saya, maka saya akan menjawab: SAYA AKAN MENULIS BUKU.

Koq buku? Apa ngga salah? Tidak kawan. Ya saya ingin menulis buku.

"Emangnya buku apa yang akan kau tulis?"

Saya ingin menulis buku yang sangat ingin kubaca tapi buku itu belum pernah ditulis orang lain sebelumku. 

Di antaranya buku ini:
#Bukan PNS Biasa
#Banjir Untung Dari Bisnis Ayam Kampung
#Sheeplioner
#2,5 Menit

Pamekasan, 01 Nopember 2015
Tengah Malam Selepas Pijat

Senin, 02 Juni 2014

11 Juni 2009

CERPEN : Hari Terakhir Seorang Mahasiswa Peternakan


Sambil duduk di bangku taman di bawah pohon Ki Sabun yang rindang, Bahtar muda memandang ke seantero taman kampus yang luas dan penuh mahasiswa itu. Berpuluh atau bahkan beratus umbul-umbul berkibaran seperti ikan berenangan dihembus angin. Tiang-tiangnya menancap kuat-kuat; memenuhi taman yang rindang oleh pepohonan besar dan bebungaan yang ditata rapi, yang memberikan kesejukan di musim kemarau dan menimbulkan kesan hangat di musim hujan.

Ia menghela nafas dalam. Kini ia harus siap menerima kenyataan itu. Kenyataan bahwa tidak lama lagi ia akan meninggalkan bangunan-bangunan tua tempat ia selama ini menimba ilmu. Sepertinya, ia belum siap betul menatap masa depan yang kelak menanti kiprah kesarjanaannya.

Dengan gerakan siput, dibolak-baliknya majalah Al-Wa’ie No. 98 Tahun IX, 1-31 Oktober 2008, yang sedari tadi ada di genggaman tangannya. Matanya tertuju pada artikel berjudul Konflik Ideologi Belum Berakhir yang ditulis oleh Fathiy Syamsuddin Ramadlan An-Nawiy. Baris demi baris dibaca dengan kecepatan 400 kata per menit. Di sub bab Kapitalisme Bukanlah Akhir Sejarah Manusia, ia kaget. Kesadarannya tersentak. Di halaman 28 itu, yang membahas tentang kegagalan ideologi Kapitalisme dunia, matanya tertuju pada Laporan Pembangunan Manusia (HRD) Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia menemukan catatan bahwa pada tahun 1999, diperkirakan ada 840 juta orang di dunia menderita kekurangan gizi; satu di antara empat anak di dunia kekurangan gizi; dan satu dari delapan orang di planet ini adalah pengangguran.

Ia membenahi posisi duduknya. Rasa penasarannya makin membuncah memenuhi setiap pembuluh darah yang ada di dalam tubuhnya. Ia meneruskan kembali bacaannya.

Antara/Asian Pulse pada bulan April 2001 menulis, sekitar 64.000 orang Indonesia memiliki simpanan sebesar 257 miliar dolar AS di luar negeri; dua orang terkaya di Indonesia masuk daftar 538 orang terkaya di dunia; sementara 19,5 persen dari 210 juta penduduk Indonesia menganggur.

Biaya pemeliharaan militer di seluruh dunia mencapai 809 miliar dolar AS pada tahun 1999; sementara negara-negara di Dunia Ketiga hanya membutuhkan 12 persen dari seluruh dana itu untuk menyediakan pelayananan kesehatan, mengatasi kekurangan gizi, dan menyediakan air bersih untuk seluruh rakyatnya.

Hatinya berdegup kencang. Karena penasaran, ia kembali meneruskan bacaannya.
La Botz, dalam Made In Indonesia, mencatat bahwa pengeluaran militer Indonesia pada tahun 1999 mencapai 50,3 miliar dolar AS, sedangkan dana pendidikan hanya 1,1 miliar dolar AS. Dalam waktu sepuluh tahun utang luar negeri dari seluruh negara berkembang di dunia membengkak 100 persen; dari 1,2 triliun dolar AS menjadi 2,5 triliun dolar AS. Banyak negara di dunia menghabiskan pendapatan negara untuk membayar bunga utang. Pemerintah Brasil, misalnya, menghabiskan 75,6 persen, sementara Indonesia, bunga utangnya menguras 66,8 persen total pendapatan Negara dalam RAPBN versi IMF tahun 1998/1999.

Rendahnya angka pendapatan Negara Dunia Ketiga tidak hanya meningkatkan angka kemiskinan, tetapi juga menurunkan kualitas hidup mereka. Pasalnya, mereka tidak bisa dengan leluasa mengakses layanan publik akibat tidak adanya daya beli. Apalagi, hampir kebanyakan layanan publik semacam pendidikan, kesehatan, transportasi, dan lain sebagainya telah diswastanisasi. Keadaan ini semakin mempersulit mereka untuk memperoleh layanan publik yang memadai. Hanya mereka yang memiliki pendapatan tinggi yang mampu menikmati layanan publik. Sebaliknya rakyat miskin seakan-akan tidak memiliki hak untuk hidup enak dan menikmati fasilitas-fasilitas publik itu.

Ia menutup majalah. Matanya terpejam. Pikirannya menerawang dan menari-nari di lintasan akson dan dendrite di sel-sel otaknya. Bukankah selama ini kondisi yang dialaminya seperti itu? Ia datang dari sebuah perkampungan di pelosok Jawa Timur. ‘Beasiswa’ dari orang tua hanya cukup untuk mengganjal perutnya supaya ia bisa tetap tegak berdiri. Bagaimana dengan kebutuhan-kebutuhan kuliahnya? Haihata, haihata (jauh, jauh sekali). Untuk meng-copy handout saja dari para dosen ia tak mampu. Apalagi untuk membeli buku. Apalagi untuk membayar uang kesehatan yang setinggi langit. Apalagi untuk membayar uang transport yang makin hari makin mendaki bukit. Makanya, ia harus pandai-pandai mengelola keuangan. Ia harus pandai-pandai bergaul dengan banyak orang, demi mendapatkan pinjaman materi perkuliahan untuk disalin. Ia pun harus bisa mengatur waktu untuk berolah raga supaya pikiran dan tubuhnya tetap sehat. Dilarang keras untuk sakit. Tak ada hak sakit buat orang miskin seperti dia. Pokoke, ia harus mau dan mampu tirakat untuk menimba ilmu. Hidup bersusah payah demi meraih ilmu yang kelak akan mengangkat derajatnya.

"Hhh...mampukah aku?", batinnya..
Ia bangkit dari tempat duduknya. Dengan langkah setengah berlari disusurinya koridor kampus menuju perpustakaan fakultas. Dilewatinya begitu saja para mahasiswa yunior yang sedang tertawa cekikikan. Berbeda sekali dengannya.

Orang bilang sejarah seringkali berulang. Hal ini pula yang dilakukan banyak mahasiswa senior saat mereka masih berstatus sebagai mahasiswa yunior tingkat pertama dan kedua. Barangkali saja mereka juga memegang teguh prinsip, “Kumaha engke?” dan bukan “Engke Kumaha?” seperti orang kebanyakan. Sehingga yang dilakukan adalah membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Bercanda dan ngobrol ngalor ngidul untuk membunuh waktu senggangnya. Hah,…mahasiswa, mahasiswa. Katanya saja kalian itu bagian dari warga negara intelek, kok aktivitasnya jauh dari kegiatan intelektual ya, seperti membaca dan menulis?
***

Perpustakaan kampusnya kini sudah banyak mengalami perubahan. Kini kondisinya sudah jauh berbeda dibanding empat tahun lalu saat ia masuk. Koleksi bukunya juga bertambah banyak. Kalau dikalkulasi sepertinya penambahan buku yang ada sudah tidak lagi mengikuti deret hitung tapi mengikuti deret ukur.

Perpustakaan belum banyak pengunjung. Sepi. Hening.
Jemarinya menyusuri deretan buku di rak. Tanpa sengaja pandangannya tertuju pada buku bersampul coklat berjudul “Berani Gagal” karya Billi P.S. Lim yang dulu pernah dibacanya saat berkunjung ke kostan temannya. Dibolak-baliknya buku itu. Sampai juga ia di halaman 17: “Jika tidak ada orang yang menawarkan pekerjaan, ciptakan lapangan pekerjaan sendiri! Mengapa bekerja bagi orang lain? Mengapa tidak bekerja untuk diri sendiri? Apakah kita ke universitas agar lulus sebagai mahasiswa kemudian mondar-mandir mencari pekerjaan? Jika begitu, siapa yang akan menciptakan lapangan pekerjaan bagi para non-mahasiswa yang tidak bernasib baik?”

Plakk!!! Walau tak berbekas, hatinya tertampar kata-kata penulis Malaysia yang mengarang buku itu. Ia lemas. Ia lunglai. Ia tak berdaya. Ia tak kuat menerima kata-kata yang menyentakkan kesadarannya itu.

“Apakah aku siap menghadapi hari esok?”
Besok adalah hari terakhirnya menjadi seorang mahasiswa. Ia besok akan mengikuti prosesi wisuda. Dengan itu berarti statusnya berubah. Secara de fakto maupun de jure ia besok telah resmi sebagai seorang sarjana peternakan. Di kartu tanda penduduk (KTP) yang baru, tidak lagi tertera kata ‘mahasiswa’ sebagai informasi ‘pekerjaannya’ tapi mungkin saja berganti dengan ‘wiraswasta’ untuk menutupi status terselubungnya sebagai pengangguran terdidik.

Apa yang sudah ia siapkan untuk terjun ke masyarakat?
Ia teringat dengan apa yang ditulis Robert T. Kiyosaki dalam Rich Dad Poor Dad. Katanya, untuk menjadi orang yang sukses dan bahagia, siapapun dia, harus menguasai dan memiliki paling tidak tiga jenis kecerdasan: kecerdasan skolastik, kecerdasan komunikasi, dan kecerdasan finansial.

Apakah dunia pendidikan di negeri ini yang selama ini dijalaninya telah membekalinya dengan ketiga jenis kecerdasan di atas?

Kecerdasan skolastik merupakan kecerdasan seseorang terkait dengan bidang yang ia pelajari. Jika bidang peternakan yang menjadi kajian keilmuan yang selama ini digeluti, itu berarti ia harus faham seluk beluk peternakan dan hal-hal yang terkait dengan dunia itu. Paham akan berbagai masalah yang ada di dunia peternakan dan tahu solusi yang tepat dan benar untuk menyelesaikannya. Setahuku, Bahtar sudah beberapa kali mengikuti kegiatan magang di usaha peternakan ayam. Di tingkat pertama, ia pernah magang di Rural Rearing Multipication Centre (RRMC) Malangbong Garut, salah satu kelompok peternak ayam kampung yang ada di Jawa Barat. Di tingkat dua, ia pernah magang di peternakan ayam pedaging komersil di Kecamatan Caringin Bogor. Apakah itu menjamin kemampuan Bahtar tentang pemahamannya tentang industri peternakan? Tergantung. Apakah ia melakukannya dengan antusiasme atau tidak.

Kedua, kecerdasan komunikasi. Komunikasi merupakan alat seseorang untuk berhubungan dengan orang lain. Ia bisa membawa keberuntungan yang besar jika dilakukan dengan baik dan juga membawa malapetaka yang luar biasa ngerinya jika disalahgunakan atau jika terjadi kegagalan komunikasi (miscommunication). AS mengebom Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945 lalu, misalnya, disinyalir kuat salah satu sebabnya adalah karena kegagalan komunikasi. Ketika AS memerintahkan ‘sesuatu’ kepada Jepang yang waktu itu sudah lemah, Jepang menjawab: Kami taat perintah Tuan, tanpa komentar. Jepang mengakui kekalahannya dan ‘menerima’ kenyataan yang ada. Tetapi, kata-kata itu diterjemahkan ke bahasa Inggris: No Comment, yang berarti ‘tak ada komentar’ yang bernada menantang.

Kecerdasan komunikasi dapat dikembangkan dengan pembelajaran, latihan dan kegiatan kepemimpinan. Antara kepemimpinan dan komunikasi seperti dua sisi mata uang. Tanpa salah satu dari keduanya, maka ia tidak dapat dikatakan sebagai uang, bukan. Pembelajaran kepemimpinan di kampus, dengan apalagi kalau bukan dengan berorganisasi intra dan atau ekstra kampus.

Ketiga, kecerdasan finansial. Kecerdasan yang satu ini tidak hanya dimiliki oleh para akuntan dan bankir. Sebab, faktanya, banyak di antara mereka yang juga tidak memiliki kecerdasan ini dan mengalami ‘krisis finansial’ yang seringkali membuat mereka stress. Kecerdasan ini erat kaitannya dengan ‘manajemen keuangan.’ Orang yang memiliki kecerdasan ini bisa membedakan antara asset dan liabilitas. Orang yang memiliki kecerdasan ini, akan mengatur pengeluarannya sehingga tidak terjadi, ‘lebih besar pasak daripada tiang.’ Ia mengetahui hukum uang dan mengetahui bagaimana cara uang itu bisa bekerja buat dirinya. Ia menjadi tuan bagi uang, bukan sebaliknya.

Lamunannya terhenti saat jam perpustakaan berdentang dua belas kali. Pertanda ia harus segera pulang dan menelpon keluarganya di kampung. Mereka hendak menghadiri acara wisudanya besok. Tak tanggung-tanggung, yang datang bukan hanya satu dua orang tapi semobil penuh. Hal yang lumrah terjadi pada acara wisuda atau perayaan lainnya. Keluarga yang datang memang seringkali meramaikan dan menyemarakkan suasana.
***
Malam semakin larut. Pukul dua dini hari ia terjaga. Keluarga yang dinanti belum juga tiba. Hati Bahtar kian lama kian gundah gulana. “Apapun yang terjadi besok, aku akan berwajah ceria,” gumamnya.

Ia sempat membayangkan berdiri di antara dua ribuan wisudawan/wisudawati dari berbagai jurusan di universitasnya. Ia telah ber-azzam akan berdiri kokoh menantang dunia untuk membuktikan bahwa dirinya dan dunia peternakan yang dipilih untuk digelutinya adalah bernilai bagi kehidupan umat manusia. Ia akan membuktikan bahwa keberadaan dirinya dan dunianya adalah semata untuk kesejahteraan umat manusia. Ia akan buktikan itu.

Ia bangkit, mengambil air wudlu dan melakukan sholat malam. Simaklah doanya.

“Ya Allah ya Tuhan kami. Tuhan Yang Memiliki kekuatan. Ijinkan aku berdiri tegar di hadapan ribuan makhluk-Mu. Aku hendak membaktikan sisa hidupku untuk kepentingan umat manusia. Aku sangat bersyukur karena Engkau telah menambahkan ilmu-Mu kepadaku. Aku sangat bahagia karena Engkau memberkati aku dengan berbagai macam kecerdasan dan kelebihan. Puji syukur kupanjatkan kepada-Mu, yang telah memilihkan jalan ini. Aku ikhlas. Aku rela dengan pemberianmu. Sesedikit atau sebanyak apapun itu. Rabb, melalui Rasulmu Engkau pernah bersabda: “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” Aku sangat yakin bahwa Engkau adalah benar. Janjimu adalah benar. Rasulmu adalah benar. Al-Qur’anmu adalah benar. Dan akhiratmu adalah benar. Maka, ampunilah aku.”

“Rabb, dengan menggeluti dunia peternakan yang menjadi bagian hidupku dan bangga dengan statusnya, aku akan menggapai empat nilai perbuatan manusia. Dengan beternak dan menjadi peternak aku akan bekerja dan menghasilkan banyak uang. Secara materi aku tidak akan lagi kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginanku semasa hidup di dunia ini. Bukankah dunia peternakan dari hulu, budidaya, sampai ke hilir menawarkan nilai materi yang menggiurkan?”

“Rabb, dengan beternak dan menjadi peternak, aku akan menolong manusia untuk bisa mendapatkan penghidupan. Dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang menyerap para pengangguran yang jumlahnya kian hari kian bertambah akibat tindak kezaliman para penguasa negeri kami. Mereka yang kami pilih sebagai wakil kami, untuk mengurus urusan kami, kenyataannya mereka tak pernah memperhatikan nasib dan urusan kami. Rabb, dengan beternak dan menjadi peternak aku juga akan menolong manusia dari kebodohan dan dari berbagai macam penyakit yang bisa membinasakan kehidupan umat manusia. Aku tidak tahu apa yang bakal terjadi jika Engkau tidak mengasihi umat manusia dengan memberikan makanan yang halal lagi baik berupa susu, daging dan telur yang bernilai gizi tinggi itu dengan perantaraan kami.”

“Ya Tuhan kami, dengan beternak dan menjadi peternak, aku akan belajar berdisiplin. Berdisiplin waktu, pikiran dan tenaga. Bukankah Engkau mewajibkan dan mensunahkan shalat kepada kami supaya kami belajar berdisiplin? Aku juga akan berbuat dan berkata jujur. Bukankah ayam-ayam kami yang kelak akan kami pelihara adalah contoh nyata bagaimana kami harus berbuat jujur? Ayam akan berproduksi sesuai dengan makanan yang kami berikan. Jika sedikit pakan yang kami berikan maka akan sedikit pula daging dan atau telur yang akan ia hasilkan. Dan begitu pula sebaliknya. Rabb, dengan beternak dan menjadi peternak kami juga akan menjadi manusia yang bertanggung jawab. Kami akan belajar dan berbuat selalu dalam keadaan bersih dan rapi. Kami juga akan menjadi manusia yang penuh semangat dan antusiasme. Kami juga akan menjalin kerjasama dengan orang lain dengan cara yang terbaik. Kami akan menjadi teladan dan meneladani bagi dan dari orang lain. Dan tak lupa, kami juga akan berpikir dan berbuat maju demi kemajuan diri sendiri dan masyarakat kami.”

“Rabb, dengan beternak dan menjadi peternak aku berharap akan mendapatkan keridloan-Mu. Kebahagiaan apalagi di kehidupan ini yang bisa melebihi keridloan-Mu. Untuk itu, aku akan melakukan hal-hal yang akan mendatangkan keridloan-Mu kepadaku. Dan, aku akan menjauhi hal-hal yang akan mendatangkan murka-Mu. Sesungguhnya hukum benda-benda dari-Mu sudahlah jelas: halal dan haram. Dan, hukum perbuatan kami dari-Mu juga sudah jelas: wajib, sunah, jaiz (boleh), makruh, dan haram. Tolong kami ya Rabb untuk kami tetap berjalan di jalanmu yang lurus. Sadarkan kami jika kami menyimpang dari jalan-Mu.”

“Rabb, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Pukul 03.55 wib. Tok. Tok. Tok. Pintu kamarnya diketuk tiga kali. Ia bangkit. Kini, semangat dan kepercayaan dirinya begitu besar.

“Selamat datang di kota Bandung.” Ujarnya sambil menyerahkan undangan khusus dan istimewa kepada bapak tercintanya.

Ditulis oleh : Abdul Rohman, SPt. Alumni Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran-Bandung. Kini bekerja sebagai staff Breeding Farm PT Wonokoyo Jaya Corporindo. Tinggal di Singosari-Malang.
 (Saat ini saya sudah berubah status. Sudah keluar dari PT.WJC. Dan bergabung dengan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur sebagai Pengawas Bibit Ternak di UPT PT dan Keswan Madura sejak Maret 2010)