Senin, 01 Juni 2026

Hari Susu Nusantara: Stop!!! Saatnya Berhenti Memuja Susu Sapi (Impor). Allah Sudah Ciptakan Kambing Pote dan 4 Ternak Lain untuk Rakyat Indonesia

 

Hari Susu Nusantara: Stop!!! Saatnya Berhenti Memuja Susu Sapi (Impor). Allah Sudah Ciptakan Kambing Pote dan 4 Ternak Lain untuk Rakyat Indonesia

 

Oleh: Abdurrahman Arraushany

@peternakpembelajar

Alumnus S1 Fapet Unpad | S2 Fapet UB

Penulis 7 Buku, termasuk Buku 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula

 

Hari ini, 1 Juni, dunia sedang ramai-ramainya meminum susu sapi.

Media sosial dipenuhi tagar #WorldMilkDay. Kementerian Pertanian RI juga sedang gencar mempromosikan Hari Susu Nusantara. Sebagai seorang Muslim yang berusaha mengamalkan Islam sebagai way of life, saya bertanya: Apakah ketergantungan kita pada only one source—sapi perah—ini adalah sebuah bentuk kepatuhan, atau justru kelemahan?

 

Bersandar hanya pada peternakan sapi perah saja di negeri yang panas ini untuk penyediaan susu bagi pemenuhan kebutuhan rakyat akan pangan bergizi adalah sebuah kemustahilan logistik. Produksi susu sapi perah nasional kita hanya berkisar 10-15 liter per ekor per hari, stagnan selama puluhan tahun karena keterbatasan pakan dan iklim tropis. Akibatnya? Lebih dari 80% kebutuhan susu kita hari ini masih impor.

Mau sampai kapan kita tergantung pada bangsa lain untuk segelas susu yang menjadi target konsumsi harian kita, sementara Allah telah menciptakan 4 jenis ternak penghasil susu lain yang lebih adaptif di Bumi Nusantara?

Allah swt berfirman:

QS An-Nahl [16]: 066. Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.

Perhatikan, Allah tidak menyebut "susu sapi" secara spesifik. Allah menyebut "hewan ternak" (al-an'am). Ini pintu ijtihad yang selama ini kita kunci rapat-rapat.

Susu Terbaik Adalah ASI, Lalu Susu Apa Selanjutnya?

Sebagai Muslim ideologis, kita harus fair. Islam mengajarkan bahwa susu terbaik mutlak untuk manusia adalah Air Susu Ibu (ASI). Maka, seorang ibu dan ayah harus mengupayakan agar sang buah hati mendapatkan haknya berupa susu ibunya.

Hukum Persusuan (Radha'ah) dalam syariat Islam mengajarkan betapa mulianya cairan ini. Seorang anak yang menyusu dari seorang wanita non ibu kandungnya membuat mereka menjadi mahram.  Alias haram dinikahi. Lalu berapa lama idealnya seorang ibu menyusui anaknya? Idealnya, seorang ibu menyusui anaknya hingga 2 tahun penuh (haulain kamilain), sebagaimana perintah-Nya:  

Allah swt berfirman:

QS Al-Baqarah [2]: 233. Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Setelah itu, atau jika karena suatu hal sang ibu tidak memungkinkan untuk menyusui bayinya, maka barulah kita mencari pengganti. Sampai-sampai dalam sebuah riwayat, jika seorang ayah memerintahkan agar mencari ibu pengganti untuk menyusui anaknya (atau konteks pembayaran dalam fiqih), ada konsekuensi 'iwadh (kompensasi/ganti rugi), menunjukkan betapa berharganya nilai gizi ini.

Lantas, setelah ASI, susu hewan ternak apa yang paling afdhol?  Sebagai peternak yang memahami fisiologi ternak, dan sebagai Muslim yang memahami makanan halal dan thoyyib (aman, sehat dan utuh), inilah urutan prioritas susu hewan ternak untuk manusia menurut saya:

1.   Susu Kambing & Domba (paling mirip ASI). Secara struktural molekuler, susu kambing memiliki curd (gumpalan lemak) yang lebih lunak dan mudah dicerna dibanding sapi

2.       Susu Kerbau (kandungan lemak dan mineral tinggi, sangat baik untuk energi)

3.       Susu Kuda (paling tinggi kandungan vitamin C, tradisi bangsa Mongol dan Turki Utsmani)



Lho, mana susu sapinya? Susu sapi ada di urutan bawah untuk skala rumah tangga mikro, terutama di iklim tropis. Ternak sapi idealnya untuk produksi daging (sapi potong) atau draught power (tenaga kerja), bukan exclusive dairy yang terbukti boros pakan dan sumber daya air.

Ini Bukan Soal Teknis, Ini Soal Ideologi: Kambing Pote Bangkalan

Strategi Islam dalam penyediaan pangan rakyat bukanlah monokultur industri, melainkan agro-ekosistem berbasis keberkahan. Artinya: kita harus memanfaatkan apa yang paling kuat bertahan di daerah masing-masing. Saya ulangi ya: kita harus memanfaatkan apa yang paling kuat bertahan di daerah masing-masing.

Publish or Perish. Publikasikan atau tenggelam/punah. Di sinilah saya mengingat ikhtiar kecil saya untuk mempublikasi kali pertama terkait potensi Kambing Pote di Blog @PeternakPembelajar di Tahun 2017 dengan menulis artikel berjudul: Kambing Pote Arosbaya Si “Uranium” Kabupaten Bangkalan Yang Perlu Segera Dikelola

Tahun 2019, agar informasi tentang Kambing Pote dikenal semakin luas di kalangan peternak dan masyarakat Indonesia, maka saya memutuskan untuk memasukkan bahasan Kambing Pote di buku kedua karya saya berjudul 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula, tepatnya di halaman 259. 




Selanjutnya, informasi di blog @PeternakPembelajar tersebut kemudian juga dijadikan pembahasan di Buku Katalog SDGH Di Jawa Timur yang diterbitkan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur Tahun 2019. 

Berikutnya, agar Kambing Pote di Bangkalan benar-benar teridentifikasi sifat kualitatif dan kuantitatifnya serta struktur populasi beserta dinamika populasinya, dan hasilnya diketahui masyarakat Indonesia dan dunia, maka di Tahun 2020 saya memutuskan untuk melanjutkan studi di Fak.Peternakan (Fapet) Universitas Brawijaya dan menjadikan Kambing Pote sebagai objek penelitian S2 saya.  

Di banyak kesempatan, baik online maupun offline, saya dengan semangat memperkenalkan ke publik tentang Kambing Pote asal Bangkalan-Madura ini beserta potensi ekonominya. Banyak yang awalnya tidak percaya. Kambing Pote dengan ciri khas berwarna putih ini dulunya dianggap sekadar ‘kambing kampung’ yang tidak menarik karena dianggap ukuran tubuhnya mini seperti Kambing Kacang.

Tahun 2025, Kambing Pote telah resmi diakui Kementerian Pertanian sebagai kambing Jawa Timur. Dasarnya? Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 839/KPTS/HK.150/M/09/2025, Kambing Pote telah resmi ditetapkan sebagai Sumber Daya Genetik (SDG) Hewan Jawa Timur. 

Nah, bagi saya, ini bukan hanya SK, ini adalah pengakuan atas genius lokalis peternak-petani Madura yang memiliki budaya beternak sangat tinggi di Jawa Timur.

Berikut beberapa informasi menarik tentang Kambing Pote (berdasar data riset pribadi yang sebelumnya masih belum banyak dipublikasikan di media):

1.   Kambing Pote adalah kambing tipe Dwiguna (daging & susu). Dalam penelitian saya, bobot badan individual jantan dewasa bisa mencapai 75 kg, sedangkan pada betina dewasa bisa mencapai 68 kg. Sedangkan rataan populasi terkait bobot badan pada jantan dan betina dewasa ada di angka: 27.71 kg – 46.00 (jantan), dan 27.62 kg – 40.26 kg (betina). Bobot badan Kambing Pote ini jauh di atas Kambing Kacang yang umumnya berkisar antara 20-25 kg pada jantan dan betina dewasanya. 

2.   Hasil penelitian kolaborasi antara mahasiswa lain dan dosen pembimbing saya di Fapet UB, ditemukan bahwa secara genotipik, Kambing Pote memiliki kemiripan 86% dengan Kambing Senduro Lumajang. Ini artinya, moyangnya Kambing Pote adalah kambing perah yang tangguh dan produktif sebagai penghasil susu.


Bagaimana dengan produksi susu Kambing Pote?  Jangan salah.  Untuk Kambing Pote murni dengan manajemen terbatas ala peternak rakyat di Bangkalan Madura (yang biasanya hanya diberi pakan seadanya), produksi susu Kambing Pote bisa mencapai 400-1000 ml ekor per hari.   Sedangkan Kambing Saperos (hasil Cross Pejantan Saanen x Kambing Pote [Arosbaya]) generasi pertama (F1) milik Pak Sulhan Badri, peternak kambing di Kecamatan Arosbaya Bangkalan, ternyata mampu memproduksi susu 1.5 liter ekor per hari. Nah, luar biasa, kan?

Angka ini mungkin nampak kecil dibanding sapi perah impor yang produksi susunya mampu mencapai 20 liter per hari. Namun, satu hal yang tidak boleh kita lupa, bahwa pakan Kambing Pote di Bangkalan adalah rumput lapang (native grass), dedaunan yang ada di pekarangan dan ladang, serta aneka limbah pertanian yang free

Di dataran rendah yang panas seperti di Madura, sapi perah dengan populasi sangat kecil yang ada di Kabupaten Bangkalan menunjukkan produktivitas yang sangat rendah, bahkan cenderung mengalami cekaman panas yang mematikan. Lalu bagaimana dengan Kambing Pote? Kambing Pote justru mampu bertahan dan jadi ternak yang sangat produktif. 

Tidakkah kita melihat ini sebagai potensi besar di bidang ekonomi, sosial dan lingkungan yang perlu digarap?

 

Mengapa Pemerintah (dan Umat), Belum Melirik Potensi Ini?

Kita sedang tidur lelap di buaian impor. Kenapa produksi sapi perah lokal kita tidak meningkat? Karena genetika sapi FH (Friesian Holland) tidak dirancang untuk suhu 34 derajat celcius. Mereka stres, kawinnya sulit, susunya turun.

Sementara itu, Allah swt telah menganugerahi potensi sangat besar di bidang peternakan kepada negeri kita tercinta, dengan aneka sumber daya genetik hewan (SDGH) asli/lokal seperti:

1.     Domba di Jawa Barat (Data DitjenPKH 2022 menunjukkan bahwa 60% populasi domba nasional ada di provinsi bagian barat Pulau Jawa ini). potensi domba sebagai pabrik susu di Indonesia masih terbatas.

2.       Kerbau di Sumatera bisa diperah dan hasilkan susu bergizi

3.       Kuda di NTB dan NTT serta di Sulawesi Selatan, dapat dijadikan pabrik susu dan olahan tradisional

4.       Kambing Senduro untuk wilayah dataran tinggi dan beriklim sejuk

5.       Kambing Pote sebagai solusi nasional untuk wilayah dataran rendah

Pertanyaan besar untuk Muslim Ideologis: Jika kita punya ayat dan bukti ilmiah, kenapa kita masih membiarkan uang umat (baca: devisa negara) mengalir ke luar negeri untuk membeli susu bubuk impor?  Jawabannya: kita kurang memiliki Islamic Leadership di sektor peternakan.

Kalao menurut Anda, apakah jawaban saya tepat?  


Ajakan Perubahan (Call to Action)

Saudaraku, saya menulis artikel ini di @peternakpembelajar bukan untuk sekadar menggugat. Tapi untuk bertindak agar ke depan seluruh rakyat Indonesia mendapatkan pangan halal dan thayyib (aman, sehat dan utuh) dengan layak. Untuk itu melalui tulisan ini saya menyeru kepada Anda: 

1.       Stop Dogma "Sapi adalah Satu-satunya Sumber Susu". Mulai sekarang biasakan keluarga kita minum susu kambing, susu domba atau kerbau dan kuda lokal. Insyaallah, rasanya lebih segar dan tidak bikin kembung (laktosa lebih rendah)

2.  Kembalikan ke amaliyah yang mendatangkan keberkahan. Carilah peternak kambing (jika Anda di Madura maka carilah peternak Kambing Pote di Bangkalan, khususnya di Kecamatan Arosbaya, Kecamatan Tanah Merah dan Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan) . Beli susunya, dorong ekonomi mereka. Insya Allah ada keberkahan karena ini ternak asli/lokal ciptaan Allah untuk tanah kita.

3.     Jadikan ini Gerakan Islam. Jika kita serius dengan food security sebagai bagian dari Jihad Fi Sabilillah, maka kita wajib mengembangkan peternakan mamalia kecil (kambing, domba) sebagai garda depan pemenuhan gizi.

Mari kita jadikan Hari Susu Dunia  (World Milk Day) ini sebagai momen Hijrah Pangan. Jangan biarkan piring dan gelas kita terus diatur oleh negara luar dengan kebijakan impor negara lain. Allah sudah memberikan Kambing Pote, Kambing Senduro, Domba, Kerbau, dan Kuda. Apakah kita akan terus memalingkan muka?

Wallahu a'lam bish-shawab.

 

NB

Abdurrahman Arraushany merupakan nama pena dari: Abdul Rohman, S.Pt., M.Pt. Saat ini menjabat sebagai Kepala Seksi Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (HMT) di UPT Pembibitan Ternak dan Kesehatan Hewan Madura Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur.

 

Referensi:

Arraushany, Abdurrahman. 2017. KAMBING POTE AROSBAYA SI “URANIUM” KABUPATEN BANGKALAN YANG PERLU SEGERA DIKELOLA. Blog Peternak Pembelajar. http://abdurrahmanarraushany.blogspot.com/2017/02/kambing-pote-arosbaya-si-uranium.html

Arraushany, Abdurrahman. 2019. 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula.  Penerbit VIP. Batu.

Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan. (2026). Genjot Konsumsi Susu, Hari Susu Nusantara 2026 Sasar Generasi Produktif. https://bpmsph.ditjenpkh.pertanian.go.id/berita/genjot-konsumsi-susu-hari-susu-nusantara-2026-sasar-generasi-produktifk

Depag RI. Al-Qur'an Terjemah (Versi Online). Surah An-Nahl (16): 66 dan Surah Al-Baqarah (2): 233.

Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. 2019. Katalog SDGH Di Jawa Timur. Surabaya.

Direktoral Jenderal Peternakan dan kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI. 2022. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2021. Kementerian Pertanian. Jakarta.

Kementerian Pertanian RI. 2025. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 839/KPTS/HK.150/M/09/2025 tentang Penetapan Rumpun Kambing Pote Bangkalan

Rohman, Abdul. 2024. Identifikasi Struktur Populasi dan Karakterisasi Fenotipik Kambing Pote. Thesis. Fapet UB. Malang.

https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/ternak/27176-Gandeng-HKTI-Hingga-Industri-Kementan-Siap-Sukseskan-Hari-Susu-Nusantara-2026

https://www.kompas.tv/nasional/671737/daftar-lengkap-hari-besar-nasional-dan-internasional-juni-2026

https://repository.pertanian.go.id/server/api/core/bitstreams/c025c776-4a19-4f29-a34b-3a6106f53ff8/content#1#1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar