Minggu, 06 September 2026

Ghanam, MBG, dan Jangan Jadi Mantan Peternak!

 

Ghanam, MBG, dan Jangan Jadi Mantan Peternak!

Catatan Kritis Peternak dan Pedagang Domba Kambing Jawa Timur dan Jawa Barat

Menyongsong Munas HPDKI V Tanggal 16-17 September 2026

 

Oleh
Abdurrahman Arraushany1 dan Luthfan Basalamah2


Madura emang beda. Tiga belas tahun lebih saya menjejakkan kaki di tanah yang terletak di timur laut Pulau Jawa ini, mengajarkan saya satu hal: hidup itu sederhana, tapi penuh makna. Saya menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran—bahkan menikmati setiap butir nasi dan tetes air yang tumbuh dari saripati tanah Madura. Dan dari sekian banyak momen yang saya syukuri selama bertugas di Pulau Garam dan Pulau Sapi ini, satu yang paling membekas: Maulid Nabi.

Warga Madura yang kaya dan keberislamannya bagus, hampir selalu menyelenggarakan maulidan dengan acara meriah. Bahkan terkesan saling berlomba agar nampak siapa yang lebih kaya. Di sekitar rumah kami di Kowel Pamekasan, setiap moment maulidan selalu datang surat undangan ke saya antara 3-6 kali setiap tahunnya. Lumayan. Sajian di acara hampir selalu sate dan gulai kambing. Disadari atau tidak, moment ini menjadi wasilah perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat.

Di kantor kami yang sederhana di Pamekasan, setiap tahun kami juga menggelar acara maulidan. Kami mengundang penceramah, lalu duduk bersama dalam lingkaran penuh cinta. Kami membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan tartil, menerjemahkan maknanya agar meresap ke dalam relung hati. Kami bershalawat kepada baginda Nabi—berulang-ulang, dengan penuh kerinduan—seolah-olah kami sedang berdiri di hadapan beliau. Kami melantunkan barzanji, memuji akhlak dan perjuangan beliau, hingga air mata tak jarang menetes tanpa terasa. Kami berdoa bersama, memohon agar cinta kepada Nabi tidak pernah pudar dari dada kami. Lalu kami mendengar tausiyah yang mengingatkan kami untuk meneladani setiap gerak-gerik beliau—dalam aqidah dan ibadah, dalam muamalah dan uqubat, bahkan dalam urusan pakaian, akhlaq serta makanan dan minuman. Anggaran acara datang dari patungan. Kami kumpulkan uang, kami niatkan sedekah. Bukan karena kami kaya raya, tapi karena kami sangat rindu pada Nabi dan ingin diakui sebagai umatnya di akhirat kelak.

Pekan sebelumnya, saya juga mengikuti acara qudwah secara daring, yang dilaksanakan oleh komunitas dakwah yang merindukan tegaknya kembali kehidupan islam secara kaffah/totalitas.  Acara tersebut benar-benar mengguncang hati saya—mendorong saya untuk mencintai Nabi lebih dalam, dan berjuang agar warisan beliau, Al-Qur'an dan hadits, benar-benar bisa hidup dalam diri, keluarga, masyarakat bahkan negara.

Saya adalah peternak dan trader domba kambing di Jawa Timur.  Sehari-hari saya tidak hanya memelihara, tapi juga membeli, menjual, dan mendistribusikan dombing—domba dan kambing—ke berbagai daerah. Sahabat saya, Bang Luthfan, adalah peternak dan seller kambing serta susu kambing di Jawa Barat. Dari namanya saja, sudah nampak bahwa beliau seorang peternak kambing keturunan Arab yang sepertinya juga punya darah peternak dan pedagang yang mengalir dalam tubuhnya. Bang Luthfan setiap hari bergelut dengan kandang, kambing, dan botol-botol susu segar yang siap dikirim ke pelanggan.

 

Jawa Timur merupakan gudang ternak (domba dan kambing) nasional. Peternak idealnya tidak hanya beternak, tapi juga jadi pedagang dan pebisnis di bidang peternakan domba kambing agar profit yang didapat maksimal. Kambing Jawarandu dan domba ekor tipis banyak dijajakan di pasar hewan di Tuban dan wilayah sekitarnya. Di pasar hewan inilah Himdafarm sering beli bakalan dan jual hasil produksi.

Kami berdua bertemu di bangku kuliah, Program Profesi Insinyur (PPI) Fapet UGM periode gasal 2026/2027. Pertemuan pertama kami terjadi pada moment penerimaan mahasiswa baru tanggal 12 Agustus 2026 silam. Kami baru sempat berkenalan, belum sempat mengobrol panjang karena acara yang padat. Sejak saat itu, komunikasi kami intens melalui WhatsApp dan telepon. Kami berdiskusi panjang tentang peternakan, tentang tantangan yang kami hadapi, dan tentang masa depan dombing di Indonesia.

Dari situlah tulisan ini lahir—dari obrolan virtual dua peternak yang sama-sama risau dan sama-sama berharap. Latar belakang akademik kami—saya lulusan S1 Fapet Unpad dan S2 Fapet UB, Bang Luthfan lulusan S1 Fapet UGM, dan kini kami berdua tengah menempuh Program Profesi Insinyur di Fapet UGM—membentuk cara pandang kami dalam melihat persoalan peternakan secara ilmiah sekaligus aplikatif.



Lembah Barkah Farm, merupakan farm yang senantiasa produksi susu kambing murni berkualitas tinggi. Farm ini milik penulis dan mertua yang berlokasi di Palutungan Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat

Dan dalam perjalanan kami beternak dan berdagang, kami sering berdiskusi tentang makna ghanam. Dalam banyak kitab, ghanam dimaknai sebagai domba dan kambing. Tapi beberapa kyai yang saya kenal di Madura menegaskan bahwa ghanam lebih condong pada kambing. Wallahu a'lam. Yang jelas, domba dan kambing—yang sering saya singkat DOMBING—adalah ternak yang sangat istimewa dalam Islam. Keduanya adalah saudara dalam sunnah, keduanya adalah bagian dari ghanam yang diberkahi.

Tapi ada satu pertanyaan yang mengusik kepala saya, dan mungkin juga mengusik kepala Anda. Pertanyaan ini hadir di tengah hingar-bingar perayaan maulid, di tengah debat pro dan kontra yang tak pernah usai: Apakah kita sudah meneladani Nabi dalam urusan yang paling mendasar—makanan dan minuman?

Kita sering mengkaji Sirah Nabawiyah—kitab monumental karya Ibnu Hisyam yang menjadi rujukan utama sejarah hidup Rasulullah (Ibnu Hisyam, 2012). Kita bahas peperangan, diplomasi, dan akhlak mulia. Tapi seberapa sering kita membahas apa yang dimakan dan diminum Nabi serta para sahabat nabi? Apakah daging dan susu dombing menjadi hidangan favorit mereka? Apakah kita, umat Islam Indonesia yang mayoritas, sudah mencontoh mereka? Dan pertanyaan yang paling membakar: Mengapa 124.000 nabi dan rasul—dari Adam sampai Muhammad—semuanya beternak ghanam?

Dan di tengah semua itu, muncul program MBG—Makan Bergizi Gratis—yang digaungkan sebagai program andalan Presiden Prabowo Subiyanto. Apakah daging dan susu dombing sudah menjadi menu wajib di sana? Atau justru kita kembali tergoda pada pangan impor, pada produk asing yang terus menggerus harga dan harga diri peternak lokal? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar iseng. Ini adalah pertanyaan hidup dan mati—bagi peternak, bagi pedagang, bagi bangsa, dan bagi masa depan umat.

Mengapa Nabi Menggembala Ghanam? Sebuah Renungan dari Kandang dan Pasar

Bayangkan. Nabi Muhammad, manusia paling berpengaruh sepanjang sejarah, sebagaimana diakui Michael Hart dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (Hart, 1978)—Hart yang bukan Muslim, tapi tak bergeming menempatkan Muhammad di urutan pertama, mengalahkan Yesus, Newton, dan Buddha—beliau adalah seorang penggembala ghanam.

Beliau lahir yatim, lalu diasuh kakek dan pamannya. Saat remaja, beliau memilih bekerja menggembala ghanam milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath. Bukan karena terpaksa, tapi karena beliau tak mau merepotkan Sang Paman, Abu Thalib, yang sudah banyak berkorban. Dengan menggembala, beliau belajar kesabaran, tanggung jawab, dan kemandirian. Itulah sekolah kehidupan yang pertama.

Selain menjadi penggembala, Nabi saw juga seorang pedagang. Beliau pernah menjadi pegawai dalam bisnis Khadijah, melakukan misi dagang ke Syam, dan mengelola bisnis ekspor-impor. Syafii Antonio dalam bukunya Super Leader Super Manager (Antonio, 2012) mengungkapkan bahwa Nabi Muhammad mencapai kebebasan finansial di usia 37 tahun. Ini terjadi sekitar tiga tahun sebelum beliau menerima wahyu pertama. Artinya, beliau bukan sekadar pemimpin spiritual, tapi juga manajer kehidupan yang ulung. Beliau pernah menjadi pegawai, pedagang, penggembala, bahkan kepala negara. Semua peran dijalani dengan sempurna.

Nabi Muhammad pernah hidup berkecukupan, bahkan kaya raya. Tapi beliau memilih hidup sederhana. Setiap harta yang datang—dari ghanimah, fai, atau hadiah—segera beliau salurkan untuk kebaikan, untuk dakwah, untuk membantu orang miskin. Harta tak pernah menempel lama di tangannya.



Penulis bersama dengan founder dan owner Sari Rejeki Farm. Farm milik pengusaha tahu dan tempe asal kab Malang ini saat ini memiliki populasi kambing perah lebih dari 400 ekor di pusat kota Pamekasan Madura Jawa Timur. 


Dan di antara semua profesi yang pernah beliau jalani, satu yang paling beliau tekankan: beternaklah ghanam.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Hani', Nabi SAW bersabda: "Peliharalah ghanam, karena pada ghonam terdapat keberkahan." (HR. Ibnu Majah, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani)

Dalam riwayat lain, Nabi SAW juga bersabda: "Akan tiba masanya ketika harta muslim yang terbaik adalah domba yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah." (HR. Al-Bukhari)

Sebagian ulama menafsirkan bahwa ghanam dalam hadits ini lebih dominan pada kambing, tapi domba juga termasuk di dalamnya. Yang jelas, dombing—domba dan kambing—adalah ternak pilihan para nabi.

Bang Luthfan beberapa kali bercerita kepada saya melalui sambungan telepon tentang pengalamannya beternak kambing di Jawa Barat. "Kambing itu makhluk yang istimewa, Pak," katanya suatu malam. "Mereka tak banyak menuntut. Daun-daun kering pun dimakan. Tapi susu dan dagingnya begitu berharga."

Saya tersenyum mendengarnya. Di Madura, domba di Pulau Sapudi dan Madura daratan juga demikian. Mereka tahan banting, hidup dari dedaunan dan rumput-rumput pinggir jalan, tapi memberi kita daging yang lezat dan susu yang menyehatkan. Dan sebagai trader, saya tahu betul bahwa dombing selalu laku—selama kita tahu cara menjualnya dengan benar.

Tahukah Anda apa itu berkah? Bukan sekadar untung besar. Berkah adalah saat sesuatu yang sedikit terasa banyak, saat yang kecil memberikan manfaat besar, saat pekerjaan yang sederhana membawa ketenangan jiwa. Beternak dan berdagang dombing bukan sekadar mencari nafkah. Ini adalah ibadah. Ini adalah sunnah para nabi. Ini adalah jalan yang penuh kebaikan dunia dan akhirat.

Niat: Fondasi yang Sering Terlupakan

Saya menulis buku berjudul 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula (Arraushany, 2019). Buku ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya sendiri—jatuh bangun, untung rugi, suka duka beternak domba dan kambing di Madura dan di Tuban Jawa Timur.  Buku juga saya tulis berdasar pengalaman banyak peternak domba kambing yang saya bina baik di dalam negeri maupun di luar negeri (baca: para TKI dan TKW yang konsultasi via media sosial).  Salah satu kesalahan terbesar, yang saya tempatkan pada kesalahan pertama peternak pemula, yang saya bahas di buku itu adalah tentang niat.

Banyak peternak pemula yang terjun ke dunia peternakan hanya karena melihat orang lain sukses. Mereka melihat peternak di desa sebelah punya rumah bagus, mobil baru, dan ternak yang gemuk-gemuk. Lalu mereka berpikir, "Ah, beternak itu mudah. Cuma kasih makan, minum, tunggu besar, lalu jual. Untungnya besar." Tanpa disadari, niat mereka sudah salah sejak awal. Yang mereka kejar hanya rupiah. Yang mereka bayangkan hanya keuntungan materi.

Padahal, peternakan domba dan kambing adalah usaha yang penuh risiko. Harga pakan naik, harga jual turun, ternak sakit, bahkan mati. Ketika semua itu terjadi—dan percayalah, itu pasti terjadi—peternak yang niatnya hanya mengejar uang akan patah arang. Mereka akan kecewa, frustrasi, lalu menjual semua ternaknya dan pergi. Mereka menjadi mantan peternak.

Lalu bagaimana dengan peternak yang niatnya benar? Peternak yang niatnya benar—yaitu beternak sebagai ibadah, sebagai bentuk meneladani para nabi, sebagai amanah dari Allah—akan tetap tegar. Saat harga jatuh, ia bersabar dan mengingat bahwa rezeki dari Allah tidak tergantung pada harga. Saat ternak mati, ia bersabar dan mengingat bahwa semua makhluk akan kembali kepada-Nya. Saat pasar seret, ia tetap memberi makan dan merawat ternaknya dengan penuh kasih sayang—bukan hanya karena ia butuh uang, tapi karena ia sadar bahwa setiap tetes susu yang keluar dan setiap helai bulu yang tumbuh adalah amanah yang harus dijaga.

Islam mengajarkan bahwa segala amal tergantung pada niat. Beternak dengan niat mencari ridha Allah akan menghasilkan pahala, bahkan dari hal-hal yang tampak sepele. Memberi minum ternak, membersihkan kandang, bahkan sekadar mengusap kepala kambing yang sakit—semua itu bisa menjadi amal saleh jika diniatkan karena Allah. Sebaliknya, beternak dengan niat hanya mengejar dunia—meskipun hasilnya besar—akan terasa hampa dan tidak berkah.

Saya sering mengingatkan pembaca buku saya: Luruskan niat sebelum beternak. Jangan cuma cari uang, tapi carilah pahala. Insya Allah, uang akan datang mengiringi pahala.

Bang Luthfan mengamini hal ini. Dalam obrolan WhatsApp kami beberapa waktu lalu, ia berkata, "Pak, peternak yang niatnya benar itu beda. Kalau rugi, dia tetap tenang. Kalau untung, dia tetap rendah hati. Dia tidak gampang menyerah karena dia sadar: ini bukan sekadar bisnis, ini perjuangan meneladani Nabi."

Saya setuju. Niat adalah fondasi yang menentukan apakah seseorang akan bertahan atau menjadi mantan peternak.


Pedagang Muslim vs Pedagang Biasa: Bedanya di Hati

Saya ingin bertanya kepada Anda, para peternak dan pedagang yang membaca tulisan ini: Apa yang membedakan pedagang muslim dengan pedagang lainnya?

Jawabannya ada dalam niat. Dalam tujuan. Dalam cara pandang.

Pedagang muslim memandang dagangannya bukan sekadar komoditas. Ternak adalah amanah dari Allah. Setiap tetes susu yang dihasilkan, setiap potong daging yang dijual, setiap transaksi yang terjadi—semua itu adalah amal yang dicatat oleh malaikat. Berdagang dombing bisa menjadi jalan meraih qimah ruhiyah (nilai spiritual), qimah khuluqiyah (nilai akhlak), dan qimah insaniyah (nilai sosial), bukan hanya qimah madiyah (nilai materi).

Di Jawa Timur, tempat saya beternak dan berdagang, populasi kambing adalah yang tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dirilis GoodStats (2026, Februari 10), populasi kambing di Jawa Timur mencapai 4,6 juta ekor pada tahun 2025, diikuti Jawa Tengah dengan 3,57 juta ekor. Data dari Databoks (2025, Agustus 14) juga mengkonfirmasi hal ini, dengan Jawa Timur mencatatkan populasi kambing hingga 5,03 juta ekor, diikuti Jawa Tengah dengan 3,51 juta ekor. Sementara itu, untuk populasi domba, dominasi berada di Jawa Barat. Data dari CNBC Indonesia (2024, November 18) menunjukkan bahwa Jawa Barat menjadi produsen domba terbesar di Indonesia dengan populasi mencapai 8,47 juta ekor atau 60,22% dari total populasi domba nasional yang mencapai 14,06 juta ekor pada tahun 2022. Data terbaru GoodStats (2026, Januari 31) juga menunjukkan populasi domba di Jawa Barat mencapai 5,56 juta ekor. Sektor peternakan ini menopang mata pencaharian sekitar 3,3 juta rumah tangga peternak, sebagian besar tergabung dalam HPDKI (Antara News, 2026, Januari 31).

Bang Luthfan menambahkan, di Jawa Barat, populasi domba bahkan mencapai lebih dari 60% dari populasi nasional. "Ini tanggung jawab besar," katanya. "Kami di Jawa Barat harus menjadi garda terdepan dalam pengembangan domba, sementara Pak Abdurrahman di Jawa Timur menjadi benteng kambing dan trader-nya." 

Islam mengajarkan kita untuk terikat pada hukum syara' dalam setiap amal. Wajib, sunnah, mubah, makruh, haram—semua itu menjadi filter bagi setiap tindakan. Termasuk dalam beternak dan berdagang. Kita juga terikat pada hukum halal dan haram dalam setiap aspek produksi dan distribusi.

Maka ketika harga daging jatuh, saat pasar dibanjiri produk impor, saat daya beli masyarakat merosot—peternak dan pedagang muslim tidak lantas putus asa. Karena ia tahu bahwa rezeki dari Allah tidak tergantung pada naik-turunnya harga. Sebagaimana firman Allah: "Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." (QS. Adz-Dzariyat [51]: 58)

Ia tahu bahwa keberkahan dalam beternak adalah janji Nabi, dan janji Nabi adalah kebenaran. Ia tetap memerah susu, tetap memberi pakan, tetap membersihkan kandang, tetap berdagang dengan jujur—bukan karena ia butuh uang, tapi karena ia butuh pahala. Karena ia yakin bahwa Allah yang memberi rezeki, dan Allah tidak pernah ingkar janji.

Saya pernah bertanya pada Pak Budi, seorang peternak domba kambing di Jalan Veteran Gang V Pamekasan, yang tetap beternak meski harga domba kambing anjlok. "Pak, kenapa masih bertahan?" tanya saya. Beliau tersenyum dan menjawab: "Pak, saya sudah 10 tahun beternak domba kambing. Saya sudah melihat harga naik-turun berkali-kali. Tapi yang tidak pernah berubah adalah: setiap pagi, saya bangun, memberi makan ternak, dan merasakan ketenangan. Itu sudah cukup."

Bang Luthfan juga punya cerita serupa, yang ia ceritakan dalam obrolan telepon kami. "Ada peternak di Garut yang tetap memelihara kambingnya meski harga jatuh. 'Ini warisan leluhur,' katanya. 'Dari kakek, dari nenek, dari para ulama terdahulu. Saya tidak mau jadi generasi yang menghilangkan sunnah beternak ini.'" Sebagai seller susu kambing, Bang Luthfan juga sering menghadapi tantangan—pelanggan yang membandingkan harga susu impor dengan susu lokal, atau produsen susu bubuk yang mencampur produknya dengan gula rafinasi dan bahan campuran lainnya. Tapi ia tetap bertahan. "Kejujuran adalah modal utama saya," katanya.

Itulah peternak dan pedagang muslim. Bukan hanya mencari untung, tapi juga mencari ketenangan. Bukan hanya menghitung keuntungan materi, tapi juga menghitung pahala.


MBG dan Peluang Emas bagi Peternak dan Pedagang Domba Kambing

Sekarang mari kita bicara tentang MBG—Makan Bergizi Gratis. Program ini luar biasa besar. Anggarannya mencapai puluhan triliun rupiah, dan targetnya adalah menyediakan makanan bergizi bagi jutaan anak Indonesia. Ini adalah kesempatan emas bagi peternak dan pedagang dombing untuk naik kelas.

Pemerintah saat ini terus mendorong pemenuhan gizi dalam program MBG, termasuk melalui gerakan minum susu yang sejalan dengan gagasan Presiden Prabowo Subianto sejak 2008 melalui konsep "Revolusi Putih". Bahkan, Badan Komunikasi Pemerintah RI menyatakan bahwa susu kambing berpeluang masuk ke dalam daftar menu MBG, khususnya di daerah yang memiliki sentra peternakan kambing. Langkah ini bertujuan memanfaatkan potensi pangan lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan para peternak (Antara News, 2026, Juli 17).

Mengapa daging dombing harus menjadi bagian dari MBG? Berikut beberapa alasannya: 

Pertama, karena kandungan gizinya unggul. Berdasarkan data Departemen Kesehatan RI (1995) dalam Anjarsari (2010), daging domba mengandung protein 17,1% dan lemak 14,8%, sedangkan daging kambing mengandung protein 16,6% dan lemak 9,2%. Daging domba juga dilaporkan lebih kaya protein, fosfor, zat besi, dan vitamin B1 daripada daging kambing (CNN Indonesia, 2020, Oktober 27). Kandungan kolesterol daging kambing hanya 75 mg per 100 gram, lebih rendah dibanding daging sapi berlemak. Sementara daging domba mengandung sekitar 110 mg per 100 gram. Penelitian di IPB oleh Wiradarya (1988) menunjukkan bahwa kadar kolesterol daging domba berkisar 122-155 mg per 100 gram, sedangkan kambing 102-129 mg per 100 gram.

Kedua, karena konsumsi daging merah perlu dibatasi. Dalam Fikih Ekonomi Umar bin Khattab karya Dr. Jaribah al-Haritsi (2006), dijelaskan bahwa Khalifah Umar bin Khattab menganjurkan konsumsi daging merah hanya sekali dalam dua pekan, atau dua kali dalam sebulan. Ini sesuai dengan anjuran kesehatan modern. WHO merekomendasikan konsumsi daging merah sekitar 400 gram per minggu, atau sekitar 85-100 gram per hari (Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, 2022, Agustus 2). Tapi di Indonesia, konsumsi daging merah masih rendah—hanya sekitar 15-20 kg per kapita per tahun. Ini jauh di bawah rekomendasi WHO, tapi kita tak perlu latah dengan gaya hidup konsumtif ala Barat. Pola makan sederhana adalah bagian dari ajaran Islam.

Ketiga, karena program MBG bisa menjadi pasar besar bagi peternak dan pedagang lokal. Bayangkan jika program MBG memasukkan daging dombing dua kali dalam sebulan. Satu porsi daging sekitar 10 tusuk sate. Berdasarkan pengalaman saya sebagai pelaku bisnis aqiqah, 1 kg daging murni bisa menghasilkan sekitar 60-70 tusuk sate. Dengan berat badan domba/kambing rata-rata 30 kg, karkas sekitar 50% (15 kg), dan daging murni sekitar 75% dari karkas (11,25 kg), maka seekor dombing bisa menghasilkan sekitar 11 kg daging murni. Dengan perhitungan 1 kg daging = 60 tusuk sate, satu ekor dombing menghasilkan sekitar 660-770 tusuk sate. Artinya, untuk memberi makan jutaan anak, kita butuh jutaan ekor ternak. Ini adalah pasar yang sangat besar.

Sebagai trader, saya sudah mulai memetakan rantai pasok untuk program ini. "Kalau MBG benar-benar jalan, saya harus siap dengan pasokan dari peternak binaan," pikir saya. Bang Luthfan juga bersemangat. Dalam obrolan WhatsApp kami, ia berkata, "Pak, kalau susu kambing dimasukkan dalam MBG, peternak di Jawa Barat tentu bisa tersenyum lebar. Susu kambing segar sangat bagus untuk pertumbuhan anak-anak. Memang susu kambing tetap mengandung laktosa, tapi strukturnya berbeda dengan susu sapi—lebih mudah dicerna dan jarang menyebabkan intoleransi seperti yang sering terjadi pada susu sapi. Karena butiran lemak susu kambing lebih kecil dan seragam, sehingga lebih cepat diserap tubuh."

Tapi masalahnya, sekarang banyak pengusaha kuliner masakan Arab yang dulunya menggunakan daging dombing, kini beralih ke daging pedet sapi impor. Ini yang harus kita lawan. Saya sebagai trader melihat langsung bagaimana pergeseran ini terjadi—dan dampaknya pada harga dombing di tingkat peternak. Harga anjlok, peternak merugi, dan akhirnya banyak yang menjual ternaknya murah atau berhenti beternak sama sekali.

Ini bukan sekadar soal harga. Ini soal kemandirian pangan. Ini soal martabat bangsa. Jika kita terus mengimpor daging dan susu, kapan kita akan mandiri?


Susu Domba Kambing: Minuman Sehat yang Terlupakan, Peluang yang Terabaikan

Sekarang mari bicara tentang susu. Bang Luthfan adalah ahlinya di bidang ini. Setiap hari ia memerah kambingnya, mengemas susu segar, dan mengirimkannya ke pelanggan di berbagai kota di Jawa Barat.

Saya bermimpi suatu hari nanti, setiap orang Indonesia bisa minum susu satu gelas setiap hari. Segelas susu—sekitar 220 ml. Untuk 290 juta penduduk Indonesia, ini berarti kita butuh sekitar 63,8 juta liter susu per hari. Dalam setahun, itu lebih dari 23 miliar liter.

Apakah mungkin? Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi kita harus mulai dari suatu tempat. Susu dombing adalah pilihan yang jauh lebih sehat dibanding susu sapi. Mengapa? Berikut beberapa alasannya:

Pertama, karena susu kambing memiliki kandungan karbohidrat yang lebih rendah—hanya 11 gram per gelas, dibanding susu sapi 13 gram, ASI 17 gram, susu kuda 17,2 gram, dan susu unta 20 gram, sebagaimana dikemukakan oleh Emilia Achmadi, pakar gizi (Republika, 2016, Februari 17). Ini berarti susu kambing lebih ramah bagi mereka yang sensitif terhadap laktosa. Memang susu kambing tetap mengandung laktosa, namun kandungannya sedikit lebih rendah dan strukturnya berbeda sehingga lebih mudah dicerna. Devendra dan Burn (1994) dalam buku Kambing di Daerah Tropis menegaskan bahwa susu kambing sangat cocok untuk anak-anak dan kaum manula, bahkan berfungsi sebagai obat.

Kedua, karena susu kambing lebih mudah dicerna. Butiran lemak susu kambing lebih kecil dibanding susu sapi, sehingga lebih cepat diserap tubuh. Ini membuat susu kambing ideal untuk pemulihan kesehatan dan pertumbuhan anak-anak.

Saya masih ingat saat saya melaksanakan PKL di Peternakan Al-Barokah, Caringin, Bogor, pada tahun 2004 silam. Saya meminum susu kambing segar langsung dari perahan. Anak kandang terkejut. "Mas, harus direbus dulu," katanya. Tapi saya tersenyum. "Ngapain direbus? Wong baru keluar dari ambing dan putting kambingnya. Susu ini segar, higienis."

Beternak sendiri memberi kita keistimewaan: kita tahu persis apa yang kita konsumsi. Susu murni, tanpa campuran, tanpa gula tambahan.

Bang Luthfan menambahkan pengalamannya sebagai seller susu kambing di Jawa Barat. "Harga susu kambing segar bervariasi. Di Madura, Rp 30.000-40.000 per liter. Di Singosari, Malang, Rp 10.000-20.000 per liter. Susu bubuk kemasan 200 gram—seperti Gomars, Skygoat, AMH—berkisar Rp 23.000-35.000 per box. Susu bubuk premium seperti Karihome (400 gram) mencapai Rp 285.000-310.000. Pertanyaannya: apakah susu bubuk itu benar-benar murni susu?"

Saya pernah membaca komposisi di kemasan, dan saya bertanya-tanya—berapa persen kandungan susu asli di dalamnya? 5%? 15%? Sisanya bahan tambahan? Penipuan dalam jual beli adalah tindakan haram dalam Islam. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nidzam Iqtishody (2012) menegaskan bahwa keharaman jual beli yang mengandung tadlis (penipuan) adalah dosa besar.

Bang Luthfan, yang keturunan Arab, sering mengingatkan saya tentang pentingnya kejujuran dalam berdagang. "Di tanah Arab, susu kambing adalah komoditas berharga. Mereka tak pernah mencampurnya dengan air. Itu aib. Itu pengkhianatan pada kepercayaan."

Sebagai trader, saya sepenuhnya setuju. Kejujuran adalah fondasi perdagangan. Tanpa kejujuran, keberkahan hilang. Tanpa keberkahan, untung besar pun tak berarti.

Saya membaca kisah menarik tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz, cicit dari Khalifah Umar bin Khattab. Dalam buku Biografi Umar bin Abdul Aziz karya Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi (2010), diceritakan bahwa beliau adalah khalifah yang zuhud dan adil. Kisah itu berkaitan dengan seorang perempuan shalihah dari kalangan peternak kambing yang enggan mencampur susu kambing dengan air atas perintah ibunya. Ia merasa diawasi Allah, sehingga ia tidak mau bermaksiat meski ibunya yang menyuruh. Perempuan itu kemudian dinikahkan dengan putra Umar bin Khattab. Dari pernikahan itu, lahirlah di kemudian hari Umar bin Abdul Aziz—khalifah yang hanya memimpin 2,5 tahun, tapi mampu mengentaskan kemiskinan di seluruh wilayah kekuasaannya hingga 8 asnaf penerima zakat tidak ditemukan lagi.


Seorang warga di Desa Tawaran Kec Kenduruan Kab Tuban Jawa Timur mendapatkan hadiah seekor domba ekor tipis (DET).  Saya kira, perlu diperbanyak hadiah dalam perayaan dan perlombaan di negeri ini berupa hewan ternak (domba atau kambing) agar minat beternak masyarakat, terutama generasi muda, tumbuh bak jamur di awal musim hujan. Langkah ini menjadi bagian dari atasi krisis peternak Indonesia di masa mendatang 

Islam mengajarkan bahwa kriteria pernikahan adalah iman dan takwa, bukan harta atau status sosial. Putra khalifah menikahi anak peternak dan penggembala kambing. Ini pelajaran berharga bahwa beternak dan berdagang adalah pekerjaan mulia, dan peternak-pedagang adalah bagian penting dari umat yang mulia.


Analisis SWOT: Kekuatan, Kelemahan, Peluang, Ancaman

Mari kita lihat lebih jernih. Di mana posisi peternakan dan perdagangan dombing Indonesia saat ini? Saya dan Bang Luthfan sering berdiskusi panjang tentang ini—kadang melalui sambungan telepon larut malam, kadang dalam pesan WhatsApp yang panjang dan berantai. Kami sepakat bahwa kita perlu memahami posisi kita dengan jernih agar bisa melangkah dengan tepat.

Kekuatan: Indonesia memiliki populasi domba yang didominasi oleh Jawa Barat dengan lebih dari 60% populasi nasional (GoodStats, 2026, Januari 31), dan populasi kambing terbesar di Jawa Timur dengan 4,6-5,03 juta ekor serta Jawa Tengah dengan 3,51-3,57 juta ekor (GoodStats, 2026, Februari 10; Databoks, 2025, Agustus 14). Sektor ini menopang mata pencaharian sekitar 3,3 juta rumah tangga peternak (Antara News, 2026, Januari 31). Ketersediaan hijauan pakan di berbagai wilayah sangat melimpah. Warisan budaya dan nilai-nilai Islam dalam beternak masih kuat.

Kelemahan: Lebih dari 75% populasi dombing terkonsentrasi di Pulau Jawa. Ini menyebabkan ketimpangan distribusi dan kerentanan terhadap wabah penyakit. Teknologi dan pengetahuan peternak masih terbatas, sehingga produktivitas rendah. Harga daging dan susu sering berfluktuasi, sementara biaya pakan terus naik. Rantai distribusi masih panjang dan belum terintegrasi dengan baik.

Peluang: Program MBG dapat menjadi pasar besar bagi produk peternak dan pedagang lokal. Potensi ekspor ternak hidup, serta daging dan susu dombing ke negara-negara tetangga juga terbuka lebar. Dukungan pemerintah melalui hilirisasi produk ternak semakin kuat. Kementan mendorong hilirisasi domba-kambing dan seruan pemotongan dam haji di dalam negeri (Kementerian Pertanian, 2025). Ini adalah angin segar bagi peternak dan pedagang.

Ancaman: Serbuan produk pangan impor—daging dan susu—terus menggerus harga di dalam negeri. Pengusaha kuliner masakan Arab yang awalnya menggunakan daging dombing, kini justru beralih ke daging pedet sapi impor. Perubahan iklim mengancam ketersediaan pakan dan kesehatan ternak. Daya beli masyarakat menurun karena krisis ekonomi. Belum lagi praktik penipuan dalam jual beli yang merugikan konsumen, peternak, dan pedagang jujur.

Analisis VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) menunjukkan bahwa peternakan dan perdagangan dombing Indonesia berada di persimpangan jalan. Volatilitas harga pakan dan produk, ketidakpastian kebijakan impor, kompleksitas rantai distribusi yang panjang, dan ambiguitas regulasi menjadi tantangan nyata. Tapi dalam kerangka BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible), kita harus membangun ketahanan sistem peternakan dan perdagangan yang adaptif. Kita harus kuat di tengah kerapuhan, tenang di tengah kecemasan, fleksibel di tengah ketidakpastian, dan terus belajar di tengah kebingungan.

 

Seruan: Jangan Jadi Mantan Peternak!

Saudaraku, para peternak dan pedagang domba kambing di seluruh Nusantara.  Saya menulis ini bukan di ruang ber-AC dengan meja marmer. Saya menulis ini di sela-sela membersihkan kandang, di sela-sela memberi pakan, di sela-sela memerah susu, di sela-sela menawar harga dengan pembeli. Bang Luthfan menulis dari Jawa Barat, dari tengah-tengah ternak-ternaknya yang setia menunggu, dari sela-sela mengemas botol susu dan mengirim pesanan. Kami menulis dengan tangan yang nampak bekas luka sabit saat memanen hijauan pakan dan bau khas kandang—karena kami adalah bagian dari Anda. Kami merasakan apa yang Anda rasakan. Kami mengalami apa yang Anda alami. Harga jatuh, pasar seret, impor menggila, biaya pakan naik. Kami tahu persis beratnya beban ini.

Tapi dengarkan saya—dengarkan kami.  Jangan menyerah. Jangan jadi 'mantan peternak'. Jangan jadi 'mantan pedagang'. 

Karena setiap kali Anda memberi makan ternak di pagi hari, Anda sedang menghidupkan sunnah 124.000 nabi. Setiap kali Anda memerah susu, Anda sedang memberi kehidupan pada anak-anak bangsa. Setiap kali Anda menjual daging, Anda sedang menghidupkan ekonomi umat. Setiap kali Anda bertransaksi dengan jujur, Anda sedang meneladani Nabi yang dijuluki al-Amin—yang terpercaya. Beternak dan berdagang dombing bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah misdaq—manifestasi nyata dari iman. Ini adalah jihad ekonomi. Ini adalah ibadah yang terus mengalir pahalanya.

Ingatlah, luruskan niat. Jangan beternak hanya karena ingin uang. Beternaklah karena ingin meneladani para nabi. Beternaklah karena ingin menjaga amanah Allah. Beternaklah karena ingin memberi makan umat. Dengan niat yang benar, setiap kesulitan akan terasa ringan. Setiap kerugian akan terasa sebagai ujian yang mengangkat derajat. Setiap keuntungan akan terasa sebagai karunia yang harus disyukuri.

Ya, harga jatuh. Tapi ingatlah bahwa harga adalah urusan Allah. Tugas kita adalah berusaha dan bertawakal. Ya, impor menggila. Tapi ingatlah bahwa konsumen muslim akan selalu memilih produk halal dan thayyib (aman, sehat dan utuh). Ya, pasar seret. Tapi ingatlah bahwa program MBG sedang membuka peluang besar—kita harus siap menyambutnya.

Bang Luthfan selalu berkata, "Pak, kita bukan peternak dan pedagang biasa. Kita adalah peternak dan pedagang yang membawa misi. Misi meneladani Nabi. Misi memajukan umat. Misi menjaga kemandirian bangsa. Ini bukan sekadar bisnis. Ini adalah perjuangan."

Di kitab Nidzam Iqtishody, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (2012) menyampaikan hadits tentang larangan penetapan harga oleh pemerintah. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, yang menahan, yang melapangkan, dan yang memberi rezeki. Aku sangat berharap dapat bertemu Allah tanpa seorang pun dari kalian yang menuntutku dengan tuduhan kezaliman dalam darah dan harta." (HR. Abu Dawud, dan dinyatakan shahih oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Harga harus mengikuti mekanisme pasar, tanpa intervensi yang merusak. Tapi pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem yang mendukung peternak dan pedagang: membuka akses pasar, melindungi dari serbuan impor, menyediakan permodalan murah, dan membangun infrastruktur distribusi yang adil. Kita harus menyuarakan ini. Kita harus memperjuangkan ini. Di Munas HPDKI, suara kita harus terdengar.

Saya membayangkan masa depan yang cerah—saat program MBG memasukkan daging dombing sebagai menu, saat anak-anak sekolah minum susu kambing segar setiap pagi, saat peternak dan pedagang tersenyum karena hasil ternaknya dihargai, saat Indonesia tidak lagi mengimpor daging dan susu. Itu bukan mimpi. Itu adalah cita-cita yang harus kita wujudkan bersama.


Penutup: Masih Ada Harapan, Selamanya Ada

Saya bertanya pada diri saya sendiri, dan saya bertanya pada Anda: Masih adakah harapan? 

Jawabannya, dengan segala kerendahan hati, adalah YA. Masih ada harapan. Banyak harapan. Selamanya ada harapan.

Karena Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berusaha. Sebagaimana firman-Nya: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

Dan karena manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi, sebagaimana firman-Nya: "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.'" (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Maka beternak dan berdagang dombing adalah bagian dari ibadah dan kekhalifahan—menjaga bumi, memberi makan umat, dan meneladani para nabi.

Karena Nabi tidak pernah berbohong tentang keberkahan beternak ghanam. Karena umat ini—umat Muhammad—adalah umat yang tidak akan pernah mati semangatnya.

Ketika pemerintah memasukkan daging dan susu dombing dalam menu MBG, peternak dan pedagang Indonesia akan tersenyum. Ketika anak-anak sekolah minum susu kambing segar setiap pagi, generasi penerus bangsa akan tumbuh sehat dan cerdas. Ketika peternak dan pedagang muslim memahami bahwa beternak dan berdagang ghanam adalah sunnah para nabi dan bernilai ibadah, mereka akan tetap bertahan meski harga jatuh, meski pasar dibanjiri impor, meski dunia tampak gelap.

Saya dan Bang Luthfan—dua peternak dan pedagang yang bertemu di bangku kuliah, dipertemukan oleh cinta pada ghanam dan pada sunnah—menuliskan ini bukan untuk mengeluh. Kami menulis ini untuk menginspirasi. Untuk mengingatkan. Untuk membangkitkan semangat. Kami menulis ini dengan harapan bahwa tulisan ini akan dibaca di Munas HPDKI, akan menjadi bahan diskusi, akan menggerakkan kebijakan.

 

Penulis bersama aktor dunia perdomba-kambingan Indonesia. Menyatukan visi, misi, strategi dan frekuensi untuk masa depan yang lebih cerah. Membangun dunia peternakan secara berjemaah lebih baik daripada sendirian. 

Beternak dan berdaganglah, wahai para peternak dan pedagang. Jangan berhenti. Jangan menyerah. Karena setiap tetes susu yang kau perah adalah sedekah. Setiap potong daging yang kau jual adalah rezeki yang halal. Setiap kotoran yang kau bersihkan adalah amal. Setiap transaksi jujur yang kau lakukan adalah ibadah. Dan setiap doa yang kau panjatkan di kandang dan di pasar adalah doa yang mustajab.

Nabi Muhammad adalah penggembala dan pedagang. Para nabi adalah peternak. Dan kita—kita semua—adalah pewaris sunnah mereka. Jangan biarkan sunnah ini mati di tengah derasnya arus kapitalisme dan impor. Hidupkan kembali. Rawatlah. Kembangkan. Karena di dalamnya, ada keberkahan. Di dalamnya, ada ketenangan. Di dalamnya, ada pahala.

Jangan jadi mantan peternak dan pedagang dombing. Jadilah peternak dan pedagang yang tangguh, yang beriman, yang membawa misi kenabian. Karena dunia ini butuh ghanam, butuh susu, butuh daging, butuh keberkahan. Dan keberkahan itu ada di tangan kita—para peternak dan pedagang domba kambing Nusantara.

Allahu a'lam bish-shawab.

 

Daftar Pustaka

Al-Haritsi, J. b. A. (2006). Fikih Ekonomi Umar bin Khattab (H. A. Solihan Zamakhsyari, Penerj.). Jakarta: Khalifah.

Anjarsari, B. (2010). Tabel Komposisi Gizi Daging. (Mengutip data Departemen Kesehatan RI, 1995).

Antara News. (2026, January 31). Melindungi lumbung ternak nasional demi kedaulatan pangan. https://www.antaranews.com/berita/5387414/melindungi-lumbung-ternak-nasional-demi-kedaulatan-pangan

Antara News. (2026, July 17). Susu kambing berpeluang masuk menu MBG, dongkrak ekonomi peternak. https://pon.antaranews.com/video/5655357/susu-kambing-berpeluang-masuk-menu-mbg-dongkrak-ekonomi-peternak

Antonio, M. S. (2012). Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia Publishing.

Arraushany, A. (2019). 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula. Batu: Penerbit VIP.

Ash-Shallabi, A. M. (2010). Biografi Umar bin Abdul Aziz. Jakarta: Penerbit Al-Kautsar.

CNBC Indonesia. (2024, November 18). Populasi domba terbesar di 10 provinsi. https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20241118092858-35-588529/populasi-domba-terbesar-di-10-provinsi-cum-jawa-barat-terbanyak

CNN Indonesia. (2020, October 27). Mengenal beda daging kambing dan domba. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20201027121957-262-563203/mengenal-beda-daging-kambing-dan-domba

Databoks. (2025, August 14). Populasi kambing Indonesia capai 15,75 juta ekor pada 2025, Jawa Timur terbanyak. https://databoks.katadata.co.id/agro/statistik/9c2d9a9a78376b3/populasi-kambing-indonesia-capai-15-75-juta-ekor-pada-2025-jawa-timur-terbanyak

Departemen Kesehatan RI. (1995). Komposisi gizi daging. Dalam Anjarsari, B. (2010). Tabel Komposisi Gizi Daging.

Devendra, C., & Burns, M. (1994). Kambing di Daerah Tropis. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2022, August 2). Konsumsi daging merah dan kanker. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/863/konsumsi-daging-merah-dan-kanker

GoodStats. (2026, January 31). Populasi domba di Indonesia, Jawa Barat terbanyak. https://www.goodstats.id/id/infografik/populasi-domba-di-indonesia-jawa-barat-terbanyak-c4KDT

GoodStats. (2026, February 10). Populasi kambing terbanyak se-Indonesia, Jawa Timur nomor 1. https://www.goodstats.id/id/infografik/populasi-kambing-terbanyak-se-indonesia-jawa-timur-nomor-1-yHOkX

Hart, M. H. (1978). The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. New York: Citadel Press.

Ibnu Hisyam, A. M. A. M. (2012). Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam: Jilid 1 & 2. Bekasi: PT Darul Falah.

Kementerian Pertanian. (2025). Hilirisasi domba-kambing dan pemotongan dam haji di dalam negeri. https://bpmsph.ditjenpkh.pertanian.go.id/berita/kementan-dorong-hilirisasi-dombakambing-serukan-pemotongan-dam-haji-di-dalam-negeri

Nabhani, T. a. (2012). Nidzam Iqtishody fi al-Islam. HTI Press

Republika. (2016, February 17). Cocokkah manusia minum susu kuda atau unta? https://republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/16/02/17/o2ohhx328-cocokkah-manusia-minum-susu-kuda-atau-unta

Wiradarya, T. R. (1988). Kadar kolesterol daging kambing dan domba pada beberapa cara pemasakan serta penyerapannya dalam darah manusia [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor. https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/136963


===

Artikel ini ditulis oleh:

1 Abdurrahman Arraushany (nama pena dari Abdul Rohman, S.Pt., M.Pt)

Kepala Seksi Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak,UPT PT dan Keswan di Madura,Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur

Beliau adalah Founder dan Owner Himdafarm Tuban dan Pamekasan, alumnus S1 Fapet Unpad-Bandung, S2 Fapet UB-Malang, dan Peserta Program Profesi Insinyur (PPI) Fapet UGM-Yogyakarta Periode Gasal 2026/2027.

Penulis telah menulis dan menerbitkan 8 buku:

  1. Estelapete (Sekali Test Langsung Pecah Telur): Buku Tips dan Trik Agar Anda Lolos Tes CPNS Hanya Sekali Coba
  2. 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula
  3. Rahasia Sukses Beternak Sapi Madura
  4. 1001 Cara Islami Naik Level Bagi ASN
  5. 20 Rahasia Terbesar Bisnis Orang Madura
  6. Bebas Hutang Metode Langit
  7. Andai Buku Seporsi Steak Wagyu
  8. Pensiun Berdaya (Panduan Merancang Hidup Sejak Dini Bagi ASN Agar Pensiun Penuh Arti dan Berkelimpahan)

Buku ke-9 dan ke-10 masih dalam proses editing.


2. Luthfan Basalamah, S.Pt

Beliau adalah Founder dan Owner Lembah Barkah Farm, Palutungan, Kab Kuningan Jawa Barat (Usaha bersama mertua, untuk Kambing Perah) serta Salamah farm (Untuk sapi bali/qurban di Kab Cirebon Jawa Barat). Beliau alumnus S1 Fapet UGM dan Peserta Program Profesi Insinyur (PPI) Fapet UGM-Yogyakarta Periode Gasal 2026/2027.

Senin, 31 Agustus 2026

JERITAN PETERNAK DOMBA KAMBING INDONESIA KARENA HARGA TERNAK ANJLOK

 

JERITAN PETERNAK DOMBA KAMBING INDONESIA

Mengapa Harga Terus Terjun dan Kapan Akan Kembali?

Oleh: Abdurrahman Arraushany (Abdul Rohman, S.Pt., M.Pt)
@peternakpembelajar
Smart People (Peternak Mukmin Jawa Timur)
Alumnus S1 Fapet Unpad | S2 Fapet UB | Peserta PPI Fapet UGM Periode Gasal 2026/2027
Penulis 10 Buku, termasuk "12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula" dan
"Andai Buku Seporsi Steak Wagyu"

PROLOG: PAGI YANG TAK LAGI SEMERIAH DULU

Senin, 7 hari lalu, pesan WhatsApp itu saya kirimkan ke kakak ipar saya di Tuban Jawa Timur. Setelah ucap salam, saya mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya. Di antara pertanyaan tersebut yaitu: bagaimana kabar domba dan kambing di Himdafarm? Di musim kemarau, produktivitasnya stabil kah? Ketersediaan pakannya cukup kah? Kapan lagi ya ada uang ditransfer dan masuk ke rekening sebagai tambahan penghasilan bulanan?

Di balik pertanyaan itu, ada getaran ketakutan yang saya rasakan sejak beberapa bulan terakhir.

Farm yang saya kelola jarak jauh dari Pamekasan Madura ini menyimpan banyak cerita. Populasi terpasang farm memang sebanyak 100 ekor, namun setahun terakhir, setelah dapat masukan dari guru bisnis, akhirnya kami putuskan untuk mempertahankan populasi hanya di angka 40-50 ekor saja.

Ketika saya meminta pendapat kakak ipar tentang penjualan kembali dan pengurangan populasi domba kambing di farm, jawabannya berkali-kali selalu sama: "Harga domba kambingnya masih terjun, Bos. Sangat murah. Tahan dulu aja, jangan dijual sekarang."

Tahan? Tahan lagi dan ditunda kembali jualnya?! Berapa lama lagi kah peternak harus bertahan? Sementara pakan terus berjalan, biaya perawatan mengalir, dan harapan semakin menipis.

Di grup WhatsApp peternakan yang saya ikuti—@ISPI Wilayah Madura, @HPDKI Kabupaten Sampang, @HPDKI Kabupaten Pacitan, @Bank Domba Kambing Nusantara, hingga @SuperTeam Disnak Jatim—jeritan yang sama itu bergema. 

Para peternak dari Sabang sampai Merauke merasakan kepedihan yang sama: harga domba dan kambing terus terjun bebas.

Lantas, kapan akan kembali? Dan apa yang sebenarnya terjadi?

Pantau harga domba kambing di Pasar 17 Pamekasan. 
Pasar hewan ini buka setiap kamis dan ahad setiap pekannya. 

KETIKA DATA BERBICARA LEBIH KERAS DARI JERITAN

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, dalam konferensi pers di Jakarta pada 13 Mei 2026, mengungkapkan data yang mencengangkan. Potensi ketersediaan hewan kurban tahun 2026 mencapai 3.246.790 ekor, sementara kebutuhan nasional diperkirakan hanya 2.355.470 ekor. Terdapat surplus sekitar 891.320 ekor secara nasional (Kementan, 2026).

Surplus ini sangat terasa pada komoditas domba. Agung Suganda memerinci, ketersediaan domba mencapai 935.690 ekor dengan kebutuhan hanya 466.086 ekor—surplus 469.604 ekor. Sementara kambing tercatat surplus 332.861 ekor (detikNews, 2026). Ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah tekanan luar biasa pada harga di tingkat peternak. Ini adalah jeritan yang tak terdengar oleh mereka yang duduk nyaman di balik meja rapat.

Bayangkan, saudara-saudara. Ketika pasokan melimpah sementara permintaan stagnan, yang terjadi adalah perang harga di tingkat bawah. Peternak kecil yang tidak punya daya tawar akhirnya menjadi korban. Mereka terpaksa menjual di bawah biaya produksi. Ini bukan sekadar kerugian ekonomi—ini adalah ancaman eksistensi bagi peternak rakyat.

JERITAN YANG TERDENGAR DARI SELURUH PELOSOK NEGERI

Di Kota Batu, Heriyanto, sang peternak mengungkapkan kepahitannya dengan gamblang: "Penurunan ini murni karena daya beli merosot tajam dan populasi ternak sedang melimpah" (Radar Batu, 2026). Harga kambing lokal yang sebelumnya Rp2-3 juta per ekor, menurut peternak Supriadi, kini hanya Rp1,5 juta di tingkat peternak (Radar Batu, 2026). Heriyanto bahkan menyebut harga dombanya "bisa dibilang hancur. Dari Rp2 juta sekarang hanya sekitar Rp1,1 juta" (Radar Batu, 2026). "Kalau dilepas sekarang harganya sangat murah," keluh Supriadi, yang memilih menahan stoknya daripada menjual di harga yang merugikan.

Bayangkan, seekor kambing yang telah dirawat berbulan-bulan dengan penuh kasih sayang, yang diberi pakan terbaik, yang dijaga kesehatannya, kini hanya dihargai setara dengan beberapa karung beras. Apakah ini adil? Apakah ini yang disebut keberkahan dalam beternak?

Himdafarm Tuban Jatim memiliki koleksi beberapa breed domba dan kambing, di antaranya: Domba ET, Domba Cross Texel, Kambing Kalowang, Kambing Jawarandu, Kambing Kacang dan Kambing Bligon Tawaran/Kabita

Di Kota Kediri, Kepala Bidang Peternakan DKPP, Retno Harini, mengakui harga kambing turun hingga 40 persen. "Harga ini kan yang menentukan pasar. Karena permintaan sedikit tapi barangnya melimpah, akhirnya harga turun," beber Retno (Radar Kediri, 2026). Stok hewan kurban di Kota Kediri mencapai 5.668 ekor—3.323 kambing dan 1.558 domba—sementara proyeksi permintaan hanya sekitar 60 persen.

Di Kabupaten Kediri, skala surplusnya lebih mencengangkan. Total stok mencapai 66.325 ekor—12.783 ekor sapi, 46.742 ekor kambing, serta 6.800 ekor domba. Sementara kebutuhan hanya 24.420 ekor. Plt Kepala DKPP Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, mengakui adanya surplus besar: "Untuk sapi, surplus mencapai 11.363 ekor, sedangkan kambing dan domba surplus sebesar 30.542 ekor" (Tribun Jatim, 2026). Surplus ini menunjukkan bahwa peternak di Kediri berada dalam posisi yang sangat tertekan. Mereka seperti terperangkap dalam ruangan yang semakin sempit, sementara dinding pasar terus merapat.

Di Pandeglang, Banten, penjualan hewan kurban dilaporkan mengalami penurunan meski masih cukup ramai. Penurunan penjualan sekitar 10 persen terjadi akibat kenaikan harga ternak secara umum (iNews, 2026). Sementara di Wonogiri, Jawa Tengah, Kepala Dinas Pertanian Baroto Eko Pujanto memastikan kondisi kesehatan hewan kurban cukup baik dan minim serangan penyakit. Namun, permintaan domba berbobot besar justru cukup stabil dengan harga Rp60 ribu-Rp75 ribu per kg (RRI, 2026).

PERGESERAN YANG MENJADI PELUANG

Di Yogyakarta, terjadi fenomena menarik yang seharusnya menjadi peluang emas bagi peternak domba dan kambing. Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengatakan: "Memang ada pergeseran. Tahun ini masyarakat cenderung memilih kambing atau domba dibanding sapi karena faktor harga dan kondisi ekonomi" (Times Jogja, 2026). Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, menambahkan: "Sapi sekarang mahal... Sementara harga kambing cenderung tetap, bahkan banyak yang turun. Tahun lalu Rp3 juta, sekarang Rp2,4 juta sudah boleh. Daya beli masyarakat memang agak turun" (Kompas, 2026).

Fenomena ini adalah sinyal, saudara-saudara. Masyarakat sedang mencari alternatif yang lebih terjangkau. Dan domba kambing adalah jawabannya. Tapi apa yang terjadi? Alih-alih peternak menikmati lonjakan permintaan, blantik dan perantara lah yang menikmati keuntungan. Peternak tetap terperosok dalam lubang harga murah.

Mengapa? Karena peternak tidak memiliki akses langsung ke konsumen. Mereka terperangkap dalam rantai pasok yang panjang dan tidak transparan. Blantik datang ke kandang, menawar harga seenaknya, dan peternak tidak punya pilihan karena butuh uang cepat. Ini adalah perbudakan ekonomi yang halus namun nyata.

KETIKA PMK DAN LSD MENJADI KAMBING HITAM

Pertanyaan yang selalu muncul: apakah penyakit mulut dan kuku (PMK) dan Lumpy Skin Diseases (LSD) menjadi penyebab anjloknya harga domba kambing? Jawabannya: memengaruhi, tapi bukan penyebab utama. Ini seperti menyalahkan hujan saat rumah kita sudah bocor sejak lama. Hujan hanya mempercepat proses, tapi akar masalahnya ada di atap yang sudah rusak.

Untuk sapi, dampak PMK sangat nyata dan menghancurkan. Pasca merebaknya LSD di Jembrana, Bali, harga sapi dilaporkan turun drastis hingga 50 persen. Pengusaha ternak I Gede Gunawantika mengungkapkan bahwa sapi asal Jembrana sulit dijual ke daerah lain karena stigma wilayah "lockdown""Begitu disebut Jembrana lockdown, sapi langsung ditolak. Padahal penyakit ini tidak seseram itu, bisa diobati," keluhnya. Kerugian yang dialaminya mencapai Rp25 juta dari lima ekor sapi yang dipotong (Denpost, 2026).

Di Pamekasan, Madura, harga sapi di pasar hewan turun hingga jutaan rupiah akibat PMK. Pedagang sapi Supandi mengatakan, sapi yang biasa laku Rp15 juta kini hanya laku Rp10-11 juta. Ia menyarankan peternak: "Kalau mau menjual sapi bagi peternak, jangan menjual sekarang. Pasti rugi" (ANTARA News, 2026).

Di Sumenep, Moaman, pedagang sapi, mengeluhkan: "Sapi ini awalnya saya beli enam juta rupiah, tapi sekarang pas dijual malah ditawar lima juta. Pembeli banyak yang takut karena katanya sapi lagi banyak yang sakit" (Radio Karimata, 2026).

Namun untuk domba dan kambing, situasinya berbeda. Di Kabupaten Wonogiri, Kepala Dinas Pertanian Baroto Eko Pujanto memastikan kondisi kesehatan hewan kurban cukup baik. "Hasil pantauan kami... tidak banyak ditemukan serangan penyakit. Baik itu PMK maupun LSD," ujarnya (RRI, 2026). Pemeriksaan ketat hewan kurban di Pandeglang juga dilakukan untuk mencegah PMK dan LSD, namun penurunan penjualan hanya sekitar 10 persen (iNews, 2026).

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyebut PMK adalah hal yang "sangat ditakutkan oleh para peternak" dan menjadi perhatian serius (Jawa Pos, 2026). Namun ia juga menegaskan bahwa upaya preventif melalui vaksinasi terus dilakukan.

Kesimpulan saya: PMK dan LSD bukan biang keladi utama. Faktor utamanya tetaplah ketidakseimbangan supply-demand dan daya beli masyarakat yang lesu. Kita terlalu sibuk menyalahkan virus, padahal virus ekonomi pasar jauh lebih ganas dan telah lama menggerogoti.

KISAH SUKSES DI TENGAH BADAI

Tapi jangan bersedih dulu, saudara-saudara. Di tengah badai, selalu ada kapal yang berhasil selamat. Dan dari sanalah kita bisa belajar.

Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah Indar Parawansa, melaporkan bahwa penjualan hewan kurban di Jawa Timur tahun 2026 meningkat signifikan. Di Sentra Peternakan Banjarejo, Lamongan, dari 300 ekor stok, 260 ekor berhasil terjual—peningkatan 30 persen dibanding tahun 2025 (Khofifah, 2026).

Apa yang membedakan? Khofifah menekankan: "Digital ekosistem itu sangat membantu, baik bagi peternak maupun bagi pembeli" (Khofifah, 2026). Peternak di Lamongan, Nganjuk, Mojokerto, dan Tuban disebutnya mulai menjual secara digital dan berkolaborasi dengan Pemprov Jatim dalam program vaksinasi dan pemberian vitamin untuk mencegah PMK (Jawa Pos, 2026).

Peternak muda asal Jombang, Abdul Ghofur dari Family Farm, membuktikan bahwa strategi digital adalah kunci. Ia rutin melakukan siaran langsung di media sosial untuk memasarkan kambing dan dombanya. Calon pembeli bisa melihat kondisi hewan secara detail—ukuran tubuh, kondisi bulu, kesehatan—tanpa harus datang ke lokasi (TvOneNews, 2026). Dari 40 ekor kambing yang disiapkan, lebih dari 20 ekor terjual sebelum hari raya, dengan pembeli datang dari Jombang, Mojokerto, hingga Kediri (Kabar Jombang, 2026). Ghofur juga menghadirkan jasa cukur bulu kambing dengan tarif Rp20 ribu hingga Rp50 ribu per ekor. Omzet yang diperolehnya mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta (Kabar Jombang, 2026).

Penelitian Pangaribuan dkk. (2026) menunjukkan bahwa penerapan digital marketing dan internet of things (IoT) pada peternakan domba kambing dapat meningkatkan penjualan dan efisiensi operasional secara signifikan. Studi kasus di Arjuna Farm, Deli Serdang, membuktikan bahwa implementasi iklan digital dan sistem penimbangan presisi mampu meningkatkan traffic media sosial dan penjualan setelah lima bulan implementasi. Penelitian Pohan (2025) juga menegaskan bahwa pelaku usaha peternakan yang memanfaatkan media sosial mencapai skor IFAS dan EFAS yang lebih tinggi, mencerminkan stabilitas internal dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi eksternal.

Inilah kuncinya. Peternak yang adaptif terhadap teknologi dan pemasaran digital adalah peternak yang bertahan. Peternak yang masih menggantungkan hidup pada blantik dan pasar hewan akan terus menjadi korban.

MENGAPA PETERNAK HANYA PANEN SETAHUN SEKALI?

Inilah pertanyaan yang paling menggugah. Dan jawabannya akan membuka mata kita semua.

Seperti yang diajarkan Coach Haris Islam Tahun 2019 dari Synergy Coach Surabaya saat saya menjadi murid di kelas coaching: "Usaha dan bisnis itu 20% teknis, 20% finansial, dan 60% komunikasi (terkait pemasaran dan penjualan)". Ini sejalan dengan Robert T. Kiyosaki dan S. L. Lechter (2001) dalam Rich Dad Poor Dad: kesuksesan membutuhkan kecerdasan teknis, finansial, dan komunikasi.

Namun realitasnya, 98-99 persen peternak domba kambing Indonesia adalah peternak rakyat—modal terbatas, populasi kecil, pemasaran terbatas, ilmu beternak minim, dan yang paling parah: tidak ada catatan (recording). Mereka menggantungkan hidup pada blantik dan pasar hewan, tanpa pernah menjual langsung ke end user.

Inilah yang saya tulis dalam buku "12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula"—peternak yang hanya mengandalkan momen kurban adalah peternak yang mempertaruhkan hidupnya pada satu hari dalam setahun.

Domba Sapudi, SDGH domba lokal Jawa Timur. Selain di Madura, wilayah pengembangan domba ini ada di Jember, Situbondo, Probolinggo, Malang dan Gresik

Data dari Kediri menunjukkan surplus yang sangat besar. Namun, surplus ini tidak terjadi karena populasi nasional over, melainkan karena peternak tidak memiliki strategi pemasaran sepanjang tahun. Mereka memelihara ternak dengan harapan "panen raya" di Idul Adha. Ketika pasar tidak bisa menyerap, mereka panik, dan harga jatuh.

Di Lumajang, peternak mulai "panen rezeki" jelang Idul Adha—tapi itu hanya momen sesaat (Radar Jember, 2025). Di Lampung, peternak Dwi Indarto yang tadinya hanya punya 30 ekor dengan penjualan minim, kini sukses setelah bermitra dengan Dompet Dhuafa—bukan hanya untuk kurban, tapi untuk penyerapan pasar sepanjang tahun (Suara Merdeka, 2025).

KETIKA PROGRAM PEMERINTAH JADI BUMERANG

Di Bojonegoro, Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) menyuarakan kekhawatiran yang patut kita renungkan bersama. Program Domba Kesejahteraan (PDKt) 2026 yang akan menyalurkan 3.325 pasang domba ke keluarga penerima manfaat (KPM), justru mengancam penurunan harga (Radar Bojonegoro, 2026).

Sekretaris HPDKI Bojonegoro, As'ari, menjelaskan dengan nada prihatin: "PDKt berdampak luas. Dari asalnya 2 ekor di 2023 sudah menjadi 15-25 ekor. Dengan bertambahnya populasi, secara hukum ekonomi, ketersediaan barang yang melebihi permintaan maka harga akan turun" (Radar Bojonegoro, 2026).

Inilah ironi. Program yang dirancang untuk menyejahterakan justru berpotensi memiskinkan. Niat baik tanpa perhitungan matang adalah resep bencana. Memberi ternak tanpa memberi akses pasar sama dengan memberi ikan tanpa mengajari cara memancing—atau lebih tepatnya, memberi ikan dalam jumlah berlebihan sehingga harga ikan di pasar anjlok.

Pemerintah harus belajar dari ini. Bantuan ternak harus diimbangi dengan program pemasaran, pendampingan, dan akses pasar. Jangan sampai niat baik berbuah petaka.

SOLUSI: DARI JERITAN MENUJU AKSI

Sekarang, mari kita bicara tentang solusi. Bukan sekadar teori, tapi langkah nyata yang bisa kita ambil. Karena jeritan tanpa aksi hanya akan menjadi gema yang hilang.

Potensi pasar yang belum tergarap sungguh luar biasa. Penduduk Indonesia 2026 mencapai 289 juta jiwa. Jika mengacu pada nasihat Khalifah Umar bin Khattab tentang kewaspadaan terhadap dua yang merah (khamr dan daging merah), maka konsumsi daging merah ideal adalah 1 kali per 2 minggu.

Dengan perhitungan sederhana: 1 porsi sate (10 tusuk = ±200 gram daging murni), BB domba/kambing 30 kg, karkas 50% (15 kg), dan daging murni 75% dari karkas (11,25 kg per ekor), maka dibutuhkan sekitar 133,6 JUTA EKOR per tahun untuk memenuhi konsumsi daging merah nasional.

Kesimpulannya: Kita TIDAK overpopulasi secara nasional. Kita justru sangat KEKURANGAN populasi jika semua masyarakat Indonesia mengonsumsi daging kambing/domba secara teratur. Yang kita kelebihan adalah blantik dan perantara yang tidak produktif!

Ini adalah temuan yang menggugah. Masalahnya bukan pada jumlah ternak, tapi pada sistem distribusi dan pemasaran yang timpang.

APA YANG HARUS DILAKUKAN PETERNAK?

Apa yang dapat dilakukan peternak domba dan kambing? Berikut beberapa di antaranya: Pertama, jual langsung melalui media sosial dan platform digital—seperti yang dilakukan peternak di Lamongan, Jombang, dan Deli Serdang (Pangaribuan dkk., 2026). Jangan tunggu blantik datang. Jemput pembeli sendiri. Kedua, manfaatkan live streaming—calon pembeli bisa melihat hewan dari jarak jauh (TvOneNews, 2026). Ini membangun kepercayaan dan transparansi. Ketiga, kembangkan produk olahan—abon, sosis, burger, steak, dendeng—agar tidak hanya menjual ternak hidup. Nilai tambah ada di tangan Anda. Keempat, bangun kemitraan dengan lembaga kurban seperti Dompet Dhuafa, Baznas, atau rumah makan yang membutuhkan pasokan rutin (Suara Merdeka, 2025). Jangan sendiri, bergabunglah dalam ekosistem yang lebih besar.

Kambing di farm milik petugas inseminator 
di Kec Banyuates Kab Sampang Jawa Timur

APA YANG HARUS DILAKUKAN PEMERINTAH?

Lalu apa yang harus dilakukan pemerintah yang diberi amanah memimpin umat? Berikut di antaranya: Pertama, bangun data populasi real-time—jangan hanya setahun sekali. Data adalah dasar kebijakan. Tanpa data, kebijakan buta. Kedua, dirikan RPH modern di setiap kabupaten—agar peternak bisa menjual daging, bukan ternak hidup. Ini akan memotong rantai blantik dan memberi nilai tambah pada peternak. Ketiga, sediakan pinjaman modal lunak, pemberian modal usaha dan jaminan pasar—agar peternak tidak panik menjual saat musim paceklik. Perlindungan finansial adalah benteng terakhir peternak. Keempat, lakukan promosi konsumsi daging kambing/domba—kampanye nasional untuk menghilangkan mitos "kolesterol tinggi" yang sudah bertahun-tahun menghantui. Selama mitos ini hidup, permintaan akan tetap rendah.

KAPAN HARGA AKAN KEMBALI?

Inilah pertanyaan yang paling Anda tunggu. Dan jawabannya jujur: Tidak ada yang tahu pasti. Tapi saya bisa memberi Anda proyeksi berdasarkan data dan logika.

Jangka Pendek (1-3 bulan ke depan): Harga akan mulai merangkak naik menjelang Idul Adha, tapi kenaikannya tidak akan signifikan karena surplus masih besar. Peternak yang bisa bertahan sampai H-3 Idul Adha akan mendapatkan harga terbaik. Tapi setelah Idul Adha, harga berpotensi turun lagi karena permintaan menurun drastis.

Jangka Menengah (6-12 bulan ke depan): Jika peternak mulai mengadopsi strategi pemasaran digital dan menjual langsung ke konsumen, harga di tingkat peternak akan stabil. Tapi ini membutuhkan perubahan perilaku massal—yang tidak mudah.

Jangka Panjang (1-3 tahun ke depan): Harga akan membaik secara permanen jika: (1) Peternak berhenti menggantungkan hidup pada blantik, (2) Pemerintah hadir dengan kebijakan pro-peternak yang terintegrasi, (3) Masyarakat mulai mengonsumsi daging kambing/domba secara rutin, bukan hanya saat kurban.

Kesimpulan saya: Harga tidak akan kembali ke level "normal" dalam waktu dekat. Tapi peternak yang adaptif dan cerdas akan tetap bertahan dan bahkan berkembang. Sebaliknya, peternak yang pasif dan bergantung pada blantik akan terus menjadi korban.

PENUTUP: JERITAN YANG HARUS BERHENTI, PERJUANGAN YANG HARUS DIMULAI

Kita tidak bisa terus-menerus berteriak tanpa melakukan perubahan. Jeritan tanpa aksi hanya akan menjadi gema yang hilang di tengah keramaian. Akankah harga domba kambing kembali? Jawabannya ada di tangan kita.

Peternak: berhenti menjadi korban, mulailah menjadi pejuang dengan mengadopsi teknologi dan pemasaran digital. Pemerintah: hadirlah dengan kebijakan pro-peternak, bukan sekadar program seremonial. Masyarakat: dukung peternak lokal dengan membeli produk mereka secara langsung.

Nabi Muhammad saw. bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Ummu Hani' radhiyallahu 'anha:

"Peliharalah kambing/domba (ghanam), karena sesungguhnya di dalamnya terdapat keberkahan." (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani) 

Hadits lain juga menegaskan kemuliaan profesi ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, kecuali ia pernah menggembala kambing/domba." Para sahabat bertanya: "Dan engkau, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Benar. Aku pernah menggembalakan kambing/domba milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath" -

Ini adalah sunnah yang harus kita hidupkan. Beternak adalah ibadah, jihad ekonomi, dan kemandirian umat. Para nabi memilih profesi ini sebelum diangkat menjadi rasul, dan Nabi kita sendiri pernah menjalaninya.

Bagaimana jika domba kambing tetap tidak laku atau jika laku harganya tetap murah? Saya sudah, sedang dan akan tetap beternak domba kambing. Saya beternak minimal untuk memenuhi kebutuhan daging dan susu keluarga sendiri. Dan untuk produksi pupuk organik yang menyuburkan lahan. Nampaknya, ini adalah sikap yang harus kita tanamkan dalam diri kita masing-masing. Bukan sikap menyerah, tapi sikap beradaptasi dan bertahan.

Karena pada akhirnya, keberkahan tidak akan datang kepada mereka yang hanya menunggu. Keberkahan datang kepada mereka yang bergerak, beradaptasi, dan berjuang di jalan-Nya.

Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Mari kita menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari jeritan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

DAFTAR PUSTAKA

ANTARA News. (2026, 20 Juli). Akibat PMK, harga sapi di Pamekasan turun hingga jutaan rupiah. https://babel.antaranews.com/berita/279969/akibat-pmk-harga-sapi-di-pamekasan-turun-hingga-jutaan-rupiah

Arraushany, A. (2019). 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula. Batu: Penerbit VIP.

Denpost. (2026, 19 Januari). Pascamerebaknya LSD, Harga Sapi di Jembrana Anjlok. https://www.denpost.id/bali/105516586960/pascamerebaknya-lsd-harga-sapi-di-jembrana-anjlok

detikNews. (2026, 13 Mei). Pemerintah Sebut Stok Hewan Kurban 2026 Surplus, Jumlahnya 891.320 Ekor. https://news.detik.com/berita/d-8487399/pemerintah-sebut-stok-hewan-kurban-2026-surplus-jumlahnya-891-320-ekor

Ibnu Majah. (t.t.). Sunan Ibnu Majah. Hadits nomor 2304, dari Ummu Hani' radhiyallahu 'anha. Dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani.

iNews. (2026, 20 Mei). Jelang Iduladha, Hewan Kurban di Pandeglang Diperiksa Ketat untuk Cegah PMK. https://pandeglang.inews.id/read/692119/jelang-iduladha-hewan-kurban-di-pandeglang-diperiksa-ketat-untuk-cegah-pmk

Jawa Pos. (2026, 27 Mei). Hari Raya Iduladha 2026, Khofifah Sebut Penjualan Hewan Kurban di Jatim Naik Drastis. https://www.jawapos.com/surabaya-raya/2605270269/hari-raya-iduladha-2026-khofifah-sebut-penjualan-hewan-kurban-di-jatim-naik-drastis

Kabar Jombang. (2026, 23 Mei). Kreatif, Peternak Gen Z di Jombang Jual Kambing Kurban Lewat Live Sosmed. https://kabarjombang.com/ekonomi/kreatif-peternak-gen-z-di-jombang-jual-kambing-kurban-lewat-live-sosmed/

Kementan. (2026, 13 Mei). Kementan Pastikan Stok Hewan Kurban Iduladha 2026 Aman dan Surplus. RRI. https://rri.co.id/nasional/2411109/kementan-pastikan-stok-hewan-kurban-iduladha-2026-aman-dan-surplus

Kiyosaki, R. T., & Lechter, S. L. (2001). Rich dad poor dad: Apa yang diajarkan orang kaya pada anak-anak mereka tentang uang - yang tidak diajarkan oleh orang miskin dan kelas menengah. Gramedia Pustaka Utama.

Kompas. (2026, 8 Mei). Harga Sapi Kurban Naik Tajam, Warga Yogyakarta Diprediksi Beralih ke Kambing dan Domba. https://cahaya.kompas.com/aktual/26E08133100690/harga-sapi-kurban-naik-tajam-warga-yogyakarta-diprediksi-beralih-ke-kambing-dan

Pangaribuan, J. J., Maulana, A., Barus, O. P., Stephanie, & Darianty, R. (2026). Penerapan Digital Marketing dan IoT pada Arjuna Farm untuk Peningkatan Penjualan dan Presisi Ternak. Jurnal Manajemen dan Media, 5(1). https://ojs.unimal.ac.id/jmm/article/view/23033

Pohan, L. A. (2025). Efektivitas Penggunaan Media Sosial dalam Berwirausaha di Sektor Peternakan Kambing dan Domba. Repositori Universitas Sumatera Utarahttps://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/108534

Radar Batu. (2026, 21 Januari). Harga Kambing Lokal di Kota Batu Terjun Bebas. https://radarbatu.jawapos.com/kota-batu/2601210004/harga-kambing-lokal-di-kota-batu-terjun-bebas

Radar Batu. (2026, 2 Mei). Harga Kambing di Kota Batu Masih Rendah Jelang Iduladha. https://radarbatu.jawapos.com/kota-batu/2605030018/harga-kambing-di-kota-batu-masih-rendah-jelang-iduladha

Radar Bojonegoro. (2026, 29 Januari). Punya Potensi Melipatgandakan Populasi, Program Domba Sejahtera Mengancam Penurunan Harga Domba dan Kambing. https://radarbojonegoro.jawapos.com/politik-pemerintahan/2601290003/punya-potensi-melipatgandakan-populasi-program-domba-sejahtera-mengancam-penurunan-harga-domba-dan-kambing

Radar Jember. (2025, 4 Juni). Peternak Mulai Panen Rezeki Jelang Idul Kurban. https://radarjember.jawapos.com/bondowoso/2506040019/peternak-mulai-panen-rezeki-jelang-idul-kurban

Radar Kediri. (2026, 27 Mei). Stok Hewan Kurban Surplus, Harga Kambing Anjlok! https://radarkediri.jawapos.com/kediri-raya/2605270017/stok-hewan-kurban-surplus-harga-kambing-anjlok-jelang-idul-adha-presiden-prabowo-kirim-sapi-ke-kota-kediri-dan-kabupaten-kediri

Radio Karimata. (2026, 21 Januari). Harga Sapi Turun di Pasar Keppo, Pedagang Keluhkan Sepinya Pembeli. https://karimatafm.net/2026/01/21/harga-sapi-turun-di-pasar-keppo-pedagang-keluhkan-sepinya-pembeli

RRI. (2026, 6 Mei). Harga Sapi Kurban Naik, Pemkab Wonogiri Pastikan Kesehatan Ternak. https://rri.co.id/surakarta/regional/2392377/harga-sapi-kurban-naik-pemkab-wonogiri-pastikan-kesehatan-ternak

Suara Merdeka. (2025, 26 Mei). Berkah Kurban di Lampung: Peternak Lokal Panen Sukses Berkat Dompet Dhuafa. https://www.suaramerdeka.com/ekonomi/0415225074/berkah-kurban-di-lampung-peternak-lokal-panen-sukses-berkat-dompet-dhuafa

Suara Surabaya. (2026, 27 Mei). Khofifah Gubernur Sebut Penjualan Kurban di Jawa Timur Meningkat Dibanding Tahun Lalu. https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2026/khofifah-gubernur-sebut-penjualan-kurban-di-jawa-timur-meningkat-dibanding-tahun-lalu

Susilorini, T.E. dan Kuswati. (2019). Budi Daya Kambing dan Domba. Malang: UB Press.

Times Jogja. (2026, 8 Mei). Harga Sapi Naik Jelang Idul Adha, Warga Yogyakarta Mulai Beralih ke Kambing dan Domba. https://jogja.times.co.id/news/peristiwa/4qoQoFwi0/timescoid

Tribun Jatim. (2026, 30 April). Stok Hewan Kurban di Kediri Melimpah Jelang Idul Adha 2026. https://jatim.tribunnews.com/kediri/542903/stok-hewan-kurban-di-kediri-melimpah-jelang-idul-adha-2026

TvOneNews. (2026, 25 Mei). Peternak Kambing di Jombang Andalkan Live Sosmed Jelang Idul Adha 2026. https://www.tvonenews.com/daerah/jatim/442726-peternak-kambing-di-jombang-andalkan-live-sosmed-jelang-idul-adha-2026-penjualan-hewan-kurban-meningkat

Disclaimer:
Tulisan ini merupakan pemikiran dan pandangan pribadi. Tidak mewakili instansi tempat penulis bekerja dan berkarya.


Artikel ini ditulis oleh:

Abdurrahman Arraushany (nama pena dari Abdul Rohman, S.Pt., M.Pt)
Kepala Seksi Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak
UPT PT dan Keswan di Madura
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur

Beliau adalah alumnus S1 Fapet Unpad-Bandung, S2 Fapet UB-Malang, dan Peserta Program Profesi Insinyur (PPI) Fapet UGM-Yogyakarta Periode Gasal 2026/2027.

Penulis telah menulis dan menerbitkan 8 buku:

  1. Estelapete (Sekali Test Langsung Pecah Telur): Buku Tips dan Trik Agar Anda Lolos Tes CPNS Hanya Sekali Coba

  2. 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula

  3. Rahasia Sukses Beternak Sapi Madura

  4. 1001 Cara Islami Naik Level Bagi ASN

  5. 20 Rahasia Terbesar Bisnis Orang Madura

  6. Bebas Hutang Metode Langit

  7. Andai Buku Seporsi Steak Wagyu

  8. Pensiun Berdaya (Panduan Merancang Hidup Sejak Dini Bagi ASN Agar Pensiun Penuh Arti dan Berkelimpahan)

Buku ke-9 dan ke-10 masih dalam proses editing.