Jumat, 28 Agustus 2026

9 Strategi Cerdas ala Peternak Jawa Timur Mempertahankan Status Gudang Ternak Nasional

 

Betina Produktif: Menyelamatkan Pabrik Kehidupan untuk Masa Depan Peternakan Indonesia

9 Strategi Cerdas ala Peternak Jawa Timur Mempertahankan Status Gudang Ternak Nasional

Oleh: Abdurrahman Arraushany (Abdul Rohman, S.Pt., M.Pt.)

@peternakpembelajar
Smart People (Peternak Mukmin Jawa Timur)
Alumnus S1 Fapet Unpad | S2 Fapet UB  |  Peserta PPI Fapet UGM Periode Gasal 2026/2027
Penulis 10 Buku, termasuk "12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula" dan "Andai Buku Seporsi Steak Wagyu"

Tanggal 26 Agustus 2026 baru saja berlalu. Namun, apakah kita sudah benar-benar merenungkan makna di balik tanggal tersebut? Hari itu adalah hari lahir peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia—sebuah momen yang seharusnya mengguncang kesadaran kita semua tentang betapa berharganya aset ternak, terutama betina produktif, bagi keberlangsungan hidup bangsa. Di saat sebagian dari kita mungkin hanya melewatkannya sebagai hari biasa, para peternak, akademisi, dan pegiat peternakan sejatinya tengah memperingati warisan kebijakan yang telah berusia hampir dua abad.

Bayangkan, pada tahun 1836—ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda—pemerintah kolonial sudah mengeluarkan plakat atau pengumuman resmi yang melarang pemotongan sapi betina produktif. Plakat inilah yang menjadi tonggak awal campur tangan pemerintah dalam urusan peternakan dan kesehatan hewan di negeri ini (Infovet, 2007). Pada tahun 2002, para pakar, tokoh masyarakat, akademisi, dan organisasi profesi di bidang peternakan sepakat menetapkan tanggal bersejarah tersebut sebagai Hari Lahir Peternakan dan Kesehatan Hewan Nasional (Pontianak Post, 2024). Sejak saat itu, setiap tanggal 26 Agustus hingga 26 September diperingati sebagai Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan, sebuah momen strategis untuk menegaskan betapa pentingnya subsektor peternakan bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan bangsa (Tawaf, 2012).

Sejarah mencatat bahwa perjalanan panjang ini dimulai sejak zaman VOC, ketika peternakan dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan penjajah kompeni, seperti kuda untuk keperluan tentara, serta kerbau dan sapi untuk penyediaan daging. Pada tahun 1820, dokter hewan pertama, Drh. R.A. Coppicters, didatangkan ke Indonesia untuk memelihara kesehatan hewan bagi kepentingan pemerintah Belanda. Kemudian pada tahun 1841, dibentuklah Jawatan Kehewanan dengan nama Veeartsenijkundige Dienst (VD) yang menjadi cikal bakal Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan saat ini (Pontianak Post, 2024). Sungguh, perlindungan terhadap betina produktif bukanlah gagasan baru—ini adalah warisan kebijakan yang telah berlangsung hampir dua abad dan kini menjadi tanggung jawab kita untuk meneruskannya.

Warisan Nusantara: Kearifan Ternak dari Masa Kerajaan Hindu-Buddha Hingga Kesultanan Islam

Namun, sebelum Belanda datang dan mencatatkan kebijakannya, bumi Nusantara sebenarnya telah memiliki tradisi beternak yang sangat kaya dan berakar dalam budaya. Bahkan, penelitian genetika terbaru menunjukkan bahwa sapi-sapi di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan unik, yang tidak hanya berasal dari India seperti yang selama ini diduga. Studi yang diterbitkan di jurnal Nature Communications pada September 2025 (Aninta et al., 2025) mengungkap bahwa sapi di Indonesia kemungkinan besar diperkenalkan dari daratan Asia Tenggara melalui dua gelombang berbeda: satu ke Sumatra dan satu lagi ke Jawa. Penemuan ini mendefinisikan ulang pemahaman kita tentang hubungan budaya dan maritim di Asia sekitar awal Masehi, menunjukkan bahwa Asia Tenggara memiliki konektivitas internal yang lebih kuat daripada yang diperkirakan sebelumnya (National Geographic Indonesia, 2025).

Lebih mencengangkan lagi, riset DNA yang dilakukan oleh Profesor Stephen Oppenheimer menunjukkan bahwa ayam, babi, dan kambing berasal dari Indonesia dan menyebar ke berbagai wilayah di Asia dan Pasifik sejak lebih dari 10 ribu tahun lalu. Nusantara adalah pusat peradaban pertanian, peternakan, dan pelayaran di kawasan Asia-Pasifik pada masa prasejarah (detikNews, 2012). Ini berarti, para leluhur kita telah menjadi peternak handal jauh sebelum kerajaan-kerajaan besar berdiri. Mereka memahami bahwa menjaga induk betina adalah kunci keberlanjutan—sebuah pengetahuan yang tampaknya telah hilang dari kesadaran sebagian dari kita hari ini.

Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, peternakan bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian tak terpisahkan dari budaya dan spiritualitas. Candi Sadon di Magetan, Jawa Timur, yang diperkirakan berasal dari masa Raja Airlangga hingga periode Kerajaan Kediri, menyimpan jejak tradisi beternak sapi yang masih bertahan hingga kini. Masyarakat sekitar meyakini bahwa wilayah tersebut memang cocok untuk aktivitas peternakan, dan bahkan terdapat cerita terkenal di kalangan warga: pada tahun 1989, arca sapi di kawasan tersebut sempat dicuri, dan selama arca itu belum ditemukan kembali, sapi-sapi milik warga menjadi liar dan sulit dikendalikan (Tribun Jatim, 2026). Ini menunjukkan betapa kuatnya keyakinan masyarakat bahwa perlindungan terhadap sapi—bahkan dalam bentuk simbolis sekalipun—memiliki kaitan langsung dengan kelestarian ternak mereka. 

Dalam tradisi Hindu-Buddha di Nusantara, sapi dan kerbau memiliki posisi istimewa. Kitab-kitab kuno dan prasasti sering menyebut ternak sebagai bagian dari kekayaan kerajaan. Di Majapahit, kerajaan besar yang berpusat di Jawa Timur, lembu digunakan untuk menarik kereta para bangsawan, sementara gajah dan kuda menjadi simbol kekuasaan (Wikipedia, 2026). Diplomat Portugis Tomé Pires yang mengunjungi Nusantara pada 1512 mencatat kebudayaan Jawa pada akhir zaman Majapahit yang sarat dengan penggunaan hewan-hewan tersebut dalam kehidupan istana (Wikipedia, 2026).

Fakta menarik lainnya adalah bahwa banteng liar—nenek moyang sapi Bali dan berbagai sapi lokal Indonesia—telah berasosiasi dengan manusia selama ribuan tahun. Sisa-sisa hewan dan seni yang ditemukan di gua-gua menunjukkan hubungan ini telah berlangsung lama (Encyclopedia of Life, 2026). Kepala banteng bahkan menjadi salah satu dari lima lambang di perisai Garuda Pancasila, melambangkan sila keempat Pancasila: "Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan" (Encyclopedia of Life, 2026). Ini adalah pengakuan negara modern atas akar budaya peternakan yang telah mengalir dalam darah bangsa sejak zaman purba. Betapa ironisnya, pada masa lalu hewan ini dihormati dan dilindungi, sementara di era modern ini justru betina produktifnya menjadi korban pemotongan yang tidak bertanggung jawab.

Di belakang saya berdiri berjejer sapi madura betina produktif yang ada di Kab Pamekasan Madura Provinsi Jawa Timur.  Sapi Madura merupakan sapi lokal Indonesia hasil perkawinan silang antara bos sondaicus/banteng, bos indicus/sapi india dan bos taurus/sapi eropa 

Memasuki era kesultanan Islam—yang jumlahnya lebih dari 40 dari Sabang sampai Merauke—tradisi beternak tetap berlanjut dan bahkan berkembang dengan sentuhan nilai-nilai Islam. Di Kesultanan Banten pada abad ke-16 hingga ke-17, Sultan Abdul Mufakir Mahmud Abdul Kadir (1596-1651) dan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672) mengembangkan tradisi Sasapton, sebuah turnamen berkuda elit yang bukan sekadar hiburan istana, melainkan berfungsi sebagai diplomasi budaya yang memproyeksikan identitas kosmopolitan Banten dan memfasilitasi pertemuan diplomatik dengan pedagang asing serta kerajaan-kerajaan lain di jaringan maritim Asia Tenggara (Journal of Korean Studies, 2026). Ini menunjukkan bahwa peternakan kuda telah menjadi bagian dari strategi politik dan budaya kesultanan.

Di berbagai kesultanan Islam di Nusantara, peternakan juga mendapat perhatian serius. Di Kesultanan Langkat, misalnya, Abdul Wahab Rokan mengembangkan peternakan ayam, kambing, dan lembu sebagai bagian dari upaya memajukan ekonomi rakyat (Repository PTIQ, 2022). Nilai-nilai Islam tentang perlindungan hewan dan keberlanjutan mulai menyatu dengan tradisi lokal. Konsep fiqih lingkungan dalam Islam, seperti prinsip laḍarar wa laḍirār (tidak boleh saling merugikan), sejalan dengan semangat menjaga kelestarian ternak (MUI, 2025). Hadits tentang larangan menyembelih hewan yang sedang menyusui yang akan kita bahas sebentar lagi, dengan mudah diterima oleh masyarakat Nusantara yang telah memiliki akar budaya penghormatan terhadap hewan produktif sejak masa Hindu-Buddha. Inilah yang disebut sebagai akulturasi yang sempurna—tradisi lokal bertemu dengan tuntunan agama, melahirkan kearifan yang terus hidup hingga kini.

Jawa Timur: Gudang Ternak yang Terancam

Jawa Timur, provinsi yang dengan bangga menyandang status sebagai gudang ternak nasional, memikul tanggung jawab yang tidak ringan. Data dari Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur tahun 2024 menunjukkan bahwa provinsi ini menyumbang 28 persen populasi sapi potong nasional dan 62 persen populasi sapi perah nasional. Angka ini menempatkan Jawa Timur di posisi terdepan sebagai pemasok daging dan susu bagi seluruh kepulauan Nusantara. Bahkan Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Ibu Dr. Ir. Indyah Aryani, MM., menegaskan bahwa porsi sapi potong di Jatim menempati hampir 30 persen populasi di Indonesia dengan kantong terbesar ada di Sumenep, Madura (Dinas Kominfo Jatim, 2024). Sebagai bagian dari superteam Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur sejak tahun 2010 yang menempuh pendidikan S1 di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran dan S2 di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya serta Program Profesi Insinyur (PPI) Periode Gasal 2026/2027 di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, saya menyaksikan langsung bagaimana provinsi ini menjadi laboratorium hidup bagi pengembangan peternakan nasional.

Namun, di balik gemerlap prestasi ini, ada kabar memilukan yang masih kerap kita dengar. Penelitian Edy Mochtari (2011) dari Universitas Airlangga mencatat bahwa pemotongan ternak betina produktif di Rumah Potong Hewan (RPH) Krian, Jawa Timur, mencapai 80 persen dari total 200 ekor yang dipotong setiap harinya. Bayangkan, dari 200 ekor sapi yang dipotong setiap hari, 160 ekor di antaranya adalah betina produktif! Ini adalah angka yang sangat mengkhawatirkan dan menjadi pukulan telak bagi keberlanjutan populasi ternak kita. Di Kabupaten Bondowoso, Dinas Pertanian setempat mencatat pemotongan sapi betina produktif pada tahun 2015 mencapai sekitar 700 ekor dan meningkat menjadi sekitar 900 ekor pada tahun 2016 (Dwipa News, 2017). Ironi di tengah kelimpahan—inilah potret menyedihkan yang harus segera kita ubah.

Memahami Betina Produktif: Pabrik Kehidupan yang Tak Tergantikan

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan betina produktif? Mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 35/Permentan/OT.140/7/2011 tentang Pengendalian Ternak Ruminansia Betina Produktif,, yang dimaksud ternak betina produktif adalah ternak besar (sapi, kerbau) yang melahirkan kurang dari 5 kali atau berumur di bawah 8 tahun, serta ternak kecil (kambing, domba) yang melahirkan kurang dari 5 kali atau berumur di bawah 4 tahun 6 bulan (Kementerian Pertanian Republik Indonesia, 2011). Mereka adalah 'pabrik-pabrik kehidupan' yang tak pernah berhenti beroperasi. Pada masa produktifnya, seekor sapi betina dapat melahirkan satu anak setiap tahunnya, yang kemudian tumbuh menjadi sumber daging, susu, atau bahkan generasi penerus berikutnya.

Untuk memahami batasan umur produktif, kita perlu melihat karakteristik reproduksi setiap jenis ternak. Pubertas atau dewasa kelamin adalah periode awal di mana ternak mulai mampu menghasilkan keturunan. Berdasarkan literatur peternakan (Partodihardjo, 1980), umur pubertas pada sapi sekitar 12 bulan, kuda 18 bulan, domba dan kambing sekitar 8 bulan, serta kerbau mencapai 24 bulan. Namun, masa produktif optimal biasanya dimulai setelah ternak mencapai dewasa tubuh penuh.

Lebih lanjut, Peraturan Menteri Pertanian menetapkan kriteria spesifik untuk betina produktif: untuk sapi dan kerbau, yang dikategorikan produktif adalah yang melahirkan kurang dari 5 kali atau berumur di bawah 8 tahun (Pemkab Solok Selatan, 2026; RRI, 2026). Dengan kata lain, setelah melahirkan 5 kali atau mencapai usia 8 tahun, sapi betina mulai dianggap tidak produktif lagi (afkir). Untuk kambing dan domba, masa produktif dimulai lebih cepat, yaitu pada usia 1 hingga 1,5 tahun, dan berlangsung hingga sekitar 4-5 tahun. Bahkan untuk unggas seperti ayam dan itik, masa produktif bertelur (bisa sampai 70-80 minggu pasca menetas) adalah fase emas yang harus dijaga agar produksi telur nasional tetap stabil.

Landasan Hukum: UU No. 41 Tahun 2014

Lalu, apa yang menjadi landasan hukum yang melarang kita melakukan hal ini? Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, yang merupakan perubahan atas UU Nomor 18 Tahun 2009, pada Pasal 18 Ayat (4) dengan tegas menyatakan bahwa setiap orang dilarang menyembelih ternak ruminansia kecil betina produktif atau ternak ruminansia besar betina produktif (Disbunak Paser, 2026; Pemkab Solok Selatan, 2026). Ada pengecualian untuk tujuan penelitian, pemuliaan, pengendalian penyakit hewan, ketentuan agama, adat istiadat, atau pengakhiran penderitaan hewan.

Sanksi bagi pelanggar pun tegas dan berat. Pasal 86 UU yang sama mengatur bahwa untuk ternak ruminansia besar, pelaku diancam pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 3 tahun, serta denda paling sedikit Rp100.000.000 dan paling banyak Rp300.000.000 (Disbunak Paser, 2026). Ini adalah bentuk perlindungan negara terhadap sumber daya hayati yang sangat vital. Namun, apakah penegakan hukum berjalan dengan baik? Pertanyaan ini harus menggugah kita semua.

Sapi Madura betina non produktif berusia 13 tahun yang dijadikan hewan qurban tahun 2026. Disembelih di Pamekasan Madura Jatim

Landasan Moral: Hadits tentang Larangan Menyembelih Hewan Menyusui

Di luar aturan negara, Islam pun memiliki tuntunan yang mulia. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Sunan Ibnu Majah (Nomor 3180, Book 27, Hadith 19) menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada seorang sahabat yang hendak menyembelih hewan: "Avoid those that are lactating" (Jauhilah hewan-hewan yang sedang menyusui) (IslamiCity, 2026).

Dalam riwayat lain, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Abu Bakar bin Abu Quhafah menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada beliau dan Umar: "Let us go out to Waqifi." Ketika sampai di kebun dan pemiliknya mengambil pisau untuk menyembelih, Rasulullah SAW bersabda: "Avoid those that are lactating" (Sunan Ibnu Majah Nomor 3181, Book 27, Hadith 20) (IslamiCity, 2026).

Hadits ini mengajarkan bahwa hewan yang sedang menyusui—yang merupakan simbol produktivitas dan keberlanjutan—harus dilindungi, tidak boleh disembelih. Ini adalah pesan universal bahwa kehidupan harus dijaga, bukan dirusak.

Sapi Peranakan Ongole (PO) betina non produktif yang sudah nampak tua dan menjadi komoditas perdagangan di Pasar Hewan Sugihan Jatirogo Tuban Jatim. Dokumentasi saya ambil saat mudik ke Tuban Lebaran Idul Fitri tahun 2026

Akar Filosofis: Hadits tentang Konsep 1/3 dalam Pertanian

Konsep struktur populasi 1/3 breeding, 1/3 rearing, dan 1/3 fattening yang saya tulis dalam buku "12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula" (Arraushany, 2019) memiliki akar filosofis yang dalam, yang bersentuhan dengan tuntunan Rasulullah SAW dalam mengelola sumber daya secara adil dan berkelanjutan. Semangat ini sangat terasa dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.


Dalam kisah tersebut, diceritakan tentang seorang laki-laki yang mendengar suara ghaib dari awan memerintahkan untuk menyirami kebun milik seseorang bernama Fulan (Muslim, dalam Shahih Muslim, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa'iq). Awan itu pun bergerak dan menurunkan hujan di sebuah kebun. Laki-laki itu mengikuti aliran air hingga sampai ke kebun tersebut dan bertemu dengan pemiliknya. Keheranannya semakin besar, karena di saat lahan lain kering, kebun inilah yang mendapat siraman istimewa.

Ia pun bertanya kepada si pemilik kebun, "Apa yang Anda lakukan pada kebun ini hingga mendapat keistimewaan luar biasa seperti itu?" Pemilik kebun menjawab dengan jujur, "Karena kamu berkata seperti itu, maka aku melihat hasil kebunku. Sepertiganya aku sedekahkan kepada para fakir miskin, sepertiganya lagi aku makan bersama keluargaku, dan sepertiganya lagi aku kembalikan kepada kebun ini yang mempunyai haknya, yaitu dengan merawatnya dari hasil yang sudah aku peroleh ini" (Sunan Ibnu Majah, 2026; Tafsir Ibnu Katsir, 2000).

Kisah ini mengajarkan tentang keseimbangan dan keberlanjutan. Sang petani tidak menghabiskan seluruh hasilnya untuk konsumsi, tidak pula menimbun semuanya, tetapi membaginya dengan proporsi yang seimbang: untuk sedekah (kepedulian sosial), untuk keluarga (kebutuhan hidup), dan untuk kebun itu sendiri (modal dan keberlanjutan produksi). 

Dalam konteks peternakan, saya mengadaptasi semangat ini ke dalam struktur populasi ideal: sepertiga untuk breeding (induk produktif sebagai "tanah" yang dijaga kesuburannya), sepertiga untuk rearing (pembesaran), dan sepertiga untuk fattening (penggemukan). Ini adalah wujud penerapan prinsip keadilan, keseimbangan, dan keberlanjutan yang diajarkan dalam Islam, yang jika diterapkan, akan mendatangkan keberkahan sebagaimana kebun sang petani yang mendapat siraman istimewa dari langit.

Struktur Populasi: Kunci Keberlanjutan

Secara ilmiah, struktur populasi adalah fondasi manajemen peternakan yang berkelanjutan. Penelitian Ningsih (2021) dari Universitas Andalas tentang struktur populasi ternak itik di Kenagarian Batu Balang menunjukkan pentingnya mempertahankan proporsi betina dewasa yang tinggi (67,66%) untuk menjamin produksi telur yang berkelanjutan. Demikian pula penelitian tentang struktur populasi kerbau di Kecamatan Batang Anai (Universitas Andalas, 2023) dan Kecamatan Ulakan Tapakis (Universitas Andalas, 2023) menekankan pentingnya menjaga rasio betina produktif dalam populasi untuk menjamin keberlanjutan reproduksi.

Sembilan Strategi Cerdas Menyelamatkan Betina Produktif

Kini, setelah kita memahami betapa krusialnya perlindungan terhadap betina produktif, muncul pertanyaan besar: apa yang bisa kita lakukan? Berdasarkan pengalaman dan pemikiran yang mendalam, saya merangkum sembilan strategi cerdas ala peternak Jawa Timur, yang difokuskan pada tiga aktor utama: individu peternak, masyarakat, dan negara.

Strategi pertama dimulai dari individu peternak, yang harus beriman dan bertakwa. Seorang peternak yang memiliki keyakinan kuat akan pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta akan menjaga setiap titipan ternaknya dengan penuh kesungguhan. Ia sadar bahwa rezeki tidak akan habis karena melindungi betina produktif, justru sebaliknya, keberkahan akan mengalir dari kelestarian yang dijaga. Kedua, individu peternak wajib cerdas dan memiliki ilmu, baik ilmu skolastik yang didapat dari bangku kuliah seperti yang saya peroleh dari Fapet Unpad, Fapet UB dan Fapet UGM, ilmu finansial untuk mengelola keuangan peternakan, maupun ilmu komunikasi yang sangat penting dalam bidang pemasaran dan penjualan (marketing and selling). Ketiga, peternak harus memahami struktur populasi. Struktur populasi ideal sepertiga untuk breeding, sepertiga untuk rearing, dan sepertiga untuk fattening adalah kunci agar produksi tetap berkesinambungan dan populasi tidak pernah turun di bawah titik kritis.

Strategi keempat beralih ke peran masyarakat. Kontrol sosial harus berjalan dengan baik. Masyarakat harus berani mengingatkan sesama jika ada praktik pemotongan betina produktif di lingkungannya. Kelima, pemotongan ternak wajib dilakukan di Rumah Potong Hewan atau Rumah Potong Ayam yang terstandar, bukan di Tempat Pemotongan Hewan yang tidak diawasi. Keenam, masyarakat harus giat berdakwah, saling mengingatkan dan mengajak agar peternakan senantiasa lestari dan tidak punah.

Strategi ketujuh adalah peran negara. Negara harus memastikan bahwa di setiap desa sentra peternakan, minimal ada dua orang ahli: seorang insinyur/sarjana peternakan dan seorang dokter hewan. Kedelapan, pemerintah harus mewajibkan pencatatan atau recording yang real-time dan dilakukan secara harian. Kesembilan, pemerintah harus berani memberikan insentif bagi siapapun yang aktif melakukan upaya menyelamatkan betina produktif dan juga berani memberikan sanksi yang tegas bagi siapa pun yang melanggar aturan.

Penutup: Panggilan Jiwa untuk Menjaga Masa Depan

Sebagai seorang penulis yang telah menerbitkan 10 buku—8 di antaranya telah terbit dan 2 sedang dalam proses—saya menulis artikel ini bukan sekadar untuk mengisi halaman blog, melainkan sebagai panggilan jiwa. 

Setiap betina produktif yang kita selamatkan hari ini adalah investasi untuk masa depan. Di setiap hela nafas betina produktif yang kita jaga, ada denyut kehidupan generasi mendatang yang akan terus berlanjut.

Mari kita mulai dari diri kita sendiri, dari keluarga peternak kita, dan dari lingkungan sekitar. 

Mari kita jadikan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ini sebagai momentum untuk melakukan perubahan nyata. 

Inilah saatnya kita bergerak, bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pahlawan bagi peternakan Indonesia.

Selamatkan betina produktif, selamatkan masa depan Indonesia!

Daftar Pustaka

  1. Al-Bukhari, Abu Abdillah, Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim bin al-Mughirah ibn Bardizbah. (1422H). Shahih al-Bukhari, Juz III, No. 2632. Bayrut: Dar Thawq al-Najah.

  2. Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan Ibnu Majah. Hadits No. 2007-2489 dan 2008-2490.

  3. Aninta, S.G., et al. (2025). The genetic diversity of Indonesian cattle has been shaped by multiple introductions and adaptive introgression. Nature Communicationshttps://link.springer.com/article/10.1038/s41467-025-62692-z

  4. Arraushany, Abdurrahman. (2019). 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula. Batu: VIP Press.

  5. detikNews. (2012). Wah, Asal Muasal Ayam dan Kambing di Dunia Ternyata dari Indonesia. https://news.detik.com/berita/d-1836109/wah-asal-muasal-ayam-dan-kambing-di-dunia-ternyata-dari-indonesia

  6. Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur. (2024). Jatim Pertahankan Posisi Sebagai Gudang Ternak Nasionalhttps://kominfo.jatimprov.go.id/berita/jatim-pertahankan-posisi-sebagai-gudang-ternak-nasional

  7. Disbunak Paser. (2026). Disbunak Paser Gencarkan Sosialisasi Larangan Pemotongan Sapi dan Kerbau Betina Produktif di RPH Jonehttps://disbunak.paserkab.go.id/disbunak-paser-gencarkan-sosialisasi-larangan-pemotongan-sapi-dan-kerbau-betina-produktif-di-rph-jone/

  8. Dwipa News. (2017). Pemkab Bondowoso: Pemotongan Sapi Betina Produktif Tinggihttps://www.dwipanews.com/2017/10/pemkab-bondowoso-pemotongan-sapi-betina-produktif-tinggi

  9. Encyclopedia of Life. (2026). Banteng - Human Associationhttps://eol.org/pages/1037711/articles

  10. Infovet. (2007). Peringatan Hari Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2007https://www.majalahinfovet.com/2007/09/peringatan-hari-peternakan-dan.html

  11. IslamiCity. (2026). Hadith Search - Avoid Slaughtering Lactating Animals. Sunan Ibn Majah 3180 (Book 27, Hadith 19) dan 3181 (Book 27, Hadith 20). https://www.islamicity.org/hadith/search/index-dev.php

  12. Journal of Korean Studies. (2026). Cultural Diplomacy in Indonesian Sultanates: The Narratives on Inter-Kingdom Relations through the Sasapton Tradition of the 16th-17th Century Banten Sultanate.

  13. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2011). Peraturan Menteri Pertanian Nomor 35/Permentan/OT.140/7/2011 tentang Pengendalian Ternak Ruminansia Betina Produktifhttps://peraturan.bpk.go.id/Details/160130/permentan-no-35permentanot14072011-tahun-2011

  14. Mochtari, E. (2011). Pemotongan Ternak Besar Betina Produktif dalam Aspek Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Thesis, Universitas Airlangga. https://repository.unair.ac.id/32742/

  15. MUI. (2025). Beyond Grazing into Zero Waste: How MUI's Fatwa is Turning Buffalo Farmers into Climate Heroes. Jurnal LPLH SDA MUI.

  16. Muslim, Imam. Shahih Muslim, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa'iq.

  17. National Geographic Indonesia. (2025). Studi Genetik: Sapi Indonesia Bisa Bantu Menjawab Permasalahan Global. https://nationalgeographic.grid.id/read/134302670/studi-genetik-sapi-indonesia-bisa-bantu-menjawab-permasalahan-global

  18. Ningsih, Lidia Ayutia. (2021). Struktur Populasi Ternak Itik di Kenagarian Batu Balang Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota. Skripsi, Universitas Andalas.

  19. Partodihardjo, S. (1980). Ilmu Reproduksi Hewan. Jakarta: Mutiara.

  20. Pemkab Solok Selatan. (2026). Pemkab Solsel Imbau Warga Tak Potong Betina Produktif Jelang Kurbanhttps://home.solselkab.go.id/berita/pemkab-solsel-imbau-warga-tak-potong-betina-produktif-jelang-kurban

  21. Pontianak Post. (2024). Hari Ini, Hari Peternakan Nasional, Bagaimana Sejarahnya? https://pontianakpost.jawapos.com/ragam/2408260019/hari-ini-hari-peternakan-nasional-bagaimana-sejarahnya

  22. Repository PTIQ. (2022). Sejarah Kesultanan Langkat.

  23. RRI. (2026). Masyarakat di Solok Selatan Diingatkan Tidak Memotong Hewan Ternak Betinahttps://rri.co.id/padang/regional/2350029/masyarakat-di-solok-selatan-diingatkan-tidak-memotong-hewan-ternak-betina

  24. Sunan Ibnu Majah. (2026). Bab Bagi Hasil Pertanian dengan Sepertiga dan Seperempat Bagian. Hadits No. 2440, 2441, 2442. https://hadits.tazkia.ac.id/hadits/bab/6:847

  25. Tafsir Ibnu Katsir. (2000). Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim, Jilid 5. (Terjemahan). Jakarta: Pustaka Imam Syafi'i.

  26. Tawaf, Rochadi. (2012). Hari Kebangkitan Peternakan. Pikiran Rakyat, 27 September 2012.

  27. Tribun Jatim. (2026). Menelusuri Candi Sadon Magetan, Jejak Raja Airlangga hingga Kediri yang Menyimpan Mitos Ternak Sapihttps://jatim.tribunnews.com/jatim/542564/menelusuri-candi-sadon-magetan-jejak-raja-airlangga-hingga-kediri-yang-menyimpan-mitos-ternak-sapi

  28. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Perubahan atas UU No. 18 Tahun 2009), Pasal 18 Ayat (4) dan Pasal 86.

  29. Universitas Andalas. (2023). Struktur Populasi Ternak Kerbau di Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman. Skripsi.

  30. Universitas Andalas. (2023). Struktur Populasi Ternak Kerbau (Bubalus bubalis) di Kecamatan Ulakan Tapakis Kabupaten Padang Pariaman. Skripsi.

  31. Wikipedia. (2026). Majapahithttps://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit


==== 

==== 

Artikel ini ditulis oleh:
Abdurrahman Arraushany (nama pena dari Abdul Rohman, S.Pt., M.Pt)
Kepala Seksi Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak
UPT PT dan Keswan di Madura
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur

Beliau adalah alumnus S1 Fapet Unpad-Bandung, S2 Fapet UB-Malang, dan Peserta Program Profesi Insinyur (PPI) Fapet UGM-Yogyakarta Periode Gasal 2026/2027.

Penulis telah menulis dan menerbitkan 8 buku:

  1. Estelapete (Sekali Test Langsung Pecah Telur): Buku Tips dan Trik Agar Anda Lolos Tes CPNS Hanya Sekali Coba

  2. 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula

  3. Rahasia Sukses Beternak Sapi Madura

  4. 1001 Cara Islami Naik Level Bagi ASN

  5. 20 Rahasia Terbesar Bisnis Orang Madura

  6. Bebas Hutang Metode Langit

  7. Andai Buku Seporsi Steak Wagyu

  8. Pensiun Berdaya (Panduan Merancang Hidup Sejak Dini Bagi ASN Agar Pensiun Penuh Arti dan Berkelimpahan)

Buku ke-9 dan ke-10 masih dalam proses editing.

Kamis, 20 Agustus 2026

AYAM KAMPUNG SOLUSI PANGAN DAN LIMBAH RUMAH TANGGA DI INDONESIA

 

SUDAH SAATNYA SETIAP RUMAH TANGGA INDONESIA PELIHARA AYAM KAMPUNG!!!

Oleh: Abdurrahman Arraushany
@peternakpembelajar
Smart People (Peternak Mukmin Jawa Timur)
Alumnus S1 Fapet Unpad | S2 Fapet UB  |  Peserta PPI Fapet UGM Periode Gasal 2026/2027
Penulis 10 Buku, termasuk "12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula" dan "Andai Buku Seporsi Steak Wagyu"


"Pengen sih punya ayam di rumah. Tapi …"

Pernahkah kalimat itu terlintas di benak Anda?

Atau mungkin Anda sudah dulu pernah memelihara ayam kampung, lalu berhenti karena alasan klasik: "ribet, bau, mati terus, harga pakannya mahal dan segudang alasan lainnya...."

Saya mengerti. Saya juga dulu begitu.

Saya masih ingat betul ketika pertama kali mencoba beternak ayam di pekarangan rumah. 

Semangat membara, saya beli puluhan ekor DOC. Saya rawat dengan penuh cinta. Tapi satu per satu ayam saya mati. Saya frustrasi. Saya hampir menyerah dan berpikir, "Ah, beternak ayam itu memang tidak cocok bagi saya."

Tapi tahukah Anda? Kegagalan itu justru menjadi titik balik terbesar dalam hidup saya.

Setelah bertahun-tahun berkutat di dunia peternakan—mulai dari S1 di Fapet Unpad-Bandung, S2 di Fapet UB-Malang, dan sekarang (2026) sedang menempuh Program Profesi Insinyur (PPI) di Fapet UGM-Yogyakarta—saya justru makin yakin akan satu hal: Ayam kampung adalah salah satu jawaban paling cerdas untuk masalah pangan, gizi, dan ekonomi keluarga Indonesia.

(Ayam Gaok jantan muda di Jalan Sersan Mesrul Gang III-B Pamekasan-dok.pribadi)

Bukan sekadar teori. Bukan sekadar wacana ilmiah. Saya sudah membuktikannya. Di rumah saya sendiri. Di pekarangan yang dulu hanya ditumbuhi rumput liar, sekarang ada kandang ayam Gaok yang produktif. Saya, istri, dan 4 anak—total 6 orang—sekarang menikmati daging dan telur segar dari pekarangan sendiri setiap hari.

Dan saya ingin mengajak Anda melakukan hal yang sama.

Dua Misi Manusia di Bumi: Inilah Alasan Kita Hidup

Sebelum kita bicara teknis beternak, mari kita ingat dulu pertanyaan paling fundamental dalam hidup: kenapa kita ada di bumi ini?

Allah SWT telah menjawabnya dengan tegas dalam firman-Nya. QS. Adz-Dzariyat: 56: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."

Tapi bukan hanya itu. Ada misi kedua yang tak kalah penting. Dalam QS. Al-Baqarah: 30, Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."

Dua misi mulia manusia di Bumi yaitu: beribadah dan menjadi khalifah—pemimpin, pengganti, pengurus, pengelola, dan pemakmur bumi.

Saudaraku, bayangkan betapa indahnya jika kita menjalankan dua misi ini secara bersamaan dalam satu aktivitas sederhana: beternak ayam kampung di pekarangan.

Kita beribadah dengan menjaga tubuh dan keluarga dari makanan yang halal dan thayyib (aman, sehat, dan utuh). Kita tahu persis asal-usul daging dan telur yang kita konsumsi. Tidak ada hormon berlebih. Tidak ada antibiotik sembarangan. Halal dan thayyib dari hulu ke hilir.

Kita jadi khalifah di Bumi dengan mengelola lahan pekarangan yang selama ini terbengkalai. Kita mengubah sampah dapur menjadi pakan ternak yang bernilai ekonomi. Kita menghasilkan pangan bergizi untuk keluarga tercinta. Kita memakmurkan bumi dari skala terkecil: rumah kita sendiri.

Allah juga mengingatkan dalam QS. Al-A'raf: 31: "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

Ayat ini menjadi landasan pola makan kita: cukup, tidak berlebihan, dan bergizi. Beternak sendiri memungkinkan kita mengonsumsi pangan sesuai kebutuhan, tanpa harus khawatir dengan kualitas dan kehalalannya.

Ayam Kampung: Harta Karun Nusantara yang Terlupakan

Tahukah Anda bahwa dari 4 nenek moyang ayam peliharaan di dunia, dua di antaranya berasal dari Indonesia?

Ya, ayam hutan merah (Gallus gallus) dan ayam hutan hijau (Gallus varius) adalah bagian dari sejarah peradaban manusia. Mereka bukan sekadar hewan ternak. Mereka adalah saksi bisu perjalanan panjang peradaban Nusantara.

Buku "Sumberdaya Genetik Ayam Lokal Indonesia dan Prospek Pengembangannya" karya Dr. Tike Sartika, Prof. Sofyan Iskandar, dan Bess Tiesnamurti mencatat lebih dari 35 jenis ayam kampung Nusantara yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ini adalah kekayaan hayati yang tak ternilai harganya.

Ini bukan sekadar fakta ilmiah yang dingin. Ini adalah warisan genetik yang tak ternilai dari nenek moyang kita. Ribuan tahun ayam kampung sudah menyatu dengan kehidupan manusia di Nusantara—jauh sebelum kerajaan-kerajaan besar berdiri, bahkan sejak daratan ini pertama kali dihuni manusia.

Dan yang lebih menakjubkan, di Candi Borobudur dan Candi Prambanan, jejak ayam kampung pun terukir dengan indah. Coba bayangkan: lebih dari 1.200 tahun lalu, nenek moyang kita sudah beternak ayam dengan sistem yang terpadu!


Salah satu panel relief Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8 Masehi menggambarkan aktivitas budidaya ternak ayam dan ikan yang dilakukan secara terpadu. Kandang ayam dibangun di atas kolam ikan—inilah yang sekarang kita kenal sebagai sistem Mina Ayam. Sungguh luar biasa, bukan?

Bahkan di Candi Garuda, kompleks Prambanan, relief ayam terukir bersama burung-burung lainnya. Ini membuktikan: ayam kampung bukan pendatang. Dia adalah sahabat setia bangsa kita sejak zaman purba. Dia adalah bagian dari peradaban kita.

Dari Timur Tengah ke Nusantara: Jejak Ayam dalam Peradaban

Sekarang mari kita renungkan pertanyaan yang sangat menarik: kapan tepatnya Bani Adam—keturunan Nabi Nuh dari Sam, Ham, dan Yafith—sampai ke Nusantara?

Memang, penelitian terbaru ilmuwan Barat menunjukkan bahwa lokasi domestikasi hampir semua hewan ternak ada di kawasan Timur Tengah. Kisah Nabi Nuh dan bahtera pun mengisahkan bahwa hewan-hewan dibawa dalam bahtera sebelum menyebar ke seluruh penjuru bumi.

Tapi satu hal yang pasti: sejak manusia menjejakkan kaki di Nusantara, ayam kampung sudah ada. Dia bukan sekadar ternak. Dia adalah bagian dari peradaban, budaya, dan ketahanan pangan masyarakat kita.

Ayam kampung telah menemani manusia Nusantara dalam suka dan duka. Di saat masa panen raya, ayam kampung menjadi hidangan istimewa. Di saat masa sulit, telur ayam kampung menjadi sumber protein yang menyelamatkan. Dia adalah sahabat sejati yang setia.

Ironi Negeri Kaya Raya

Saudaraku, Indonesia adalah negeri yang luar biasa kaya. Luas daratan 1,9 juta km². Jumlah penduduk lebih dari 284 juta jiwa. Tanahnya subur. Iklimnya tropis. Sumber daya alamnya melimpah.

Tapi di balik kekayaan itu, kita masih menghadapi masalah klasik yang memilukan: kemiskinan, kelaparan, kurang gizi, dan malnutrisi. Pendidikan rendah, penghasilan rendah, kesehatan buruk—semua saling terkait dalam lingkaran setan kemiskinan yang seakan tak berujung.

Bayangkan, berdasarkan laporan OECD dan FAO, konsumsi daging ayam di Indonesia hanya sekitar 8,37 kg per kapita per tahun. Angka ini jauh di bawah rata-rata konsumsi negara OECD yang mencapai 21,9 kg per kapita per tahun. Bahkan kita tertinggal dari Malaysia yang mencapai 29,9 kg per kapita per tahun.

Kita kekurangan protein hewani. Padahal protein adalah kunci untuk mencegah stunting dan malnutrisi. Anak-anak kita tumbuh tanpa gizi yang cukup. Generasi penerus bangsa terancam kualitasnya.

Padahal solusinya ada di depan mata. Di pekarangan rumah kita masing-masing. Di lahan kosong yang selama ini hanya ditumbuhi rumput. Di sampah dapur yang setiap hari kita buang percuma.

Kenapa Ayam Gaok? Inilah Si Emas Putih dari Madura

Dari puluhan jenis ayam kampung di Nusantara, saya ingin mengajak Anda mengenal satu jenis yang spesial: Ayam Gaok dari Madura.



(Pejantan ayam gaok koleksi peternak ayam Gaok di Mojokerto [kiri], betina ayam gaok fase produksi koleksi peternak ayam gaok di Sersan Mesrul Gang 3 B Pamekasan [kanan])

Ayam ini berasal dari Pulau Puteran, Kabupaten Sumenep, dan terkenal sebagai "Si Emas Putih" Pulau Madura. Mengapa disebut emas putih? Karena dagingnya putih kekuningan mirip ayam ras tipe pedaging/broiler dan nilainya yang begitu berharga bagi masyarakat Madura.

Kenapa saya begitu antusias dengan Ayam Gaok? Mari saya ceritakan alasannya:

Pertama, bobot jantan dewasa bisa mencapai 4-5 kg. Bayangkan! Seekor ayam kampung sebesar itu. Dagingnya padat, rasanya gurih khas ayam kampung, tapi porsinya melimpah. Cocok untuk keluarga besar seperti kita.

Kedua, Balai Penelitian Ternak (Balitnak) telah menyeleksi Ayam Gaok selama 6 generasi dan meluncurkan galur Gaosi-1 Agrinak. Bobot badan jantan umur 10 minggu mencapai 1.055 gram/ekor dan betina mencapai 857 gram/ekor. Ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik.

Ketiga, persentase karkas Ayam Gaosi-1 mencapai 63%. Artinya, daging yang bisa dimakan sangat banyak. Tidak banyak bagian yang terbuang.

Keempat, produktivitas telurnya pun baik dan terus dikembangkan. Jadi Ayam Gaok bukan hanya untuk daging, tapi juga untuk telur.


Saya sendiri, di kandang depan rumah di Pamekasan Madura, pernah menyilangkan Ayam Gaok jantan dengan ayam Arab betina. Hasilnya saya beri nama GAMARAB (Gaok-Arab). Hasilnya sungguh luar biasa! Badannya besar seperti Ayam Gaok, produksi telurnya melimpah seperti ayam Arab. Potensi yang luar biasa, bukan?

Jadi kalau Anda di Jawa Timur atau di luar Jawa, Ayam Gaok layak banget jadi pilihan utama. Ini adalah ayam kebanggaan Indonesia yang siap bersaing dengan ayam-ayam impor.

Berapa Kebutuhan Keluarga Anda? Mari Hitung!

Ini bagian yang paling saya suka. Kita akan hitung secara ilmiah tapi praktis. Tanpa rumus-rumus yang bikin pusing. Tanpa teori-teori yang bikin ngantuk. Hitungan sederhana yang bisa langsung Anda praktikkan.

Berdasarkan standar WHO dan anjuran gizi, konsumsi protein hewani ideal sekitar 100-150 gram per hari per kapita. Untuk satu orang dewasa dengan berat badan 50-80 kg, kebutuhan per tahun adalah:

  • Daging ayam: 12 kg (sekitar 35 gram per hari)

  • Telur: 12 kg (sekitar 2 butir @50 gram per hari)

Total = 24 kg per orang per tahun.

Maka, kebutuhan keluarga Anda:


Saudaraku, angka 144 kg ini bukan sekadar angka. Ini adalah jaminan gizi bagi keluarga Anda. Ini adalah investasi kesehatan jangka panjang. Ini adalah langkah nyata memutus mata rantai kemiskinan dan malnutrisi.

Berapa Ekor Ayam Gaok yang Harus Dipelihara?

Ayam Gaok punya potensi ganda: pedaging dan petelur. Dengan bobot potong sekitar 1,2 kg per ekor pada umur 4-6 bulan.

Nah, untuk keluarga 6 orang dengan kebutuhan 144 kg per tahun, mari kita hitung:

Kebutuhan daging (60%): 86,4 kg → butuh 72 ekor potong per tahun.
Kebutuhan telur (40%): 57,6 kg → butuh sekitar 1.252 butir telur per tahun.

Lalu, berapa ekor ayam yang harus dipelihara di pekarangan Anda?

Di pekarangan idealnya ada:

  1. 10-11 ekor ayam petelur — untuk memenuhi kebutuhan telur keluarga

  2. 4-6 ekor indukan (jantan dan betina) — untuk memproduksi DOC (Day Old Chick) secara mandiri

  3. Siklus pembesaran — panen 6 ekor per bulan untuk dipotong

Total populasi sekitar 15-20 ekor dalam satu siklus.

Saudaraku, dengan sistem ini, Anda bisa memanen daging dan telur setiap hari. Bayangkan: anak-anak Anda makan telur segar setiap pagi. Daging ayam kampung tersedia kapan pun dibutuhkan. Tidak perlu beli di pasar dengan harga mahal dan kualitas yang tidak pasti.

Dan yang lebih membahagiakan: anak-anak Anda ikut terlibat. Mereka belajar beternak sejak dini. Mereka belajar tentang siklus kehidupan. Mereka belajar tentang tanggung jawab. Mereka belajar tentang rezeki yang halal dan berkah.

Luas Lahan yang Dibutuhkan: Tidak Perlu Kebun Raya!

Saudaraku, mungkin Anda berpikir, "Ah, saya tidak punya lahan luas. Rumah saya hanya tipe 60."

Tenang. Ayam Gaok memang bertubuh besar, jadi butuh ruang gerak yang cukup. Tapi untuk 15 ekor dewasa + 30 ekor anakan, lahan yang dibutuhkan hanya sekitar 50-100 m².

Itu setara dengan pekarangan rumah tipe 60 atau 70 di perumahan. Cukup dibagi menjadi:

  1. Kandang indukan — untuk ayam dewasa yang sedang bertelur dan mengeram

  2. Kandang pembesaran — untuk DOC hingga siap potong

  3. Area umbaran — biarkan ayam mencari pakan alami, serangga, dan cacing

Saya sendiri di Pamekasan Madura hanya menggunakan pekarangan depan rumah yang tidak lebih dari 70 m². Masih ada sisa untuk tanaman sayuran, obat dan buah-buahan. Pekarangan menjadi hijau, asri, dan produktif.

Soal Pakan: Jangan Takut Mahal! Ini Rahasianya

Saudaraku, saya tahu betul kekhawatiran terbesar Anda: pakan.

Ya, pakan memang komponen biaya terbesar dalam beternak, mencapai 60-70% dari total biaya produksi. Konsumsi pakan ayam kampung dewasa sekitar 80-100 gram per ekor per hari. Untuk 45 ekor, biaya pakan per tahun diperkirakan sekitar Rp 5-8 juta.

Tapi tenang. Ada banyak cara untuk menghemat. Saya sudah mempraktikkannya sendiri.

Pertama, fermentasi pakan. Gunakan probiotik untuk meningkatkan kecernaan dan menekan FCR (Feed Conversion Ratio). Dengan fermentasi, pakan yang sama bisa menghasilkan lebih banyak daging dan telur.

Kedua, manfaatkan limbah dapur. Sisa sayuran, sisa nasi, dedaunan—semua bisa diolah menjadi pakan tambahan yang bergizi. Saya sendiri hampir tidak pernah membuang sampah organik. Semua masuk ke kandang ayam.

Ketiga, budidaya maggot BSF. Larva lalat Black Soldier Fly adalah sumber protein murah yang bisa diternakkan sendiri dari sampah organik. Kandungan proteinnya mencapai 40-50%! Ini pakan super untuk ayam Anda.

Keempat, integrasi dengan tanaman. Biarkan ayam mencari pakan hijauan, serangga, dan cacing di pekarangan. Ini tidak hanya menghemat pakan, tapi juga membuat ayam lebih sehat dan alami.

Dengan cara-cara ini, biaya pakan bisa ditekan hingga 40-50%. Bayangkan, dari Rp 8 juta menjadi Rp 4 juta per tahun. Lumayan, bukan?

Kunci Ayam Sehat, Produktif, dan Minim Kematian

Saya sering ditanya oleh para peternak pemula: "Pak, ayam saya kok gampang mati, kenapa ya?"

Jawabannya selalu sama: manajemen.

Performans atau fenotipik ternak itu dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Genetik sebagai kemampuan, sumbangannya sekitar 30%. Lingkungan sebagai kesempatan, sumbangannya sekitar 70%. Faktor lingkungan meliputi pakan dan nutrisi, iklim (suhu, kelembaban, kecepatan angin, dll), dan managemen pemeliharaan. Jika manajemennya baik, ayam akan sehat dan produktif. Jika manajemennya buruk, setinggi apapun mutu bibitnya, ayam akan sakit bahkan mati.

Berikut 5 kunci yang saya praktikkan:

Pertama, vaksinasi. ND (Newcastle Disease) dan AI (Avian Influenza) wajib dilakukan. Ini adalah penyakit mematikan yang bisa memusnahkan seluruh populasi ayam dalam hitungan hari. Jangan abaikan.

Kedua, kandang bersih. Sanitasi rutin, lantai tidak lembab, sirkulasi udara baik. Kandang yang kotor adalah sarang penyakit. Saya membersihkan kandang setiap hari (waktu pagi).

Ketiga, pakan bergizi. Pastikan pakan mengandung protein minimal 18% dan energi metabolis 2700-2900 kkal. Ini standar minimal untuk pertumbuhan dan produksi yang optimal.

Keempat, herbal. Beri jamu dari kunyit, jahe, bawang putih untuk daya tahan tubuh. Ini adalah resep tradisional yang sudah terbukti selama ratusan tahun. Ayam yang diberi herbal lebih tahan terhadap serangan penyakit.

Kelima, target mortalitas 5%. Dari 144 ekor, siap kehilangan sekitar 7 ekor. Untuk antisipasi, produksi DOC ditambah 10%. Ini adalah perhitungan realistis yang harus Anda siapkan.

Dengan 5 kunci ini, saya hampir tidak pernah kehilangan ayam secara massal. Kematian hanya terjadi pada kasus-kasus individual yang wajar.

Dampak Luar Biasa untuk Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan

Saudaraku, bayangkan jika setiap rumah tangga di Indonesia memelihara ayam kampung di pekarangan. Apa yang akan terjadi?

Dari sisi ekonomi, keluarga hemat belanja pangan 30-40%. Tidak perlu lagi membeli daging dan telur di pasar dengan harga yang terus naik. Bahkan, produksi berlebih bisa dijual, menambah penghasilan keluarga. Ini adalah perekonomian rakyat yang nyata.

Dari sisi sosial, anak-anak tumbuh sehat dengan protein hewani yang cukup. Stunting yang selama ini menjadi momok bangsa bisa ditekan. Keluarga mandiri pangan, tidak tergantung pada bantuan atau impor. Ini adalah ketahanan pangan keluarga yang sesungguhnya.

Dari sisi lingkungan, sampah organik rumah tangga berkurang hingga 50%. Kotoran ayam menjadi pupuk organik untuk tanaman pekarangan. Pekarangan menjadi hijau, asri, dan produktif. Problem sampah teratasi, lingkungan terjaga.

Inilah yang saya sebut sebagai ekonomi sirkular dalam skala rumah tangga. Semua limbah menjadi berkah. Semua sumber daya dimanfaatkan optimal.

Sinergi dengan 10 Program Pokok PKK

Gerakan beternak ayam kampung di pekarangan ini selaras sempurna dengan 10 Program Pokok PKK. Mari kita lihat:

  1. Penghayatan dan Pengamalan Pancasila — gotong royong dan kemandirian adalah nilai-nilai Pancasila yang ada di masyarakat kita

  2. Gotong Royong — produksi pangan bersama, saling membantu antar tetangga

  3. Pangan — menyediakan pangan bergizi dari pekarangan sendiri

  4. Perumahan dan Tata Laksana Rumah Tangga — memanfaatkan lahan pekarangan secara optimal

  5. Pendidikan dan Keterampilan — belajar beternak, belajar mengolah pakan, belajar manajemen

  6. Kesehatan — gizi keluarga terjaga, stunting dicegah

  7. Pengembangan Kehidupan Berkoperasi — menjual hasil panen secara kolektif

  8. Kelestarian Lingkungan Hidup — mengelola limbah organik, mengurangi sampah

  9. Perencanaan Sehat — menciptakan keluarga sehat dan mandiri

  10. Sandang — meski tidak langsung terkait, tetap terintegrasi dalam ekosistem kemandirian

Bayangkan jika PKK di seluruh Indonesia menggerakkan program beternak ayam kampung ini. Luar biasa dampaknya!

Penutup: Ini Saatnya Kita Bergerak!

Saudaraku, Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 168: "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi."

Beternak ayam kampung di pekarangan adalah jalan untuk mendapatkan makanan halal dan baik (thayyib). Ini adalah ibadah yang nyata. Ini adalah peradaban yang kita bangun dari rumah. Ini adalah jihad ekonomi yang sesungguhnya.

Saya sudah memulainya. Saya, istri, dan 4 anak—total 6 orang—sekarang menikmati hasil pekarangan sendiri. Setiap pagi, saya melihat anak-anak saya makan telur dadar dari ayam Gaok yang kami pelihara sendiri. Setiap minggu, kami menikmati sup ayam kampung yang segar dan gurih. Kami tahu persis asal-usul makanan kami. Kami yakin akan kehalalan dan kesehatannya.

Dan saya ingin mengajak Anda, para pembaca blog @peternakpembelajar, untuk melakukan hal yang sama.

Mulailah dari sekarang. Dari pekarangan Anda. Dari 10 ekor Ayam Gaok. Dari langkah kecil yang berdampak besar.

Sudah saatnya setiap rumah tangga Indonesia memelihara ayam kampung.

Selamat berternak, semoga Allah memberkahi setiap langkah kita! 🐔🤲

#AyamGaok #PeternakPembelajar #KetahananPanganKeluarga #PekaranganProduktif #AyamKampungNusantara #AyamLokalIndonesia

DAFTAR PUSTAKA

  1. Sartika, T., Iskandar, S., & Tiesnamurti, B. (2016). Sumberdaya Genetik Ayam Lokal Indonesia dan Prospek Pengembangannya. IAARD Press. ISBN 978-602-344-136-5. Tersedia di: https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/20212

  2. Balai Penelitian Ternak, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Kementerian Pertanian. (2020). Ayam Gaosi-1 Agrinak: Galur Ayam Gaok Hasil Seleksi 6 Generasi. Tersedia di: https://unggasanekaternak.bsip.pertanian.go.id/informasi-publik/download/lakip-lakin/lakin-2020

  3. Poultry Indonesia. (2022). Ayam GaoSi-1 Agrinak, Alternatif Ayam Lokal Pedaging. Tersedia di: https://www.poultryindonesia.com/id/ayam-gaosi-1-agrinak-alternatif-ayam-lokal-pedaging/

  4. Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. (2014). Ayam Gaok Si Emas Putih Pulau Madura yang Siap Digali. Tersedia di: https://mail.disnak.jatimprov.go.id/web/posts/read/1087-ayam-gaok-si-emas-putih-pulau-madura-yang-siap-digali

  5. Universitas Airlangga. (2025). Ekstrak Teh Hijau dalam Pengencer Kuning Telur-Susu Meningkatkan Kualitas Semen Beku Ayam Gaok. Tersedia di: https://unair.ac.id/ekstrak-teh-hijau-dalam-pengencer-kuning-telur-susu-meningkatkan-kualitas-semen-beku-ayam-gaok/

  6. OECD/FAO. (2022). OECD-FAO Agricultural Outlook 2022-2031. Tersedia di: https://www.oecd-ilibrary.org/agriculture-and-food/oecd-fao-agricultural-outlook-2022-2031_agr-outlook-data-en

  7. Kompas.id. (2024). Kian Beragam Konsumsi Pangan Hewani, Kian Rendah Risiko Malanutrisi. Tersedia di: https://www.kompas.id/artikel/kian-beragam-konsumsi-pangan-hewani-kian-rendah-risiko-malanutrisi

  8. Kontan.co.id. (2024). Konsumsi Masih Rendah, Kemenperin Dorong Penguatan Industri Daging Nasional. Tersedia di: https://industri.kontan.co.id/news/konsumsi-masih-rendah-kemenperin-dorong-penguatan-industri-daging-nasional

  9. Katadata.co.id. (2026). Konsumsi Daging RI Masih Kalah dari Vietnam dan Malaysia, Ini Sebabnya. Tersedia di: https://katadata.co.id/berita/industri/65accd7681019/konsumsi-daging-ri-masih-kalah-dari-vietnam-dan-malaysia-ini-sebabnya

  10. ANTARA News Papua. (2026). TP PKK Jayawijaya Implementasi 10 Program Pokok di 328 Kampung. Tersedia di: https://papua.antaranews.com/berita/764211/tp-pkk-jayawijaya-implementasi-10-program-pokok-di-328-kampung

  11. detikNews. (2026). Tri Tito Karnavian Ajak Pengurus & Kader TP PKK Perkuat 10 Program Pokok. Tersedia di: https://news.detik.com/berita/d-8570608/tri-tito-karnavian-ajak-pengurus-kader-tp-pkk-perkuat-10-program-pokok

  12. Putra, A. A., & Susiati, A. M. (2023). Pola Pertumbuhan Ayam Kampung Umur 2 sampai 10 Minggu yang Diberi Kunyit dan Jinten Hitam dalam Ransum. Prodi Peternakan UMBY.

  13. Radarmajapahit.jawapos.com. (2023). Peternakan Peradaban Majapahit Terapkan Sistem Budi Daya Terpadu. Tersedia di: https://radarmajapahit.jawapos.com/majapahit/2308290002/peternakan-peradaban-majapahit-terapkan-sistem-budi-daya-terpadu


==== 

Artikel ini ditulis oleh:
Abdurrahman Arraushany (nama pena dari Abdul Rohman, S.Pt., M.Pt)
Kepala Seksi Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak
UPT PT dan Keswan di Madura
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur

Beliau adalah alumnus S1 Fapet Unpad-Bandung, S2 Fapet UB-Malang, dan Peserta Program Profesi Insinyur (PPI) Fapet UGM-Yogyakarta Periode Gasal 2026/2027.

Penulis telah menulis dan menerbitkan 8 buku:

  1. Estelapete (Sekali Test Langsung Pecah Telur): Buku Tips dan Trik Agar Anda Lolos Tes CPNS Hanya Sekali Coba

  2. 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula

  3. Rahasia Sukses Beternak Sapi Madura

  4. 1001 Cara Islami Naik Level Bagi ASN

  5. 20 Rahasia Terbesar Bisnis Orang Madura

  6. Bebas Hutang Metode Langit

  7. Andai Buku Seporsi Steak Wagyu

  8. Pensiun Berdaya (Panduan Merancang Hidup Sejak Dini Bagi ASN Agar Pensiun Penuh Arti dan Berkelimpahan)

Buku ke-9 dan ke-10 masih dalam proses editing.

Blog: Peternak Pembelajar