Ladang Emas di Balik Tumpukan Sampah: Ayam Kampung Nusantara, Solusi Mengatasi Pengangguran dan Mewujudkan Kemandirian Pangan Warga Indonesia
Pagi itu, selepas subuh, seperti biasa saya menyalakan motor Beat kesayangan. Udara Pamekasan masih segar, embun masih setia membasahi dedaunan di pinggir jalan. Dengan sabar, saya menyusuri rute yang sudah hafal di luar kepala—dari rumah saya yang sederhana di Kowel ke Pasar Kolpajung Pamekasan. Jaraknya tidak sampai 3 kilometer, tetapi setiap meter perjalanan menyimpan harta karun yang selama ini diabaikan banyak orang.
Saya berhenti di setiap sudut yang saya tahu sering menjadi tempat pembuangan sampah warga. Turun dari motor, saya membungkuk, tangan meraih satu per satu plastik berisi sampah. Plastik yang berat, menjadi prioritas untuk diambil karena biasanya pasti ada bahan organiknya. Ada sisa nasi dari warung yang baru tutup semalam. Ada kulit buah yang baru saja dikupas ibu-ibu rumah tangga. Ada sayuran layu yang masih menyisakan warna hijau segar. Bahkan kadang saya menemukan daging dan tulang-tulang ayam yang masih menempel daging—masih layak untuk diolah kembali menjadi pakan ternak.
Di mata orang lain, ini adalah sampah kotor yang menjijikkan. Di mata saya, ini adalah ladang emas yang selama ini terabaikan. Ini adalah amanah yang terbuang sia-sia. Ini adalah jawaban atas tiga persoalan besar yang menghantui negeri kita: sampah yang menggunung, pengangguran yang merajalela, dan kerentanan pangan yang memprihatinkan.
Saya memang tidak mengambil sampah setiap hari. Kadang saya sibuk dengan urusan lain—mengajar, menulis, atau mengurus farm yang saya dirikan (Himdafarm Tuban dan Pamekasan). Tetapi setiap kali saya sempat, saya pasti melakukannya. Bagi saya, ini bukan sekadar hobi. Ini adalah pengabdian. Ini adalah dakwah. Ini adalah upaya nyata mengubah masalah menjadi berkah.
Saya ingin mengajak Anda—para pembaca yang budiman—untuk menyelami sebuah gagasan revolusioner yang lahir dari keprihatinan, tumbuh dari pengalaman, dan kini siap menjadi gerakan. Sebuah gagasan tentang bagaimana mengubah masalah menjadi berkah, bagaimana mengubah musuh menjadi sekutu, dan bagaimana mengubah cara pandang kita terhadap apa yang selama ini kita anggap sebagai sampah.
Sampah, Antara Beban dan Berkah
Setiap manusia, di mana pun ia berada, dari Sabang sampai Merauke, dari anak-anak sampai orang tua, dari rakyat biasa sampai pejabat tinggi, semuanya pasti memproduksi sampah. Ini adalah sunnatullah yang tak terelakkan. Dalam keseharian kita, sampah hadir dalam dua wujud utama: organik dan anorganik. Sampah organik berasal dari sisa-sisa makhluk hidup—nasi basi, kulit buah dan sayur, daging, tulang, dan daun-daunan kering. Sampah anorganik adalah benda-benda buatan manusia yang sulit terurai—plastik, kaca, logam, berbagai kemasan modern, dan lainnya.
Yang paling memprihatinkan adalah posisi Indonesia. Negara kita, dengan penduduk mayoritas Muslim (jumlahnya sekitar 82%), ternyata menduduki peringkat kedua sebagai negara paling boros dan suka buang-buang makanan di dunia, setelah Saudi Arabia (FAO, 2021). Bayangkan betapa memalukannya predikat ini. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat limbah makanan (food waste) mencapai 40,79% dari total 20,25 juta ton timbulan sampah nasional sepanjang tahun 2025. Angka ini menempatkan sisa makanan di atas jenis sampah lain, seperti plastik yang menyumbang 19,95% dan kayu atau ranting sebesar 13,7%. Bahkan, rumah tangga menjadi penyumbang utama sampah nasional dengan proporsi 56,82% (Kementerian LHK, 2022).
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan bahwa Indonesia menghasilkan 23–48 juta ton sampah makanan per tahun dalam rentang waktu 2000–2019, setara dengan 115–184 kilogram per orang per tahun. Kerugian ekonomi dari sampah makanan ini mencapai Rp 213–551 triliun per tahun atau setara dengan 4–5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia (Bappenas, 2021). Ini adalah angka yang luar biasa besar!
Saya masih ingat dengan jelas sebuah momen yang mengubah cara pandang saya terhadap makanan. Suatu malam, seingat saya di akhir tahun 2023, saya menonton liputan berita dari Gaza. Seorang ibu paruh baya, dengan pakaian lusuh dan wajah penuh debu, sedang memilah-milah tumpukan sampah di reruntuhan bangunan yang hancur. Tangannya yang gemetar mengambil sisa-sisa tulang ayam yang sudah hampir tidak berdaging, lalu ia membawanya pulang untuk diolah kembali menjadi makanan bagi anak-anaknya. Adegan itu menghujam kalbu saya. Saya menangis. Saya kemudian melihat piring makan saya yang masih menyisakan beberapa butir nasi. Tanpa berpikir panjang, saya mengambilnya dan memakannya.
Mari kita hitung bersama: Jika 1 orang Indonesia membuang hanya 1 butir nasi setiap hari, dengan penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 290 juta jiwa berdasarkan data BPS pertengahan tahun 2026, berapa ton beras yang terbuang sia-sia dalam setahun? Satu porsi nasi (100 gram) rata-rata mengandung sekitar 5.550 butir nasi (Kementerian Pertanian, 2020). Artinya, jika satu butir nasi dibuang per orang per hari, total nasi yang terbuang adalah:
290 juta butir nasi ÷ 5.550 butir = sekitar 52.252 porsi nasi per hari, atau 5,2 ton beras per hari, dan lebih dari 1.900 ton per tahun!
Dengan harga beras rata-rata Rp 15.000 per kg, potensi kerugian ekonomi dari pemborosan ini mencapai Rp 28,5 miliar per tahun—hanya dari satu butir nasi per orang per hari. Bayangkan jika semua makanan yang terbuang—bukan hanya nasi, tetapi sayuran, daging, buah-buahan—dihitung, maka kerugiannya mencapai ratusan triliun rupiah, seperti yang dilaporkan Bappenas (2021).
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah bersabda: "Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus melakukannya (memakan lebih banyak), maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafasnya."
Sungguh mulia ajaran ini. Betapa Islam telah mengajarkan kita untuk hidup sederhana, tidak berlebihan, dan menghargai setiap rezeki yang Allah berikan.
Allah Ta'ala sendiri berfirman dalam kitab suci Al-Quran, surat Al-A'raf ayat 31: "Ya Bani Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
Ayat ini bukan sekadar larangan, tetapi sebuah perintah untuk bersyukur dan mengelola sumber daya dengan bijaksana.
Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya yang monumental, Nidzam Al-Islam, menjelaskan bahwa pangan merupakan kebutuhan jasmani yang wajib dipenuhi oleh setiap manusia, apapun kondisi ekonominya. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka manusia akan mati. Dan Islam, sebagai agama dan mabda/ideologi yang sempurna, telah mengatur mekanisme pemenuhan kebutuhan pangan ini secara berjenjang. Pertama, Islam mendorong setiap muslim untuk mandiri, berusaha memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Kedua, jika ia tidak mampu karena sakit atau keterbatasan ekonomi, maka keluarganya-lah yang bertanggung jawab. Ketiga, jika keluarga tidak mampu, tetangga dekatnya yang wajib menolong. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan dihasankan oleh Al-Albani: "Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidur kenyang sedangkan tetangganya kelaparan." Keempat, jika semua tidak mampu, maka negara melalui Baitul Mal hadir memberikan sebagian hartanya kepada warga yang kelaparan (An-Nabhani, 1993).
Inilah sistem yang sempurna. Namun, apakah kita sudah menjalankannya? Atau justru kita—sebagai bangsa dan umat—telah lalai?
Ketika Sampah Menjadi Pakan, Ketika Limbah Menjadi Rizki
Jujur, saya sangat tidak setuju jika sampah organik langsung dijadikan pupuk. Saya juga sering melarang para petani dan peternak di Madura dan di banyak wilayah lain di Jawa Timur, untuk membakar jerami padi di lahan mereka. Bahkan beberapa kali saya debat dan berbeda pandangan secara ekstrim dengan petugas pertanian di beberapa kabupaten/kota soal jerami ini. Mengapa? Karena ada nilai yang lebih tinggi dari sekadar pupuk. Nilai itu adalah pangan.
Bayangkan alur logika sederhana ini: sampah organik → pakan ternak → daging, telur, susu → pangan bagi manusia → kemudian baru menghasilkan pupuk organik (pupuk organik cair/POC, pupuk kandang, kompos, dan bokhasi) dari kotoran ternak. Ini adalah rantai nilai yang jauh lebih panjang dan lebih menguntungkan dibandingkan langsung mengubah sampah/limbah menjadi pupuk. Dengan cara ini, kita tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga mengurangi beban lingkungan, menciptakan lapangan kerja, dan membangun kemandirian pangan (Mulyanti, 2020).
Bayangkan juga jika sampah organik yang membusuk dan menghasilkan gas metan—yang jauh lebih berbahaya daripada karbon dioksida sebagai penyebab pemanasan global—bisa kita kurangi secara signifikan. Gas metan dari tumpukan sampah organik di tempat pembuangan akhir (TPA) menyumbang sekitar 12% dari total emisi gas rumah kaca global (IPCC, 2022). Di Indonesia, dengan jumlah sampah organik mencapai 60-70% dari total sampah yang dihasilkan (Kementerian LHK, 2022), potensi pengurangan emisi gas metan sangatlah besar jika kita bisa mengalihkan sampah organik tersebut menjadi pakan ternak atau bahan baku lainnya.
Lalu bagaimana dengan sampah anorganik? Plastik, kayu, batu, dan sisa bangunan? Selama ini saya memanfaatkan sampah kayu dan plastik untuk bahan bakar saat merebus aneka hijauan pakan ternak (HPT) untuk pakan ayam. Adapun sampah batu dan sisa bangunan, tetap saya gunakan seperti untuk urugan rumah, pembuatan jalan, atau berbagai keperluan konstruksi lainnya. Semua memiliki nilai. Semua tetap berharga. Yang diperlukan hanyalah kreativitas dan kemauan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Di rumah saya di Pamekasan, kami hampir tidak pernah membuang sisa makanan ke tempat sampah. Bukan karena kami pelit, tetapi karena kami sadar bahwa setiap butir nasi adalah nikmat yang harus disyukuri. Sisa nasi, sayuran, buah-buahan, bahkan tulang dan kulit ayam, semuanya kami kumpulkan. Lalu kami berikan kepada 35 ekor ayam kampung yang kami pelihara di halaman depan rumah. Tentu ayam-ayam ini tidak hanya makan sampah organik. Saya tambahkan dedak padi, rebusan daun singkong, daun pepaya, daun lamtoro, dan daun indigofera, untuk memastikan kebutuhan protein kasar (PK) dan energi metabolis (EM) ayam tercukupi. Ini sesuai dengan panduan nutrisi ayam kampung yang telah banyak diteliti dan dipublikasikan (Kementerian Pertanian, 2020).
Struktur populasi ayam ideal yang ingin kami wujudkan adalah: 1/3 untuk breeding (indukan), 1/3 untuk rearing (pembesaran), dan 1/3 untuk fattening (penggemukan). Atau jika diringkas menjadi: 1/3 breeding dan 2/3 fattening. Konsep ini saya tulis secara detail dalam buku kedua saya, 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula (Arraushany, 2019).
Dalam buku tersebut, saya menjelaskan bahwa kegagalan peternak pemula seringkali disebabkan oleh ketidakseimbangan struktur populasi, di mana mereka terlalu fokus pada satu fase produksi dan mengabaikan fase lainnya. Akibatnya, populasi tidak berkelanjutan dan produksi tidak optimal. Dengan menerapkan struktur 1/3:1/3:1/3, yang terinspirasi dari hadits nabi, kita memastikan bahwa populasi ternak selalu dalam kondisi ideal—ada indukan yang produktif, ada calon indukan yang sedang dibesarkan, dan ada ayam siap potong untuk konsumsi atau penjualan.
Jenis ayam kampung yang kami pelihara saat ini yaitu Ayam Zayla (cross ayam KUB dan Ayam Elba serta ayam unggul lainnya yang merupakan hasil kreasi breeder di Kecamatan Pegantenan Pamekasan), Ayam Gaok, Ayam Kampung Madura, dan Ayam Cemani. Saat ini, kami memiliki 2 ekor jantan dewasa, 11 ekor betina dewasa yang produktif bertelur, dan sisanya adalah ayam-ayam muda yang sedang dalam fase tumbuh kembang. Dengan pola ini, rumah tangga kami mendapatkan telur segar setiap hari. Setiap akhir pekan—Sabtu atau Minggu saat libur kerja—kami bisa memotong ayam untuk konsumsi keluarga. Atau jika ada kebutuhan mendadak, kami bisa memotong ayam kapan saja.
Hasilnya? Kami hampir tidak pernah lagi membeli telur dan daging ayam dari pasar. Ini bukan hanya penghematan finansial, tetapi juga kepastian kualitas. Kami tahu persis apa yang dimakan ayam-ayam kami, kami tahu persis bagaimana mereka dipelihara, dan kami tahu persis bahwa yang kami konsumsi adalah produk yang halal dan thayyib (aman, sehat dan utuh). Konsep pangan ala Kementerian Pertanian RI yakni ASUH (aman, sehat, utuh dan halal) atau HAUS (halal, aman, utuh dan sehat), telah kami terapkan dalam rumah tangga kami.
Rutinitas Subuh: Mengumpulkan Ladang Emas dengan Motor Beat
Selepas subuh, ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam mimpi, saya sudah bersiap di halaman rumah. Motor Beat tua kesayangan saya saya panasi sebentar. Saya sudah tahu betul rute mana yang paling produktif. Dari Pasar Kolpajung yang mulai ramai dengan aktivitas pedagang pagi, lalu menyusuri jalan di pemukiman warga, hingga akhirnya sampai di depan rumah saya di Kowel Pamekasan.
Setiap kali saya berhenti, saya selalu membawa kantong plastik besar atau karung/sak bekas pakan konsentrat. Saya tidak malu. Saya tidak merasa rendah diri. Justru saya merasa bangga karena saya sedang melakukan sesuatu yang bermanfaat—mengambil apa yang orang lain buang, mengubahnya menjadi sesuatu yang bernilai. Saya juga membawa sarung tangan karet untuk melindungi tangan dari benda tajam, dan terkadang senter kecil jika pagi masih terlalu gelap.
Paling tidak, dalam satu rute sepanjang 3 kilometer itu, saya bisa mendapatkan 1 karung besar sampah. Dari jumlah itu, sampah organik yang layak dijadikan pakan ayam biasanya mencapai 1-4 kilogram. Tidak banyak memang. Tetapi jika dilakukan rutin—hampir setiap hari atau setiap kali saya sempat—jumlahnya akan terakumulasi menjadi signifikan.
Bayangkan jika setiap rumah tangga di Pamekasan, atau di seluruh Indonesia, melakukan hal yang sama. Mengambil sampah organik dari lingkungan sekitar, mengolahnya menjadi pakan ternak, memelihara ayam kampung, dan memanen telur serta dagingnya sendiri. Berapa besar sampah yang bisa kita kurangi? Berapa banyak pengangguran yang bisa kita serap? Berapa besar kemandirian pangan yang bisa kita bangun?
Saya sadar, tidak semua orang memiliki waktu dan kesempatan seperti saya. Tetapi setiap orang bisa memulai dari hal kecil. Ambil sisa dapur Anda sendiri. Jangan buang ke tempat sampah. Kumpulkan dalam ember. Beri makan dua atau tiga ekor ayam kampung di belakang atau depan rumah. Rasakan nikmatnya telur segar setiap pagi. Dan jika semua rumah tangga melakukannya, tentu dampaknya akan luar biasa besar bagi ekonomi, sosial dan lingkungan kita.
Resep Probiotik Penghilang Bau Kandang
"Pak, beternak ayam kampung itu baunya menyengat, saya tidak tega pada tetangga. Jadi saya tidak jadi beternak."
Keluhan ini sering saya dengar dari warga Pamekasan. Saya paham betul kekhawatiran itu. Bau kandang ayam yang khas—dari campuran kotoran, sisa pakan, dan bulu—memang bisa mengganggu kenyamanan lingkungan. Tapi tahukah Anda bahwa masalah ini bisa diatasi dengan teknologi yang sederhana dan murah? Teknologi itu bernama probiotik dan jamu ternak.
Selama 13 tahun tinggal di Pamekasan, saya dan keluarga terus mengembangkan probiotik dan jamu ternak buatan sendiri. Tidak hanya murah, tetapi juga efektif. Dengan probiotik dan jamu ternak ini, kandang ayam kami bebas bau, ayam-ayam sehat, produksi telur maksimal, dan yang paling penting—tetangga tidak pernah komplain. Bahkan mereka kadang mampir untuk melihat-lihat ayam di kandang dan akhirnya tertarik untuk ikut beternak.
Berikut adalah resep probiotik dan jamu ternak andalan keluarga kami:
Bahan-bahan:
2 liter EM4 (Effective Microorganism 4) pabrikan
1 buah nanas matang (tidak perlu dikupas, gunakan sama kulitnya)
4 keping terasi berkualitas
1 genggam nasi (sekitar 1-2 sendok makan)
1,5 liter molasses atau tetes tebu
1 kg dedak padi (bekatul)
Air bersih sekitar 47 liter
Empon-empon (kunyit, jahe, temulawak, kencur, kunyit putih, lengkuas) secukupnya—ini untuk menambah khasiat kesehatan
Cara membuat:
Siapkan wadah besar (ember) yang bersih
Masukkan air sekitar 47 liter ke dalam wadah
Masukkan molasses/tetes tebu, aduk hingga rata
Masukkan EM4, aduk rata, dan diamkan selama 15 menit
Blender nanas dan empon-empon hingga halus
Masukkan hasil blenderan ke dalam larutan EM4 dan air
Tambahkan dedak padi, nasi, dan terasi, aduk rata
Masukkan ke wadah tertutup (jerigen atau drum) dan diamkan untuk fermentasi selama 7 hari
Pada hari ke-3, buka tutup perlahan, aduk, dan tutup kembali
Pada hari ke-5, ulangi langkah yang sama. Buka tutup perlahan, aduk, dan tutup kembali
Pada hari ke-7, buka, aduk, dan siap dipanen
Saring, masukkan probiotik+jamu ternak ke dalam botol 1 literan, simpan di tempat teduh dan gelap
Hasil dari fermentasi ini adalah probiotik dan jamu alami yang sangat bermanfaat. Kami menggunakannya dengan tiga cara: pertama, dicampurkan ke air minum ayam dengan dosis tertentu; kedua, dicampurkan ke pakan; dan ketiga, disiramkan/disemprot ke alas kandang untuk menekan bau dan mengurangi populasi lalat. Penelitian menunjukkan bahwa probiotik EM4 mengandung bakteri asam laktat yang membantu menekan pertumbuhan bakteri patogen, meningkatkan penyerapan nutrisi pakan, dan secara signifikan menurunkan kadar amoniak di kandang (Susandi, 2025; Kaskus, 2016).
Inilah solusi nyata untuk masalah bau kandang. Dan bahan-bahannya sangat mudah didapat di pasar-pasar tradisional. Nanas? Ada di pasar. Terasi? Ada di setiap warung. Molasses? Jika di Pamekasan bisa dengan mudah ditemukan dan dibeli di pasar hewan (Pasar 17 Pamekasan dan Pasar Keppo Pamekasan) dan di toko pertigaan Tambung Pamekasan. Semua murah dan terjangkau.
Studi Kasus Pamekasan dan Potensi Besar di Baliknya
Mari kita sekarang berhitung secara konkret. Saya mengambil studi kasus di Pamekasan, kota yang telah menjadi rumah kedua bagi saya selama 13 tahun terakhir (2013-2026). Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Pamekasan, luas wilayah Kabupaten Pamekasan adalah sekitar 792,24 km² dengan populasi sekitar 850.000 jiwa (BPS Kabupaten Pamekasan, 2026). Wilayah Kota Pamekasan sendiri, sebagai pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan, memiliki populasi sekitar 100.000 jiwa atau sekitar 20.000-25.000 rumah tangga.
Berdasarkan pengalaman saya selama bulan Agustus 2026—setiap kali saya sempat mengambil sampah selepas subuh dengan motor Beat—saya bisa mendapatkan 1-4 kg sampah organik layak pakan per hari dari rute sepanjang 3 kilometer. Ini baru dari sebagian kecil wilayah kota Pamekasan. Bayangkan jika seluruh wilayah kota Pamekasan dikelola secara sistematis.
Saya pernah berasumsi, setiap rumah tangga di wilayah Kota Pamekasan memproduksi sampah organik (sisa nasi, sayuran, buah, tulang, dan lainnya) antara 0,5 hingga 1 kg setiap harinya. Asumsi ini ternyata dibenarkan Bapak Syahrizal Hoesny, Ketua Bank Sampah Induk Bestari Mandiri Pamekasan. Nah, dengan 20.000 rumah tangga, total produksi sampah organik kota Pamekasan adalah antara 10.000 hingga 20.000 kg per hari. Angka yang sangat fantastis!
Jika 50% dari sampah organik ini—sekitar 5.000-10.000 kg per hari—dimanfaatkan sebagai pakan ayam kampung, berapa besar potensi ekonominya?
Seekor ayam kampung dewasa mengonsumsi sekitar 80-100 gram pakan per hari (Juarini dkk., 2011). Dengan 5.000 kg sampah organik per hari, kita bisa memberi makan 50.000-62.500 ekor ayam kampung dewasa setiap hari. Ini berarti potensi produksi telur mencapai 6.250-7.812 butir per hari (dengan asumsi 25% populasi adalah betina dewasa yang bertelur setiap hari), atau sekitar 2.281.250-2.851.562 butir per tahun. Dengan harga telur ayam kampung di Pamekasan saat ini sekitar Rp 3.500,- per butir, maka potensi pendapatan dari penjualan telur saja adalah Rp 7,98 miliar hingga Rp 9,98 miliar per tahun!
Dan ini baru dari 50% sampah organik. Jika 100% sampah organik dimanfaatkan, angkanya menjadi dua kali lipat. Luar biasa bukan?
Penelitian oleh Garuda Kemdikbud (2022) juga membuktikan bahwa pakan campuran limbah organik dan maggot BSF dapat menghasilkan performa produksi yang optimal pada ayam kampung, dengan konversi pakan yang efisien dan kualitas karkas yang baik. Sementara itu, program CEHP (Center for Environmental Health of Pesantren) dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) telah mengembangkan pakan ternak berbasis pengolahan sampah yang menghasilkan kandungan protein mencapai 60 persen (RRI, 2024). Bahkan di Pamekasan sendiri, pondok-pondok pesantren sudah mulai mengembangkan budidaya maggot berbasis digital untuk mengubah sampah organik menjadi pakan ternak (ANTARA, 2023).
Potensi ini bukan hanya tentang angka. Ini tentang perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat Pamekasan. Ini tentang pengurangan volume sampah yang berakhir di TPA. Ini tentang pengurangan emisi gas metan dari pembusukan sampah. Ini tentang pengurangan biaya pakan yang selama ini menjadi beban terbesar peternak. Menurut data, biaya pakan bisa mencapai 60-70% dari total biaya produksi peternakan—sebuah kesalahan fatal yang sering dilakukan peternak pemula, yaitu tidak memanfaatkan sumber daya lokal dan limbah organik di sekitarnya (Arraushany, 2019). Ini tentang peningkatan pendapatan rumah tangga. Dan yang terpenting, ini tentang kemandirian pangan—konsep yang sangat ditekankan dalam Islam.
Pengangguran dan Makna Bekerja yang Sesungguhnya
Di sisi lain, negeri kita menghadapi problem klasik: pengangguran. Berdasarkan data BPS, tingkat pengangguran terbuka di Indonesia masih berada di angka 5-6% setiap tahunnya, dengan jumlah absolut mencapai jutaan orang (BPS, 2026).
Di Kabupaten Pamekasan sendiri, berdasarkan data terbaru, jumlah pengangguran mencapai 7.336 orang dari total angkatan kerja sebanyak 550.693 jiwa (BPS Kabupaten Pamekasan, 2025). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Pamekasan pada Agustus 2025 tercatat sebesar 1,33%, turun 0,31% poin dibandingkan Agustus 2024. Meskipun angka ini menunjukkan tren penurunan, jumlah pengangguran absolut masih signifikan.
Lulusan SMA/SMK sederajat menjadi penyumbang tertinggi angka pengangguran sebesar 3,65%, kemudian diikuti lulusan perguruan tinggi 2,77% dan lulusan SMP sederajat atau ke bawah sebesar 0,32%. Pola TPT di Pamekasan menunjukkan kecenderungan yang konsisten selama periode Agustus 2023 hingga Agustus 2025. TPT lulusan perguruan tinggi juga menunjukkan pergerakan yang fluktuatif, tercatat 2,97% pada 2023, sempat turun menjadi 1,72% pada 2024, dan naik lagi menjadi 2,77% di 2025 (BPS Kabupaten Pamekasan, 2025).
Tapi mari kita refleksikan: apa sebenarnya makna "bekerja"? Dalam bukunya yang berjudul Invasi Politik dan Budaya, Salim Fredericks (2002) mengungkapkan sebuah fakta yang menggugah: dalam sistem kapitalisme, termasuk yang saat ini diakui atau tidak sedang diterapkan di Indonesia, yang disebut bekerja adalah ketika seseorang melakukan aktivitas pekerjaan, mendapatkan gaji atau penghasilan, dan yang paling penting—membayar pajak. Jika seseorang tidak membayar pajak, maka ia dilabeli tidak bekerja.
Inilah sebabnya, aktivitas memasak di rumah dianggap tidak bekerja, padahal aktivitas yang sama di restoran atau hotel dianggap sebagai pekerjaan. Mencuci dan menyetrika baju di rumah dianggap tidak bekerja, tapi di laundry disebut bekerja. Mencuci kendaraan di rumah dianggap tidak bekerja, tapi di tempat pencucian kendaraan disebut bekerja. Begitu pula dengan mengelola sampah dan beternak ayam di halaman belakang atau depan rumah—dianggap tidak bekerja, namun jika dilakukan di tempat pengelolaan sampah pemerintah/swasta atau di farm industri peternakan ayam—dianggap bekerja.
Saya menolak definisi sempit ini dengan segenap jiwa. Seorang ibu rumah tangga yang bangun pagi, mengumpulkan sampah dapur, mengolahnya menjadi pakan ayam, memberi makan ternaknya, membersihkan kandang, mengumpulkan telur, lalu menjualnya ke tetangga atau pasar—bagi saya, dia adalah seorang pekerja keras, seorang wirausahawan ulung, seorang pejuang ketahanan pangan keluarga. Dan ia tidak perlu membayar pajak untuk membuktikan bahwa ia bekerja. Cukup baginya bahwa dengan usahanya, keluarganya tidak kelaparan, tetangganya terbantu, dan lingkungannya lebih bersih.
Teman saya, seorang guru sekolah menengah pertama (SMP) di sebuah sekolah swasta di Kecamatan Pegantenan Pamekasan, pernah berkata dengan lantang: "Ada pemerintah, tidak ada pemerintah sama saja. Orang Indonesia ya tetap mandiri memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan dasar lainnya. Justru ada pemerintah malah membuat susah warga karena ditarik pajak dengan layanan fasilitas publik yang ala kadarnya."
Saya tertegun mendengarnya. Meskipun pernyataannya mungkin terlalu frontal, tetapi kalau dipikir nampak ada benarnya. Sejarah membuktikan bahwa masyarakat Nusantara adalah masyarakat yang tangguh dan mandiri. Mereka bertahan dan berkembang bukan semata karena peran pemerintah, tetapi karena budaya gotong royong dan semangat kemandirian yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Singkih dkk. (2024) dalam penelitian mereka tentang inovasi pemberdayaan masyarakat di Desa Majungan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, membuktikan bahwa masyarakat mampu mengubah sampah organik menjadi pakan ternak melalui budidaya maggot. Program ini tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan, dan membangun kemandirian pangan. Ini adalah model pemberdayaan yang bisa direplikasi di seluruh wilayah Indonesia.
Menyelamatkan Ayam Lokal Nusantara, Menjaga Warisan Bangsa
Sebagai alumnus Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (S1), Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (S2), dan saat ini tengah menempuh Program Profesi Insinyur (PPI) di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada pada periode gasal 2026/2027, insyaallah saya memiliki kepedulian yang sangat tinggi dan dalam terhadap kelestarian ayam lokal Indonesia, khususnya ayam kampung Nusantara.
Mengapa ayam kampung sangat penting? Berikut beberapa alasannya:
Pertama, ayam kampung adalah plasma nutfah asli Indonesia yang telah beradaptasi dengan iklim tropis selama ratusan, bahkan ribuan tahun. Mereka tahan terhadap berbagai penyakit lokal, mampu bertahan hidup dengan pakan seadanya, dan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dibandingkan ayam ras impor (Kementerian Pertanian, 2020).
Kedua, ayam kampung memiliki keunikan genetik yang tidak dimiliki oleh ayam ras. Gen-gen ini menyimpan potensi besar untuk perbaikan genetik di masa depan, terutama dalam menghadapi perubahan iklim dan ancaman penyakit baru. Kehilangan ayam kampung berarti kehilangan kekayaan genetik yang tak ternilai.
Ketiga, ayam kampung memiliki cita rasa yang khas dan digemari oleh masyarakat Indonesia. Dagingnya lebih kenyal, lebih gurih, dan lebih sehat karena kadar lemaknya lebih rendah. Telurnya juga memiliki rasa yang lebih lezat dan kuning telur yang lebih pekat. Permintaan pasar terhadap produk ayam kampung terus meningkat, bahkan harga jual daging dan telur ayam kampung relatif stabil dan lebih tinggi dibandingkan produk ayam ras (Juarini dkk., 2011).
Keempat, ayam kampung adalah simbol kemandirian dan ketahanan pangan. Di kampung-kampung dan perumahan, ayam kampung bisa dipelihara dengan lahan minimal, bahkan di lahan 1 meter persegi. Mereka bisa memanfaatkan sisa-sisa dapur, rumput, legume dan dedaunan, serta berbagai pakan lokal lainnya. Inilah yang saya sebut sebagai "peternakan saku"—konsep peternakan skala kecil yang sangat cocok untuk masyarakat perkotaan dengan lahan terbatas (Arraushany, 2019).
Saya adalah penulis. Hingga Bulan Agustus 2026, saya telah menulis 10 buku tentang peternakan, finansial dan inspirasi-motivasi di dunia ASN, 8 buku di antaranya sudah terbit dan 2 masih dalam proses editing. Saya juga pendiri Himdafarm Tuban dan Pamekasan, farm yang berfokus pada pengembangan peternakan domba, kambing, dan ayam kampung dengan mengadopsi konsep pertanian-peternakan organik ala kitab al filaha karya ilmuwan muslim abad 12 dan jadam organik farming dari korea selatan. Melalui farm ini, kami terus mendorong masyarakat untuk memelihara ayam kampung, domba, dan kambing sebagai bagian dari upaya pelestarian sekaligus peningkatan ekonomi.
Saya mengajak seluruh pembaca untuk ikut menyelamatkan ayam lokal Nusantara. Mulailah dengan memelihara beberapa ekor di rumah. Manfaatkan sampah organik dari dapur. Gunakan probiotik dan jamu ternak untuk mengatasi bau. Rasakan nikmatnya telur dan daging segar dari hasil usaha sendiri. Dan yang terpenting, wariskan semangat kemandirian ini kepada anak cucu kita.
Tulisan Ini Adalah Bagian dari Dakwah
Saudara-saudaraku yang saya muliakan, tulisan ini bukan sekadar artikel biasa. Ini adalah bagian dari dakwah saya. Dakwah untuk mengingatkan Anda dan umat tentang pentingnya mengelola amanah sumber daya yang Allah titipkan kepada kita. Dakwah untuk mengajak umat keluar dari ketergantungan pangan dan membangun kemandirian. Dakwah untuk menyelamatkan lingkungan dari pencemaran yang kita ciptakan sendiri.
Allah Ta'ala berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 41: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
Kerusakan yang kita saksikan saat ini—banjir di mana-mana, tanah longsor, pencemaran sungai dan laut, udara yang semakin panas, dan bau sampah yang menyengat—semuanya adalah akibat dari ulah tangan kita sendiri. Kita terlalu boros, terlalu konsumtif, terlalu cuek terhadap lingkungan. Sudah saatnya kita kembali ke jalan yang benar. Jalan yang diajarkan oleh Al-Quran dan As-Sunnah. Jalan hidup sederhana, hemat sumber daya, tidak berlebih-lebihan, dan selalu menjaga amanah.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: "Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai kebaikan, Allah itu bersih dan menyukai kebersihan, Allah itu mulia dan menyukai kemuliaan." Kebersihan lingkungan adalah bagian dari iman. Mengelola sampah dengan baik adalah bagian dari kebersihan. Dan itu adalah bagian dari ibadah.
Saya juga teringat pada pesan seorang tokoh dunia, Mahatma Gandhi, yang mengatakan: "There is enough on this earth for everyone's need, but not for everyone's greed." Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tetapi tidak untuk memenuhi keserakahan semua orang. Pesan ini sejalan dengan ajaran Islam tentang qana'ah dan zuhud—hidup sederhana dan tidak serakah.
Konsep yang saya tawarkan dalam tulisan ini—mengubah sampah organik menjadi pakan ternak, memelihara ayam kampung, menciptakan lapangan kerja, dan membangun kemandirian pangan—adalah konsep yang universal. Bisa diterapkan di Pamekasan, bisa diterapkan di seluruh Madura, bisa diterapkan di seluruh Jawa, dan bisa diterapkan di seluruh Nusantara. Ini adalah gerakan dari bawah, oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat.
Penutup: Sebuah Ajakan untuk Memulai dari Hal Kecil
Saudaraku, tulisan ini panjang. Tetapi saya berharap Anda membaca sampai akhir, merenungkan setiap kalimatnya, dan kemudian—melakukan sesuatu.
Anda tidak harus memiliki motor Beat dan mengambil sampah setiap subuh seperti saya. Anda tidak harus memiliki 35 ekor ayam seperti saya. Anda tidak harus membuat probiotik dari 2 liter EM4 menjadi 50 liter. Anda bisa memulai dari hal yang sangat kecil. Ambil satu ember yang ada tutupnya. Kumpulkan sisa dapur Anda setiap hari. Beri makan 2-3 ekor ayam kampung di halaman depan atau belakang rumah. Rasakan perubahan yang terjadi. Bukan hanya perubahan di dapur Anda, tetapi perubahan dalam cara pandang Anda terhadap sampah, terhadap pekerjaan, terhadap kemandirian, dan terhadap nikmat Allah yang selama ini Anda sia-siakan.
Ingatlah selalu pesan dalam buku 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula (Arraushany, 2019): kesuksesan dalam beternak tidak ditentukan oleh skala besar atau modal besar, tetapi oleh konsistensi, pengelolaan yang baik, dan pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal. Jangan tunggu sempurna untuk memulai. Mulailah dari apa yang Anda miliki, di mana Anda berada, dengan apa yang Anda bisa.
Saya, sebagai pendiri Himdafarm Tuban dan Pamekasan, sebagai alumnus Fapet Unpad, Fapet UB, dan mahasiswa PPI Fapet UGM, sebagai penulis 10 buku, dan sebagai seorang muslim yang mencoba mengamalkan ajaran islam—saya mengajak Anda semua. Mari kita bangun gerakan ini. Mari kita selamatkan lingkungan dari sampah. Mari kita selamatkan bangsa dan negara dari pengangguran. Mari kita selamatkan umat dari kerentanan pangan. Mari kita selamatkan ayam lokal Nusantara dari kepunahan.
Karena pada akhirnya, kemerdekaan sejati adalah ketika kita tidak bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan dasar kita. Dan kemerdekaan itu dimulai dari langkah sederhana: bagaimana kita memperlakukan sampah di depan rumah kita.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Daftar Pustaka
An-Nabhani, T. (1993). Nidzam Al-Islam. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.
ANTARA. (2023). Pesantren di Pamekasan kembangkan budidaya maggot berbasis digital. https://www.antaranews.com/berita/3816069/pesantren-di-pamekasan-kembangkan-budidaya-maggot-berbasis-digital
Arraushany, A. (2019). 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula. Batu: Penerbit VIP.
Bappenas. (2021). Food Loss and Waste in Indonesia. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.
BPS Kabupaten Pamekasan. (2025). Keadaan Ketenagakerjaan Kabupaten Pamekasan 2025. Pamekasan: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pamekasan. https://pamekasankab.bps.go.id/id/pressrelease/2025/12/04/104/tingkat-pengangguran-terbuka--tpt--kabupaten-pamekasan-pada-agustus-2025-tercatat-sebesar-1-33-persen--turun-0-31-persen-poin-dari-agustus-2024-.html
BPS Kabupaten Pamekasan. (2026). Kabupaten Pamekasan Dalam Angka 2026. Pamekasan: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pamekasan. https://pamekasankab.bps.go.id/id/publication/2026/02/27/e8b301b8933f8a39917e6dea/kabupaten-pamekasan-dalam-angka-2026.html
BPS. (2026). Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia 2026. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
FAO. (2021). The State of Food Security and Nutrition in the World 2021. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Fredericks, S. (2002). Invasi Politik dan Budaya. Bogor: Khilafah Publishing.
Garuda Kemdikbud. (2022). Evaluasi Pakan Campuran Limbah Organik dan Maggot pada Ayam Kampung. https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/5795020
IPCC. (2022). Climate Change 2022: Mitigation of Climate Change. Geneva: Intergovernmental Panel on Climate Change.
Juarini, J., dkk. (2011). Produktivitas Ayam Lokal Tanpa dan Dengan Perbaikan Manajemen. Repository Unhas. http://repository.unhas.ac.id/id/eprint/12613/2/I11114042_skripsi_19-10-2021%201-2.pdf
Kaskus. (2016). PROBIOTIK untuk unggas. https://www.kaskus.co.id/post/57030836de2cf215688b457c
Kementerian LHK. (2022). Statistik Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2022. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Kementerian Pertanian. (2020). Panduan Teknis Usahatani Ayam Kampung. https://repository.pertanian.go.id/server/api/core/bitstreams/f6006e7e-4096-4f52-b363-db5cd1e58a79/content
Mulyanti, E. (2020). Potensi Limbah Organik Sebagai Sumber Pakan Ayam Kampung. BBPP Kupang. https://bbppkupang.bppsdmp.pertanian.go.id/blog/potensi-limbah-organik-sebagai-sumber-pakan-ayam-kampung
RRI. (2024). Unusa Ciptakan Pakan Ternak Berbasis Pengolahan Sampah. https://rri.co.id/surabaya/regional/1040951/unusa-ciptakan-pakan-ternak-berbasis-pengolahan-sampah
Singkih, A. P., dkk. (2024). Inovasi Pemberdayaan Masyarakat: Mengubah Sampah Organik Menjadi Pakan Ternak di Desa Majungan. PEDAMAS (Pengabdian Kepada Masyarakat), 2(01), 15-23. https://pekatpkm.my.id/index.php/JP/article/view/203
Susandi, S. (2025). Wajib Coba! Begini Cara Mudah Hilangkan Bau Kandang Ayam. PanenNews.com. https://www.panennews.com/peternakan/1681300531/wajib-coba-begini-cara-mudah-hilangkan-bau-kandang-ayam
Disclaimer:
tulisan ini merupakan pemikiran dan pandangan
pribadi. Tidak mewakili instansi tempat penulis bekerja dan berkarya
====
Artikel ini ditulis oleh:
Abdurrahman Arraushany (nama pena dari
Abdul Rohman, S.Pt., M.Pt)
Kepala Seksi Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak
UPT PT dan Keswan di Madura
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur
Beliau adalah alumnus S1 Fapet Unpad-Bandung, S2
Fapet UB-Malang, dan Peserta Program Profesi Insinyur (PPI) Fapet
UGM-Yogyakarta Periode Gasal 2026/2027.
Penulis telah menulis dan menerbitkan 8 buku:
1.
Estelapete (Sekali Test Langsung Pecah Telur):
Buku Tips dan Trik Agar Anda Lolos Tes CPNS Hanya Sekali Coba
2.
12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula
3.
Rahasia Sukses Beternak Sapi Madura
4.
1001 Cara Islami Naik Level Bagi ASN
5.
20 Rahasia Terbesar Bisnis Orang Madura
6.
Bebas Hutang Metode Langit
7.
Andai Buku Seporsi Steak Wagyu
8.
Pensiun Berdaya (Panduan Merancang Hidup Sejak
Dini Bagi ASN Agar Pensiun Penuh Arti dan Berkelimpahan)
Buku ke-9 dan ke-10 masih dalam proses editing.