SUDAH SAATNYA SETIAP RUMAH TANGGA INDONESIA PELIHARA AYAM KAMPUNG!!!
"Pengen sih punya ayam di rumah. Tapi …"
Pernahkah kalimat itu terlintas di benak Anda?
Atau mungkin Anda sudah dulu pernah memelihara ayam kampung, lalu berhenti karena alasan klasik: "ribet, bau, mati terus, harga pakannya mahal dan segudang alasan lainnya...."
Saya mengerti. Saya juga dulu begitu.
Saya masih ingat betul ketika pertama kali mencoba beternak ayam di pekarangan rumah.
Semangat membara, saya beli puluhan ekor DOC. Saya rawat dengan penuh cinta. Tapi satu per satu ayam saya mati. Saya frustrasi. Saya hampir menyerah dan berpikir, "Ah, beternak ayam itu memang tidak cocok bagi saya."
Tapi tahukah Anda? Kegagalan itu justru menjadi titik balik terbesar dalam hidup saya.
Setelah bertahun-tahun berkutat di dunia peternakan—mulai dari S1 di Fapet Unpad-Bandung, S2 di Fapet UB-Malang, dan sekarang (2026) sedang menempuh Program Profesi Insinyur (PPI) di Fapet UGM-Yogyakarta—saya justru makin yakin akan satu hal: Ayam kampung adalah salah satu jawaban paling cerdas untuk masalah pangan, gizi, dan ekonomi keluarga Indonesia.
Bukan sekadar teori. Bukan sekadar wacana ilmiah. Saya sudah membuktikannya. Di rumah saya sendiri. Di pekarangan yang dulu hanya ditumbuhi rumput liar, sekarang ada kandang ayam Gaok yang produktif. Saya, istri, dan 4 anak—total 6 orang—sekarang menikmati daging dan telur segar dari pekarangan sendiri setiap hari.
Dan saya ingin mengajak Anda melakukan hal yang sama.
Dua Misi Manusia di Bumi: Inilah Alasan Kita Hidup
Sebelum kita bicara teknis beternak, mari kita ingat dulu pertanyaan paling fundamental dalam hidup: kenapa kita ada di bumi ini?
Allah SWT telah menjawabnya dengan tegas dalam firman-Nya. QS. Adz-Dzariyat: 56: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."
Tapi bukan hanya itu. Ada misi kedua yang tak kalah penting. Dalam QS. Al-Baqarah: 30, Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Dua misi mulia manusia di Bumi yaitu: beribadah dan menjadi khalifah—pemimpin, pengganti, pengurus, pengelola, dan pemakmur bumi.
Saudaraku, bayangkan betapa indahnya jika kita menjalankan dua misi ini secara bersamaan dalam satu aktivitas sederhana: beternak ayam kampung di pekarangan.
Kita beribadah dengan menjaga tubuh dan keluarga dari makanan yang halal dan thayyib (aman, sehat, dan utuh). Kita tahu persis asal-usul daging dan telur yang kita konsumsi. Tidak ada hormon berlebih. Tidak ada antibiotik sembarangan. Halal dan thayyib dari hulu ke hilir.
Kita jadi khalifah di Bumi dengan mengelola lahan pekarangan yang selama ini terbengkalai. Kita mengubah sampah dapur menjadi pakan ternak yang bernilai ekonomi. Kita menghasilkan pangan bergizi untuk keluarga tercinta. Kita memakmurkan bumi dari skala terkecil: rumah kita sendiri.
Allah juga mengingatkan dalam QS. Al-A'raf: 31: "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
Ayat ini menjadi landasan pola makan kita: cukup, tidak berlebihan, dan bergizi. Beternak sendiri memungkinkan kita mengonsumsi pangan sesuai kebutuhan, tanpa harus khawatir dengan kualitas dan kehalalannya.
Ayam Kampung: Harta Karun Nusantara yang Terlupakan
Tahukah Anda bahwa dari 4 nenek moyang ayam peliharaan di dunia, dua di antaranya berasal dari Indonesia?
Ya, ayam hutan merah (Gallus gallus) dan ayam hutan hijau (Gallus varius) adalah bagian dari sejarah peradaban manusia. Mereka bukan sekadar hewan ternak. Mereka adalah saksi bisu perjalanan panjang peradaban Nusantara.
Buku "Sumberdaya Genetik Ayam Lokal Indonesia dan Prospek Pengembangannya" karya Dr. Tike Sartika, Prof. Sofyan Iskandar, dan Bess Tiesnamurti mencatat lebih dari 35 jenis ayam kampung Nusantara yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ini adalah kekayaan hayati yang tak ternilai harganya.
Ini bukan sekadar fakta ilmiah yang dingin. Ini adalah warisan genetik yang tak ternilai dari nenek moyang kita. Ribuan tahun ayam kampung sudah menyatu dengan kehidupan manusia di Nusantara—jauh sebelum kerajaan-kerajaan besar berdiri, bahkan sejak daratan ini pertama kali dihuni manusia.
Dan yang lebih menakjubkan, di Candi Borobudur dan Candi Prambanan, jejak ayam kampung pun terukir dengan indah. Coba bayangkan: lebih dari 1.200 tahun lalu, nenek moyang kita sudah beternak ayam dengan sistem yang terpadu!
Salah satu panel relief Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8 Masehi menggambarkan aktivitas budidaya ternak ayam dan ikan yang dilakukan secara terpadu. Kandang ayam dibangun di atas kolam ikan—inilah yang sekarang kita kenal sebagai sistem Mina Ayam. Sungguh luar biasa, bukan?
Bahkan di Candi Garuda, kompleks Prambanan, relief ayam terukir bersama burung-burung lainnya. Ini membuktikan: ayam kampung bukan pendatang. Dia adalah sahabat setia bangsa kita sejak zaman purba. Dia adalah bagian dari peradaban kita.
Dari Timur Tengah ke Nusantara: Jejak Ayam dalam Peradaban
Sekarang mari kita renungkan pertanyaan yang sangat menarik: kapan tepatnya Bani Adam—keturunan Nabi Nuh dari Sam, Ham, dan Yafith—sampai ke Nusantara?
Memang, penelitian terbaru ilmuwan Barat menunjukkan bahwa lokasi domestikasi hampir semua hewan ternak ada di kawasan Timur Tengah. Kisah Nabi Nuh dan bahtera pun mengisahkan bahwa hewan-hewan dibawa dalam bahtera sebelum menyebar ke seluruh penjuru bumi.
Tapi satu hal yang pasti: sejak manusia menjejakkan kaki di Nusantara, ayam kampung sudah ada. Dia bukan sekadar ternak. Dia adalah bagian dari peradaban, budaya, dan ketahanan pangan masyarakat kita.
Ayam kampung telah menemani manusia Nusantara dalam suka dan duka. Di saat masa panen raya, ayam kampung menjadi hidangan istimewa. Di saat masa sulit, telur ayam kampung menjadi sumber protein yang menyelamatkan. Dia adalah sahabat sejati yang setia.
Ironi Negeri Kaya Raya
Saudaraku, Indonesia adalah negeri yang luar biasa kaya. Luas daratan 1,9 juta km². Jumlah penduduk lebih dari 284 juta jiwa. Tanahnya subur. Iklimnya tropis. Sumber daya alamnya melimpah.
Tapi di balik kekayaan itu, kita masih menghadapi masalah klasik yang memilukan: kemiskinan, kelaparan, kurang gizi, dan malnutrisi. Pendidikan rendah, penghasilan rendah, kesehatan buruk—semua saling terkait dalam lingkaran setan kemiskinan yang seakan tak berujung.
Bayangkan, berdasarkan laporan OECD dan FAO, konsumsi daging ayam di Indonesia hanya sekitar 8,37 kg per kapita per tahun. Angka ini jauh di bawah rata-rata konsumsi negara OECD yang mencapai 21,9 kg per kapita per tahun. Bahkan kita tertinggal dari Malaysia yang mencapai 29,9 kg per kapita per tahun.
Kita kekurangan protein hewani. Padahal protein adalah kunci untuk mencegah stunting dan malnutrisi. Anak-anak kita tumbuh tanpa gizi yang cukup. Generasi penerus bangsa terancam kualitasnya.
Padahal solusinya ada di depan mata. Di pekarangan rumah kita masing-masing. Di lahan kosong yang selama ini hanya ditumbuhi rumput. Di sampah dapur yang setiap hari kita buang percuma.
Kenapa Ayam Gaok? Inilah Si Emas Putih dari Madura
Dari puluhan jenis ayam kampung di Nusantara, saya ingin mengajak Anda mengenal satu jenis yang spesial: Ayam Gaok dari Madura.
Ayam ini berasal dari Pulau Puteran, Kabupaten Sumenep, dan terkenal sebagai "Si Emas Putih" Pulau Madura. Mengapa disebut emas putih? Karena dagingnya putih kekuningan mirip ayam ras tipe pedaging/broiler dan nilainya yang begitu berharga bagi masyarakat Madura.
Kenapa saya begitu antusias dengan Ayam Gaok? Mari saya ceritakan alasannya:
Pertama, bobot jantan dewasa bisa mencapai 4-5 kg. Bayangkan! Seekor ayam kampung sebesar itu. Dagingnya padat, rasanya gurih khas ayam kampung, tapi porsinya melimpah. Cocok untuk keluarga besar seperti kita.
Kedua, Balai Penelitian Ternak (Balitnak) telah menyeleksi Ayam Gaok selama 6 generasi dan meluncurkan galur Gaosi-1 Agrinak. Bobot badan jantan umur 10 minggu mencapai 1.055 gram/ekor dan betina mencapai 857 gram/ekor. Ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik.
Ketiga, persentase karkas Ayam Gaosi-1 mencapai 63%. Artinya, daging yang bisa dimakan sangat banyak. Tidak banyak bagian yang terbuang.
Keempat, produktivitas telurnya pun baik dan terus dikembangkan. Jadi Ayam Gaok bukan hanya untuk daging, tapi juga untuk telur.
Saya sendiri, di kandang depan rumah di Pamekasan Madura, pernah menyilangkan Ayam Gaok jantan dengan ayam Arab betina. Hasilnya saya beri nama GAMARAB (Gaok-Arab). Hasilnya sungguh luar biasa! Badannya besar seperti Ayam Gaok, produksi telurnya melimpah seperti ayam Arab. Potensi yang luar biasa, bukan?
Jadi kalau Anda di Jawa Timur atau di luar Jawa, Ayam Gaok layak banget jadi pilihan utama. Ini adalah ayam kebanggaan Indonesia yang siap bersaing dengan ayam-ayam impor.
Berapa Kebutuhan Keluarga Anda? Mari Hitung!
Ini bagian yang paling saya suka. Kita akan hitung secara ilmiah tapi praktis. Tanpa rumus-rumus yang bikin pusing. Tanpa teori-teori yang bikin ngantuk. Hitungan sederhana yang bisa langsung Anda praktikkan.
Berdasarkan standar WHO dan anjuran gizi, konsumsi protein hewani ideal sekitar 100-150 gram per hari per kapita. Untuk satu orang dewasa dengan berat badan 50-80 kg, kebutuhan per tahun adalah:
Daging ayam: 12 kg (sekitar 35 gram per hari)
Telur: 12 kg (sekitar 2 butir @50 gram per hari)
Total = 24 kg per orang per tahun.
Maka, kebutuhan keluarga Anda:
Berapa Ekor Ayam Gaok yang Harus Dipelihara?
Ayam Gaok punya potensi ganda: pedaging dan petelur. Dengan bobot potong sekitar 1,2 kg per ekor pada umur 4-6 bulan.
Nah, untuk keluarga 6 orang dengan kebutuhan 144 kg per tahun, mari kita hitung:
Kebutuhan daging (60%): 86,4 kg → butuh 72 ekor potong per tahun.
Kebutuhan telur (40%): 57,6 kg → butuh sekitar 1.252 butir telur per tahun.
Lalu, berapa ekor ayam yang harus dipelihara di pekarangan Anda?
Di pekarangan idealnya ada:
10-11 ekor ayam petelur — untuk memenuhi kebutuhan telur keluarga
4-6 ekor indukan (jantan dan betina) — untuk memproduksi DOC (Day Old Chick) secara mandiri
Siklus pembesaran — panen 6 ekor per bulan untuk dipotong
Total populasi sekitar 15-20 ekor dalam satu siklus.
Saudaraku, dengan sistem ini, Anda bisa memanen daging dan telur setiap hari. Bayangkan: anak-anak Anda makan telur segar setiap pagi. Daging ayam kampung tersedia kapan pun dibutuhkan. Tidak perlu beli di pasar dengan harga mahal dan kualitas yang tidak pasti.
Dan yang lebih membahagiakan: anak-anak Anda ikut terlibat. Mereka belajar beternak sejak dini. Mereka belajar tentang siklus kehidupan. Mereka belajar tentang tanggung jawab. Mereka belajar tentang rezeki yang halal dan berkah.
Luas Lahan yang Dibutuhkan: Tidak Perlu Kebun Raya!
Saudaraku, mungkin Anda berpikir, "Ah, saya tidak punya lahan luas. Rumah saya hanya tipe 60."
Tenang. Ayam Gaok memang bertubuh besar, jadi butuh ruang gerak yang cukup. Tapi untuk 15 ekor dewasa + 30 ekor anakan, lahan yang dibutuhkan hanya sekitar 50-100 m².
Itu setara dengan pekarangan rumah tipe 60 atau 70 di perumahan. Cukup dibagi menjadi:
Kandang indukan — untuk ayam dewasa yang sedang bertelur dan mengeram
Kandang pembesaran — untuk DOC hingga siap potong
Area umbaran — biarkan ayam mencari pakan alami, serangga, dan cacing
Saya sendiri di Pamekasan Madura hanya menggunakan pekarangan depan rumah yang tidak lebih dari 70 m². Masih ada sisa untuk tanaman sayuran, obat dan buah-buahan. Pekarangan menjadi hijau, asri, dan produktif.
Soal Pakan: Jangan Takut Mahal! Ini Rahasianya
Saudaraku, saya tahu betul kekhawatiran terbesar Anda: pakan.
Ya, pakan memang komponen biaya terbesar dalam beternak, mencapai 60-70% dari total biaya produksi. Konsumsi pakan ayam kampung dewasa sekitar 80-100 gram per ekor per hari. Untuk 45 ekor, biaya pakan per tahun diperkirakan sekitar Rp 5-8 juta.
Tapi tenang. Ada banyak cara untuk menghemat. Saya sudah mempraktikkannya sendiri.
Pertama, fermentasi pakan. Gunakan probiotik untuk meningkatkan kecernaan dan menekan FCR (Feed Conversion Ratio). Dengan fermentasi, pakan yang sama bisa menghasilkan lebih banyak daging dan telur.
Kedua, manfaatkan limbah dapur. Sisa sayuran, sisa nasi, dedaunan—semua bisa diolah menjadi pakan tambahan yang bergizi. Saya sendiri hampir tidak pernah membuang sampah organik. Semua masuk ke kandang ayam.
Ketiga, budidaya maggot BSF. Larva lalat Black Soldier Fly adalah sumber protein murah yang bisa diternakkan sendiri dari sampah organik. Kandungan proteinnya mencapai 40-50%! Ini pakan super untuk ayam Anda.
Keempat, integrasi dengan tanaman. Biarkan ayam mencari pakan hijauan, serangga, dan cacing di pekarangan. Ini tidak hanya menghemat pakan, tapi juga membuat ayam lebih sehat dan alami.
Dengan cara-cara ini, biaya pakan bisa ditekan hingga 40-50%. Bayangkan, dari Rp 8 juta menjadi Rp 4 juta per tahun. Lumayan, bukan?
Kunci Ayam Sehat, Produktif, dan Minim Kematian
Saya sering ditanya oleh para peternak pemula: "Pak, ayam saya kok gampang mati, kenapa ya?"
Jawabannya selalu sama: manajemen.
Performans atau fenotipik ternak itu dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Genetik sebagai kemampuan, sumbangannya sekitar 30%. Lingkungan sebagai kesempatan, sumbangannya sekitar 70%. Faktor lingkungan meliputi pakan dan nutrisi, iklim (suhu, kelembaban, kecepatan angin, dll), dan managemen pemeliharaan. Jika manajemennya baik, ayam akan sehat dan produktif. Jika manajemennya buruk, setinggi apapun mutu bibitnya, ayam akan sakit bahkan mati.
Berikut 5 kunci yang saya praktikkan:
Pertama, vaksinasi. ND (Newcastle Disease) dan AI (Avian Influenza) wajib dilakukan. Ini adalah penyakit mematikan yang bisa memusnahkan seluruh populasi ayam dalam hitungan hari. Jangan abaikan.
Kedua, kandang bersih. Sanitasi rutin, lantai tidak lembab, sirkulasi udara baik. Kandang yang kotor adalah sarang penyakit. Saya membersihkan kandang setiap hari (waktu pagi).
Ketiga, pakan bergizi. Pastikan pakan mengandung protein minimal 18% dan energi metabolis 2700-2900 kkal. Ini standar minimal untuk pertumbuhan dan produksi yang optimal.
Keempat, herbal. Beri jamu dari kunyit, jahe, bawang putih untuk daya tahan tubuh. Ini adalah resep tradisional yang sudah terbukti selama ratusan tahun. Ayam yang diberi herbal lebih tahan terhadap serangan penyakit.
Kelima, target mortalitas 5%. Dari 144 ekor, siap kehilangan sekitar 7 ekor. Untuk antisipasi, produksi DOC ditambah 10%. Ini adalah perhitungan realistis yang harus Anda siapkan.
Dengan 5 kunci ini, saya hampir tidak pernah kehilangan ayam secara massal. Kematian hanya terjadi pada kasus-kasus individual yang wajar.
Dampak Luar Biasa untuk Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan
Saudaraku, bayangkan jika setiap rumah tangga di Indonesia memelihara ayam kampung di pekarangan. Apa yang akan terjadi?
Dari sisi ekonomi, keluarga hemat belanja pangan 30-40%. Tidak perlu lagi membeli daging dan telur di pasar dengan harga yang terus naik. Bahkan, produksi berlebih bisa dijual, menambah penghasilan keluarga. Ini adalah perekonomian rakyat yang nyata.
Dari sisi sosial, anak-anak tumbuh sehat dengan protein hewani yang cukup. Stunting yang selama ini menjadi momok bangsa bisa ditekan. Keluarga mandiri pangan, tidak tergantung pada bantuan atau impor. Ini adalah ketahanan pangan keluarga yang sesungguhnya.
Dari sisi lingkungan, sampah organik rumah tangga berkurang hingga 50%. Kotoran ayam menjadi pupuk organik untuk tanaman pekarangan. Pekarangan menjadi hijau, asri, dan produktif. Problem sampah teratasi, lingkungan terjaga.
Inilah yang saya sebut sebagai ekonomi sirkular dalam skala rumah tangga. Semua limbah menjadi berkah. Semua sumber daya dimanfaatkan optimal.
Sinergi dengan 10 Program Pokok PKK
Gerakan beternak ayam kampung di pekarangan ini selaras sempurna dengan 10 Program Pokok PKK. Mari kita lihat:
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila — gotong royong dan kemandirian adalah nilai-nilai Pancasila yang ada di masyarakat kita
Gotong Royong — produksi pangan bersama, saling membantu antar tetangga
Pangan — menyediakan pangan bergizi dari pekarangan sendiri
Perumahan dan Tata Laksana Rumah Tangga — memanfaatkan lahan pekarangan secara optimal
Pendidikan dan Keterampilan — belajar beternak, belajar mengolah pakan, belajar manajemen
Kesehatan — gizi keluarga terjaga, stunting dicegah
Pengembangan Kehidupan Berkoperasi — menjual hasil panen secara kolektif
Kelestarian Lingkungan Hidup — mengelola limbah organik, mengurangi sampah
Perencanaan Sehat — menciptakan keluarga sehat dan mandiri
Sandang — meski tidak langsung terkait, tetap terintegrasi dalam ekosistem kemandirian
Bayangkan jika PKK di seluruh Indonesia menggerakkan program beternak ayam kampung ini. Luar biasa dampaknya!
Penutup: Ini Saatnya Kita Bergerak!
Saudaraku, Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 168: "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi."
Beternak ayam kampung di pekarangan adalah jalan untuk mendapatkan makanan halal dan baik (thayyib). Ini adalah ibadah yang nyata. Ini adalah peradaban yang kita bangun dari rumah. Ini adalah jihad ekonomi yang sesungguhnya.
Saya sudah memulainya. Saya, istri, dan 4 anak—total 6 orang—sekarang menikmati hasil pekarangan sendiri. Setiap pagi, saya melihat anak-anak saya makan telur dadar dari ayam Gaok yang kami pelihara sendiri. Setiap minggu, kami menikmati sup ayam kampung yang segar dan gurih. Kami tahu persis asal-usul makanan kami. Kami yakin akan kehalalan dan kesehatannya.
Dan saya ingin mengajak Anda, para pembaca blog @peternakpembelajar, untuk melakukan hal yang sama.
Mulailah dari sekarang. Dari pekarangan Anda. Dari 10 ekor Ayam Gaok. Dari langkah kecil yang berdampak besar.
Sudah saatnya setiap rumah tangga Indonesia memelihara ayam kampung.
Selamat berternak, semoga Allah memberkahi setiap langkah kita! 🐔🤲
#AyamGaok #PeternakPembelajar #KetahananPanganKeluarga #PekaranganProduktif #AyamKampungNusantara #AyamLokalIndonesia
DAFTAR PUSTAKA
Sartika, T., Iskandar, S., & Tiesnamurti, B. (2016). Sumberdaya Genetik Ayam Lokal Indonesia dan Prospek Pengembangannya. IAARD Press. ISBN 978-602-344-136-5. Tersedia di: https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/20212
Balai Penelitian Ternak, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Kementerian Pertanian. (2020). Ayam Gaosi-1 Agrinak: Galur Ayam Gaok Hasil Seleksi 6 Generasi. Tersedia di: https://unggasanekaternak.bsip.pertanian.go.id/informasi-publik/download/lakip-lakin/lakin-2020
Poultry Indonesia. (2022). Ayam GaoSi-1 Agrinak, Alternatif Ayam Lokal Pedaging. Tersedia di: https://www.poultryindonesia.com/id/ayam-gaosi-1-agrinak-alternatif-ayam-lokal-pedaging/
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. (2014). Ayam Gaok Si Emas Putih Pulau Madura yang Siap Digali. Tersedia di: https://mail.disnak.jatimprov.go.id/web/posts/read/1087-ayam-gaok-si-emas-putih-pulau-madura-yang-siap-digali
Universitas Airlangga. (2025). Ekstrak Teh Hijau dalam Pengencer Kuning Telur-Susu Meningkatkan Kualitas Semen Beku Ayam Gaok. Tersedia di: https://unair.ac.id/ekstrak-teh-hijau-dalam-pengencer-kuning-telur-susu-meningkatkan-kualitas-semen-beku-ayam-gaok/
OECD/FAO. (2022). OECD-FAO Agricultural Outlook 2022-2031. Tersedia di: https://www.oecd-ilibrary.org/agriculture-and-food/oecd-fao-agricultural-outlook-2022-2031_agr-outlook-data-en
Kompas.id. (2024). Kian Beragam Konsumsi Pangan Hewani, Kian Rendah Risiko Malanutrisi. Tersedia di: https://www.kompas.id/artikel/kian-beragam-konsumsi-pangan-hewani-kian-rendah-risiko-malanutrisi
Kontan.co.id. (2024). Konsumsi Masih Rendah, Kemenperin Dorong Penguatan Industri Daging Nasional. Tersedia di: https://industri.kontan.co.id/news/konsumsi-masih-rendah-kemenperin-dorong-penguatan-industri-daging-nasional
Katadata.co.id. (2026). Konsumsi Daging RI Masih Kalah dari Vietnam dan Malaysia, Ini Sebabnya. Tersedia di: https://katadata.co.id/berita/industri/65accd7681019/konsumsi-daging-ri-masih-kalah-dari-vietnam-dan-malaysia-ini-sebabnya
ANTARA News Papua. (2026). TP PKK Jayawijaya Implementasi 10 Program Pokok di 328 Kampung. Tersedia di: https://papua.antaranews.com/berita/764211/tp-pkk-jayawijaya-implementasi-10-program-pokok-di-328-kampung
detikNews. (2026). Tri Tito Karnavian Ajak Pengurus & Kader TP PKK Perkuat 10 Program Pokok. Tersedia di: https://news.detik.com/berita/d-8570608/tri-tito-karnavian-ajak-pengurus-kader-tp-pkk-perkuat-10-program-pokok
Putra, A. A., & Susiati, A. M. (2023). Pola Pertumbuhan Ayam Kampung Umur 2 sampai 10 Minggu yang Diberi Kunyit dan Jinten Hitam dalam Ransum. Prodi Peternakan UMBY.
Radarmajapahit.jawapos.com. (2023). Peternakan Peradaban Majapahit Terapkan Sistem Budi Daya Terpadu. Tersedia di: https://radarmajapahit.jawapos.com/majapahit/2308290002/peternakan-peradaban-majapahit-terapkan-sistem-budi-daya-terpadu
====
Artikel ini ditulis oleh:
Abdurrahman Arraushany (nama pena dari Abdul Rohman, S.Pt., M.Pt)
Kepala Seksi Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak
UPT PT dan Keswan di Madura
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur
Beliau adalah alumnus S1 Fapet Unpad-Bandung, S2 Fapet UB-Malang, dan Peserta Program Profesi Insinyur (PPI) Fapet UGM-Yogyakarta Periode Gasal 2026/2027.
Penulis telah menulis dan menerbitkan 8 buku:
Estelapete (Sekali Test Langsung Pecah Telur): Buku Tips dan Trik Agar Anda Lolos Tes CPNS Hanya Sekali Coba
12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula
Rahasia Sukses Beternak Sapi Madura
1001 Cara Islami Naik Level Bagi ASN
20 Rahasia Terbesar Bisnis Orang Madura
Bebas Hutang Metode Langit
Andai Buku Seporsi Steak Wagyu
Pensiun Berdaya (Panduan Merancang Hidup Sejak Dini Bagi ASN Agar Pensiun Penuh Arti dan Berkelimpahan)
Buku ke-9 dan ke-10 masih dalam proses editing.
Blog: Peternak Pembelajar