Senin, 17 Agustus 2026

Catatan Kemerdekaan dari Calon Insinyur Fapet UGM Periode Gasal 2026/2027


Ngono Yo Ngono, Ning Ojo Ngono

Catatan Kemerdekaan dari Calon Insinyur Fapet UGM

Peringatan HUT RI Ke-81, 17 Agustus 2026

 Oleh: Abdurrahman Arraushany

@peternakpembelajar

Smart People (Peternak Mukmin Jawa Timur)

Alumnus S1 Fapet Unpad | S2 Fapet UB

Penulis 10 Buku, termasuk 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula dan

Andai Buku Seporsi Steak Wagyu

 

 Anda tahu rasanya pulang ke tempat yang dulu Anda lewati begitu saja?

 Saya tahu.

Tahun 2001, saya datang ke Yogyakarta. Datang ke MM UGM. Ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN). Degup jantung saya keras. Bukan karena takut, tapi karena saat itu saya masih ragu harus memilih jurusan apa dan memilih kampus mana untuk menimba ilmu.

Saat itu, saya tidak memilih Fakultas Peternakan (Fapet) UGM. Saya pilih Fapet Unpad-Bandung. Pilihan satu.

Saya pilih Fapet UB-Malang. Pilihan dua. Bukan UGM. Sekali lagi, bukan Fapet UGM.

Saya lewatkan kesempatan terbaik dalam hidup saya.

Dan kemudian — dua puluh lima tahun kemudian — saya kembali.  Bukan sebagai mahasiswa bimbang yang tidak tahu arah. Saya kembali sebagai seorang PNS. Sebagai Kepala Seksi Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak di UPT Pembibitan Ternak dan Kesehatan Hewan di Madura. Sebagai orang yang sudah 16 tahun (2010-2026) mengabdi di Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. Sebagai orang yang juga pernah mengabdi di PT Wonokoyo Jaya Corporindo-Malang Devisi Breeding Farm selama 4 tahun (2006-2009).

Saya kembali sebagai pribadi yang sekarang — dengan rendah hati — mengakui: Fapet UGM ternyata merupakan kampus peternakan nomor satu di Indonesia.

Dulu saya tidak tahu.  Sekarang saya tahu.  Dan saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk belajar di sini.


Kenapa Saya Memilih Program Profesi Insinyur (PPI) di Fapet UGM?

Sering datang pertanyaan ke saya dari rekan-rekan kantor dan komunitas peternak. "Pak Abdurrahman, kenapa ambil PPI di Fapet UGM? Bukannya kampus lain juga ada?"

Saya tersenyum setiap kali ditanya begitu. Karena jawabannya — jujur saja — tidak muluk-muluk.

Di UGM, saya bisa langsung mendapatkan dua gelar sekaligus.  Pertama, gelar Insinyur (Ir) di depan nama saya. Kedua, gelar Insinyur Profesional Pratama (IPP), Insinyur Profesional Madya (IPM), atau Insinyur Profesional Utama (IPU) di belakang nama saya.

Itu saja.





Tidak adakah alasan lainnya?  Jujur, sebenarnya ada sih alasan lainnya. Alasan — yang mungkin terdengar sedikit... ambisius, tapi tetap ingin saya sampaikan dengan rendah hati. “Saya ambil PPI di Fapet UGM karena saya ingin mengenal dosen dan dekan di kampus ini.  Bukan karena saya mau cari muka. Tapi karena — kalau boleh jujur — saya punya mimpi kecil di dalam hati saya.  Ya, saya ingin lanjut studi S3 suatu hari nanti. Jika masih ada umur. Jika Allah beri rejeki cukup untuk mewujudkannya.

Di mana S3? Bismillah…..maunya di Fapet UGM.  Atau jika aturan negara tidak memungkinkan, maka saya akan memilih S3 di Universitas Airlanggas (Unair) – Surabaya. Atau di kampus keren lainnya yang mau menerima saya.

5 orang alumnus Fapet Unpad-Bandung beda generasi. Bertemu di moment kuliah perdana Program PPI di Fapet UGM, 12 Agustus 2026

Tapi itu masih jadi mimpi saya. Dan saya tidak tahu apakah mimpi itu akan bisa dengan mudah saya wujudkan.  Yang saya tahu hari ini: saya telah datang ke Fakultas Peternakan (Fapet) UGM untuk belajar. Bukan untuk pamer. Bukan untuk sombong.  Saya datang ke Fapet UGM karena saya sadar — saya masih banyak kurangnya. Saya masih perlu banyak belajar agar memiliki kelayakan menjadi manusia hebat, menjadi peternak hebat, menjadi insinyur hebat, yang dapat meraih sukses di dunia, sukses di akhirat dan sukses di dunia akhirat.


Rabu, 12 Agustus 2026 — Hari yang Mengubah Segalanya.

Beberapa hari telah berlalu, namun saya masih ingat detailnya.  Pagi itu, Rabu, 12 Agustus 2026. Udara Yogyakarta sejuk. Tidak panas seperti Madura.

Saya datang ke kampus dengan tas kecil biru hitam berisi buku notes, handphone dan beberapa lembaran biru bergambar Djuanda Kartawidjaja. Berkas lengkap pendaftaran tetap saya bawa untuk jaga-jaga, meskipun saya tau dokumen itu tidak lagi dibutuhkan. Hati saya — jujur saja — sedikit grogi.

Saya sudah daftar online beberapa pekan lalu. Saya sudah melengkapi semua persyaratan. Saya bayar Rp500 ribu untuk pendaftaran awal. Setelah melewati proses verifikasi kampus, saya kemudian dinyatakan: LULUS. Alhamdulillah. Maturnuwun, Gusti……

Setelah melengkapi kembali data yang diminta kampus, muncullah tagihan. Saya bayar uang kuliah tunggal (UKT) melalui Bank BRI sebesar Rp10 juta untuk jalur rekognisi pembelajaran lampau (RPL) selama 1 semester.  Cukup 1 semester saja kuliahnya. Saya akui — itu tidak murah. Tapi saya pikir: ini investasi. Bukan pengeluaran.

Dan ketika saya melangkahkan kaki masuk ke gedung Fapet UGM, saya langsung disambut hangat. Bukan oleh tembok dingin. Bukan oleh meja administrasi yang kaku. Tapi oleh ucapan selamat datang yang homy

Dan saya sadar: ini bukan sekadar kampus.  Ini — maaf jika saya terlalu dramatis — ini rumah baru saya.


Kuliah Nilai-Nilai Ke-UGM-an dan Pancasila —Momen yang Mengguncang Hati Saya.

Acara bergulir. Sosialisasi penerimaan peserta selesai. Lalu tibalah sesi yang paling saya tunggu — sekaligus paling saya takutkan. Kuliah nilai-nilai ke-UGM-an dan Pancasila.

Siapa pematerinya? Pematerinya: Prof. M. Mukhtasar Syamsuddin. Beliau adalah Guru Besar Fakultas Filsafat UGM yang pernah menjabat sebagai Dekan dua periode (2007-2012 dan 2012-2017)12 7

Beliau naik ke panggung dengan langkah tenang. Tidak tergesa-gesa. Tidak sok bergaya.  Tapi ketika beliau membuka mulut — semua orang terdiam.  Beliau berbicara tentang dasar dan orientasi pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Pendidikan. Penelitian. Pengabdian kepada masyarakat.  Tiga pilar yang tidak bisa dipisahkan.


Tapi ada satu hal yang membuat saya terpana.  Beliau berkali-kali mengulang satu kalimat — mantra khas orang Jogja, orang Jawa: "Ngono yo ngono, ning ojo ngono." Begitu ya begitu, tapi ya jangan begitu.

Saya diam.  Saya meresapi.  Falsafah ini mengajarkan bahwa dalam hidup, dalam ilmu, dalam profesi — kita tahu bahwa banyak hal "bisa terjadi" atau "bisa dilakukan". Tapi tidak semua yang bisa dilakukan, boleh dilakukan. Tidak semua yang bisa dikatakan, pantas dikatakan. Ada etika. Ada moral. Ada batas. Ada nilai-nilai luhur yang harus kita pegang 1 6

Ungkapan ini merupakan pengingat agar orang tidak berbuat berlebihan sehingga menimbulkan permasalahan baru yang tidak diduga serta mengganggu orang lain. 1 5  Intinya, orang Jawa harus pandai mengontrol diri 1. Orang yang menimba ilmu di UGM, dari beragam latar belakang suku, agama, ras dan bahasa, atau lainnya, harus bin wajib bin kudu mengontrol diri.

Dan itulah inti dari ke-UGM-an.

Bukan sekadar pintar. Tapi pintar dengan hati.  Pintar dengan adab.  Pintar dengan kerendahan hati. 

Saya menulis kata-kata beliau di buku catatan. Dengan tinta biru — warna ketenangan.

Saya ingin mengingatnya selamanya.


Saya Bertanya — dan Jawabannya Mengubah Pandangan Saya

Saya sengaja memilih tempat duduk di baris pertama. Paling depan. Kenapa? Alasannya satu: agar nampak jelas di foto saat panitia mengambil dokumentasi J.

Sesi tanya jawab tiba.  Nah, di sesi tanya jawab, saya memberanikan diri untuk bertanya. Tangan saya gemetar sedikit. Tapi tetap saya angkat (saya berharap orang yang hadir di acara tersebut tidak melihatnya)

Kesempatan itu pun datang. Prof. Mukhtasar menunjuk ke arah saya.

Saya berdiri.  Dan saya mengajukan pertanyaan — dengan suara yang sedikit bergetar: "Prof, bagaimana pandangan Njenengan tentang sekularisasi agama dengan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (termasuk di bidang peternakan)? Apakah keduanya, peternakan dan agama, emang bisa dan boleh untuk dipisahkan?"

Ruangan hening. Nampaknya semua mata tertuju ke saya.

Dan kemudian ke beliau.

Prof. Mukhtasar tersenyum. Bukan senyum meremehkan. Tapi senyum bijak — seolah beliau sudah menunggu pertanyaan ini.

Beliau menjawab — dengan tegas, tapi lembut: "Sebagai Muslim, dan sebagai orang Indonesia yang menerapkan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” maka saya jawab dengan tegas: dunia peternakan tidak bisa lepas, dan tidak boleh lepas, dari agama."

Saya ulang: DUNIA PETERNAKAN TIDAK BISA LEPAS DARI AGAMA. Dunia peternakan tidak boleh lepas dari agama.

Saya terdiam.

Beliau melanjutkan: "Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah alat. Agama adalah panduan. Tanpa agama, ilmu bisa tersesat. Tanpa ilmu, agama bisa tidak membumi. Keduanya harus berjalan beriringan. Itulah esensi dari 'ngono yo ngono, ning ojo ngono' — kita tahu caranya, tapi kita juga tahu batasnya."

Saat memberikan jawaban atas pertanyaan saya, beliau juga mengutip quote ilmuwan besar dunia penemu teori relativitas (theory of relativity) — Albert Einstein — yang berkata: "Science without religion is lame, religion without science is blind." (Ilmu tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu buta.)2 11

Saya hanya bisa mengangguk. Di dalam hati, saya berkata: "Ini dia jawaban yang selama ini saya cari."

Selama bertahun-tahun, saya melihat memang nampak kentara adanya dikotomi antara ilmu dan agama.  Seolah-olah keduanya berjalan sendiri-sendiri.

Dari jawaban Prof Mukhtasar saya simpulkan: Ilmu dan agama adalah dua sisi dari koin yang sama.  Dan di UGM — di Fapet UGM — saya menemukan tempat di mana keduanya disatukan dengan indah.

 

Saya Bertanya Lagi —"Bagaimana Cara Tegar Berdakwah, Prof?"

Saya tidak berhenti di situ. Keberanian saya semakin bertumbuh.  Saya angkat tangan lagi. Dan Prof. Mukhtasar kembali menunjuk ke arah saya.  Kali ini pertanyaan saya lebih personal — lebih dalam: "Prof, saya ingin terus membawa agama (Islam) dalam dunia peternakan — melalui lisan dan tulisan saya. Tapi jujur, Prof, saya sering merasa sedikit takut.  Saya kadang masih takut dianggap sok suci.  Saya masih takut dianggap tidak profesional. Saya takut dijauhi rekan kerja. Mohon Njenengan berbagi resep jitu agar saya tetap tegar dan tetap kokoh berdakwah di profesi ini, Prof?!"

Ruangan kembali hening.  Tapi kali ini, heningnya berbeda. Bukan hening tegang. Tapi hening yang penuh perhatian. Seolah semua peserta juga ingin mendengar jawabannya.

Prof. Mukhtasar menatap saya. Lalu tersenyum kembali. Kali ini senyumnya panjang. Seolah beliau tahu — ini bukan pertanyaan basa-basi. Ini pertanyaan dari hati.

Beliau menjawab dengan tenang: "Pak Abdurrahman, berdakwah di bidang profesi itu bukan tentang menjadi ustad. Bukan tentang banyak bicara agama di depan orang banyak. Tapi tentang mengamalkan nilai-nilai agama dalam setiap tindakan professional bapak. Menyehatkan hewan ternak hingga mampu memproduksi pangan halal dan thayyib (aman, sehat dan utuh) sehingga masyarakat sehat dan produktif serta tindakan Bapak memahamkan masyarakat akan arti penting pangan halal dan thayyib itu juga merupakan amal sholih dan bagian dari dakwah."

Kemudian, Beliau memaparkan tiga resep saat berdakwah, yang selanjutnya saya tulis kata demi kata di buku catatan:

"Pertama — jadilah profesional yang berintegritas. Kejujuranmu, amanahmu, tanggung jawabmu dalam pekerjaan — itulah dakwah yang paling kuat. Orang akan melihat agamamu dari caramu bekerjamu, bukan dari banyaknya nasihat yang kau ucapkan."

"Kedua — kuasai ilmumu dengan sungguh-sungguh. Seorang insinyur peternakan yang ahli di bidangnya, yang bisa menyelesaikan masalah peternak dan peternakan dengan ilmu yang benar — itu adalah dakwah. Karena engkau menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keunggulan, bukan kemunduran."

"Ketiga — tulislah. Menulislah dengan jujur. Bagikan pengetahuanmu. Ceritakan pengalamanmu. Sampaikan nilai-nilai kebaikan melalui tulisan yang bermanfaat. Sebagaimana Einstein mengatakan bahwa ilmu tanpa agama lumpuh, maka tulisan ilmumu harus mengandung nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan."

 Beliau berhenti sejenak. Lalu menambahkan satu pesan terakhir yang membuat saya hampir menangis:

"Dan ingatlah, Pak Abdurrahman — Bapak tidak harus berbicara tentang agama di setiap kesempatan. Cukup jadikan agama sebagai niat, sebagai landasan, dan sebagai tujuan dari setiap karya Bapak. Ketika orang lain melihat  karya  Bapak, mereka akan melihat kejujuran, kebermanfaatan, dan nilai-nilai luhur di dalamnya. Itu sudah cukup. "

Saya terdiam. Saya menutup buku catatan saya. Dan di dalam hati, saya berjanji — saya akan menjalankan tiga resep ini di sepanjang hidup saya.

 

Lokakarya LSIP — Empat Hal yang Membuat Saya Terdiam.

Setelah kuliah Pancasila dan ke-UGM-an, kami rehat sejenak untuk ISHOMA. Tepat Pukul 13.00 WIB, acara berlanjut ke lokakarya LSIP — Lembaga Sertifikasi Insinyur Profesional.



Dan di situlah saya tersentak lagi.

Empat hal yang membuat saya diam berjam-jam setelah acara selesai:

Pertama: Indonesia masih sangat membutuhkan profesi insinyur.

Kedua: Jumlah insinyur (peternakan) di Indonesia masih sangat terbatas.

Ketiga: Insinyur itu gelar profesi — sama dengan dokter dan dokter hewan. Atau lainnya.

Keempat: Insinyur wajib menjunjung tinggi etika profesi — kejujuran, integritas, tanggung jawab.

Saya menulis semuanya di buku catatan.  Dengan tinta merah — warna peringatan.  Saya ingin mengingat ini selamanya.  Karena selama ini — saya pikir insinyur hanya teknisi.  Ternyata saya salah.  Insinyur adalah profesi mulia.  Setara dokter.  Setara dokter hewan.

Dan saya — Abdurrahman — sedang dalam perjalanan menjadi salah satunya. Bukan karena saya hebat.  Tapi karena saya ingin saya hari ini lebih baik dari saya hari kemarin. Dan esok, saya lebih baik daripada saya hari ini. Dadi wong bejo.

 

Saya Bertemu Tiga Profesor —dan Mereka Mengubah Cara Saya Berpikir dan Memandang Sesuatu

Banyak orang hebat yang saya temui di moment bersejarah tersebut, berikut 3 di antaranya: 

Pertama, Prof. Budi Guntoro.  Saya bertemu beliau langsung. Bapak Dekan Fakultas Peternakan UGM yang sedang menjabat saat ini.  Beliau menyambut saya dengan senyum. Bukan senyum formal. Bukan senyum basa-basi.  Tapi senyum khas Jogja — rendah hati, hangat, dan membuat saya merasa dihargai.

Saya berpikir dalam hati: "Ini dia pemimpin yang selama ini saya idamkan."

Tapi saya tidak bilang itu ke beliau. Saya hanya diam dan tersenyum.  Karena saya tahu — di Yogya, kita tidak perlu banyak bicara. Cukup belajar dari keteladanan.

Kedua, Prof. Nafiatul Umami.  Saya bertemu dengan ibu hebat ini. Sebelumnya saya sudah bertemu dengan rumputnya, namun di moment penting ini saya bisa bertemu langsung dengan orangnya. Ya, Beliau penemu rumput Gama Umami. Rumput gajah/napier hasil mutasi sinar gamma. Produksinya bisa mencapai 10-50 kg per meter persegi per panen 40-50 hari setelah panen (HSP). Kandungan protein kasar (PK)-nya berkisar 10–14%. Jika dikelola dengan baik, rumput ini bisa bertahan dan mengabdi ke peternak selama 5–6 tahun di lahan 4 8

Saya bergidik mendengar itu. Kenapa? Karena saya tahu — ini adalah kemerdekaan pakan ternak.  Ini adalah inovasi lokal yang dapat menekan dan bahkan menutup kran impor pakan dan bahan baku pakan ternak. Dan saya hanya bisa berkata dalam hati: "Subhanallah."

Ketiga, Prof. Zuprizal.  Saya menyebut beliau sebagai "sosok kecil cabe rawit" — dengan penuh hormat.  Kecil. Lincah. Tapi bicaranya membakar semangat.  Beliau mampu membuat saya — yang tadinya ragu — menjadi yakin.  Beliau bisa membuat saya bangga menjadi bagian dari Fapet UGM.  Beliau membuat saya sadar: menjadi insinyur peternakan bukan soal status.  Tapi soal kontribusi.

 

Tujuh Kesimpulan dari Sehari di Fapet UGM

Setelah acara usai, saya duduk di teras kampus.  Sendirian.  Saya merenung.  Dan saya menulis tujuh kesimpulan di buku catatan saya:

Pertama: Sarjana peternakan dan insinyur peternakan harus berani speak up. Diam bukan pilihan. Indonesia butuh suara kita.

Kedua: Pembangunan peternakan (dan pertanian) di Indonesia wajib disatukan dengan syariat Islam — atau sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Itu bukan pilihan. Itu keharusan.

Ketiga: UGM adalah kampus orang Yogya. Kampus orang Jawa.  Ciri khas civitas akademiknya di antaranya: rendah hati, tidak sombong, jika ada masalah maka cenderung memilih berdamai dan tidak suka ribut, namun orangnya tetap kritis dan tetap menunjukkan intelektualitas.

Keempat: Ilmu dan agama tidak bisa dipisahkan. Sekularisasi adalah musuh bersama. Sekularisme adalah aqidah dan paham asing yang bertentangan dengan prinsip orang jawa, orang UGM dan orang Indonesia.

Kelima: "Ngono yo ngono, ning ojo ngono" — kita tahu caranya, tapi kita juga tahu batasnya. Etika lebih penting dari sekadar kemampuan 6 15

Keenam: Yogyakarta pernah menjadi ibukota Indonesia. Semangat itu hidup lagi di kampus ini.

Ketujuh: Menjadi insinyur di UGM berarti menjadi insinyur yang beriman, berilmu, dan beradab.

Saya tersenyum.  Karena saya tahu — inilah tempat yang selama ini saya cari.  Tempat di mana saya bisa belajar menjadi rendah hati, sekaligus berani.  Tempat di mana ilmu bertemu dengan iman.  Tempat di mana teknologi tidak pernah lepas dari nilai-nilai ketuhanan.

 

Kemerdekaan Hakiki — Apa Itu?

 Hari ini, 17 Agustus 2026.  Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81.

 Tapi pertanyaan saya: apakah kita sudah benar-benar merdeka?

 Saya jawab dengan jujur ya: saya sendiri masih belajar merdeka.

Merdeka dari rasa rendah diri.

Merdeka dari ketergantungan pangan dan pakan impor.

Merdeka dari sikap inlander.

Merdeka dari sekularisme yang memisahkan ilmu dari iman, memisahkan agama dengan kehidupan, termasuk memisahkan agama dengan bidang peternakan.

Islam mengajarkan: kemerdekaan hakiki adalah ketika manusia bertindak sebagai makhluk ciptaan-Nya dan dapat merealisasikan misi ibadah (QS Adz-Dzariyat: 56) dan khalifah di bumi (QS Al-Baqarah:30) dengan maksimal.

Itu artinya — kita harus berdaya. Kita harus mampu.  Kita harus menjadi khalifah yang sesungguhnya.  Bukan khalifah yang diam.  Bukan khalifah yang pasrah. 

Dan sebagai insinyur peternakan — kita adalah khalifah di bidang pangan, di bidang peternakan, di bidang kesejahteraan hewan dan manusia.

 

Indonesia, Lahan, dan Potensi yang Terlupakan

Mari kita lihat fakta — dengan rendah hati, tanpa menyombongkan diri:

·         Luas daratan Indonesia: 1,9 juta km².

·         Penduduk: 284 juta jiwa.

·         Mayoritas: muslim.

Indonesia sangat layak menjadi gudang ternak dunia.

Tapi kita masih impor daging. Kita masih impor susu. Kita masih impor pakan dan bahan baku pakan ternak.

Mengapa?  Saya tidak tahu pasti. Tapi saya punya dugaan: Karena kita kehilangan percaya diri. Kita selalu merasa kalah.

Padahal kita juga punya kearifan lokal yang tidak kalah dengan konsep peternakan dan pertanian yang ada di kitab Al-Filaha Karya Ilmuwan Muslim Abad 12 Masehi dan konsep Jadam Organic Farming dari Korea Selatan (Korsel).

Kita punya rumput Gama Umami.

Kita punya profesor-profesor hebat.

Kita punya insinyur-insinyur yang siap berkarya.

Tapi kita masih diam.

Saya bilang — dengan rendah hati dan penuh harap: cukup.  Sudah waktunya kita bangkit. Sudah waktunya kita speak up — dengan cara yang santun, tidak arogan.  Seperti falsafah "ngono yo ngono, ning ojo ngono" — kita boleh bersuara, tapi jangan sampai kehilangan adab.

 

Indonesia Emas 2045 — dan Peran Kecil Saya di Dalamnya.

Saya tidak mau berbicara besar.  Saya orang biasa (ordinary) yang berupaya menjadi orang luar biasa (extra ordinary). Saya PNS di Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur sejak 2010 bertugas di Surabaya dan bertugas di Pulau Madura sejak 2013 hingga sekarang. Saya pegawai yang setiap hari berurusan dengan ternak dan hijauan.  Tapi saya punya mimpi — kecil, sederhana, dan — jujur saja — saya malu mengatakannya.  Tapi karena saya percaya pada kekuatan mimpi, saya izinkan diri saya untuk bermimpi.

Suatu hari — kalau Allah mengizinkan — saya ingin menyandang gelar ini: Dr. Ir. Abdurrahman, S.Pt., M.Pt., IPU., ASEAN Eng., OPEC Eng.

Saya tulis itu di sini bukan untuk pamer.  Saya tulis itu agar Anda tahu — saya tidak lebih hebat dari siapa pun.

Saya hanya orang yang tidak mau berhenti belajar.  Saya hanya orang yang sadar bahwa gelar — sehebat apa pun dan sepanjang apapun — tidak akan berarti jika tidak diikuti dengan kontribusi nyata.

Dan itulah sebabnya saya ke UGM. Ke Fapet UGM. Saya ke UGM bukan untuk mencari gelar semata.  Tapi untuk belajar menjadi insinyur yang profesional, berintegritas, dan rendah hati.

Seperti falsafah Jogja.  Seperti yang diajarkan para profesor saya.  Seperti yang diajarkan Prof. Mukhtasar: "Ngono yo ngono, ning ojo ngono."

 

Penutup — Pesan untuk Mahasiswa PPI Fapet UGM

Saudara-saudaraku. Teman-teman seperjuangan di PPI Fapet UGM Periode Gasal 2026/2027.  Kita beruntung. Kita berada di tempat yang tepat. Di waktu yang tepat. Di kampus yang tepat.  Fapet UGM adalah kampus yang mencetak insinyur-insinyur hebat.  Kita semua sedang dalam proses menjadi hebat.

Tapi ingat — jangan pernah sombong.  Jangan pernah merasa lebih dari yang lain. Karena di hadapan ilmu, kita semua sama — sama-sama belajar, sama-sama mencari.

Ingatlah selalu pesan Prof. Mukhtasar: "Ngono yo ngono, ning ojo ngono." Begitu ya begitu, tapi ya jangan begitu.

Kita boleh menjadi insinyur.  Tapi jangan menjadi orang sombong dan angkuh.

Kita boleh menjadi ahli.  Tapi jangan menjadi arogan.

Kita boleh speak up.  Tapi jangan kehilangan adab.

Kita boleh menguasai ilmu dan teknologi.  Tapi jangan pernah melupakan agama dan nilai-nilai ketuhanan.

Saya menulis artikel ini bukan untuk pamer.  Saya menulis ini untuk berbagi.  Saya menulis ini untuk mengingatkan kita semua — kemerdekaan hakiki dimulai dari diri kita sendiri.  Dari keberanian kita untuk belajar.

Dari kerendahan hati kita untuk mengakui bahwa kita masih banyak kekurangan.

Dari keberanian kita untuk speak up — tapi dengan cara yang santun, tidak arogan.


Kata Akhir yang Saya Tulis dengan Haru

Saya akui — saya menangis saat menulis bagian ini.  Bukan karena sedih.  Tapi karena terharu.  Karena saya ingat — 25 tahun lalu, saya tidak memilih Fapet UGM. Saya lewatkan.  Tapi sekarang — saya kembali.

Dan kali ini — saya tidak akan melewatkan kesempatan lagi.

Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh — tanpa pamer, tanpa sombong.

Saya akan bersertifikasi dengan penuh tanggung jawab — karena saya sadar, ini amanah.

Saya akan menjadi insinyur yang membanggakan keluarga — tapi tidak pernah melupakan bahwa semua ini adalah karunia Allah.

Saya akan selalu mengingat "ngono yo ngono, ning ojo ngono" — dalam setiap ucapan, dalam setiap tindakan, dalam setiap keputusan profesional saya.

Saya akan selalu ingat jawaban Prof. Mukhtasar: ilmu dan agama tidak bisa dipisahkan. Sekularisasi adalah jalan yang salah.

Dan besok — 17 Agustus 2026 — saat bendera merah putih berkibar, saya akan tersenyum.  Bukan karena saya hebat.  Tapi karena saya diberi kesempatan — untuk menjadi bagian dari perubahan.  Untuk menjadi bagian dari Indonesia Emas. Bukan Indonesia Cemas.

Tapi Indonesia Emas yang hakiki.

Yang merdeka secara fisik, jiwa, dan mental.

Yang tidak lagi bergantung pada pangan dan pakan impor.

Yang tidak lagi rendah diri.

Yang berani speak up — tapi tetap rendah hati.

Yang menerapkan ilmu dengan iman.

Yang selalu ingat: "ngono yo ngono, ning ojo ngono."

Indonesia Emas. Bukan Indonesia ©emas.

Itu bukan janji saya.  Itu doa saya.  Dan saya berdoa — semoga kita semua diberi kekuatan untuk mewujudkannya.



Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia Ke-81.

Merdeka!

 

===

Artikel ini ditulis oleh:

Abdurrahman Arraushany (nama Pena dari Abdul Rohman, S.Pt., M.Pt)
Kepala Seksi Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak
UPT PT dan Keswan di Madura
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur
Peserta PPI Fapet UGM Periode Gasal 2026/2027

 

Penulis telah menulis dan menerbitkan 8 buku:

1.       "Estelapete" (Sekali Test Langsung Pecah Telur): Buku Tips dan Trik Agar Anda Lolos Tes CPNS Hanya Sekali Coba

2.       12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula

3.       Rahasia Sukses Beternak Sapi Madura

4.       1001 Cara Islami Naik Level Bagi ASN

5.       20 rahasia Terbesar Bisnis Orang Madura

6.       Bebas Hutang Metode Langit

7.       Andai Buku Seporsi Steak Wagyu

8.       Pensiun Berdaya (Panduan Merancang Hidup Sejak Dini Bagi ASN Agar Pensiun Penuh Arti dan Berkelimpahan)

 Buku ke-9 dan ke-10 masih dalam proses editing. 

Blog: Peternak Pembelajar


DAFTAR PUSTAKA

1.       Fakultas Peternakan UGM. (2025). Fapet UGM Lepas Insinyur Baru Program Profesi Insinyur Peternakanhttps://fapet.ugm.ac.id/fapet-ugm-lepas-insinyur-baru-program-profesi-insinyur-peternakan/ -5

2.       Fakultas Peternakan UGM. (2024). Perkuat Profesi Keinsinyuran, Fapet UGM Lepas 72 Insinyur Baruhttps://fapet.ugm.ac.id/perkuat-profesi-keinsinyuran-fapet-ugm-lepas-72-insinyur-baru/ -9

3.       ANTARA Foto. (2026). Superior feed greenery innovated by UGM facultyhttps://www.antarafoto.com/amp/view/2815365/superior-feed-greenery-innovated-by-ugm-faculty -4-8

4.       Einstein, Albert. (1941). "Science and religion" in Philosophy and Religion, A Symposium. Conference on Science, Philosophy and Religion in Their Relation to the Democratic Way of Life, Inc.: New York. -11

5.       Johnson, William L.; Johnson, Annabel M.; McKenna, John E. Science and Religion at a Crossroads: An Educational Perspective. ERIC. https://eric.ed.gov/ -2

6.       Disway. (2023). Kasus Pembunuhan di Pasuruan: Ngono yo Ngono, ning Ojo Ngonohttps://harian.disway.id/read/741921/kasus-pembunuhan-di-pasuruan-ngono-yo-ngono-ning-ojo-ngono/ -1

7.       SlideShare. (2021). Ngono ya ngono ning ojo ngono - Falsafah Jawahttps://www.slideshare.net/slideshow/ngono-ya-ngono-ning-ojo-ngono/241211424 -6

8.       Lampung Monitor. (2026). Ngono Yo Ngono, Ning Ojo Ngono: Jabatan Bukan Kesempatan untuk Aji Mumpunghttps://lampungmonitor.com/opini/ngono-yo-ngono-ning-ojo-ngono-jabatan-bukan-kesempatan-untuk-aji-mumpung/ -15

9.       Tribun-timur.com. (2019). Putra Sulsel Kelahiran Palopo Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UGMhttps://makassar.tribunnews.com/2019/03/07/putra-sulsel-kelahirah-palopo-dikukuhkan-sebagai-guru-besar-ugm -12

10.   LAFINUS UGM. Call For Papers International Conference on Nusantara Philosophyhttps://lafinus.filsafat.ugm.ac.id/event/call-for-papers-international-conference-on-nusantara-philosophy-contribution-of-philosophy-and-local-wisdom-in-building-a-new-world-order-in-the-covid-19-pandemic-era/ -7