JERITAN PETERNAK DOMBA KAMBING INDONESIA
Mengapa Harga Terus Terjun dan Kapan Akan Kembali?
PROLOG: PAGI YANG TAK LAGI SEMERIAH DULU
Senin, 7 hari lalu, pesan WhatsApp itu saya kirimkan ke kakak ipar saya di Tuban Jawa Timur. Setelah ucap salam, saya mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya. Di antara pertanyaan tersebut yaitu: bagaimana kabar domba dan kambing di Himdafarm? Di musim kemarau, produktivitasnya stabil kah? Ketersediaan pakannya cukup kah? Kapan lagi ya ada uang ditransfer dan masuk ke rekening sebagai tambahan penghasilan bulanan?
Di balik pertanyaan itu, ada getaran ketakutan yang saya rasakan sejak beberapa bulan terakhir.
Farm yang saya kelola jarak jauh dari Pamekasan Madura ini menyimpan banyak cerita. Populasi terpasang farm memang sebanyak 100 ekor, namun setahun terakhir, setelah dapat masukan dari guru bisnis, akhirnya kami putuskan untuk mempertahankan populasi hanya di angka 40-50 ekor saja.
Ketika saya meminta pendapat kakak ipar tentang penjualan kembali dan pengurangan populasi domba kambing di farm, jawabannya berkali-kali selalu sama: "Harga domba kambingnya masih terjun, Bos. Sangat murah. Tahan dulu aja, jangan dijual sekarang."
Tahan? Tahan lagi dan ditunda kembali jualnya?! Berapa lama lagi kah peternak harus bertahan? Sementara pakan terus berjalan, biaya perawatan mengalir, dan harapan semakin menipis.
Di grup WhatsApp peternakan yang saya ikuti—@ISPI Wilayah Madura, @HPDKI Kabupaten Sampang, @HPDKI Kabupaten Pacitan, @Bank Domba Kambing Nusantara, hingga @SuperTeam Disnak Jatim—jeritan yang sama itu bergema.
Para peternak dari Sabang sampai Merauke merasakan kepedihan yang sama: harga domba dan kambing terus terjun bebas.
Lantas, kapan akan kembali? Dan apa yang sebenarnya terjadi?
KETIKA DATA BERBICARA LEBIH KERAS DARI JERITAN
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, dalam konferensi pers di Jakarta pada 13 Mei 2026, mengungkapkan data yang mencengangkan. Potensi ketersediaan hewan kurban tahun 2026 mencapai 3.246.790 ekor, sementara kebutuhan nasional diperkirakan hanya 2.355.470 ekor. Terdapat surplus sekitar 891.320 ekor secara nasional (Kementan, 2026).
Surplus ini sangat terasa pada komoditas domba. Agung Suganda memerinci, ketersediaan domba mencapai 935.690 ekor dengan kebutuhan hanya 466.086 ekor—surplus 469.604 ekor. Sementara kambing tercatat surplus 332.861 ekor (detikNews, 2026). Ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah tekanan luar biasa pada harga di tingkat peternak. Ini adalah jeritan yang tak terdengar oleh mereka yang duduk nyaman di balik meja rapat.
Bayangkan, saudara-saudara. Ketika pasokan melimpah sementara permintaan stagnan, yang terjadi adalah perang harga di tingkat bawah. Peternak kecil yang tidak punya daya tawar akhirnya menjadi korban. Mereka terpaksa menjual di bawah biaya produksi. Ini bukan sekadar kerugian ekonomi—ini adalah ancaman eksistensi bagi peternak rakyat.
JERITAN YANG TERDENGAR DARI SELURUH PELOSOK NEGERI
Di Kota Batu, Heriyanto, sang peternak mengungkapkan kepahitannya dengan gamblang: "Penurunan ini murni karena daya beli merosot tajam dan populasi ternak sedang melimpah" (Radar Batu, 2026). Harga kambing lokal yang sebelumnya Rp2-3 juta per ekor, menurut peternak Supriadi, kini hanya Rp1,5 juta di tingkat peternak (Radar Batu, 2026). Heriyanto bahkan menyebut harga dombanya "bisa dibilang hancur. Dari Rp2 juta sekarang hanya sekitar Rp1,1 juta" (Radar Batu, 2026). "Kalau dilepas sekarang harganya sangat murah," keluh Supriadi, yang memilih menahan stoknya daripada menjual di harga yang merugikan.
Bayangkan, seekor kambing yang telah dirawat berbulan-bulan dengan penuh kasih sayang, yang diberi pakan terbaik, yang dijaga kesehatannya, kini hanya dihargai setara dengan beberapa karung beras. Apakah ini adil? Apakah ini yang disebut keberkahan dalam beternak?
Di Kota Kediri, Kepala Bidang Peternakan DKPP, Retno Harini, mengakui harga kambing turun hingga 40 persen. "Harga ini kan yang menentukan pasar. Karena permintaan sedikit tapi barangnya melimpah, akhirnya harga turun," beber Retno (Radar Kediri, 2026). Stok hewan kurban di Kota Kediri mencapai 5.668 ekor—3.323 kambing dan 1.558 domba—sementara proyeksi permintaan hanya sekitar 60 persen.
Di Kabupaten Kediri, skala surplusnya lebih mencengangkan. Total stok mencapai 66.325 ekor—12.783 ekor sapi, 46.742 ekor kambing, serta 6.800 ekor domba. Sementara kebutuhan hanya 24.420 ekor. Plt Kepala DKPP Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, mengakui adanya surplus besar: "Untuk sapi, surplus mencapai 11.363 ekor, sedangkan kambing dan domba surplus sebesar 30.542 ekor" (Tribun Jatim, 2026). Surplus ini menunjukkan bahwa peternak di Kediri berada dalam posisi yang sangat tertekan. Mereka seperti terperangkap dalam ruangan yang semakin sempit, sementara dinding pasar terus merapat.
Di Pandeglang, Banten, penjualan hewan kurban dilaporkan mengalami penurunan meski masih cukup ramai. Penurunan penjualan sekitar 10 persen terjadi akibat kenaikan harga ternak secara umum (iNews, 2026). Sementara di Wonogiri, Jawa Tengah, Kepala Dinas Pertanian Baroto Eko Pujanto memastikan kondisi kesehatan hewan kurban cukup baik dan minim serangan penyakit. Namun, permintaan domba berbobot besar justru cukup stabil dengan harga Rp60 ribu-Rp75 ribu per kg (RRI, 2026).
PERGESERAN YANG MENJADI PELUANG
Di Yogyakarta, terjadi fenomena menarik yang seharusnya menjadi peluang emas bagi peternak domba dan kambing. Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengatakan: "Memang ada pergeseran. Tahun ini masyarakat cenderung memilih kambing atau domba dibanding sapi karena faktor harga dan kondisi ekonomi" (Times Jogja, 2026). Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, menambahkan: "Sapi sekarang mahal... Sementara harga kambing cenderung tetap, bahkan banyak yang turun. Tahun lalu Rp3 juta, sekarang Rp2,4 juta sudah boleh. Daya beli masyarakat memang agak turun" (Kompas, 2026).
Fenomena ini adalah sinyal, saudara-saudara. Masyarakat sedang mencari alternatif yang lebih terjangkau. Dan domba kambing adalah jawabannya. Tapi apa yang terjadi? Alih-alih peternak menikmati lonjakan permintaan, blantik dan perantara lah yang menikmati keuntungan. Peternak tetap terperosok dalam lubang harga murah.
Mengapa? Karena peternak tidak memiliki akses langsung ke konsumen. Mereka terperangkap dalam rantai pasok yang panjang dan tidak transparan. Blantik datang ke kandang, menawar harga seenaknya, dan peternak tidak punya pilihan karena butuh uang cepat. Ini adalah perbudakan ekonomi yang halus namun nyata.
KETIKA PMK DAN LSD MENJADI KAMBING HITAM
Pertanyaan yang selalu muncul: apakah penyakit mulut dan kuku (PMK) dan Lumpy Skin Diseases (LSD) menjadi penyebab anjloknya harga domba kambing? Jawabannya: memengaruhi, tapi bukan penyebab utama. Ini seperti menyalahkan hujan saat rumah kita sudah bocor sejak lama. Hujan hanya mempercepat proses, tapi akar masalahnya ada di atap yang sudah rusak.
Untuk sapi, dampak PMK sangat nyata dan menghancurkan. Pasca merebaknya LSD di Jembrana, Bali, harga sapi dilaporkan turun drastis hingga 50 persen. Pengusaha ternak I Gede Gunawantika mengungkapkan bahwa sapi asal Jembrana sulit dijual ke daerah lain karena stigma wilayah "lockdown". "Begitu disebut Jembrana lockdown, sapi langsung ditolak. Padahal penyakit ini tidak seseram itu, bisa diobati," keluhnya. Kerugian yang dialaminya mencapai Rp25 juta dari lima ekor sapi yang dipotong (Denpost, 2026).
Di Pamekasan, Madura, harga sapi di pasar hewan turun hingga jutaan rupiah akibat PMK. Pedagang sapi Supandi mengatakan, sapi yang biasa laku Rp15 juta kini hanya laku Rp10-11 juta. Ia menyarankan peternak: "Kalau mau menjual sapi bagi peternak, jangan menjual sekarang. Pasti rugi" (ANTARA News, 2026).
Di Sumenep, Moaman, pedagang sapi, mengeluhkan: "Sapi ini awalnya saya beli enam juta rupiah, tapi sekarang pas dijual malah ditawar lima juta. Pembeli banyak yang takut karena katanya sapi lagi banyak yang sakit" (Radio Karimata, 2026).
Namun untuk domba dan kambing, situasinya berbeda. Di Kabupaten Wonogiri, Kepala Dinas Pertanian Baroto Eko Pujanto memastikan kondisi kesehatan hewan kurban cukup baik. "Hasil pantauan kami... tidak banyak ditemukan serangan penyakit. Baik itu PMK maupun LSD," ujarnya (RRI, 2026). Pemeriksaan ketat hewan kurban di Pandeglang juga dilakukan untuk mencegah PMK dan LSD, namun penurunan penjualan hanya sekitar 10 persen (iNews, 2026).
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyebut PMK adalah hal yang "sangat ditakutkan oleh para peternak" dan menjadi perhatian serius (Jawa Pos, 2026). Namun ia juga menegaskan bahwa upaya preventif melalui vaksinasi terus dilakukan.
Kesimpulan saya: PMK dan LSD bukan biang keladi utama. Faktor utamanya tetaplah ketidakseimbangan supply-demand dan daya beli masyarakat yang lesu. Kita terlalu sibuk menyalahkan virus, padahal virus ekonomi pasar jauh lebih ganas dan telah lama menggerogoti.
KISAH SUKSES DI TENGAH BADAI
Tapi jangan bersedih dulu, saudara-saudara. Di tengah badai, selalu ada kapal yang berhasil selamat. Dan dari sanalah kita bisa belajar.
Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah Indar Parawansa, melaporkan bahwa penjualan hewan kurban di Jawa Timur tahun 2026 meningkat signifikan. Di Sentra Peternakan Banjarejo, Lamongan, dari 300 ekor stok, 260 ekor berhasil terjual—peningkatan 30 persen dibanding tahun 2025 (Khofifah, 2026).
Apa yang membedakan? Khofifah menekankan: "Digital ekosistem itu sangat membantu, baik bagi peternak maupun bagi pembeli" (Khofifah, 2026). Peternak di Lamongan, Nganjuk, Mojokerto, dan Tuban disebutnya mulai menjual secara digital dan berkolaborasi dengan Pemprov Jatim dalam program vaksinasi dan pemberian vitamin untuk mencegah PMK (Jawa Pos, 2026).
Peternak muda asal Jombang, Abdul Ghofur dari Family Farm, membuktikan bahwa strategi digital adalah kunci. Ia rutin melakukan siaran langsung di media sosial untuk memasarkan kambing dan dombanya. Calon pembeli bisa melihat kondisi hewan secara detail—ukuran tubuh, kondisi bulu, kesehatan—tanpa harus datang ke lokasi (TvOneNews, 2026). Dari 40 ekor kambing yang disiapkan, lebih dari 20 ekor terjual sebelum hari raya, dengan pembeli datang dari Jombang, Mojokerto, hingga Kediri (Kabar Jombang, 2026). Ghofur juga menghadirkan jasa cukur bulu kambing dengan tarif Rp20 ribu hingga Rp50 ribu per ekor. Omzet yang diperolehnya mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta (Kabar Jombang, 2026).
Penelitian Pangaribuan dkk. (2026) menunjukkan bahwa penerapan digital marketing dan internet of things (IoT) pada peternakan domba kambing dapat meningkatkan penjualan dan efisiensi operasional secara signifikan. Studi kasus di Arjuna Farm, Deli Serdang, membuktikan bahwa implementasi iklan digital dan sistem penimbangan presisi mampu meningkatkan traffic media sosial dan penjualan setelah lima bulan implementasi. Penelitian Pohan (2025) juga menegaskan bahwa pelaku usaha peternakan yang memanfaatkan media sosial mencapai skor IFAS dan EFAS yang lebih tinggi, mencerminkan stabilitas internal dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi eksternal.
Inilah kuncinya. Peternak yang adaptif terhadap teknologi dan pemasaran digital adalah peternak yang bertahan. Peternak yang masih menggantungkan hidup pada blantik dan pasar hewan akan terus menjadi korban.
MENGAPA PETERNAK HANYA PANEN SETAHUN SEKALI?
Inilah pertanyaan yang paling menggugah. Dan jawabannya akan membuka mata kita semua.
Seperti yang diajarkan Coach Haris Islam Tahun 2019 dari Synergy Coach Surabaya saat saya menjadi murid di kelas coaching: "Usaha dan bisnis itu 20% teknis, 20% finansial, dan 60% komunikasi (terkait pemasaran dan penjualan)". Ini sejalan dengan Robert T. Kiyosaki dan S. L. Lechter (2001) dalam Rich Dad Poor Dad: kesuksesan membutuhkan kecerdasan teknis, finansial, dan komunikasi.
Namun realitasnya, 98-99 persen peternak domba kambing Indonesia adalah peternak rakyat—modal terbatas, populasi kecil, pemasaran terbatas, ilmu beternak minim, dan yang paling parah: tidak ada catatan (recording). Mereka menggantungkan hidup pada blantik dan pasar hewan, tanpa pernah menjual langsung ke end user.
Inilah yang saya tulis dalam buku "12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula"—peternak yang hanya mengandalkan momen kurban adalah peternak yang mempertaruhkan hidupnya pada satu hari dalam setahun.
Data dari Kediri menunjukkan surplus yang sangat besar. Namun, surplus ini tidak terjadi karena populasi nasional over, melainkan karena peternak tidak memiliki strategi pemasaran sepanjang tahun. Mereka memelihara ternak dengan harapan "panen raya" di Idul Adha. Ketika pasar tidak bisa menyerap, mereka panik, dan harga jatuh.
Di Lumajang, peternak mulai "panen rezeki" jelang Idul Adha—tapi itu hanya momen sesaat (Radar Jember, 2025). Di Lampung, peternak Dwi Indarto yang tadinya hanya punya 30 ekor dengan penjualan minim, kini sukses setelah bermitra dengan Dompet Dhuafa—bukan hanya untuk kurban, tapi untuk penyerapan pasar sepanjang tahun (Suara Merdeka, 2025).
KETIKA PROGRAM PEMERINTAH JADI BUMERANG
Di Bojonegoro, Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) menyuarakan kekhawatiran yang patut kita renungkan bersama. Program Domba Kesejahteraan (PDKt) 2026 yang akan menyalurkan 3.325 pasang domba ke keluarga penerima manfaat (KPM), justru mengancam penurunan harga (Radar Bojonegoro, 2026).
Sekretaris HPDKI Bojonegoro, As'ari, menjelaskan dengan nada prihatin: "PDKt berdampak luas. Dari asalnya 2 ekor di 2023 sudah menjadi 15-25 ekor. Dengan bertambahnya populasi, secara hukum ekonomi, ketersediaan barang yang melebihi permintaan maka harga akan turun" (Radar Bojonegoro, 2026).
Inilah ironi. Program yang dirancang untuk menyejahterakan justru berpotensi memiskinkan. Niat baik tanpa perhitungan matang adalah resep bencana. Memberi ternak tanpa memberi akses pasar sama dengan memberi ikan tanpa mengajari cara memancing—atau lebih tepatnya, memberi ikan dalam jumlah berlebihan sehingga harga ikan di pasar anjlok.
Pemerintah harus belajar dari ini. Bantuan ternak harus diimbangi dengan program pemasaran, pendampingan, dan akses pasar. Jangan sampai niat baik berbuah petaka.
SOLUSI: DARI JERITAN MENUJU AKSI
Sekarang, mari kita bicara tentang solusi. Bukan sekadar teori, tapi langkah nyata yang bisa kita ambil. Karena jeritan tanpa aksi hanya akan menjadi gema yang hilang.
Potensi pasar yang belum tergarap sungguh luar biasa. Penduduk Indonesia 2026 mencapai 289 juta jiwa. Jika mengacu pada nasihat Khalifah Umar bin Khattab tentang kewaspadaan terhadap dua yang merah (khamr dan daging merah), maka konsumsi daging merah ideal adalah 1 kali per 2 minggu.
Dengan perhitungan sederhana: 1 porsi sate (10 tusuk = ±200 gram daging murni), BB domba/kambing 30 kg, karkas 50% (15 kg), dan daging murni 75% dari karkas (11,25 kg per ekor), maka dibutuhkan sekitar 133,6 JUTA EKOR per tahun untuk memenuhi konsumsi daging merah nasional.
Kesimpulannya: Kita TIDAK overpopulasi secara nasional. Kita justru sangat KEKURANGAN populasi jika semua masyarakat Indonesia mengonsumsi daging kambing/domba secara teratur. Yang kita kelebihan adalah blantik dan perantara yang tidak produktif!
Ini adalah temuan yang menggugah. Masalahnya bukan pada jumlah ternak, tapi pada sistem distribusi dan pemasaran yang timpang.
APA YANG HARUS DILAKUKAN PETERNAK?
Apa yang dapat dilakukan peternak domba dan kambing? Berikut beberapa di antaranya: Pertama, jual langsung melalui media sosial dan platform digital—seperti yang dilakukan peternak di Lamongan, Jombang, dan Deli Serdang (Pangaribuan dkk., 2026). Jangan tunggu blantik datang. Jemput pembeli sendiri. Kedua, manfaatkan live streaming—calon pembeli bisa melihat hewan dari jarak jauh (TvOneNews, 2026). Ini membangun kepercayaan dan transparansi. Ketiga, kembangkan produk olahan—abon, sosis, burger, steak, dendeng—agar tidak hanya menjual ternak hidup. Nilai tambah ada di tangan Anda. Keempat, bangun kemitraan dengan lembaga kurban seperti Dompet Dhuafa, Baznas, atau rumah makan yang membutuhkan pasokan rutin (Suara Merdeka, 2025). Jangan sendiri, bergabunglah dalam ekosistem yang lebih besar.
APA YANG HARUS DILAKUKAN PEMERINTAH?
Lalu apa yang harus dilakukan pemerintah yang diberi amanah memimpin umat? Berikut di antaranya: Pertama, bangun data populasi real-time—jangan hanya setahun sekali. Data adalah dasar kebijakan. Tanpa data, kebijakan buta. Kedua, dirikan RPH modern di setiap kabupaten—agar peternak bisa menjual daging, bukan ternak hidup. Ini akan memotong rantai blantik dan memberi nilai tambah pada peternak. Ketiga, sediakan pinjaman modal lunak, pemberian modal usaha dan jaminan pasar—agar peternak tidak panik menjual saat musim paceklik. Perlindungan finansial adalah benteng terakhir peternak. Keempat, lakukan promosi konsumsi daging kambing/domba—kampanye nasional untuk menghilangkan mitos "kolesterol tinggi" yang sudah bertahun-tahun menghantui. Selama mitos ini hidup, permintaan akan tetap rendah.
KAPAN HARGA AKAN KEMBALI?
Inilah pertanyaan yang paling Anda tunggu. Dan jawabannya jujur: Tidak ada yang tahu pasti. Tapi saya bisa memberi Anda proyeksi berdasarkan data dan logika.
Jangka Pendek (1-3 bulan ke depan): Harga akan mulai merangkak naik menjelang Idul Adha, tapi kenaikannya tidak akan signifikan karena surplus masih besar. Peternak yang bisa bertahan sampai H-3 Idul Adha akan mendapatkan harga terbaik. Tapi setelah Idul Adha, harga berpotensi turun lagi karena permintaan menurun drastis.
Jangka Menengah (6-12 bulan ke depan): Jika peternak mulai mengadopsi strategi pemasaran digital dan menjual langsung ke konsumen, harga di tingkat peternak akan stabil. Tapi ini membutuhkan perubahan perilaku massal—yang tidak mudah.
Jangka Panjang (1-3 tahun ke depan): Harga akan membaik secara permanen jika: (1) Peternak berhenti menggantungkan hidup pada blantik, (2) Pemerintah hadir dengan kebijakan pro-peternak yang terintegrasi, (3) Masyarakat mulai mengonsumsi daging kambing/domba secara rutin, bukan hanya saat kurban.
Kesimpulan saya: Harga tidak akan kembali ke level "normal" dalam waktu dekat. Tapi peternak yang adaptif dan cerdas akan tetap bertahan dan bahkan berkembang. Sebaliknya, peternak yang pasif dan bergantung pada blantik akan terus menjadi korban.
PENUTUP: JERITAN YANG HARUS BERHENTI, PERJUANGAN YANG HARUS DIMULAI
Kita tidak bisa terus-menerus berteriak tanpa melakukan perubahan. Jeritan tanpa aksi hanya akan menjadi gema yang hilang di tengah keramaian. Akankah harga domba kambing kembali? Jawabannya ada di tangan kita.
Peternak: berhenti menjadi korban, mulailah menjadi pejuang dengan mengadopsi teknologi dan pemasaran digital. Pemerintah: hadirlah dengan kebijakan pro-peternak, bukan sekadar program seremonial. Masyarakat: dukung peternak lokal dengan membeli produk mereka secara langsung.
Nabi Muhammad saw. bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Ummu Hani' radhiyallahu 'anha:
"Peliharalah kambing/domba (ghanam), karena sesungguhnya di dalamnya terdapat keberkahan." (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Hadits lain juga menegaskan kemuliaan profesi ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, kecuali ia pernah menggembala kambing/domba." Para sahabat bertanya: "Dan engkau, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Benar. Aku pernah menggembalakan kambing/domba milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath" -
Ini adalah sunnah yang harus kita hidupkan. Beternak adalah ibadah, jihad ekonomi, dan kemandirian umat. Para nabi memilih profesi ini sebelum diangkat menjadi rasul, dan Nabi kita sendiri pernah menjalaninya.
Bagaimana jika domba kambing tetap tidak laku atau jika laku harganya tetap murah? Saya sudah, sedang dan akan tetap beternak domba kambing. Saya beternak minimal untuk memenuhi kebutuhan daging dan susu keluarga sendiri. Dan untuk produksi pupuk organik yang menyuburkan lahan. Nampaknya, ini adalah sikap yang harus kita tanamkan dalam diri kita masing-masing. Bukan sikap menyerah, tapi sikap beradaptasi dan bertahan.
Karena pada akhirnya, keberkahan tidak akan datang kepada mereka yang hanya menunggu. Keberkahan datang kepada mereka yang bergerak, beradaptasi, dan berjuang di jalan-Nya.
Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Mari kita menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari jeritan.
Wallahu a'lam bish-shawab.
DAFTAR PUSTAKA
ANTARA News. (2026, 20 Juli). Akibat PMK, harga sapi di Pamekasan turun hingga jutaan rupiah. https://babel.antaranews.com/berita/279969/akibat-pmk-harga-sapi-di-pamekasan-turun-hingga-jutaan-rupiah
Arraushany, A. (2019). 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula. Batu: Penerbit VIP.
Denpost. (2026, 19 Januari). Pascamerebaknya LSD, Harga Sapi di Jembrana Anjlok. https://www.denpost.id/bali/105516586960/pascamerebaknya-lsd-harga-sapi-di-jembrana-anjlok
detikNews. (2026, 13 Mei). Pemerintah Sebut Stok Hewan Kurban 2026 Surplus, Jumlahnya 891.320 Ekor. https://news.detik.com/berita/d-8487399/pemerintah-sebut-stok-hewan-kurban-2026-surplus-jumlahnya-891-320-ekor
Ibnu Majah. (t.t.). Sunan Ibnu Majah. Hadits nomor 2304, dari Ummu Hani' radhiyallahu 'anha. Dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani.
iNews. (2026, 20 Mei). Jelang Iduladha, Hewan Kurban di Pandeglang Diperiksa Ketat untuk Cegah PMK. https://pandeglang.inews.id/read/692119/jelang-iduladha-hewan-kurban-di-pandeglang-diperiksa-ketat-untuk-cegah-pmk
Jawa Pos. (2026, 27 Mei). Hari Raya Iduladha 2026, Khofifah Sebut Penjualan Hewan Kurban di Jatim Naik Drastis. https://www.jawapos.com/surabaya-raya/2605270269/hari-raya-iduladha-2026-khofifah-sebut-penjualan-hewan-kurban-di-jatim-naik-drastis
Kabar Jombang. (2026, 23 Mei). Kreatif, Peternak Gen Z di Jombang Jual Kambing Kurban Lewat Live Sosmed. https://kabarjombang.com/ekonomi/kreatif-peternak-gen-z-di-jombang-jual-kambing-kurban-lewat-live-sosmed/
Kementan. (2026, 13 Mei). Kementan Pastikan Stok Hewan Kurban Iduladha 2026 Aman dan Surplus. RRI. https://rri.co.id/nasional/2411109/kementan-pastikan-stok-hewan-kurban-iduladha-2026-aman-dan-surplus
Kiyosaki, R. T., & Lechter, S. L. (2001). Rich dad poor dad: Apa yang diajarkan orang kaya pada anak-anak mereka tentang uang - yang tidak diajarkan oleh orang miskin dan kelas menengah. Gramedia Pustaka Utama.
Kompas. (2026, 8 Mei). Harga Sapi Kurban Naik Tajam, Warga Yogyakarta Diprediksi Beralih ke Kambing dan Domba. https://cahaya.kompas.com/aktual/26E08133100690/harga-sapi-kurban-naik-tajam-warga-yogyakarta-diprediksi-beralih-ke-kambing-dan
Pangaribuan, J. J., Maulana, A., Barus, O. P., Stephanie, & Darianty, R. (2026). Penerapan Digital Marketing dan IoT pada Arjuna Farm untuk Peningkatan Penjualan dan Presisi Ternak. Jurnal Manajemen dan Media, 5(1). https://ojs.unimal.ac.id/jmm/article/view/23033
Pohan, L. A. (2025). Efektivitas Penggunaan Media Sosial dalam Berwirausaha di Sektor Peternakan Kambing dan Domba. Repositori Universitas Sumatera Utara. https://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/108534
Radar Batu. (2026, 21 Januari). Harga Kambing Lokal di Kota Batu Terjun Bebas. https://radarbatu.jawapos.com/kota-batu/2601210004/harga-kambing-lokal-di-kota-batu-terjun-bebas
Radar Batu. (2026, 2 Mei). Harga Kambing di Kota Batu Masih Rendah Jelang Iduladha. https://radarbatu.jawapos.com/kota-batu/2605030018/harga-kambing-di-kota-batu-masih-rendah-jelang-iduladha
Radar Bojonegoro. (2026, 29 Januari). Punya Potensi Melipatgandakan Populasi, Program Domba Sejahtera Mengancam Penurunan Harga Domba dan Kambing. https://radarbojonegoro.jawapos.com/politik-pemerintahan/2601290003/punya-potensi-melipatgandakan-populasi-program-domba-sejahtera-mengancam-penurunan-harga-domba-dan-kambing
Radar Jember. (2025, 4 Juni). Peternak Mulai Panen Rezeki Jelang Idul Kurban. https://radarjember.jawapos.com/bondowoso/2506040019/peternak-mulai-panen-rezeki-jelang-idul-kurban
Radar Kediri. (2026, 27 Mei). Stok Hewan Kurban Surplus, Harga Kambing Anjlok! https://radarkediri.jawapos.com/kediri-raya/2605270017/stok-hewan-kurban-surplus-harga-kambing-anjlok-jelang-idul-adha-presiden-prabowo-kirim-sapi-ke-kota-kediri-dan-kabupaten-kediri
Radio Karimata. (2026, 21 Januari). Harga Sapi Turun di Pasar Keppo, Pedagang Keluhkan Sepinya Pembeli. https://karimatafm.net/2026/01/21/harga-sapi-turun-di-pasar-keppo-pedagang-keluhkan-sepinya-pembeli
RRI. (2026, 6 Mei). Harga Sapi Kurban Naik, Pemkab Wonogiri Pastikan Kesehatan Ternak. https://rri.co.id/surakarta/regional/2392377/harga-sapi-kurban-naik-pemkab-wonogiri-pastikan-kesehatan-ternak
Suara Merdeka. (2025, 26 Mei). Berkah Kurban di Lampung: Peternak Lokal Panen Sukses Berkat Dompet Dhuafa. https://www.suaramerdeka.com/ekonomi/0415225074/berkah-kurban-di-lampung-peternak-lokal-panen-sukses-berkat-dompet-dhuafa
Suara Surabaya. (2026, 27 Mei). Khofifah Gubernur Sebut Penjualan Kurban di Jawa Timur Meningkat Dibanding Tahun Lalu. https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2026/khofifah-gubernur-sebut-penjualan-kurban-di-jawa-timur-meningkat-dibanding-tahun-lalu
Susilorini, T.E. dan Kuswati. (2019). Budi Daya Kambing dan Domba. Malang: UB Press.
Times Jogja. (2026, 8 Mei). Harga Sapi Naik Jelang Idul Adha, Warga Yogyakarta Mulai Beralih ke Kambing dan Domba. https://jogja.times.co.id/news/peristiwa/4qoQoFwi0/timescoid
Tribun Jatim. (2026, 30 April). Stok Hewan Kurban di Kediri Melimpah Jelang Idul Adha 2026. https://jatim.tribunnews.com/kediri/542903/stok-hewan-kurban-di-kediri-melimpah-jelang-idul-adha-2026
TvOneNews. (2026, 25 Mei). Peternak Kambing di Jombang Andalkan Live Sosmed Jelang Idul Adha 2026. https://www.tvonenews.com/daerah/jatim/442726-peternak-kambing-di-jombang-andalkan-live-sosmed-jelang-idul-adha-2026-penjualan-hewan-kurban-meningkat
Artikel ini ditulis oleh:
Beliau adalah alumnus S1 Fapet Unpad-Bandung, S2 Fapet UB-Malang, dan Peserta Program Profesi Insinyur (PPI) Fapet UGM-Yogyakarta Periode Gasal 2026/2027.
Penulis telah menulis dan menerbitkan 8 buku:
Estelapete (Sekali Test Langsung Pecah Telur): Buku Tips dan Trik Agar Anda Lolos Tes CPNS Hanya Sekali Coba
12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula
Rahasia Sukses Beternak Sapi Madura
1001 Cara Islami Naik Level Bagi ASN
20 Rahasia Terbesar Bisnis Orang Madura
Bebas Hutang Metode Langit
Andai Buku Seporsi Steak Wagyu
Pensiun Berdaya (Panduan Merancang Hidup Sejak Dini Bagi ASN Agar Pensiun Penuh Arti dan Berkelimpahan)
Buku ke-9 dan ke-10 masih dalam proses editing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar