Minggu, 06 September 2026

Ghanam, MBG, dan Jangan Jadi Mantan Peternak!

 

Ghanam, MBG, dan Jangan Jadi Mantan Peternak!

Catatan Kritis Peternak dan Pedagang Domba Kambing Jawa Timur dan Jawa Barat

Menyongsong Munas HPDKI V Tanggal 16-17 September 2026

 

Oleh
Abdurrahman Arraushany1 dan Luthfan Basalamah2


Madura emang beda. Tiga belas tahun lebih saya menjejakkan kaki di tanah yang terletak di timur laut Pulau Jawa ini, mengajarkan saya satu hal: hidup itu sederhana, tapi penuh makna. Saya menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran—bahkan menikmati setiap butir nasi dan tetes air yang tumbuh dari saripati tanah Madura. Dan dari sekian banyak momen yang saya syukuri selama bertugas di Pulau Garam dan Pulau Sapi ini, satu yang paling membekas: Maulid Nabi.

Warga Madura yang kaya dan keberislamannya bagus, hampir selalu menyelenggarakan maulidan dengan acara meriah. Bahkan terkesan saling berlomba agar nampak siapa yang lebih kaya. Di sekitar rumah kami di Kowel Pamekasan, setiap moment maulidan selalu datang surat undangan ke saya antara 3-6 kali setiap tahunnya. Lumayan. Sajian di acara hampir selalu sate dan gulai kambing. Disadari atau tidak, moment ini menjadi wasilah perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat.

Di kantor kami yang sederhana di Pamekasan, setiap tahun kami juga menggelar acara maulidan. Kami mengundang penceramah, lalu duduk bersama dalam lingkaran penuh cinta. Kami membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan tartil, menerjemahkan maknanya agar meresap ke dalam relung hati. Kami bershalawat kepada baginda Nabi—berulang-ulang, dengan penuh kerinduan—seolah-olah kami sedang berdiri di hadapan beliau. Kami melantunkan barzanji, memuji akhlak dan perjuangan beliau, hingga air mata tak jarang menetes tanpa terasa. Kami berdoa bersama, memohon agar cinta kepada Nabi tidak pernah pudar dari dada kami. Lalu kami mendengar tausiyah yang mengingatkan kami untuk meneladani setiap gerak-gerik beliau—dalam aqidah dan ibadah, dalam muamalah dan uqubat, bahkan dalam urusan pakaian, akhlaq serta makanan dan minuman. Anggaran acara datang dari patungan. Kami kumpulkan uang, kami niatkan sedekah. Bukan karena kami kaya raya, tapi karena kami sangat rindu pada Nabi dan ingin diakui sebagai umatnya di akhirat kelak.

Pekan sebelumnya, saya juga mengikuti acara qudwah secara daring, yang dilaksanakan oleh komunitas dakwah yang merindukan tegaknya kembali kehidupan islam secara kaffah/totalitas.  Acara tersebut benar-benar mengguncang hati saya—mendorong saya untuk mencintai Nabi lebih dalam, dan berjuang agar warisan beliau, Al-Qur'an dan hadits, benar-benar bisa hidup dalam diri, keluarga, masyarakat bahkan negara.

Saya adalah peternak dan trader domba kambing di Jawa Timur.  Sehari-hari saya tidak hanya memelihara, tapi juga membeli, menjual, dan mendistribusikan dombing—domba dan kambing—ke berbagai daerah. Sahabat saya, Bang Luthfan, adalah peternak dan seller kambing serta susu kambing di Jawa Barat. Dari namanya saja, sudah nampak bahwa beliau seorang peternak kambing keturunan Arab yang sepertinya juga punya darah peternak dan pedagang yang mengalir dalam tubuhnya. Bang Luthfan setiap hari bergelut dengan kandang, kambing, dan botol-botol susu segar yang siap dikirim ke pelanggan.

 

Jawa Timur merupakan gudang ternak (domba dan kambing) nasional. Peternak idealnya tidak hanya beternak, tapi juga jadi pedagang dan pebisnis di bidang peternakan domba kambing agar profit yang didapat maksimal. Kambing Jawarandu dan domba ekor tipis banyak dijajakan di pasar hewan di Tuban dan wilayah sekitarnya. Di pasar hewan inilah Himdafarm sering beli bakalan dan jual hasil produksi.

Kami berdua bertemu di bangku kuliah, Program Profesi Insinyur (PPI) Fapet UGM periode gasal 2026/2027. Pertemuan pertama kami terjadi pada moment penerimaan mahasiswa baru tanggal 12 Agustus 2026 silam. Kami baru sempat berkenalan, belum sempat mengobrol panjang karena acara yang padat. Sejak saat itu, komunikasi kami intens melalui WhatsApp dan telepon. Kami berdiskusi panjang tentang peternakan, tentang tantangan yang kami hadapi, dan tentang masa depan dombing di Indonesia.

Dari situlah tulisan ini lahir—dari obrolan virtual dua peternak yang sama-sama risau dan sama-sama berharap. Latar belakang akademik kami—saya lulusan S1 Fapet Unpad dan S2 Fapet UB, Bang Luthfan lulusan S1 Fapet UGM, dan kini kami berdua tengah menempuh Program Profesi Insinyur di Fapet UGM—membentuk cara pandang kami dalam melihat persoalan peternakan secara ilmiah sekaligus aplikatif.



Lembah Barkah Farm, merupakan farm yang senantiasa produksi susu kambing murni berkualitas tinggi. Farm ini milik penulis dan mertua yang berlokasi di Palutungan Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat

Dan dalam perjalanan kami beternak dan berdagang, kami sering berdiskusi tentang makna ghanam. Dalam banyak kitab, ghanam dimaknai sebagai domba dan kambing. Tapi beberapa kyai yang saya kenal di Madura menegaskan bahwa ghanam lebih condong pada kambing. Wallahu a'lam. Yang jelas, domba dan kambing—yang sering saya singkat DOMBING—adalah ternak yang sangat istimewa dalam Islam. Keduanya adalah saudara dalam sunnah, keduanya adalah bagian dari ghanam yang diberkahi.

Tapi ada satu pertanyaan yang mengusik kepala saya, dan mungkin juga mengusik kepala Anda. Pertanyaan ini hadir di tengah hingar-bingar perayaan maulid, di tengah debat pro dan kontra yang tak pernah usai: Apakah kita sudah meneladani Nabi dalam urusan yang paling mendasar—makanan dan minuman?

Kita sering mengkaji Sirah Nabawiyah—kitab monumental karya Ibnu Hisyam yang menjadi rujukan utama sejarah hidup Rasulullah (Ibnu Hisyam, 2012). Kita bahas peperangan, diplomasi, dan akhlak mulia. Tapi seberapa sering kita membahas apa yang dimakan dan diminum Nabi serta para sahabat nabi? Apakah daging dan susu dombing menjadi hidangan favorit mereka? Apakah kita, umat Islam Indonesia yang mayoritas, sudah mencontoh mereka? Dan pertanyaan yang paling membakar: Mengapa 124.000 nabi dan rasul—dari Adam sampai Muhammad—semuanya beternak ghanam?

Dan di tengah semua itu, muncul program MBG—Makan Bergizi Gratis—yang digaungkan sebagai program andalan Presiden Prabowo Subiyanto. Apakah daging dan susu dombing sudah menjadi menu wajib di sana? Atau justru kita kembali tergoda pada pangan impor, pada produk asing yang terus menggerus harga dan harga diri peternak lokal? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar iseng. Ini adalah pertanyaan hidup dan mati—bagi peternak, bagi pedagang, bagi bangsa, dan bagi masa depan umat.

Mengapa Nabi Menggembala Ghanam? Sebuah Renungan dari Kandang dan Pasar

Bayangkan. Nabi Muhammad, manusia paling berpengaruh sepanjang sejarah, sebagaimana diakui Michael Hart dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (Hart, 1978)—Hart yang bukan Muslim, tapi tak bergeming menempatkan Muhammad di urutan pertama, mengalahkan Yesus, Newton, dan Buddha—beliau adalah seorang penggembala ghanam.

Beliau lahir yatim, lalu diasuh kakek dan pamannya. Saat remaja, beliau memilih bekerja menggembala ghanam milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath. Bukan karena terpaksa, tapi karena beliau tak mau merepotkan Sang Paman, Abu Thalib, yang sudah banyak berkorban. Dengan menggembala, beliau belajar kesabaran, tanggung jawab, dan kemandirian. Itulah sekolah kehidupan yang pertama.

Selain menjadi penggembala, Nabi saw juga seorang pedagang. Beliau pernah menjadi pegawai dalam bisnis Khadijah, melakukan misi dagang ke Syam, dan mengelola bisnis ekspor-impor. Syafii Antonio dalam bukunya Super Leader Super Manager (Antonio, 2012) mengungkapkan bahwa Nabi Muhammad mencapai kebebasan finansial di usia 37 tahun. Ini terjadi sekitar tiga tahun sebelum beliau menerima wahyu pertama. Artinya, beliau bukan sekadar pemimpin spiritual, tapi juga manajer kehidupan yang ulung. Beliau pernah menjadi pegawai, pedagang, penggembala, bahkan kepala negara. Semua peran dijalani dengan sempurna.

Nabi Muhammad pernah hidup berkecukupan, bahkan kaya raya. Tapi beliau memilih hidup sederhana. Setiap harta yang datang—dari ghanimah, fai, atau hadiah—segera beliau salurkan untuk kebaikan, untuk dakwah, untuk membantu orang miskin. Harta tak pernah menempel lama di tangannya.



Penulis bersama dengan founder dan owner Sari Rejeki Farm. Farm milik pengusaha tahu dan tempe asal kab Malang ini saat ini memiliki populasi kambing perah lebih dari 400 ekor di pusat kota Pamekasan Madura Jawa Timur. 


Dan di antara semua profesi yang pernah beliau jalani, satu yang paling beliau tekankan: beternaklah ghanam.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Hani', Nabi SAW bersabda: "Peliharalah ghanam, karena pada ghonam terdapat keberkahan." (HR. Ibnu Majah, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani)

Dalam riwayat lain, Nabi SAW juga bersabda: "Akan tiba masanya ketika harta muslim yang terbaik adalah domba yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah." (HR. Al-Bukhari)

Sebagian ulama menafsirkan bahwa ghanam dalam hadits ini lebih dominan pada kambing, tapi domba juga termasuk di dalamnya. Yang jelas, dombing—domba dan kambing—adalah ternak pilihan para nabi.

Bang Luthfan beberapa kali bercerita kepada saya melalui sambungan telepon tentang pengalamannya beternak kambing di Jawa Barat. "Kambing itu makhluk yang istimewa, Pak," katanya suatu malam. "Mereka tak banyak menuntut. Daun-daun kering pun dimakan. Tapi susu dan dagingnya begitu berharga."

Saya tersenyum mendengarnya. Di Madura, domba di Pulau Sapudi dan Madura daratan juga demikian. Mereka tahan banting, hidup dari dedaunan dan rumput-rumput pinggir jalan, tapi memberi kita daging yang lezat dan susu yang menyehatkan. Dan sebagai trader, saya tahu betul bahwa dombing selalu laku—selama kita tahu cara menjualnya dengan benar.

Tahukah Anda apa itu berkah? Bukan sekadar untung besar. Berkah adalah saat sesuatu yang sedikit terasa banyak, saat yang kecil memberikan manfaat besar, saat pekerjaan yang sederhana membawa ketenangan jiwa. Beternak dan berdagang dombing bukan sekadar mencari nafkah. Ini adalah ibadah. Ini adalah sunnah para nabi. Ini adalah jalan yang penuh kebaikan dunia dan akhirat.

Niat: Fondasi yang Sering Terlupakan

Saya menulis buku berjudul 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula (Arraushany, 2019). Buku ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya sendiri—jatuh bangun, untung rugi, suka duka beternak domba dan kambing di Madura dan di Tuban Jawa Timur.  Buku juga saya tulis berdasar pengalaman banyak peternak domba kambing yang saya bina baik di dalam negeri maupun di luar negeri (baca: para TKI dan TKW yang konsultasi via media sosial).  Salah satu kesalahan terbesar, yang saya tempatkan pada kesalahan pertama peternak pemula, yang saya bahas di buku itu adalah tentang niat.

Banyak peternak pemula yang terjun ke dunia peternakan hanya karena melihat orang lain sukses. Mereka melihat peternak di desa sebelah punya rumah bagus, mobil baru, dan ternak yang gemuk-gemuk. Lalu mereka berpikir, "Ah, beternak itu mudah. Cuma kasih makan, minum, tunggu besar, lalu jual. Untungnya besar." Tanpa disadari, niat mereka sudah salah sejak awal. Yang mereka kejar hanya rupiah. Yang mereka bayangkan hanya keuntungan materi.

Padahal, peternakan domba dan kambing adalah usaha yang penuh risiko. Harga pakan naik, harga jual turun, ternak sakit, bahkan mati. Ketika semua itu terjadi—dan percayalah, itu pasti terjadi—peternak yang niatnya hanya mengejar uang akan patah arang. Mereka akan kecewa, frustrasi, lalu menjual semua ternaknya dan pergi. Mereka menjadi mantan peternak.

Lalu bagaimana dengan peternak yang niatnya benar? Peternak yang niatnya benar—yaitu beternak sebagai ibadah, sebagai bentuk meneladani para nabi, sebagai amanah dari Allah—akan tetap tegar. Saat harga jatuh, ia bersabar dan mengingat bahwa rezeki dari Allah tidak tergantung pada harga. Saat ternak mati, ia bersabar dan mengingat bahwa semua makhluk akan kembali kepada-Nya. Saat pasar seret, ia tetap memberi makan dan merawat ternaknya dengan penuh kasih sayang—bukan hanya karena ia butuh uang, tapi karena ia sadar bahwa setiap tetes susu yang keluar dan setiap helai bulu yang tumbuh adalah amanah yang harus dijaga.

Islam mengajarkan bahwa segala amal tergantung pada niat. Beternak dengan niat mencari ridha Allah akan menghasilkan pahala, bahkan dari hal-hal yang tampak sepele. Memberi minum ternak, membersihkan kandang, bahkan sekadar mengusap kepala kambing yang sakit—semua itu bisa menjadi amal saleh jika diniatkan karena Allah. Sebaliknya, beternak dengan niat hanya mengejar dunia—meskipun hasilnya besar—akan terasa hampa dan tidak berkah.

Saya sering mengingatkan pembaca buku saya: Luruskan niat sebelum beternak. Jangan cuma cari uang, tapi carilah pahala. Insya Allah, uang akan datang mengiringi pahala.

Bang Luthfan mengamini hal ini. Dalam obrolan WhatsApp kami beberapa waktu lalu, ia berkata, "Pak, peternak yang niatnya benar itu beda. Kalau rugi, dia tetap tenang. Kalau untung, dia tetap rendah hati. Dia tidak gampang menyerah karena dia sadar: ini bukan sekadar bisnis, ini perjuangan meneladani Nabi."

Saya setuju. Niat adalah fondasi yang menentukan apakah seseorang akan bertahan atau menjadi mantan peternak.


Pedagang Muslim vs Pedagang Biasa: Bedanya di Hati

Saya ingin bertanya kepada Anda, para peternak dan pedagang yang membaca tulisan ini: Apa yang membedakan pedagang muslim dengan pedagang lainnya?

Jawabannya ada dalam niat. Dalam tujuan. Dalam cara pandang.

Pedagang muslim memandang dagangannya bukan sekadar komoditas. Ternak adalah amanah dari Allah. Setiap tetes susu yang dihasilkan, setiap potong daging yang dijual, setiap transaksi yang terjadi—semua itu adalah amal yang dicatat oleh malaikat. Berdagang dombing bisa menjadi jalan meraih qimah ruhiyah (nilai spiritual), qimah khuluqiyah (nilai akhlak), dan qimah insaniyah (nilai sosial), bukan hanya qimah madiyah (nilai materi).

Di Jawa Timur, tempat saya beternak dan berdagang, populasi kambing adalah yang tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dirilis GoodStats (2026, Februari 10), populasi kambing di Jawa Timur mencapai 4,6 juta ekor pada tahun 2025, diikuti Jawa Tengah dengan 3,57 juta ekor. Data dari Databoks (2025, Agustus 14) juga mengkonfirmasi hal ini, dengan Jawa Timur mencatatkan populasi kambing hingga 5,03 juta ekor, diikuti Jawa Tengah dengan 3,51 juta ekor. Sementara itu, untuk populasi domba, dominasi berada di Jawa Barat. Data dari CNBC Indonesia (2024, November 18) menunjukkan bahwa Jawa Barat menjadi produsen domba terbesar di Indonesia dengan populasi mencapai 8,47 juta ekor atau 60,22% dari total populasi domba nasional yang mencapai 14,06 juta ekor pada tahun 2022. Data terbaru GoodStats (2026, Januari 31) juga menunjukkan populasi domba di Jawa Barat mencapai 5,56 juta ekor. Sektor peternakan ini menopang mata pencaharian sekitar 3,3 juta rumah tangga peternak, sebagian besar tergabung dalam HPDKI (Antara News, 2026, Januari 31).

Bang Luthfan menambahkan, di Jawa Barat, populasi domba bahkan mencapai lebih dari 60% dari populasi nasional. "Ini tanggung jawab besar," katanya. "Kami di Jawa Barat harus menjadi garda terdepan dalam pengembangan domba, sementara Pak Abdurrahman di Jawa Timur menjadi benteng kambing dan trader-nya." 

Islam mengajarkan kita untuk terikat pada hukum syara' dalam setiap amal. Wajib, sunnah, mubah, makruh, haram—semua itu menjadi filter bagi setiap tindakan. Termasuk dalam beternak dan berdagang. Kita juga terikat pada hukum halal dan haram dalam setiap aspek produksi dan distribusi.

Maka ketika harga daging jatuh, saat pasar dibanjiri produk impor, saat daya beli masyarakat merosot—peternak dan pedagang muslim tidak lantas putus asa. Karena ia tahu bahwa rezeki dari Allah tidak tergantung pada naik-turunnya harga. Sebagaimana firman Allah: "Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." (QS. Adz-Dzariyat [51]: 58)

Ia tahu bahwa keberkahan dalam beternak adalah janji Nabi, dan janji Nabi adalah kebenaran. Ia tetap memerah susu, tetap memberi pakan, tetap membersihkan kandang, tetap berdagang dengan jujur—bukan karena ia butuh uang, tapi karena ia butuh pahala. Karena ia yakin bahwa Allah yang memberi rezeki, dan Allah tidak pernah ingkar janji.

Saya pernah bertanya pada Pak Budi, seorang peternak domba kambing di Jalan Veteran Gang V Pamekasan, yang tetap beternak meski harga domba kambing anjlok. "Pak, kenapa masih bertahan?" tanya saya. Beliau tersenyum dan menjawab: "Pak, saya sudah 10 tahun beternak domba kambing. Saya sudah melihat harga naik-turun berkali-kali. Tapi yang tidak pernah berubah adalah: setiap pagi, saya bangun, memberi makan ternak, dan merasakan ketenangan. Itu sudah cukup."

Bang Luthfan juga punya cerita serupa, yang ia ceritakan dalam obrolan telepon kami. "Ada peternak di Garut yang tetap memelihara kambingnya meski harga jatuh. 'Ini warisan leluhur,' katanya. 'Dari kakek, dari nenek, dari para ulama terdahulu. Saya tidak mau jadi generasi yang menghilangkan sunnah beternak ini.'" Sebagai seller susu kambing, Bang Luthfan juga sering menghadapi tantangan—pelanggan yang membandingkan harga susu impor dengan susu lokal, atau produsen susu bubuk yang mencampur produknya dengan gula rafinasi dan bahan campuran lainnya. Tapi ia tetap bertahan. "Kejujuran adalah modal utama saya," katanya.

Itulah peternak dan pedagang muslim. Bukan hanya mencari untung, tapi juga mencari ketenangan. Bukan hanya menghitung keuntungan materi, tapi juga menghitung pahala.


MBG dan Peluang Emas bagi Peternak dan Pedagang Domba Kambing

Sekarang mari kita bicara tentang MBG—Makan Bergizi Gratis. Program ini luar biasa besar. Anggarannya mencapai puluhan triliun rupiah, dan targetnya adalah menyediakan makanan bergizi bagi jutaan anak Indonesia. Ini adalah kesempatan emas bagi peternak dan pedagang dombing untuk naik kelas.

Pemerintah saat ini terus mendorong pemenuhan gizi dalam program MBG, termasuk melalui gerakan minum susu yang sejalan dengan gagasan Presiden Prabowo Subianto sejak 2008 melalui konsep "Revolusi Putih". Bahkan, Badan Komunikasi Pemerintah RI menyatakan bahwa susu kambing berpeluang masuk ke dalam daftar menu MBG, khususnya di daerah yang memiliki sentra peternakan kambing. Langkah ini bertujuan memanfaatkan potensi pangan lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan para peternak (Antara News, 2026, Juli 17).

Mengapa daging dombing harus menjadi bagian dari MBG? Berikut beberapa alasannya: 

Pertama, karena kandungan gizinya unggul. Berdasarkan data Departemen Kesehatan RI (1995) dalam Anjarsari (2010), daging domba mengandung protein 17,1% dan lemak 14,8%, sedangkan daging kambing mengandung protein 16,6% dan lemak 9,2%. Daging domba juga dilaporkan lebih kaya protein, fosfor, zat besi, dan vitamin B1 daripada daging kambing (CNN Indonesia, 2020, Oktober 27). Kandungan kolesterol daging kambing hanya 75 mg per 100 gram, lebih rendah dibanding daging sapi berlemak. Sementara daging domba mengandung sekitar 110 mg per 100 gram. Penelitian di IPB oleh Wiradarya (1988) menunjukkan bahwa kadar kolesterol daging domba berkisar 122-155 mg per 100 gram, sedangkan kambing 102-129 mg per 100 gram.

Kedua, karena konsumsi daging merah perlu dibatasi. Dalam Fikih Ekonomi Umar bin Khattab karya Dr. Jaribah al-Haritsi (2006), dijelaskan bahwa Khalifah Umar bin Khattab menganjurkan konsumsi daging merah hanya sekali dalam dua pekan, atau dua kali dalam sebulan. Ini sesuai dengan anjuran kesehatan modern. WHO merekomendasikan konsumsi daging merah sekitar 400 gram per minggu, atau sekitar 85-100 gram per hari (Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, 2022, Agustus 2). Tapi di Indonesia, konsumsi daging merah masih rendah—hanya sekitar 15-20 kg per kapita per tahun. Ini jauh di bawah rekomendasi WHO, tapi kita tak perlu latah dengan gaya hidup konsumtif ala Barat. Pola makan sederhana adalah bagian dari ajaran Islam.

Ketiga, karena program MBG bisa menjadi pasar besar bagi peternak dan pedagang lokal. Bayangkan jika program MBG memasukkan daging dombing dua kali dalam sebulan. Satu porsi daging sekitar 10 tusuk sate. Berdasarkan pengalaman saya sebagai pelaku bisnis aqiqah, 1 kg daging murni bisa menghasilkan sekitar 60-70 tusuk sate. Dengan berat badan domba/kambing rata-rata 30 kg, karkas sekitar 50% (15 kg), dan daging murni sekitar 75% dari karkas (11,25 kg), maka seekor dombing bisa menghasilkan sekitar 11 kg daging murni. Dengan perhitungan 1 kg daging = 60 tusuk sate, satu ekor dombing menghasilkan sekitar 660-770 tusuk sate. Artinya, untuk memberi makan jutaan anak, kita butuh jutaan ekor ternak. Ini adalah pasar yang sangat besar.

Sebagai trader, saya sudah mulai memetakan rantai pasok untuk program ini. "Kalau MBG benar-benar jalan, saya harus siap dengan pasokan dari peternak binaan," pikir saya. Bang Luthfan juga bersemangat. Dalam obrolan WhatsApp kami, ia berkata, "Pak, kalau susu kambing dimasukkan dalam MBG, peternak di Jawa Barat tentu bisa tersenyum lebar. Susu kambing segar sangat bagus untuk pertumbuhan anak-anak. Memang susu kambing tetap mengandung laktosa, tapi strukturnya berbeda dengan susu sapi—lebih mudah dicerna dan jarang menyebabkan intoleransi seperti yang sering terjadi pada susu sapi. Karena butiran lemak susu kambing lebih kecil dan seragam, sehingga lebih cepat diserap tubuh."

Tapi masalahnya, sekarang banyak pengusaha kuliner masakan Arab yang dulunya menggunakan daging dombing, kini beralih ke daging pedet sapi impor. Ini yang harus kita lawan. Saya sebagai trader melihat langsung bagaimana pergeseran ini terjadi—dan dampaknya pada harga dombing di tingkat peternak. Harga anjlok, peternak merugi, dan akhirnya banyak yang menjual ternaknya murah atau berhenti beternak sama sekali.

Ini bukan sekadar soal harga. Ini soal kemandirian pangan. Ini soal martabat bangsa. Jika kita terus mengimpor daging dan susu, kapan kita akan mandiri?


Susu Domba Kambing: Minuman Sehat yang Terlupakan, Peluang yang Terabaikan

Sekarang mari bicara tentang susu. Bang Luthfan adalah ahlinya di bidang ini. Setiap hari ia memerah kambingnya, mengemas susu segar, dan mengirimkannya ke pelanggan di berbagai kota di Jawa Barat.

Saya bermimpi suatu hari nanti, setiap orang Indonesia bisa minum susu satu gelas setiap hari. Segelas susu—sekitar 220 ml. Untuk 290 juta penduduk Indonesia, ini berarti kita butuh sekitar 63,8 juta liter susu per hari. Dalam setahun, itu lebih dari 23 miliar liter.

Apakah mungkin? Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi kita harus mulai dari suatu tempat. Susu dombing adalah pilihan yang jauh lebih sehat dibanding susu sapi. Mengapa? Berikut beberapa alasannya:

Pertama, karena susu kambing memiliki kandungan karbohidrat yang lebih rendah—hanya 11 gram per gelas, dibanding susu sapi 13 gram, ASI 17 gram, susu kuda 17,2 gram, dan susu unta 20 gram, sebagaimana dikemukakan oleh Emilia Achmadi, pakar gizi (Republika, 2016, Februari 17). Ini berarti susu kambing lebih ramah bagi mereka yang sensitif terhadap laktosa. Memang susu kambing tetap mengandung laktosa, namun kandungannya sedikit lebih rendah dan strukturnya berbeda sehingga lebih mudah dicerna. Devendra dan Burn (1994) dalam buku Kambing di Daerah Tropis menegaskan bahwa susu kambing sangat cocok untuk anak-anak dan kaum manula, bahkan berfungsi sebagai obat.

Kedua, karena susu kambing lebih mudah dicerna. Butiran lemak susu kambing lebih kecil dibanding susu sapi, sehingga lebih cepat diserap tubuh. Ini membuat susu kambing ideal untuk pemulihan kesehatan dan pertumbuhan anak-anak.

Saya masih ingat saat saya melaksanakan PKL di Peternakan Al-Barokah, Caringin, Bogor, pada tahun 2004 silam. Saya meminum susu kambing segar langsung dari perahan. Anak kandang terkejut. "Mas, harus direbus dulu," katanya. Tapi saya tersenyum. "Ngapain direbus? Wong baru keluar dari ambing dan putting kambingnya. Susu ini segar, higienis."

Beternak sendiri memberi kita keistimewaan: kita tahu persis apa yang kita konsumsi. Susu murni, tanpa campuran, tanpa gula tambahan.

Bang Luthfan menambahkan pengalamannya sebagai seller susu kambing di Jawa Barat. "Harga susu kambing segar bervariasi. Di Madura, Rp 30.000-40.000 per liter. Di Singosari, Malang, Rp 10.000-20.000 per liter. Susu bubuk kemasan 200 gram—seperti Gomars, Skygoat, AMH—berkisar Rp 23.000-35.000 per box. Susu bubuk premium seperti Karihome (400 gram) mencapai Rp 285.000-310.000. Pertanyaannya: apakah susu bubuk itu benar-benar murni susu?"

Saya pernah membaca komposisi di kemasan, dan saya bertanya-tanya—berapa persen kandungan susu asli di dalamnya? 5%? 15%? Sisanya bahan tambahan? Penipuan dalam jual beli adalah tindakan haram dalam Islam. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nidzam Iqtishody (2012) menegaskan bahwa keharaman jual beli yang mengandung tadlis (penipuan) adalah dosa besar.

Bang Luthfan, yang keturunan Arab, sering mengingatkan saya tentang pentingnya kejujuran dalam berdagang. "Di tanah Arab, susu kambing adalah komoditas berharga. Mereka tak pernah mencampurnya dengan air. Itu aib. Itu pengkhianatan pada kepercayaan."

Sebagai trader, saya sepenuhnya setuju. Kejujuran adalah fondasi perdagangan. Tanpa kejujuran, keberkahan hilang. Tanpa keberkahan, untung besar pun tak berarti.

Saya membaca kisah menarik tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz, cicit dari Khalifah Umar bin Khattab. Dalam buku Biografi Umar bin Abdul Aziz karya Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi (2010), diceritakan bahwa beliau adalah khalifah yang zuhud dan adil. Kisah itu berkaitan dengan seorang perempuan shalihah dari kalangan peternak kambing yang enggan mencampur susu kambing dengan air atas perintah ibunya. Ia merasa diawasi Allah, sehingga ia tidak mau bermaksiat meski ibunya yang menyuruh. Perempuan itu kemudian dinikahkan dengan putra Umar bin Khattab. Dari pernikahan itu, lahirlah di kemudian hari Umar bin Abdul Aziz—khalifah yang hanya memimpin 2,5 tahun, tapi mampu mengentaskan kemiskinan di seluruh wilayah kekuasaannya hingga 8 asnaf penerima zakat tidak ditemukan lagi.


Seorang warga di Desa Tawaran Kec Kenduruan Kab Tuban Jawa Timur mendapatkan hadiah seekor domba ekor tipis (DET).  Saya kira, perlu diperbanyak hadiah dalam perayaan dan perlombaan di negeri ini berupa hewan ternak (domba atau kambing) agar minat beternak masyarakat, terutama generasi muda, tumbuh bak jamur di awal musim hujan. Langkah ini menjadi bagian dari atasi krisis peternak Indonesia di masa mendatang 

Islam mengajarkan bahwa kriteria pernikahan adalah iman dan takwa, bukan harta atau status sosial. Putra khalifah menikahi anak peternak dan penggembala kambing. Ini pelajaran berharga bahwa beternak dan berdagang adalah pekerjaan mulia, dan peternak-pedagang adalah bagian penting dari umat yang mulia.


Analisis SWOT: Kekuatan, Kelemahan, Peluang, Ancaman

Mari kita lihat lebih jernih. Di mana posisi peternakan dan perdagangan dombing Indonesia saat ini? Saya dan Bang Luthfan sering berdiskusi panjang tentang ini—kadang melalui sambungan telepon larut malam, kadang dalam pesan WhatsApp yang panjang dan berantai. Kami sepakat bahwa kita perlu memahami posisi kita dengan jernih agar bisa melangkah dengan tepat.

Kekuatan: Indonesia memiliki populasi domba yang didominasi oleh Jawa Barat dengan lebih dari 60% populasi nasional (GoodStats, 2026, Januari 31), dan populasi kambing terbesar di Jawa Timur dengan 4,6-5,03 juta ekor serta Jawa Tengah dengan 3,51-3,57 juta ekor (GoodStats, 2026, Februari 10; Databoks, 2025, Agustus 14). Sektor ini menopang mata pencaharian sekitar 3,3 juta rumah tangga peternak (Antara News, 2026, Januari 31). Ketersediaan hijauan pakan di berbagai wilayah sangat melimpah. Warisan budaya dan nilai-nilai Islam dalam beternak masih kuat.

Kelemahan: Lebih dari 75% populasi dombing terkonsentrasi di Pulau Jawa. Ini menyebabkan ketimpangan distribusi dan kerentanan terhadap wabah penyakit. Teknologi dan pengetahuan peternak masih terbatas, sehingga produktivitas rendah. Harga daging dan susu sering berfluktuasi, sementara biaya pakan terus naik. Rantai distribusi masih panjang dan belum terintegrasi dengan baik.

Peluang: Program MBG dapat menjadi pasar besar bagi produk peternak dan pedagang lokal. Potensi ekspor ternak hidup, serta daging dan susu dombing ke negara-negara tetangga juga terbuka lebar. Dukungan pemerintah melalui hilirisasi produk ternak semakin kuat. Kementan mendorong hilirisasi domba-kambing dan seruan pemotongan dam haji di dalam negeri (Kementerian Pertanian, 2025). Ini adalah angin segar bagi peternak dan pedagang.

Ancaman: Serbuan produk pangan impor—daging dan susu—terus menggerus harga di dalam negeri. Pengusaha kuliner masakan Arab yang awalnya menggunakan daging dombing, kini justru beralih ke daging pedet sapi impor. Perubahan iklim mengancam ketersediaan pakan dan kesehatan ternak. Daya beli masyarakat menurun karena krisis ekonomi. Belum lagi praktik penipuan dalam jual beli yang merugikan konsumen, peternak, dan pedagang jujur.

Analisis VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) menunjukkan bahwa peternakan dan perdagangan dombing Indonesia berada di persimpangan jalan. Volatilitas harga pakan dan produk, ketidakpastian kebijakan impor, kompleksitas rantai distribusi yang panjang, dan ambiguitas regulasi menjadi tantangan nyata. Tapi dalam kerangka BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible), kita harus membangun ketahanan sistem peternakan dan perdagangan yang adaptif. Kita harus kuat di tengah kerapuhan, tenang di tengah kecemasan, fleksibel di tengah ketidakpastian, dan terus belajar di tengah kebingungan.

 

Seruan: Jangan Jadi Mantan Peternak!

Saudaraku, para peternak dan pedagang domba kambing di seluruh Nusantara.  Saya menulis ini bukan di ruang ber-AC dengan meja marmer. Saya menulis ini di sela-sela membersihkan kandang, di sela-sela memberi pakan, di sela-sela memerah susu, di sela-sela menawar harga dengan pembeli. Bang Luthfan menulis dari Jawa Barat, dari tengah-tengah ternak-ternaknya yang setia menunggu, dari sela-sela mengemas botol susu dan mengirim pesanan. Kami menulis dengan tangan yang nampak bekas luka sabit saat memanen hijauan pakan dan bau khas kandang—karena kami adalah bagian dari Anda. Kami merasakan apa yang Anda rasakan. Kami mengalami apa yang Anda alami. Harga jatuh, pasar seret, impor menggila, biaya pakan naik. Kami tahu persis beratnya beban ini.

Tapi dengarkan saya—dengarkan kami.  Jangan menyerah. Jangan jadi 'mantan peternak'. Jangan jadi 'mantan pedagang'. 

Karena setiap kali Anda memberi makan ternak di pagi hari, Anda sedang menghidupkan sunnah 124.000 nabi. Setiap kali Anda memerah susu, Anda sedang memberi kehidupan pada anak-anak bangsa. Setiap kali Anda menjual daging, Anda sedang menghidupkan ekonomi umat. Setiap kali Anda bertransaksi dengan jujur, Anda sedang meneladani Nabi yang dijuluki al-Amin—yang terpercaya. Beternak dan berdagang dombing bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah misdaq—manifestasi nyata dari iman. Ini adalah jihad ekonomi. Ini adalah ibadah yang terus mengalir pahalanya.

Ingatlah, luruskan niat. Jangan beternak hanya karena ingin uang. Beternaklah karena ingin meneladani para nabi. Beternaklah karena ingin menjaga amanah Allah. Beternaklah karena ingin memberi makan umat. Dengan niat yang benar, setiap kesulitan akan terasa ringan. Setiap kerugian akan terasa sebagai ujian yang mengangkat derajat. Setiap keuntungan akan terasa sebagai karunia yang harus disyukuri.

Ya, harga jatuh. Tapi ingatlah bahwa harga adalah urusan Allah. Tugas kita adalah berusaha dan bertawakal. Ya, impor menggila. Tapi ingatlah bahwa konsumen muslim akan selalu memilih produk halal dan thayyib (aman, sehat dan utuh). Ya, pasar seret. Tapi ingatlah bahwa program MBG sedang membuka peluang besar—kita harus siap menyambutnya.

Bang Luthfan selalu berkata, "Pak, kita bukan peternak dan pedagang biasa. Kita adalah peternak dan pedagang yang membawa misi. Misi meneladani Nabi. Misi memajukan umat. Misi menjaga kemandirian bangsa. Ini bukan sekadar bisnis. Ini adalah perjuangan."

Di kitab Nidzam Iqtishody, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (2012) menyampaikan hadits tentang larangan penetapan harga oleh pemerintah. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, yang menahan, yang melapangkan, dan yang memberi rezeki. Aku sangat berharap dapat bertemu Allah tanpa seorang pun dari kalian yang menuntutku dengan tuduhan kezaliman dalam darah dan harta." (HR. Abu Dawud, dan dinyatakan shahih oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Harga harus mengikuti mekanisme pasar, tanpa intervensi yang merusak. Tapi pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem yang mendukung peternak dan pedagang: membuka akses pasar, melindungi dari serbuan impor, menyediakan permodalan murah, dan membangun infrastruktur distribusi yang adil. Kita harus menyuarakan ini. Kita harus memperjuangkan ini. Di Munas HPDKI, suara kita harus terdengar.

Saya membayangkan masa depan yang cerah—saat program MBG memasukkan daging dombing sebagai menu, saat anak-anak sekolah minum susu kambing segar setiap pagi, saat peternak dan pedagang tersenyum karena hasil ternaknya dihargai, saat Indonesia tidak lagi mengimpor daging dan susu. Itu bukan mimpi. Itu adalah cita-cita yang harus kita wujudkan bersama.


Penutup: Masih Ada Harapan, Selamanya Ada

Saya bertanya pada diri saya sendiri, dan saya bertanya pada Anda: Masih adakah harapan? 

Jawabannya, dengan segala kerendahan hati, adalah YA. Masih ada harapan. Banyak harapan. Selamanya ada harapan.

Karena Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berusaha. Sebagaimana firman-Nya: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

Dan karena manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi, sebagaimana firman-Nya: "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.'" (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Maka beternak dan berdagang dombing adalah bagian dari ibadah dan kekhalifahan—menjaga bumi, memberi makan umat, dan meneladani para nabi.

Karena Nabi tidak pernah berbohong tentang keberkahan beternak ghanam. Karena umat ini—umat Muhammad—adalah umat yang tidak akan pernah mati semangatnya.

Ketika pemerintah memasukkan daging dan susu dombing dalam menu MBG, peternak dan pedagang Indonesia akan tersenyum. Ketika anak-anak sekolah minum susu kambing segar setiap pagi, generasi penerus bangsa akan tumbuh sehat dan cerdas. Ketika peternak dan pedagang muslim memahami bahwa beternak dan berdagang ghanam adalah sunnah para nabi dan bernilai ibadah, mereka akan tetap bertahan meski harga jatuh, meski pasar dibanjiri impor, meski dunia tampak gelap.

Saya dan Bang Luthfan—dua peternak dan pedagang yang bertemu di bangku kuliah, dipertemukan oleh cinta pada ghanam dan pada sunnah—menuliskan ini bukan untuk mengeluh. Kami menulis ini untuk menginspirasi. Untuk mengingatkan. Untuk membangkitkan semangat. Kami menulis ini dengan harapan bahwa tulisan ini akan dibaca di Munas HPDKI, akan menjadi bahan diskusi, akan menggerakkan kebijakan.

 

Penulis bersama aktor dunia perdomba-kambingan Indonesia. Menyatukan visi, misi, strategi dan frekuensi untuk masa depan yang lebih cerah. Membangun dunia peternakan secara berjemaah lebih baik daripada sendirian. 

Beternak dan berdaganglah, wahai para peternak dan pedagang. Jangan berhenti. Jangan menyerah. Karena setiap tetes susu yang kau perah adalah sedekah. Setiap potong daging yang kau jual adalah rezeki yang halal. Setiap kotoran yang kau bersihkan adalah amal. Setiap transaksi jujur yang kau lakukan adalah ibadah. Dan setiap doa yang kau panjatkan di kandang dan di pasar adalah doa yang mustajab.

Nabi Muhammad adalah penggembala dan pedagang. Para nabi adalah peternak. Dan kita—kita semua—adalah pewaris sunnah mereka. Jangan biarkan sunnah ini mati di tengah derasnya arus kapitalisme dan impor. Hidupkan kembali. Rawatlah. Kembangkan. Karena di dalamnya, ada keberkahan. Di dalamnya, ada ketenangan. Di dalamnya, ada pahala.

Jangan jadi mantan peternak dan pedagang dombing. Jadilah peternak dan pedagang yang tangguh, yang beriman, yang membawa misi kenabian. Karena dunia ini butuh ghanam, butuh susu, butuh daging, butuh keberkahan. Dan keberkahan itu ada di tangan kita—para peternak dan pedagang domba kambing Nusantara.

Allahu a'lam bish-shawab.

 

Daftar Pustaka

Al-Haritsi, J. b. A. (2006). Fikih Ekonomi Umar bin Khattab (H. A. Solihan Zamakhsyari, Penerj.). Jakarta: Khalifah.

Anjarsari, B. (2010). Tabel Komposisi Gizi Daging. (Mengutip data Departemen Kesehatan RI, 1995).

Antara News. (2026, January 31). Melindungi lumbung ternak nasional demi kedaulatan pangan. https://www.antaranews.com/berita/5387414/melindungi-lumbung-ternak-nasional-demi-kedaulatan-pangan

Antara News. (2026, July 17). Susu kambing berpeluang masuk menu MBG, dongkrak ekonomi peternak. https://pon.antaranews.com/video/5655357/susu-kambing-berpeluang-masuk-menu-mbg-dongkrak-ekonomi-peternak

Antonio, M. S. (2012). Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia Publishing.

Arraushany, A. (2019). 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula. Batu: Penerbit VIP.

Ash-Shallabi, A. M. (2010). Biografi Umar bin Abdul Aziz. Jakarta: Penerbit Al-Kautsar.

CNBC Indonesia. (2024, November 18). Populasi domba terbesar di 10 provinsi. https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20241118092858-35-588529/populasi-domba-terbesar-di-10-provinsi-cum-jawa-barat-terbanyak

CNN Indonesia. (2020, October 27). Mengenal beda daging kambing dan domba. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20201027121957-262-563203/mengenal-beda-daging-kambing-dan-domba

Databoks. (2025, August 14). Populasi kambing Indonesia capai 15,75 juta ekor pada 2025, Jawa Timur terbanyak. https://databoks.katadata.co.id/agro/statistik/9c2d9a9a78376b3/populasi-kambing-indonesia-capai-15-75-juta-ekor-pada-2025-jawa-timur-terbanyak

Departemen Kesehatan RI. (1995). Komposisi gizi daging. Dalam Anjarsari, B. (2010). Tabel Komposisi Gizi Daging.

Devendra, C., & Burns, M. (1994). Kambing di Daerah Tropis. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2022, August 2). Konsumsi daging merah dan kanker. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/863/konsumsi-daging-merah-dan-kanker

GoodStats. (2026, January 31). Populasi domba di Indonesia, Jawa Barat terbanyak. https://www.goodstats.id/id/infografik/populasi-domba-di-indonesia-jawa-barat-terbanyak-c4KDT

GoodStats. (2026, February 10). Populasi kambing terbanyak se-Indonesia, Jawa Timur nomor 1. https://www.goodstats.id/id/infografik/populasi-kambing-terbanyak-se-indonesia-jawa-timur-nomor-1-yHOkX

Hart, M. H. (1978). The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. New York: Citadel Press.

Ibnu Hisyam, A. M. A. M. (2012). Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam: Jilid 1 & 2. Bekasi: PT Darul Falah.

Kementerian Pertanian. (2025). Hilirisasi domba-kambing dan pemotongan dam haji di dalam negeri. https://bpmsph.ditjenpkh.pertanian.go.id/berita/kementan-dorong-hilirisasi-dombakambing-serukan-pemotongan-dam-haji-di-dalam-negeri

Nabhani, T. a. (2012). Nidzam Iqtishody fi al-Islam. HTI Press

Republika. (2016, February 17). Cocokkah manusia minum susu kuda atau unta? https://republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/16/02/17/o2ohhx328-cocokkah-manusia-minum-susu-kuda-atau-unta

Wiradarya, T. R. (1988). Kadar kolesterol daging kambing dan domba pada beberapa cara pemasakan serta penyerapannya dalam darah manusia [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor. https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/136963


===

Artikel ini ditulis oleh:

1 Abdurrahman Arraushany (nama pena dari Abdul Rohman, S.Pt., M.Pt)

Kepala Seksi Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak,UPT PT dan Keswan di Madura,Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur

Beliau adalah Founder dan Owner Himdafarm Tuban dan Pamekasan, alumnus S1 Fapet Unpad-Bandung, S2 Fapet UB-Malang, dan Peserta Program Profesi Insinyur (PPI) Fapet UGM-Yogyakarta Periode Gasal 2026/2027.

Penulis telah menulis dan menerbitkan 8 buku:

  1. Estelapete (Sekali Test Langsung Pecah Telur): Buku Tips dan Trik Agar Anda Lolos Tes CPNS Hanya Sekali Coba
  2. 12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula
  3. Rahasia Sukses Beternak Sapi Madura
  4. 1001 Cara Islami Naik Level Bagi ASN
  5. 20 Rahasia Terbesar Bisnis Orang Madura
  6. Bebas Hutang Metode Langit
  7. Andai Buku Seporsi Steak Wagyu
  8. Pensiun Berdaya (Panduan Merancang Hidup Sejak Dini Bagi ASN Agar Pensiun Penuh Arti dan Berkelimpahan)

Buku ke-9 dan ke-10 masih dalam proses editing.


2. Luthfan Basalamah, S.Pt

Beliau adalah Founder dan Owner Lembah Barkah Farm, Palutungan, Kab Kuningan Jawa Barat (Usaha bersama mertua, untuk Kambing Perah) serta Salamah farm (Untuk sapi bali/qurban di Kab Cirebon Jawa Barat). Beliau alumnus S1 Fapet UGM dan Peserta Program Profesi Insinyur (PPI) Fapet UGM-Yogyakarta Periode Gasal 2026/2027.