Rabu, 15 Mei 2019

KAMBING KALOWANG SAPUDI, YAKIN NGGA MAU MINDAHIN KE FARM ANDA?


KAMBING KALOWANG-SAPUDI
Mengapa Kambing Ini Sebaiknya Segera Anda Boyong Ke FARM Anda  

Oleh Abdurrahman Arraushany*

Anda kemungkinan besar tahu bahwa Pulau Sapudi yang secara administrasi masuk ke wilayah Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur merupakan pulau yang dipenuhi keberkahan. Sepertinya, keberkahan tersebut muncul sebagai dampak dari proses Islamisasi masyarakat di Pulau Sapudi yang dilakukan oleh Sunan Wirokromo Blingi/Aryo Pulang Jiwo dan Sunan Wirobroto/Aryo Sepuh Dewe/Adi Podey yang berasal dari Kesultanan Islam Sumenep di sekitar abad 14 M silam.  

Keberkahan pulau tersebut sampai saat ini nampak pada banyak hal. Di antaranya:
1).Pulau Sapudi sejak dulu dikenal secara luas oleh masyarakat Madura dengan keunggulan Sapi Kerapnya. Adalah fakta bahwa Sapi Kerap yang berasal dari P.Sapudi sering menjuarai perlombaan, baik lomba yang diadakan di tingkat Kabupaten maupun di tingkat wilker (wilayah kerapan) se-Madura Raya. Sehingga, banyak pengerap sapi dari wilayah lainnya kemudian ‘mendaftarkan dan menyekolahkan’ sapinya ke Pulau Sapudi agar menjadi sapi kerap unggul.

2). Di Pulau Seluas 126,68 km2 yang terbagi ke dalam 2 kecamatan (Gayam dan Nonggunong) dan 18 desa, populasinya sapinya mencapai 49 rb ekor (Sumber: Disnak Kab Sumenep 2013). Padahal penduduknya hanya 45 ribu jiwa saja. Fakta ini menjadikan Sapudi sebagai pulau terpadat kedua di dunia yang didiami ternak sapi. Pulau Sapudi hanya kalah dengan salah satu pulau di Belanda sana. Wow.

3). Setiap pekan, tak kurang dari 500 ekor sapi keluar dari Pulau Sapudi. Hal ini sudah berlangsung puluhan tahun silam hingga sekarang. Mengapa sapinya ngga habis-habis? Kehebatan apakah yang dimiliki peternak di sana? Fakta ini jelas membuat kami penasaran. Mengingat ketersediaan pakan sangat terbatas yang disebabkan musim kemarau yang panjang dengan curah hujan yang sangat rendah serta temperatur yang lebih tinggi dibanding Madura daratan.

4). Pulau Sapudi menjadi sumber bibit Domba Unggul Kebanggaan Nusantara yang punya ciri khas berupa timbunan lemak (fat tail) pada ekornya. Domba unik yang mampu mencapai Average Daily Gain (ADG) 50-250 gram per ekor per hari ini di Tahun 2014 sudah ditetapkan oleh Kementan RI dengan sebutan Domba Sapudi.

5). Pada musim kemarau, di mana usaha pertanian tanaman pangan di lahan tegalan tak bisa diusahakan, kita bisa dengan mudah menjumpai Kambing Kacang dan Domba Sapudi yang sengaja dilepas oleh pemiliknya. Anehnya, kambing dan domba yang hanya makan rumput dan ranting kering justru memiliki performans yang jauh lebih baik dibanding musim penghujan di mana ternak tersebut dikandangkan dan dijamin pakannya oleh peternak

6). Di beberapa desa di Pulau Sapudi, terutama di Kecamatan Gayam, kita bisa menjumpai satu jenis kambing unggul asli/lokal Sapudi yang bisa menjadi pilihan alternatif bagi peternak di Nusantara, termasuk Anda, untuk memboyongnya ke farm. 

Secara fisik kambing tersebut badannya ngga beda jauh dengan Kambing Kacang. Bahkan mungkin lebih kecil dari Kambing Kacang. Namun, kambing ini menurut informasi dari peternak setempat mampu beranak lebih dari 3 ekor (bahkan ada yang melaporkan 6 ekor) per kelahiran. Masyaallah

Nah, karena kambing tersebut kali pertama kami ‘temukan’ di Desa Kalowang Kecamatan Gayam, maka kami mengusulkan agar kambing tersebut dilabel dengan nama: Kambing Kalowang. 

Kambing Kalowang di Desa Kalowang Kecamatan Gayam Pulau Sapudi (2014)
sumber: Dok.Pribadi

7). Di Pulau Sapudi banyak ditumbuhi pohon ajaib, yang oleh masyarakat setempat disebut Kajuh Berru. Alias Kayu Berru. Hebatnya, tanaman jenis dedaunan dengan kandungan protein kasar (PK) 14-16% ini tetap menghijau meski musim kemarau sekalipun. Bahkan pohon ini menjadi satu-satunya andalan peternak untuk penyediaan pakan hijau yang dicampur dengan hay pada musim kemarau panjang. 

Tanaman ini dulunya hanya dijumpai di Sapudi. Namun, saat ini sudah menyebar ke pulau sekitarnya, termasuk Pulau Madura. Tanaman ini juga bisa Anda lihat di BBIB Singosari Malang jika Anda berkunjung ke sana. 

Nah, fakta-fakta di atas, tak inginkah Anda mengunjungi Pulau Sapudi di suatu masa? 

Bayangkan. Apa yang akan terjadi jika Anda datang ke sana, mengunjungi beberapa situs dan peninggalan sejarah yang bermakna, dan ketika pulang Anda membawa serta Domba Sapudi super dengan lebar ekor lebih dari 25 cm, Kambing Kalowang unggul yang punya anak 6 ekor per kelahiran, dan juga bibit Pohon Berru (berupa stek) untuk kemudian dikembangbiakkan di farm Anda?  

Asal Usul dan Sebaran Kambing Kalowang

Apakah Anda masih ingat Kambing Costa/Kosta dan asal usulnya?

Di buku-buku seri peternakan terbitan lama yang membahas topik perkambing-dombaan (sekitar Tahun 1980-an, misalnya), banyak yang menyebut bahwa Kambing Costa ini merupakan kambing asli/lokal yang berasal dari Asia Barat Daya (baca: Timur Tengah) yang dibawa oleh Dai yang melaksanakan dakwah di Nusantara dan nyambi jadi pedagang. Tepatnya, berasal dari di wilayah Khurasan (Iran Modern). 

Kemudian, kambing-kambing tersebut tiba di Kesultanan Islam Banten dan beradaptasi dengan iklim setempat. Saat ini, sebaran Kambing Costa diklaim hanya ada di Provinsi Banten dan pinggiran Provinsi DKI Jakarta.

Laman BPTP Banten memberi informasi yang berbeda. Di laman resmi tersebut disebutkan bahwa Kambing Costa merupakan kambing hasil kawin silang antara kambing asli Indonesia/Nusantara (Baca: Kambing Kacang/Kambing Jawa) dengan Kambing Kashmir (dari India) yang terjadi ratusan tahun silam.   

Keunggulan Kambing Costa yang utama adalah memiliki sifat prolifik. Yaitu beranak lebih dari satu ekor setiap kelahiran. 

Adapun ciri khas Kambing Kosta meliputi:
1) Warna bulu coklat tua sampai hitam
2) Hidung rata (dan kadang ada yang melengkung)
3) Tanduk pendek
4) Bulu pendek
5)Di area hidung, sering dijumpai seperti garis berwarna putih atau cokelat atau hitam; yang membentuk alur segitiga, mulai dari mata hingga hidung


Kambing Costa yang ada di Banten dan Pinggiran Jakarta

Di Banten, kambing ini potensial sebagai ternak penghasil daging. Sehingga arah pengembangannya tidak hanya menjaga spesies saja (baca: konservasi SDGH), tetapi juga sebagai sumber pangan protein asal hewan (baca: daging dan susu).

Sifat adaptif Kambing Costa jelas sangat berpengaruh terhadap produktivitasnya. Umur birahi pertama termasuk sangat cepat, yakni berkisar 5-7 bulan sejak dilahirkan. Karena umumnya diumbar, Kambing Costa kawin secara alami dengan pejantan yang ada di area gembala.

Kambing Costa betina bisa dikawinkan pada umur 6-8 bulan setelah dilahirkan dan bisa beranak pertama pada umur 11–14 bulan.

Kambing Costa mampu beranak lebih dari 10 kali (ada yang melaporkan bisa sampai 15 kali beranak). Sehingga seekor Kambing Costa betina dapat menghasilkan antara 24-45 anak per ekor induk selama masa produktifnya.  Dan hebatnya, angka kematian (mortalitas) cempe dari lahir hingga dewasa tubuh sangat rendah.

Nah, apa yang saya sampaikan barusan merupakan keterangan tentang Kambing Costa. 

Lalu, bagaimana dengan Kambing Kalowang? Apakah Kambing Kalowang sama dengan Kambing Costa? Jika sama, mengapa kambing ini ada di Pulau Sapudi? Sejak kapan kambing ini ada di Pulau Sapudi? Bagaimana dengan performans Kambing Kalowang di Sapudi? Apakah sama dengan Kambing Costa yang ada di Banten?

Hasil penggalian informasi secara terbatas yang penulis lakukan di Tahun 2014 silam, saat penulis dan team dari UPT Pembibitan Ternak dan Kesehatan Hewan Madura Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur melaksanakan pengukuran Sapi Madura di Pulau Sapudi untuk penerbitan Surat Keterangan Layak Bibit (SKLB) dengan target 3.000 ekor, Kegiatan Penguatan Pembibitan Sapi di 3 Pulau dan 5 Kabupaten (3 P dan 5 K) yang menjadi Program Nasional (Pronas) Direktorat Perbibitan Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI saat itu, maka didapatkan info sebagai berikut:
    1. Kambing Kalowang sudah ada puluhan bahkan ratusan tahun di Pulau Sapudi. Peternak Kambing Kalowang memelihara kambing secara turun temurun dari orangtua, kakek, buyut dan generasi sebelumnya. 
    
    2. Diduga, Kambing Kalowang dibawa oleh dai utusan Khalifah dari Negara Khilafah Utsmaniyah (abad 14 M) yang berpusat di Turki, yang kemudian melakukan dakwah di Nusantara dan memberi hadiah – atau kambing sengaja dilepas untuk mencari pakan – ke Kesultanan Islam di Nusantara. 

     Dari 40 lebih Kesultanan Islam yang ada di Nusantara yang mungkin semuanya dilakukan penyebaran Kambing Costa, sepertinya Kambing Costa ini mampu bertahan dan beradaptasi dengan baik hanya ada di Kesultanan Islam Banten dan Kesultanan Islam Songenep/Sumenep.

    3. Kambing Kalowang disukai peternak karena sifatnya yang penurut dan jinak

4  4. Litter size (jumlah anak sekelahiran) lebih dari 3 ekor (bahkan dilaporkan ada banyak induk yang melahirkan 6 ekor cempe per kelahiran)

   5. Disebabkan produksi susu induk yang relatif rendah, peternak justru tidak menyukai induk yang beranak lebih dari 2 ekor. Katanya sangat merepotkan peternak. Selain itu, cempe yang tak mendapat kolostrum dan ASI (air susu induk) secara cukup (baca: 0,5 liter per ekor per hari) sampai usia sapih (3 bulan), sering mati.    

6 Adapun ciri khas Kambing Kalowang sebagai berikut:
    1. W arna tubuh coklat atau abu-abu
-     2. Warna tubuh bagian perut, leher, dan kaki bagian bawah cerah (umumnya berwarna putih)
   3. Pada muka, ada garis berwarna hitam atau putih dan membentuk segitiga, dimulai dari bawah mata hingga hidung
    4.Badan hampir sama dengan Kambing Kacang. Kadang lebih kecil
    5. Muka/hidung rata
    6. Garis belut hitam mulai dari leher hingga ujung ekor
    7. Bentuk ambing dan putting sangat baik sebagai tipe perah
    8. Jika dilihat dari atas, tubuh membentuk segitiga dari depan ke belakang. Bentuk ideal ternak perah

Di Tahun 2014, selain bisa dijumpai di Desa Kalowang, Kambing Kalowang juga bisa ditemui di Desa Gayam dan Desa Prambanan serta desa-desa lainnya di Kecamatan Gayam. Sedangkan di Kecamatan Nonggunong Pulau Sapudi, kami hampir tak menjumpainya. 

Populasi di Pulau Sapudi saat itu diperkirakan lebih dari 600-an ekor.

Kemudian, pasca pelaksanaan tugas pengukuran selama 3 bulan dan dilakukan penerbitan SKLB Sapi Madura di Pulau Sapudi (sapi yang terukur sebanyak 2211 ekor dan sebesar 17% sapi yang terukur memenuhi SNI Sapi Madura), kami kembali ke Pamekasan. 

Anehnya, kami menjadi lebih aware terhadap Kambing Kalowang ini. Secara tak disengaja, kami menjadi lebih mudah menjumpai Kambing Kalowang ini di daerah lain di Madura. Kami menjumpainya di perkampungan tambak garam di Desa Karanganyar Kecamatan Kalianget Kab.Sumenep. Di Tahun 2016 di saat kami melaksanakan proses verifikasi penerima bantuan sosial (bansos) yang bersumber dana dari APBD Provinsi, kami juga menjumpai Kambing Kalowang di Pulau Gili Raja Kab.Sumenep. 

Lain waktu, kami juga menjumpainya di Desa Taddan Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan. dan juga di sekitar Pelabuhan Tanglok Desa Banyuanyar Kecamatan Sampang Kabupaten Sampang 

Kambing Kalowang Mencapai Harga Rp.20 Juta

Ternak kambing, termasuk Kambing Kalowang, merupakan ternak multipurpose (beragam tujuan). 

Sebagai hewan mamalia, selain bisa memproduksi susu dan daging, ternak kambing juga dimanfaatkan untuk memproduksi kohe (kotoran hewan) sebagai penghasil pupuk organik padat dan cair. 

Kulit dan rambut kambing juga bisa dimanfaatkan untuk tas, sabuk, dompet, topi, boneka, permadani, dan juga lukisan. 

Kambing juga berfungsi sebagai rojokoyo sekaligus tabungan yang bisa diuangkan ketika peternak membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan hidup. 

Bahkan kambing ini juga dimanfaatkan sebagai ajang hiburan berupa ‘kerapan kambing’ dan juga ‘kambing pedati’ yang bisa dinaiki anak-anak yang memberi kesan tersendiri dalam suatu moment liburan. 

Bukan hanya ajang hiburan, Kambing Kerap bisa mencapai harga Rp.7,5 juta per ekor. Bahkan ada yang mencapai Rp20.juta. Harga yang fantastis tersebut tentu membawa berkah tersendiri bagi pemiliknya. 



Contoh undangan pelaksanan kerapan kambing di Bangkalan Madura 

Lapangan Kerap kambing. Dibatasi anyaman bambu

Kambing Kerap biasanya diambil dari jenis Kambing Kacang. Namun tak jarang juga Kambing Kalowang digunakan. Asal larinya cepat dan kilat
sumber: Mata Madura 

Semua itu berkaitan dengan nilai material yang bisa diperoleh oleh sang peternak kambing.

Selain nilai materi, ada juga nilai kemanusiaan (membantu masyarakat untuk hidup sehat), ada nilai akhlaq yang baik (internalisasi nilai-nilai budi pekerti yang baik seperti jujur, disiplin, tanggungjawab, bersih rapi, semangat, kerjasama, keteladan, maju, pantang menyerah, dan yang lainnya) dan nilai ketuhanan (mengejar pahala dan sebagai sarana agar ibadah kaum Muslim bisa terlaksana dengan baik) yang bisa didapatkan oleh peternak.   

Menjadi lucu dan menggelikan ketika umat Islam hendak melangsungkan walimah pernikahan, aqiqahan, tasyakuran, berqurban, membayar zakat mal, membayar dam, dan yang lainnya dan kemudian membutuhkan kambing dan atau domba tapi kambing dan atau dombanya langka atau tidak ada di pasaran. 

Masa iya kita mengandalkan dari ‘belaskasihan’ peternak kambing dan domba di luar negeri?    

Pengelolaan Kambing Kalowang Agar Menjadi Kambing Unggul Kelas Dunia   

Dikarenakan penyebaran Kambing Kalowang ini sudah ada di hampir semua kabupaten di Madura, meski dalam jumlah terbatas, maka yang perlu untuk mengambil langkah kongkit dalam pengelolaan SDGH Kambing Kalowang adalah Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur cq Bidang BP4 atau cq UPT Pembibitan Ternak dan Kesehatan Hewan Madura. 

Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur harus menggandengan erat dan bersinergi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Sumenep dan Dinas Peternakan atau Dinas Yang Membidangi Fungsi Peternakan di 3 kabupaten lainnya di Pulau Madura.  

Bagaimana agar pengelolaan kambing ini optimal? 

Pertama, perlu segera dilakukan pendataan dan membuat database peternak, jumlah ternak, dan struktur populasi ternak. 

Kedua, mengusulkan untuk penetapan SDGH Kambing Kalowang agar menjadi SDGH milik Jawa Timur. 

Ketiga, membuat demoplot baik di UPT milik provinsi maupun UPT milik kabupaten sebagai sarana pembelajaran masyarakat, khususnya di dalam upaya meningkatkan kecerdasan skolastik peternak dalam dunia perkambingan (pakan, pembibitan, tatalaksana pengelolaan, dll), maupun di bidang komunikasi dan finansial. 

Keempat, mengorganisir pelaku peternakan kambing untuk maju bersama meraih kemakmuran dan kesejahteraan. 

Semoga dengan upaya mengelola Kambing Kalowang yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, insyaallah kesejahteraan dan kemakmuran penduduk Sapudi, Madura, Jawa Timur dan Indonesia yang diidam-idamkan bisa segera terwujud. 

Aamiin.

Salam Sukses dan Bahagia 

======
Sumber inspirasi:
====
*Abdurrahman Arraushany
Nama Pena dari Abdul Rohman, SPt
PNS Extra Ordinary.  Sebagai Kepala Seksi Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak di UPT Pembibitan Ternak dan Keswan Madura Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur (2018 sd sekarang).

Ketua Himpunan Peternak Domba-Kambing Indonesia (HPDKI) DPC Pamekasan (2018 sd 2022)
Ketua Indonesia Goat Breeders (IGB) DPC Madura Raya (2019 sd 2023)

Penulis Buku:
ESTELAPETE (Sekali Test Langsung Pecah Telor; Tips dan Trik Agar Anda Lolos Test CPNS Sekali Coba)
12 Kesalahan Fatal Peternak Pemula

Peternak
Konsultan Peternakan
Pengusaha Ternak
Investor di Bidang Peternakan



Selasa, 06 November 2018

SKLB TINGKATKAN HARGA JUAL TERNAK BIBIT




SURAT KETERANGAN LAYAK BIBIT (SKLB)
TINGKATKAN HARGA JUAL TERNAK  BIBIT

By Abdurrahman Arraushany* 

Berbagai upaya bisa dilakukan oleh peternak Sapi Madura untuk meningkatkan harga jual ternaknya dan menambah penghasilan keluarga serta peningkatan kesejahteraan peternak. Di antara langkah yang bisa ditempuh adalah dengan mengikuti kegiatan Uji Performans Sapi Madura baik yang dilakukan oleh Team UPT Pembibitan Ternak dan Kesehatan Hewan Madura Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur maupun oleh Team Dinas Peternakan atau Dinas Yang Membidangi Fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten/Kota di Pulau Madura. 

Kegiatan Uji Performans Sapi Madura adalah serangkaian kegiatan untuk melakukan pengujian pada ternak Sapi Madura yang dilakukan dengan cara pengukuran dan evaluasi sehingga bisa ditentukan mana ternak yang terkategori bibit sesuai SNI Sapi Madura dan mana ternak yang tidak terkategori bibit. 

Kegiatan Uji Performans Sapi Madura di Pulau Madura secara intens telah dilakukan oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur sejak Tahun 2010 sejalan dengan Program/Kegiatan Uji Performans Sapi Potong Nasional. Dan hingga Bulan Oktober Tahun 2018 jumlah ternak yang menjadi peserta kegiatan ini berjumlah lebih dari 5.000 ekor yang berasal dari 4 Kabupaten di Madura (yakni Kab.Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan SUmenep) 

PERAN WASBITNAK DALAM PENERBITAN SKLB

Surat Keterangan Layak Bibit (SKLB) merupakan surat yang diterbitkan oleh pejabat Fungsional Pengawas Bibit Ternak (Wasbitnak) dan atau pejabat struktural yang menangani bidang perbibitan di lembaga/instansi pemerintah yang menerangkan bahwa seekor ternak telah lolos serangkaian uji dan dinyatakan sebagai ternak kategori bibit. 

SKLB dikeluarkan oleh Instansi Pemerintah sebagai 'pengganti sementara' dari Sertifikat Bibit seekor individu ternak di mana Sertifikat Bibit tersebut belum bisa dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) yang ada di bawah Kementerian Pertanian RI di Jakarta.

Apa bedanya SKLB dengan Sertifikat Bibit? 

SKLB bisa dikeluarkan oleh instasi yang berwenang 'hanya' dengan mengukur dan mengevaluasi kesesuaian ternak dengan SNI atau Persyaratan Teknis Minimal (PTM) ternak yang bersangkutan. Sedangkan Sertifikat Bibit dikeluarkan oleh LSPro melalui serangkaian uji baik kepada ternak yang bersangkutan maupun manajemen budidaya dan pembibitan di mana individu ternak tersebut berada. 

Penerbitan SKLB menjadi Kewenangan Pejabat Fungsional Wasbitnak. Sayangnya, Sapi Madura yang berjumlah lebih dari 750 ribu di seluruh Madura baru 'ditangani' oleh 2 orang pejabat Fungsional Wasbitnak. Itu pun baru ada di UPT Pembibitan Ternak dan Kesehatan Hewan Madura Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur.   sedangkan di Dinas Kabupaten hingga saat ini belum ada satu orang pun. 

Keterbatasan jumlah Wasbitnak di Pulau Madura tentu menyulitkan masyarakat jika hendak mengambil keputusan dalam kegiatan perbibitan Sapi Madura. Khususnya terkait dengan proses grading/pengkelasan ternak Sapi Madura yang ada di kandang atau di sebuah populasi. 

Keterbatasan wasbitnak juga menyulitkan dalam proses pengawasan peredaran ternak bibit di masyarakat. Terlebih ketika jual/beli ternak bibit antar provinsi antar pulau. 

Semoga pemerintah segera menambah jumlah Wasbitnak di Pulau Madura sehingga kegiatan pembibitan ternak Sapi Madura - dan pembibitan ternak lainnya (semisal domba, kambing, kerbau, kuda, dan unggas) bisa berjalan lebih optimal.   Aamiin 

STANDARD HARGA TERNAK BER-SKLB 

Kegiatan pembibitan ternak Sapi Madura memang tidak mudah. Tapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Maka, demi menghargai jerih payah breeder alias peternak pembibit Sapi Madura karena telah berproses menghasilkan ternak kriteria bibit maka harga yang sebaiknya diperoleh seorang breeder akan ternaknya yang telah mengantongi SKLB adalah seharga 1,5-10 kali lipat ternak non Bibit. Atau bahkan 100-1.000 kali lipat harga ternak non Bibit. 

Kenapa begitu mahal? Mutu Genetik ternak unggul memang harganya tiada terkira. Proses yang panjang dan ribetnya kerja yang perlu dilakukan bisa dikompensasi dengan harga yang menggiurkan. 

Sebagai contoh, seekor domba unggulan di Scotlandia dihargai Rp.40 Miliar seekornya. Nah, bandingin dengan domba atau kambing potong di Indonesia yang hanya dihargai 0,5-2 dinar (baca: 1 dinar = 4,25 gram atau Rp.2,1-2,2 juta rupiah). 

Bagaimana dengan Sapi Madura yang mengantongi SKLB? Berapa harga yang pantas?  Harga Sapi Madura bibit ya jelas tergantung kesepakatan antara pembeli dan penjual. Namun sebagai gambaran, untuk Sapi Madura Bibit Jantan Grade 1 atau di atas Grade 1 usia 2 tahun bisa dibandrol seharga Rp.30-50 Juta. Bedakan dengan sapi jantan non bibit (dan tidak ber-SKLB yang dibandrol di harga Rp15-20 jutaan). 

Sedangkan Sapi Madura bibit berjenis kelamin betina Grade 3 ber-SKLB, umur 1,5-2 tahun, bisa dibandrol Rp.13-20 juta. Bandingkan dengan Sapi Betina diumur yang sama non bibit (dan tanpa SKLB) bisa didapat dengan harga Rp8-10 Jutaan. 

Semoga peternak pembibit (breeder) Sapi Madura semakin makmur dan sejahtera di masa mendatang. aamiin.

Masih enggan memasuki usaha dan bisnis breeding Sapi Madura? Yakin?






==========
*Abdurrahman Arraushany adalah Nama Pena dari Abdul Rohman, SPt. Seorang Wasbitnak Ahli Muda di UPT Pembibitan Ternak dan Kesehatan Hewan Madura Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. Tinggal di Pamekasan Madura.



  

Selasa, 25 September 2018

TEST CPNS 2018 YAKIN LOLOS???

ANDA YAKIN
BISA WUJUDKAN IMPIAN
JADI PNS TAHUN INI?

Tahun ini kali keberapa Anda mengikuti tes seleksi CPNS?
Kali pertama?
Kedua?
Ketiga?
Keempat?
Kelima?

Bagi Anda yang sudah mencobanya di tahun kemarin dan belum berhasil mewujudkannya, bisakah Anda memberikan kepada saya alasan atas hal tersebut? Why?

Biasanya ada satu hal sederhana tapi membawa pengaruh secara keseluruhan dari nasib kita di masa mendatang dan sering dilupakan oleh mereka yang GAGAL saat menjalani tes seleksi CPNS. Hal tersebut adalah: KEYAKINAN

Si A: “Gimana Pak ujian kemarin, bisa? Yakin lolos ngga nich?”
Si B: “Wah bagaimana yach......saya kemarin banyak ngga bisa menjawab soalnya euy. Terlalu sulit buat saya.”
Si A: “Jadi, sampeyan yakin ngga nich akan lolos?”
Si B: “Ngga!!!!”

Gubrakkkkkkkkkkk.

Napoleon Hill di dalam Buku Think and Grow Rich menyatakan bahwa “Keyakinan adalah dasar semua mukjizat dan keajaiban yang pernah terjadi di sepanjang sejarah manusia tinggal di bumi. Dan misteri yang diakibatkan dari sebuah keyakinan hingga kini belum bisa dianalisis dengan aturan ilmu pengetahuan.”

Anda harus YAKIN bisa lolos.

Jika tes seleksi CPNS tahun kemarin di antara kita ada yang gagal karena memang tidak yakin bisa lolos, maka setelah membaca buku ini, saya harapkan tidak ada yang ragu lagi. Anda mesti YAKIN bahwa Anda bisa mendapatkan impian Anda tahun ini.

Bagaimana caranya supaya kita bisa YAKIN? Di bab-bab selanjutnya nanti akan saya beberkan banyak hal. Sabar yach.

Nah, sebagai permulaan, untuk mendukung KEYAKINAN Anda yang digunakan untuk mewujudkan impian menjadi PNS, silahkan sekarang Anda tutup mata Anda.

Eh, jangan dulu ding. Selesaikan baca dulu instruksinya baru action. Hehehehe.

Sekarang saya meminta kepada Anda untuk:
Membayangkan bahwa diri Anda
sudah memakai seragam warna cokelat (baju khaki khas PNS).
Berpura-puralah Anda berangkat ke kantor di pagi hari.
Sampai di kantor
Anda melaksanakan apel pagi dan masuk ke ruangan untuk bekerja.
Bersikaplah seolah-olah
Anda sudah menjadi PNS dan
bertemu dengan rekan-rekan Anda
dengan riang gembira.
Sapalah rekan Anda dengan ramah,
berikan senyuman terindah Anda
dan jabat tangan mereka
dengan mantab
sebagai pancaran kepercayaan diri Anda.

Nah sekarang letakkan buku ini. Silahkan pejamkan mata Anda dan lakukan sebagaimana intruksi di atas.

Sudah? Asyik kan?

Nah apa yang berani Anda bayangkan di atas suatu ketika akan menjadi kenyataan di dalam kehidupan Anda. Semua itu akan semakin mudah jika Anda YAKIN bahwa Anda bisa mewujudkannya.

Jadi siapa yang sekarang sudah YAKIN akan bisa mewujudkan impian menjadi PNS di tahun ini?

======
Tulisan di atas merupakan Bab 2 dari Buku ESTELAPETE (SEKALI TEST LANGSUNG PECAH TELOR) yang saya tulis, yang berisi tips dan trik agar Anda lolos test CPNS hanya sekali coba.
=====
Keterangan Buku
Judul: Estelapete
Penulis: Abdurrahman Arraushany
Cetakan 1, April 2018
Penerbit AE Publishing Malang
Jumlah Halaman: 320 Halaman





NB

Buku ini dicetak terbatas. Dan tidak dijual di toko buku manapun di seluruh Nusantara.
Untuk memilikinya, Anda bisa kontak langsung di Nomor WA 0813 2231 3395

Harga? Harga Normal Rp.250 K. (Belum ongkir)

Ada diskon besar jika Anda merasa yakin bisa lolos test CPNS Tahun 2018 ini

Selasa, 28 Agustus 2018

SOHIB MADURA AJAK WARGA SUMENEP RAIH KEBERKAHAN HIDUP DENGAN BETERNAK DOMBA DAN KAMBING


KOMUNITAS SOHIB MADURA MENGAJAK GENERASI MUDA SUMENEP menggunakan sapronak YANG halal DAN Thayyib SERTA terikat hukum syara SAAT MENERJUNI usaha dan bisnis peternakan domba-kambing

Sumenep (25/8/2018). Mukmin yang kaya harta lebih dicintai Allah dan Rasul-Nya daripada mukmin yang hidup dalam keterbatasan dan kelemahan ekonomi. Untuk itu, Islam memberikan jalan agar umatnya bisa melipatgandakan harta secara halal dan berkah, yakni dengan menerjuni usaha pertanian, industri dan juga perdagangan, baik dilakukan secara terpisah maupun secara terintegrasi (integrated farming system). “Di antara usaha pertanian yang bisa dipilih oleh masyarakat Indonesia adalah usaha perkebunan tananam buah; pertanian tanaman pangan, obat, bunga, rempah dan bumbu; serta usaha peternakan. Dan, di antara pilihan komoditas peternakan, sangat baik jika Anda memilih domba dan kambing sebagai komoditas usaha dengan melakukan optimasi aneka limbah atau hasil samping usaha perkebunan dan pertanian serta aneka industri pangan untuk pakan ternak. Kenapa domba dan kambing? Karena pada domba dan kambing terdapat keberkahan. Juga, domba dan kambing disebut lebih dulu daripada ternak unta dan sapi dalam QS.Al-An’am[6]: 143-144 ketika Allah menginformasikan terkait 8 hewan berpasangan yang diturunkan Allah sebagai rejeki saat penciptaan manusia (lihat QS.Az-Zumar [39]: 6),” tegas Abdurrahman, narasumber yang memberikan materi dalam Pelatihan Budidaya Ternak Domba dan Kambing dengan tema “Olah Limbah, Raih Berkah dengan ternak Domba dan Kambing” di Rumah Makan Tocom Lenteng, Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep, Sabtu, 25 Agustus 2018.


Pelatihan yang dimulai Pkl 09.15 wib dan berakhir Pkl 13.15 wib tersebut dihadiri 28 orang peserta dari berbagai daerah di Kabupaten Sumenep. Komunitas SOHIB (Sobat Hidup Berkah) Korwil Madura mengadakan acara ini dalam rangka mengajak generasi muda di Kabupaten Sumenep agar memiliki ketertarikan dan mau menerjuni usaha dan bisnis perkebunan tanaman buah, pertanian tanaman pangan dan peternakan, untuk penyediaan pangan halal dan thayyib (aman, sehat dan utuh) bagi penduduk Madura, Indonesia dan dunia. Acara pelatihan juga dimaksudkan agar kiranya pasca acara peserta yang hadir mau dan berani melakukan action di bidang pertanian, industri dan perdagangan pangan sehingga terbuka lapangan pekerjaan, serta membantu program pemerintah dalam upaya mengurangi angka kemiskinan di Madura dan Jawa Timur.

Saat membuka acara, Sufyanto, Koordinator SOHIB Wilayah Madura menyampaikan pernyataan yang luar biasa terkait dengan usaha dan bisnis yang  dijalankan oleh seorang Muslim-Mukmin. Beliau mengatakan, “Mari pastikan dalam usaha dan bisnis apapun yang kita jalankan, termasuk bisnis peternakan domba dan kambing, kita wajib menggunakan input produksi atau sarana produksi peternakan (sapronak) yang berupa benda berstatus halal dan thayyib. Juga amal yang kita lakukan harus senantiasa terikat dengan hukum syara yang lima (yang dikenal dengan istilah akhkamul khomsah: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram). Sebab, bisnis itu tidak hanya sekedar untung dan rugi, tapi juga syurga-neraka.”


Abdurrahman, yang hadir sebagai narasumber dari UPT Pembibitan Ternak dan Kesehatan Hewan Madura Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, yang sekaligus diberi amanah menjadi Ketua Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) DPC Pamekasan Periode 2018-2023, dalam paparannya mengajak peserta untuk terlebih dahulu menjawab pertanyaan why alias mengapa usaha dan bisnis peternakan domba dan kambing harus segera diterjuni. “Mari bersegera menerjuni usaha dan bisnis peternakan domba dan kambing. Selain karena ada keberkahan, sebagaimana yang pernah disampaikan Nabi saw, maka dengan menerjuni usaha dan bisnis peternakan domba dan kambing kita akan mendapatkan 4-IS alasan sekaligus: alasan agamis-politis-ideologis; alasan humanis-kemanusiaan, alasan teknis, dan juga alasan ekonomis.” Beliau menambahkan, “Ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya agar kita hanya mengkonsumsi pangan halal dan thayyib. Kita juga wajib menyediakan sarana pelaksanaan ibadah seperti qurban, zakat, aqiqah, membayar dam, walimahan, dan taysakuran. Nah, kita jelas membutuhkan ternak domba dan kambing. Jika domba dan kambing langka, kemana kita akan mencarinya? Harus kah kita impor lagi dari negara lain?”  
 
Setelah pertanyaan why tersebut terjawab, Abdurrahman mengajak peserta untuk menjawab pertanyaan how alias bagaimana usaha dan bisnis peternakan domba dan kambing dijalankan. Yang menarik, beliau juga membongkar 10 kesalahan fatal yang sering dilakukan peternak domba dan kambing, khususnya para peternak pemula, sehingga usaha dan bisnis yang mereka jalankan sering menuai kegagalan. Dan jauh dari keberhasilan. “Di antara 10 kesalahan fatal tersebut, pakan menjadi faktor terbesar yang menentukan keberhasilan dan atau kegagalan peternak ketika menerjuni usaha dan bisnis peternakan domba dan kambing. Untuk itu, mari kita bersegera menanam hijauan pakan ternak (HPT) unggul untuk menghijauan madura. Selain untuk pakan ternak kita bisa bersedekah oksigen bagi sesama. Juga bisa bersedekah pakan bagi burung, kelelawar, lebah, kupu-kupu dll. Keren kan? Oh iya, selain itu, jangan lupakan potensi pakan yang luar biasa yang berasal dari hasil samping usaha perkebunan tanaman buah, pertanian tanaman pangan dan aneka industri pangan.”  

Sebelum acara pelatihan diakhiri, Abdurrahman membagi ilmu dan pengalaman bagaimana teknik agar domba dan kambing mudah digiring dari satu tempat ke tempat lainnya. Misal dari kandang ke armada. “Caranya gampang. Angkat saja domba dan kambing saat berjalan, maka insyaallah ia akan segera melaju tanpa tersendat.” Kata beliau sambil mempraktekkan.  Selain itu, beliau juga mengajarkan teknis merebahkan domba dan kambing dengan hanya menggunakan tenaga satu orang. “Anda bisa merebahkan domba dan kambing sendirian. Lalu ikat kakinya, tekan dengan kaki kiri Anda, lalu sembelih. Praktis kan?”  

Sebagai bonus, beliau juga mengajak peserta untuk mengintegrasikan usaha dan bisnis domba dan kambing dengan usaha ternak itik dan ayam kampung. “Jika beternak domba dan kambing jangan hanya itu. Tapi buka peluang lainnya seperti beternak itik atau ayam kampung,” serunya. Untuk itu, beliau mengajarkan beberapa ciri ayam kampung yang berpotensi menghasilkan telor dalam jumlah banyak. “Di antara ciri tersebut adalah: jarak antar tulang supit (ostium pubis) minimal 2 jari orang dewasa. Semakin lebar semakin bagus. Kemudian ciri berikutnya adalah: jarak tulang supit dengan tulang dada (baca: lebar perut) ayam minimal 3 jari orang dewasa. Semakin lebar semakin baik. Lalu ciri berikutnya, kepala berbentuk lonjong, punggung rata (baca: bukan cembung bukan cekung) dan shank alias kaki bawah ayam betina berbentuk pipih.”



Semoga setelah acara ini generasi muda di Sumenep bisa secara mandiri membuka peluang-peluang usaha dan bisnis baru di sekitar mereka. Harapannya mereka bisa lebih berdaya di bidang ekonomi. Nah, jika warga semakin berdaya di bidang ekonomi, insyaallah upaya pendangkalan aqidah dan juga upaya ‘mutasi’ agama yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu akan bisa digagalkan. Semoga. (AA)